Diary Of A School: Me And Yu

Diary Of A School: Me And Yu
BAB 35 Cerita Dongeng



Berlanjut....


Setelah dari rumah untuk menjenguk ibunya Oni. Gina telah sampai di rumahnya, hendak akan masuk. Seseorang ia kenali datang ke arahnya.


"Nasrul?"



Dia tersenyum.


"Kenapa ada disini? Dari tadi?"


"Engga... buat nunggu kamu selama mungkin pun aku bakalan tetep mampu."


Gina terheran-heran dengan sikap Nasrul ini. Tiba-tiba saja dia bertingkah dengan mengatakan hal yang aneh. Namun Gina tersenyum.


"Mau ketemu aku? Ada apa?"


Nasrul sejenak terdiam.


"Kenapa?" tanyanya kembali.


"Nggak ada apa-apa. Mau ketemu kamu aja," jawab Nasrul tersenyum.


Gina pun ikut tersenyum. Dia menoleh ke arah dalam rumah. "Di luar aja yah nggak papa? Udah malem takut nenek sama kakek nanya yang enggak-enggak heheh."


Nasrul mengangguk. "Iyah nggak apa-apa. Udah lihat kamu doang aku udah seneng."


Gina merasa malu dengan sikap anehnya Nasrul. Gina dan Nasrul berada tidak jauh dari rumah tadi. Mereka tengah duduk bersama.


"Habis dari rumah Oni?"


Gina mengangguk. "Iyah."


"Ibu Oni udah baikan?" tanyanya kembali.


"Udah." Gina terlihat senang.


"Gin..."


Gina menoleh ke arahnya. "Hem?"


"Aku mau tanya sesuatu."


"Apa?"


"Apa selama ini aku ngebantu kalian semua? Maksudnya mungkin kalian nganggep aku sama sekali nggak punya masalah," paparnya sejenak mengambil nafas. "Dan aku disini cuman memandang kehidupan kalian."


"Nasrul, kamu jangan merasa kayak gitu," tegas Gina. "Walaupun kamu nggak keliatan punya beban, masalah, apapun itu. Aku iri sama kamu."


"Kenapa iri?"


"Setiap manusia, makhluk hidup memiliki masalahnya masing-masing. Dan kamu hebat dapat mengatasinya sendiri. Atasi masalah kamu sendiri dan masalah teman-teman... Keduanya kamu udah berhasil."


Mendengar hal itu Nasrul merasa lega dan senang. "Makasih, Gin. Kamu juga sangat hebat dan kuat."


Gina ikut tersenyum mendengar hal itu.


...****************...


Oni sangat senang akhirnya bisa kembali bergabung dengan teman-temannya untuk berlatih mempersiapkan lomba yang akan datang. Meskipun posisinya sedikit tergeser awalnya tapi dia kembali lagi dalam posisi sebenarnya yaitu pembawa baki. Dan Tyo menemaninya disini melihat latihannya Oni, kadang-kadang dia mengganggunya membuat Oni kesal.


Mobil melaju di depan mereka, tampaknya begitu tidak asing. Mobil itu berhenti, perlahan jendela membuka.


"Oy Zi..." sapa Tyo.


"Lo ngapain disini?" tanya Fauzi yang masih di dalam mobil, tidak keluar.


"Nemenin si bocil latihan," jawabnya berseri. Dhuk. "Awww--Yaa! Oni!" Tyo mendapatkan benturan botol pada kepalanya karena Oni yang melemparkannya.


"Bocil bocil, gue denger," lirih Oni.


Fauzi di dalam mobil tertawa kecil.


Mereka bisa saling bertemu karena.... Soal memperebutkan lapangan antara ekskul basket dan paskibra, Hanna ditunjuk untuk mengurusi hal ini dan saran untuk ekskul paskibra adalah Hanna menyarankan untuk mereka latihan di lapangan komplek perumahan tempat tinggal Hanna, dan itu termasuk komplek Fauzi dan Fauzan tinggal.


Dan datanglah sepeda motor milik Aji. "Wei rame banget disini, ada apaan nih?" Lalu melihat ke arah mobil dan menyapa Fauzi. "Hoi, Zi."


Fauzi menyapa balik.


"Latihan nih?" tanya Aji kepada teman-teman sekolahnya.


"Iyah... harus latihan maksimal biar bisa menang."


"Hahaha bagus-bagus, harus banggain Bakti Nusa sekolah tercinta kita," terang Aji dengan candaannya.


"Eh bule ngapain disini nggak guna," sambungnya mengejek Tyo.


"Lo yang ngapain disini?" cicit Tyo.


"Ehh gue mah mau ke rumah Hanna."


"Ngapain?" Sekarang Oni yang bertanya.


"KEPOHHHH...." Kembali dengan ejekannya membuat Oni jengkel. "Gue cabut, semuanya semangat."


"Yoo Ji...."


Aji menekan klakson motornya, menyapa balik Fauzi lalu pergi.


"Oke, bro," balas Tyo.


Semuanya pun melihat ke arahnya. Mobil Fauzi pun kembali melaju.


...****************...


Fauzan dan Hanna berjalan-jalan dan masih di dalam mall melihat-lihat. Masih memakan aromanis tersebut.


“Ohiyah, bubur ayamnya gimana?” Hanna tersadar karena awalnya hanya akan membeli bubur ayam.


“Nggak jadi beli."


“Kenapa?”


Herannya.


“Bubur ayam yang biasa beli udah lewat rumah,” terang Fauzan.


Hanna mengangguk-angguk. “Amang Asep yah?”


“Tahu?”


“Yaiyalah ... Mang Asep juga kan langganan Hanna suka lewat rumah," jelasnya.


"Bukan liatin kumisnya?" Tampaknya Fauzan melontarkan candaan.


Hanna tertawa kecil. "Kumis lele?"


Fauzan angguk.


Dan mereka tertawa bersama.


Ketika melewati sebuah toko yang menarik perhatian Hanna, dia segera menarik Fauzan untuk ikut ke dalam. “Masuk dulu, yu.”


Toko yang berisi pernak-pernik atau barang untuk dihadiahkan. Hanna sangat bersemangat untuk memasuki toko tersebut. Hanna menuju rak peralatan wanita. Kemudian gantungan baju, boneka, topi yang lucu dan yang memalukan untuk Fauzan adalah....


“Han...”


“Diem, diem. Kita ambil foto dulu.”


Merapikan ikat kepala imut yang melekat pada Fauzan, yaitu ikat kepala unicron dan Hanna mengenakan ikat kepala beruang yang terlihat bagus di kepalanya. Mereka juga berfoto.


Setelah itu kami menuju rak yang penuh dengan buku. Di sela-sela itu Hanna bertanya. “Waktu lo boncengin gue pertama kalinya, gue kan liat mamah lo. Lo mau punya adek yah?”


“Iyah. Udah mau ke delapan bulanan.”



“Bentar lagi dong... Selamat yah.”


“Doain,” kata Fauzan.


“Pastinya. Keluarga lo bakalan nambah rame,” tutur Hanna tersenyum lebar.


Fauzan yang melihatnya, meski tersenyum lebar melihat tatapan sedih yang dalam pada Hanna. Hanna berjalan menuju rak dan mengeluarkan sebuah buku. Hanna bertanya balik.


“Cewek atau cowok?”


“Dokter bilang cewek."


“Bisa diajakin maen, dong." Hanna tersenyum melirik sekilas pada Fauzan dan kembali lagi pada sebuah buku yang dipegangnya.


“Buku apa?” tanya Fauzan. “Berbie?”


Hanna mengangguk. “Dulu almarhum Kak Annisa sering bacain ini." Hanna menoleh pada Fauzan. Hanna bergumam pada dirinya sendiri. "Jadi kangen."


Sebenarnya setelah kejadian bolos sekolah waktu itu dan pergi menuju Stasiun Radio. Karena suasana yang begitu membuat mereka saling bercerita satu sama lain. Dan ikatan mereka semakin kuat karena merasakan hal yang sama karena menderita. Meski Fauzan tidak sepenuhnya menceritakannya pada Hanna, Hanna tetap bercerita tentang masalahnya meski pun Fauzan sudah tahu sebelumnya.


“Pernah denger ceritanya?” tanya Hanna pada Fauzan.


Fauzan menggeleng. Hanna pun tersenyum.


“Lupa. Masa iyah Fauzan tahu cerita ginian.” Hanna tertawa kecil.


Fauzan menatapnya malas.


...🥀...


...Bersambung...


...Rilis 18/03/2020...


...Revisi 10/07/2020...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Buku Cerita Dongeng...


Unicorn yang ada pada buku dongeng adalah Fauzan.


Fauzan pembawa pada ketakutan Hanna yang berarti itu hujan dan masa lalu. Walaupun begitu Hanna belum mengetahuinya dan tetap terus mengikutinya.


Jika tahu hal itu. Dalam cerita dongeng Unicorn tersebut adalah pembawa dalam kebaikan juga terlepas dari semua keburukan yang terjadi.


...🦄...