
Berlanjut....
Di kediaman Afra.
"Hanna beneran nih nggak mau dianter?" tanya Afra.
"Beneran, lagian gue udah ngerepotin nginep disini heheh. Bapak ojek juga udah dateng, terus kak Bella juga udah nyampe ada di rumah."
Begitu bahagianya Hanna ketika mengatakan kak Bella berada di rumah.
Afra senang. "Yaudah kalau gitu hati-hati yah."
Hanna mengangguk. "Makasih." Hanna memeluk Afra. "Salam buat tante. Maaf nggak pamitan."
"Oke."
...****************...
Setelah mengetahui apa yang terjadi pada dirinya. Fauzan semakin diam. Dia tidak mau mengalami hal ini lagi, pengobatan, terapi, operasi, rasa sakit ini. Dan kebutaan? Dia benar-benar tidak mau. Dengan kondisinya yang seperti ini, bagaimana dia bisa melakukan rencananya yang sudah tersusun. Semua orang yang ada di dalam ruangan ini tampak senang menyembunyikan kesedihan mereka pada ibumya, maupun istrinya.
Fauzan mendapat notif pesan dari seseorang. Setelah membaca setiap kata, kalimat begitu senang dan terkejut. Dia bangkit dari duduknya.
"Mau kemana?"
"Gue keluar dulu sebentar," jawabnya pada Fauzi. "Ayah, mah.. Uza pergi dulu cuman sebentar kok." Pamitnya.
"Jangan lama-lama, mamah pengen ditemenin sama kamu juga."
"Iyah mah." Fauzan tersenyum lalu menciumnya.
Fauzan pun bergegas pergi.
...****************...
Aji yang sudah berada di Belanda mendapat kabar mengejutkan dari orang tuanya di Indonesia.
"Hanna... apa lo akan baik-baik aja?"
Kabar dari orangtuanya tapi dia mengkhawatirkan Hanna. Apa yang terjadi sebenarnya?
...****************...
Hanna pulang dengan perasaan bahagia. Tidak. Sangat senang sangat sangat bahagia. Kak Bella akhirnya datang dan sudah menunggu di rumah.
"Makasih, Pak," ucap Hanna setelah turun dari ojek dan memberinya uang.
Hanna melangkah ke arah rumahnya. Wajah bahagia itu menjadi sangat terkejut. Perlahan dia mengambil satu langkah, menatap seseorang di depannya. Sosok yang telah meninggalkannya selama ini, membuatnya menderita, terluka, putus asa. Tiba-tiba datang tanpa diduga kembali lagi menampakkan wajahnya kepada Hanna.
"Ayah?"
...****************...
Tibanya Fauzan di suatu tempat, dia langsung disuguhi dengan pemandangan orang-orang yang panik masuk ke dalam rumah Hanna. Dan orang-orang itu adalah orang tuanya Aji.
Fauzan semakin mencemaskan keadaan Hanna sekarang. Tapi, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa apalagi untuk masuk ke sana.
...****************...
Hanna tidak sadarkan diri, dia terbaring di sofa. Orang-orang yang ada di sini sedang menunggu Hanna di sisinya. Keluarga Aji juga ada di sini, mereka datang setelah Bella menginformasikan situasi Hanna. Berada pada jarak yang cukup jauh. Ayah Aji, Raden Sastra Nugroho, berselisih dengan pria yang seumuran dengannya. Ia adalah Wisma Adizabar, ayah dari Hanna dan almarhum Anissa juga ayah tiri dari Bella.
"Untuk apa kau datang kemari?!! Pergi!
Kau tidak berhak menemui putrimu! Kau sudah menelantarkannya, membuatnya menderita."
Murka R. Sastra mendorong-dorong Wisma untuk pergi. Namum Wisma tidak terima diperlakukan seperti ini, ia menepis lengan itu.
"Kau bisa tenang dulu?! Saya akan menjelaskannya. Saya benar-benar merasa bersalah, saya sudah mengakuinya."
Mereka benar-benar diliputi amarah. Kemudian istri mereka datang turun tangan agar mereka bisa berbicara dengan baik.
"Pah tenang dulu, kita dengarkan dulu penjelasan dari Pak Wisma," tegur Naila.
"AYAH... BU...." panggil Bella di dalam sana cukup keras. "Hanna sudah siuman."
Mereka pun semua berlari tergesa-gesa menghampiri.
Membuka mata, mengedipkan mata perlahan-lahan. Bella membantu Hanna bangun.
"Kamu udah baikkan?" Hanna mengangguk dan fokus pada orang yang membuatnya seperti ini.
"Hanna apa baik-baik saja? Kita pergi ke rumah sakit saja yah?" ucap Wisma, tampak khawatir pada putrinya.
Namun Hanna tidak menggubris perkataan ayahnya dan malah memeluk Ibu Naila yang ada di sampingnya.
Wisma sedikit kecewa diabaikan oleh anaknya. Tapi dia pasti mendapatkannya untuk semua kesalahan yang dia lakukan di masa lalu.
"Hanna. Aa-yah, ayah benar-benar minta maaf. Ayah minta maaf..." Terdengar isakan darinya. "Ayah memang bodoh, ayah baru mengakui kesalahan ayah sekarang. Maafkan ayah."
Suara yang meluap dengan air mata rasa bersalah dan penyesalan. Kemudian ibu tiri Hanna juga meminta maaf dan mengakui kesalahannya, karena dia sudah mempengaruhi ayahnya menjadi tidak peduli kepada anak kandungnya sendiri.
Hanna melepaskan lututnya perlahan, mereka mengundang air mata mengalir dan membasahi pipinya. Tanpa disadari, dia sudah menangis bersama mereka. Perasaan yang telah dia kubur untuk waktu yang lama kembali. Mengenang kepahitan kehidupan yang didapat dari mereka. Juga sangat rindu pada ayahnya yang telah meninggalkan Hanna seorang diri.
Hanna tidak bisa berkata-kata. Pikiran yang menjadi kosong, hati yang terasa berat mulai mereda. Hanna bergerak sendiri untuk memeluk ayahnya.
Anak yang menangis itu dipertemukan kembali dengan ayah kandungnya. Ibu tirinya juga memeluknya dengan penyesalan.
......................
Ada seseorang yang telah menyaksikan itu semua di sudut pintu masuk rumah ini. Dia begitu bersyukur bahwa Hanna baik-baik saja setelah bertemu dengan ayahnya.
"Aku akan berusaha mengembalikan kebahagiaan kamu, Hanna."
Fauzan tersenyum, dirasa bahwa kebahagiaan perlahan datang, Fauzan pergi dengan tenang.
...•...
...•...
Hanna sudah menerima permintaan maaf mereka. Keluarganya. Tidak peduli seberapa besar mereka, mereka tetaplah orang tua Hanna, keluarganya sendiri. Tidak ada manusia yang bebas dari kesalahan. Ia mencoba untuk tidak kembali ke lubang hitam. Berdiri teguh untuk memulai hidup baru. Meski sedikit yang belum diterima dari kesalahan mereka, dia berusaha untuk melupakan dan menerimanya.
Beruntungnya Hanna kondisi apa yang ia alami telah membaik. Obat-obatan yang diberikan oleh Dokter Rey pun semakin lama semakin berkurang.
Mencoba memberikan kesempatan kedua untuk mereka yang sudah menyakiti hatinya.
"Bunda, papah, hati-hati di jalan."
Hanna memeluknya.
"Kamu baik-baik disini, kalau ada apa-apa langsung kabarin bunda sama papah yah."
Bunda Naila memeluk Hanna. Kemudian Papah Sastra pun memeluknya. Kehangatan mereka selalu membuat Hanna merasa nyaman.
"Papah nggak usah khawatir, Hanna udah nggak papa kok," ungkap Hanna karena melihat Papah R. Sastra itu masih terlihat khawatir.
Hanna sangat bersyukur adanya mereka, kedua orangtuanya Aji.
"Terima kasih banyak sudah menjaga Hanna dengan baik. Saya benar-benar minta maaf. Saya tidak akan melupakan kebaikan kalian terhadap anak saya. Terima kasih," cetus Wisma membungkukkan badannya dengan penyesalan penuh harapan.
"Sudahlah kita lupakan ini. Saya harap kamu tidak mengulanginya lagi, Wisma."
"Saya janji, saya sangat menyesalinya. Saya akan menyayangi Hanna, anak kandung saya sendiri."
Naila dan Sastra begitu lega mendengarnya. Mereka pun akhirnya pergi untuk pulang.
Hanna tersenyum merasakan kembali ke seluruh keluarganya. Padahal tidak ada ibu kandung di sini. Tapi, cukup Hanna bersyukur atas apa yang tidak dia duga.
...🥀...
...Rilis 05/06/2020...
...Revisi 15/08/2020...