Diary Of A School: Me And Yu

Diary Of A School: Me And Yu
BAB 56 Tali Merah



Berlanjut...


🏙️


Hari sudah menjelang malam. Fauzan yang tengah bermain PS di ruang tengah mendapati Fauzi yang tiba menjatuhkan dirinya pada sofa besar di ruang ini.


"Wangi amat," ucap Fauzi mencium parfum milik saudara kembarnya. "Mau pergi?" tanyanya sambil fokus pada layar permainannya.


"Iyah gue mau ngajak Hanna ke rumah."


Jarinya yang sedari tadi tidak berhenti bergerak pada stik game menjadi diam seketika setelah mendengar Fauzi akan mengajak Hanna kemari. Tapi tidak lama ia kembali bermain lagi.


"Hanna udah nge chat gue, nih. Gue jemput dulu ya." Fauzi bangkit lalu menepuk pundak Fauzan yang duduk di lantai. Lalu Fauzi pergi untuk menjemput Hanna.


Game Over


Permainan yang dimainkan oleh Fauzan kalah. Dia jadi tidak fokus untuk bermain karena mendengar nama Hanna. Semakin hari meski hubungan mereka baik-baik saja tapi dalam hatinya, Fauzan begitu berat berada di samping Hanna karena perasaan bersalah padanya.


"Uza..."


Fauzan menengok, ibunya memanggil, ia berjalan mendekat dengan perutnya yang semakin membesar. Fauzan tidak sabar sebentar lagi ia akan mempunyai adik perempuan.


"Uza, kemana Uzi?"


"Uzi lagi keluar, Mah. Jemput temennya, katanya mau main ke rumah."


"Siapa? Kok Uzi nggak bilang sama mamah."


"Lupa kali, Mah," imbuh Fauzan. "Mm mamah perlu apa sama Uzi?"


"Ini.. Mamah lagi pengen makan rujak."


Fauzan terkekeh. "Mamah ngidam rujak..." Bangkit dari duduk berpindah ke sofa, duduk di samping ibunya.


"Nggak kok mamah cuman pengen makan rujak," protesnya.


"Iyah deh, pengen makan aja ya?" Menuruti kemauan ibunya yang tengah mengidam di malam hari, daripada kena semprot. "Yaudah biar Uza aja yang beliin rujaknya."


"Beliin ya..." Ibunya berseri.


"Iyah Baginda Ratu."


Fauzan pun bergegas pergi untuk membeli kemauan ibunya. Ia berada di luar rumah bersiap pergi dengan sepeda motornya sambil berbicara sendirian.


"Beli rujak dimana ya?"


Fauzan kebingungan dengan kemauan ibunya. Tetapi ayahnya tidak, ia tidak merasakan imbasnya dari istrinya yang mengidam, ia masih berada di Singapura menjalankan bisnisnya. "Kapan baliknya sih si ayah."


Brum...


...****************...


Hanna bersiap untuk pergi ke rumah Fauzi untuk menepati janjinya, menonton bersama.


"Hanna..."


Suara Fauzi telah terdengar untuk menjemputnya. Hanna keluar untuk menemuinya.


"Udah siap?"


Hanna mengangguk senyum. Tetapi ketika mereka hendak pergi, sebuah mobil baru saja tiba di depan rumah ini.


"Aji?"


Aji berjalan memasuki rumah untuk menghampiri seseorang yang akan ditemuinya.


"Eh ada lo Zi. Kalian mau kemana?" Melihat Fauzi dan Hanna berpakaian rapih.


"Gue mau ngajak Hanna ke rumah gue buat nonton doang sih," terang Fauzi.


"Oh gituh.. tapi..."


"Lo kenapa ke sini Ji? Ada perlu apa?" tanya Hanna.


"Ini... bunda nyuruh gue jemput lo buat makan malam di luar. Tapi kalau lo ada acara sama Fauzi nggak papa, lo bisa pergi."


Hanna menjadi semak hati antara pergi bersama Fauzi karena sudah janji, atau pergi bersama Aji karena bunda Naila mengajaknya makan malam. Tapi jika menolak ajakan bunda, Hanna merasa tidak sopan.


Fauzi memperhatikan kebingungan Hanna. Dengan berat hati, ia akan mengalah. "Kamu ikut aja sama Aji, Na."


"Hah?"


Hanna terkejut.


"Kita bisa atur jadwal lain. Kamu nggak boleh nolak ajakan bunda, nanti bunda sedih."


"Nggak papa?"


Hanna tidak enak hati.


"Nggak papa."


"Em yaudah. Ji, Gue ikut sama lo buat makan malam," ujar Hanna.


Aji mengangguk lalu melihat pada Fauzi merasa tidak enak hati seperti apa yang dirasakan Hanna. "Sorry ya Zi gue jadi gagalin acara kalian."


Fauzi tidak masalah.


"Kita cabut dulu ya."


"Fauzi maaf yah."


Fauzi tersenyum lalu mengelus rambut Hanna. Hanna tersenyum untuk membalasnya, lalu pergi. Hilangnya mereka dari pandangan Fauzi. Ia menghela nafas. "Yaaah gagal."


...• •...


Fauzi pun kembali ke rumah dengan perasaan kecewa.


"Uzi?" Ibunya melihat kedatangan putranya sendirian. "Kata Uza, kamu mau bawa temen ke sini, mana?"


"Nggak jadi, Mah. Hanna nya tiba-tiba ada urusan."


Hanna? Ibunya merasa tidak asing dengan nama itu, tidak lama ia teringat, Hanna. Gadis yang mau diperkenalkan oleh putranya ini.


"Yaudah kamu temenin mamah aja nonton TV."


Fauzi tersenyum mengiyakan. "Tadi Uza disini main PS. Dia kemana, Mah?"


"Mamah suruh dia beli rujak."


"Oh..." Fauzi hanya ber'oh. "Mamah ngidam?"


"Enggak."


"Iya deh... mau makan aja ya?"


Ibunya ini tidak mau bilang ngidam. Fauzi tertawa kecil. "Mah, ayah kapan pulang? Mamah kan bentar lagi lahiran, masak ayah nggak nemenin mamah."


"Ayah bakalan pulang nemenin mamah lahiran, kok. Tadi... mamah habis teloponan sama ayah kamu, ayah kamu mau pulang akhir bulan ini."


"Beneran?" Fauzi begitu senang. "Jadi ayah bisa dateng dong ke kelulusan Uzi sama Uza."


Ibunya mengangguk, ikut senang.


...****************...


Di dalam mobil yang dikemudikan oleh Aji. Aji bersama Hanna menuju ke restauran, dimana ibu dan ayahnya Aji pun dalam perjalanan ke sana.


"Gimana sama Fauzan?"


"Fauzan? Gimana apanya?"


Heran Hanna dengan tiba-tiba Aji menanyakan Fauzan.


"Baik-baik aja," jawab Hanna.


"Belum jadian nih?"


"Hah?" Hanna segera menengok terkejut.


Aji hanya cengengesan sambil mengemudi. Hanna mendengus.


"HEI!"


Hanna terperanjat, Aji terkejut emosi. Ada sepeda motor yang ugal-ugalan, hampir terserempet. Dua motor itu berada di depan mereka, menghalangi dengan terus melaju. Aji mengklaksoni pengendara motor tersebut.


TIN! TIN! TIN... TIN!


"WOY!" Suara pengendara motor itu berteriak keras, memberi jari tengah pada kami. Kami tersentak dengan pengendara terus. Sepertinya mereka bersengkokol.


"Ji.. mereka siapa?" Hanna mulai panik.


"Gue juga nggak tahu." Aji ikut panik. "Lo pegangan, gue bakalan ngindar mereka." Dengan cepat Hanna langsung berpegang dengan erat. Aji menatap begitu mencekram, tampak kesal.


BRUM...


Aji menancapkan gas mobil dengan cepat untuk menghindari dua pengendara motor itu.


......................


Sudah cukup lama Fauzan menghabiskan waktunya di luar berkeliling untuk menemukan penjual rujak. Dia sudah habis akal.


"Cari dimana lagi ya? Lagian mamah ngidam malem-malem, kan susah kalau mau carinya."


Dia juga sudah menggunakan aplikasi untuk mencari rujak. Tapi tidak ada. Aplikasi juga gagal, apalagi mencarinya sendirian.


"Apa gue minta tolong bi Asih aja ya?" Dia mengingatkan asisten rumah tangga di rumahnya. "Eh tapi kasian, jam segini bi Asih udah pulang."


Ketika hendak pergi untuk mencari kembali penjual rujak demi ibunya yang sedang mengidam. Ia melihat mobil yang tidak asing, mobil itu melaju cepat karena... dibuntuti oleh pengendara motor.


"Bukannya itu mobil Aji ya."


Begitu peka merasakan sesuatu yang tidak beres segera ia memakai helm, menghidupkan mesin motornya untuk menyusuli mobil Aji tersebut.


Di jalanan beberapa pengendara saling kebut-kebutan. Pengendara motor itu dengan sengaja mengganggu mobil Aji, tanpa diketahui alasannya.


Brum..........!


Ada sepeda motor ninja berwarna putih yang Aji dan Hanna kenal. "Fauzan?"


Dan di luar sana, Fauzan dengan sepeda motornya mencoba untuk mengalihkan perhatian si pengendara motor lain yang mencoba untuk mengganggu pengemudi mobil tersebut. Fauzan berhenti di depan para pengendara lain itu membuat mereka segera menekan remnya, begitu juga dengan kami yang segera menginjak rem.


"Aduh!"



Hanya bagian atas wajahnya yang terlihat, matanya. Membuat para pengendara itu tertegun, panik, segera mereka kembali melajukan sepeda motor mereka dengan tergesa-gesa. Kabur.


Seperti mereka mengenali Fauzan.


Kami merasa lega sekarang, segera kami keluar dari mobil untuk mengeceknya. Fauzan turun dari motornya.


"Wah!" Aji tidak percaya dengan apa yang terjadi barusan. Emosi.


Fauzan sedikit terkejut ternyata di dalam mobil Aji ada Hanna juga.


"Zan, makasih nih udah nolongin kita."


"Kalian kenapa bisa diganguin sama mereka?"


"Gue juga nggak tahu, tiba-tiba aja ngalangin mobil gue," lirih Aji.


"Fauzan, kamu kenal sama mereka? Mereka langsung kabur waktu liat kamu," ucap Hanna.


"Gue nggak kenal sama mereka. Mereka mungkin, orang-orang jalanan yang suka gangguin pengendara lain."


"Nggak ada kerjaan amat mereka nih," gerutu Aji yang masih kesal. "Ah lo malem-malem gini mau kemana?"


"Nyari rujak, nyokap gue lagi ngidam. Tapi belum dapet juga."


"Biar gue bantuin. Lo kan udah nolongin kita," kata Aji.


"Emang lo tahu dimana yang jualan rujak?" tanya Hanna kepada Aji.


"Enggak. Gue bakalan minta tolong sama bi Imas buatin rujak," terang Aji bersiap menghubungi nomor rumah. "Hallo bi..."


Sedangkan Aji yang tengah menelpon orang rumah. Fauzan dan Hanna saling mengkhawatirkan satu sama lain.


"Lo nggak kenapa-kenapa?"


"Nggak papa, kok." Hanna tersenyum.


"Fauzi bilang, lo bukannya mau mampir ke rumah yah."


"Iyah awalnya gitu, Fauzi udah jemput aku. Tapi waktu mau berangkat Aji dateng, bunda ngajak makan malam."


Fauzan hanya ber'oh setelah mendengarnya. Tidak lama kemudian Aji kembali selesai dengan urusannya itu. Untuk membalas kebaikan Fauzan.


"Zan, lo dateng aja ke rumah gue, ambil rujaknya ke bi Imas."


"Biar gue bayar buat rujaknya berapa?" Fauzan mengeluarkan dompet mencoba untuk sedikit bercanda.


"Yaelah nggak usah dibayar rujak doang. Ini tanda balas budi gue karena lo udah nolongin gue sama Hanna," jawabnya Aji.


Fauzan hanya tersenyum.


"Yaudah Zan kita cabut lagi ya."


Fauzan angguk.


Hanna berpamitan dengan memberikan senyuman dan lambaian tangan kepada Fauzan.


Fauzan ikut tersenyum dan membalas lambaian tangan itu.


...****************...


Kedua pengendara sepeda motor itu tiba di tempat yang begitu sunyi dan gelap. Mereka turun dari motor, berjalan menuju kerumunan orang di depan. Mereka adalah sekelompok orang yang membenci Fauzan yang selalu mengeroyoknya.


"Mana gadis itu?"


Kedua orang itu menunduk takut kepada ketua mereka. "Maaf bos, kami gagal."


Praang!....


Mereka terperanjat. Ketua mereka marah, ia melemparkan botol minum ke lantai membuatnya pecah.


"Hanya gadis doang, kalian tidak becus melakukannya?!"


"Maaf bos maaf. Kami sebenarnya hampir berhasil, tapi tiba-tiba Fauzan datang menolongnya."


"Fauzan?"


"Iyah Fauzan. Fauzan datang."


"CK!"


Dia berencana untuk menculik Hanna sebagai umpan agar bisa menghancurkan Fauzan. Mereka tahu Fauzan dekat dengan gadis itu, dan mereka pikir gadis itu adalah pacarnya. Sasaran yang empuk untuk membalas dendam.


"Sebentar lagi bos besar kita keluar dari penjara," ungkapnya. Membuat anggotanya tampak terkejut dan senang. "Kita harus merencanakan sesuatu agar bos kita senang. Dan itu... kesenangannya adalah Fauzan, kita tidak boleh membiarkannya hidup."


...🥀...


...Rilis 28/05/2020...


...Revisi 05/08/2020...