
Berlanjut....
Oni baru saja menemani Gina ke depan rumah, Gina akan pulang setelah melihat ibu Oni terbangun.
"Makasih, Gin."
"Iyah," jawab Gina. "Em lo jadi latihan paskibra nggak sekarang?"
"Gue nggak tahu, tapi gue udah lama nggak ikut latihan. Mungkin, gue udah didepak dari tim wkwkwk," kekeh Oni.
Gina ikut terkekeh. "Yaudah, gue pulang ya."
"Iyah, Gin. Sekali lagi makasih," sahut Oni melambaikan tangannya setelah Gina beranjak pergi. "Hati-hati, Gin."
Hendak akan masuk suara motor terdengar, Oni membalikkan tubuhnya melihat motor besar berwarna hitam berhenti di depan rumahnya. "Bulyo?"
Dia melepaskan helmnya, memberi senyuman manis padanya. "Hallo Oni."
"Ngapain ke sini?"
"Jenguk tante dong. Mana tantenya?" Sambil mencuri pandang ke dalam rumah. "Gue masuk ya."
Tyo baru saja masuk ke dalam rumah tersebut sebelum pemiliknya memberi izin. Oni hanya berdeham, sudah biasa Tyo seperti itu. "Merasa rumah milik sendiri."
Tyo melihatnya. "Tante..."
"Eh Nak Tyo. Baru kesini?"
"Iyah tante," jawab Tyo. "Tante ini ada kue buat tante sama Oni dari grandma."
"Wah... makasih. Jadi ngerepotin ginih," ungkapnya menerima pemberian Tyo tersebut.
"Not troublesome tante. Sama-sama." Tyo berseri.
Ibu Oni yang bernama Yuli tersenyum kepada Tyo lalu ia melihat ke arah putrinya berada. "Oni..."
"Iyah bu?"
"Katanya kamu mau ikut lomba, kan?" tanyanya. Oni masih diam berpikir sejenak. "Tapi, ibu nggak pernah liat kamu latihan."
"Iyah bu. Oni kayaknya nggak bakalan gabung, Oni harus jagain ibu dulu."
"Kenapa jagain ibu? Ibu udah sehat, kok. Kamu ikut latihan aja ya sama temen-temen kamu."
"Tapi ibu...."
"Sekarang ada latihan?"
Oni cukup ragu untuk mengatakannya. "Ada bu."
"Nah yaudah sekarang kamu latihan sana, biar bisa ikut lomba."
"Oni nggak bisa..."
"Ibu udah sehat," jelasnya. "Nak Tyo..."
"Iyah tante?"
"Anterin Oni ya."
"Oh siap tante. Serahkan saja pada Tyo," kilatnya.
"Ibu beneran nggak papa?" tanya Oni masih ragu.
"Iyah... Kamu cepet ganti baju, siap-siap."
Oni tersenyum. "Iyah bu."
...****************...
Kami selesai siaran. Gilang dan Fauzan menyapa Hanna dengan pujian. Hanna merasa sangat bahagia yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya, terasa lega di hati.
“Perawalan, lo udah lumayan bagus,” ungkap Gilang. “Bagus Hanna.”
Hanna tersenyum. “Makasih, Bang.”
Fauzan ikut tersenyum.
“Bisa nih, kalau lo mau kesini ikut siaran lagi. Lo bisa gabung.” Melirik Fauzan. “Nanti gue gaji lain kali."
Hanna begitu bersemangat setelah mendengarkan hal itu. "Dengan senang hati, Bang Gilang.”
“Kabari aja, oke? Kalau gitu gue lanjut lagi nih, yo,” ujar Gilang. "Kalian mau istirahat disini boleh, mau balik silahkan atau.… kalau mau kencan juga nggak papa.”
Gilang menggoda Hanna dan Fauzan. Tiba-tiba. Fauzan tersedak walaupun tidak minum.
"Hahaha bang Gilang bisa aja, mana ada kencan-kencanan," kekeh Hanna.
Fauzan pun menjawabnya juga. “Haaha i-ya, mana ada.” Gilang tertawa dengan tawa menggoda mereka. “Yaudah, Bang. Kita mau cabut sekarang aja,” pamit Fauzan.
“Hahah iyah iyah sana," kekeh Gilang.
"Makasih ya bang Gilang," ucap Hanna.
Training.
Bunyi notif pesan. Fauzan merogoh handphonenya dalam saku celana.
“Han.”
“Kenapa?”
“Kita mampir dulu beli bubur ayam, nggak papa kan?” tanyanya.
“Nggak papa, ayo,” sahut Hanna yang terdengar bersemangat dan belum lelah.
...****************...
Hari sudah menjelang malam. Sekolah masih diramaikan oleh sejumlah anak-anak basket. Mereka baru saja selesai dari latihan untuk perlombaan. Satu persatu telah pergi untuk pulang dan berpamitan pada pelatih mereka.
Afra berjalan menuju parkiran tidak lama kemudian Fauzi tiba juga. Fauzi memberikan senyuman, Afra membalasnya dengan senyuman namun tipis.
"Bawa mobil, Fra?"
Afra hanya angguk.
"Em soal tadi, makasih buat sarannya."
"Nggak masalah," balas Afra.
Mobil mereka terparkir bersebelahan. Afra hendak masuk ke mobil. "Gue duluan."
"Oke, hati-hati."
Tidak lama dari mobil Afra pergi, disusul oleh Fauzi.
...****************...
Jalan raya yang ramai, langit yang menjelang malam, angin yang mulai mendingin.
Hari yang dirasakan begitu bahagia, akan ku ingat.
Tidak cukup lama, mereka tiba. Pembuat bubur itu berada di dekat mall tempat Hanna dan Kak Bella berada di sini tadi setelah pulang sekolah. Pedagang bubur ayam itu sangat ramai pembeli. Fauzan terlihat membuka kembali ponselnya. Dan.
“Han, mau makan?” tanya Fauzan seketika. Hanna yang sedikit melamun melihat sesuatu. "Han?"
"Ah iya apa?"
Fauzan yang mengetahuinya bahwa Hanna melirik anak kecil yang sedang memakan aromanis. “Lo mau itu?” tanyanya kembali sembari tersenyum yang disembunyikan.
“Emmm....” Hanna terlihat malu-malu seperti.
Anak kecil. Dalam hati hati Fauzan tersenyum.
Hanna yang belum menjawab, Fauzan menarik tangan Hanna dan melangkah pergi dari sini. “Eeh! Fauzan... Mau kemana? Buburnya?”
Namun, Fauzan mengabaikannya dan terus berjalan menuju suatu tempat. Fauzan menariknya ke mall. Teruslah berjalan meskipun Hanna sedang ditarik. Kami berhenti di tempat yang disukainya.
“Mbak pesan satu," kata Fauzan yang masih memegang tangannya Hanna.
“Fauzan...” tunjuk Hanna malu.
Fauzan mengangkat alisnya sedikit tersenyum dan baru disadarinya ia masih memegang tangan Hanna. “Eh, maaf.” Segera melepaskan genggaman itu.
“Iyah.” Hanna tersenyum malu.
“Mas...” Penjual itu menyerahkan aromanis.
Fauzan pun membayar aromanis tersebut dan aromanis itu masih dipegangnya. "Makasih, Mbak."
Sampai kami pun melangkah pergi dari tempat itu. Tak terlalau lama, Hanna seperti dipermainkan oleh Fauzan. Dia kira aromanis tersebut akan diberikan kepadanya. Tetapi. Fauzan membukanya dan memakannya sendirian. Fauzan yang melihat Hanna seperti itu sangat menggemaskan.
“Mau?”
"Enggak."
Pura-pura.
“Masa?” tanyanya lagi sembari memperlihatkan dirinya memakan aromanis.
Hanna memalingkan wajahnya. Fauzan berhenti berjalan yang awalnya berdampingan. Hanna disini belum menyadarinya.
“Fauzan?”
Memanggilnya.
Saat membalik arah, Hanna tertegun membulatkan matanya.
“Enak?” Di belakangnya Fauzan menyuapi aromanis tersebut pada Hanna.
“FAUZAN...." Sembari memukulnya dan mengunyah aromanis tersebut.
Fauzan tertawa dan itu kedua kalinya aku melihat tawanya yang lebar.
...🦄🥀☔...
...Bersambung...