
"Bangun woiii bangun woiii udah pagiii."
Teriakan Aji sudah berada di kamar Hanna. Aji membangunkan Hanna dengan cara yang
tidak biasa. Ia menaiki kasur dan meloncat-loncat.
"KEBOOO!! Bangun woii!"
Hanna risih dengan Aji saat ini. Dia sudah mengganggu tidur nyenyaknya. Hanna menaikkan selimutnya sampai atas.
"His! Dasar Si Kebo," gumam Aji langsung menarik selimut tersebut.
"AAAaah~ BATU AKIK!!" Hanna langsung terbangun kesal dengan rambut yang berantakan dan menutupi wajahnya.
Hanna pun meniupi rambut tersebut. Fuuh~
"Kenapa lo bangunin gue? Ih."
Aji pun langsung duduk. "Hari ini hari senin, lo nggak bakalan sekolah apa? Nanti keburu telat upacara."
Hanna mendengus kesal. "Kalau lo mau ke sekolah ya ke sekolah aja, gue nanti."
Hanna pun langsung berbaring kembali.
"Hannaaaaaa...... !" Menahan agar tidak tertidur kembali.
"Ihh lo lupa apa? Seminggu ini kita bebas kan mau UN," hembusnya.
Aji terdiam. Dia baru menyadarinya. "Ah, bener."
"Hais... pergi, pergi! Jangan ganggu gue tidur."
Hanna berbaring lagi.
Aji pun baru menyadarinya kembali. "Lo udah sehat Han?"
Hanna kembali kesal masih saja Aji mengganggunya. "Gue sehat nihhh.. nih...! Sampai gue pengen nyekik lo."
Aji sedikit takut dengan macan yang terbangun dari tidurnya. Ia pun beranjak darisana.
"Dasar KEBO!!!"
Hanna pun melempar bantal.
Aji tertawa. "HAHAHA Hahahah nggak kena nggak kena...."
Brak. Pintu tertutup dengan Hanna yang masih kesal di dalam sana.
Usai keluar kamar, Aji terlihat senang. Dia merasakan kembali ke Hanna lama. Hanna seperti itu, dia tidak lupa. Menyadari keberadaannya dan bangun. Berharap hari demi hari situasinya akan semakin baik.
"Gue harus bilang makasih nih sama Fauzan."
...****************...
Di sekolah.
Dia, Gina adalah murid teladan. Dia pergi ke sekolah seperti biasanya di pagi hari. Ia menyadari bahwa keberangkatannya masih terlalu pagi, sehingga harus menunggu selesainya upacara bendera.
Ia menunggu di Sekre Organisasi MPK dulunya.
"Disini juga Gin?" tanya Nasrul.
Gina sedikit terkejut, ia mendapati seseorang di sebelah Sekre-nya itu yaitu Sekre OSIS, di sana ada Nasrul. Nasrul yang duduk bergeser ke dekat dengan pintu.
"Iyah gue ada perlu ke BK. Tapi, kepagian," kekeh Gina duduk di dekat pintu.
Sehingga membuat mereka terlihat bersampingan.
"Gue juga sama," terang Nasrul tersenyum. "Ohiyah jadinya lo daftar di kampus mana?"
"Gue ngambil IPB disana ada jurusan kedokteran hewan."
Nasrul ikut senang. "Tetep di Bogor nih?"
Gina mengangguk. "Kalau lo?"
"Gue..."
Suara bubarnya para peserta upacara terdengar membuat mereka teralihkan.
Nasrul baru saja mendapatkan notif pesan. "Gin, gue tinggal dulu ya."
"Iyah, Rul," balas Gina senyum.
Nasrul memberikan senyuman lalu pergi. Gina melambaikan tangannya juga sembari tersenyum.
DORRR!!
"Astaga." Gina terperanjat salah satu temannya mengejutkan dirinya.
"Hayohh lagi ngapain?"
"Ih ngagetin aja."
...****************...
Hanna menggeliat dari tidurnya. Dia akhirnya bangun lagi dan saat itu pukul 9. Dia turun dari tempat tidur dan keluar dari kamarnya untuk pergi ke dapur. Ternyata Hanna terbangun karena merasa lapar.
"Si Kebo baru bangun," sindir seseorang yang tengah duduk di sofa menatap handphonenya.
Hanna tetap berjalan dan mengambil segelas air putih mengabaikan sindiran dari mulut Aji. "Bunda papah mana?"
"Senin heii senin hari kerja," sosor Aji.
"Biasa aja kali," ketus Hanna. Dia mulai mengambil sarapan yang sudah tersedia di meja makan.
"Han..."
"Hem?"
"Lo nggak akan kemana-mana, kan?"
"Kayaknya."
"Ini bunda nih nitip pesen kalau lo nggak kemana-mana, lo disuruh ke butik."
"Ke butik? Mau apa?" tanya Hanna asik dengan dunia makanannya.
"Nggak tahu Kebo!! Makanya lo ke butik sana. Daripada nggak ada kerjaan."
Meski ingin tidak mendengar ejekan itu, tetap saja Hanna mendengarnya karena memiliki telinga. "Kebo-kebo." Gerutunya.
Aji beranjak dari sofa. "Han gue pergi."
"Mau kemana?"
"Biasa nongki."
"Oh."
Sambil berjalan Aji tetap mengingat Hanna untuk pergi ke Butik. "Ke butik ya... Ke butik..."
"Yah Aji bawel."
...****************...
Di kafe yang sudah menjadi tempat berkumpul mereka.
"Lama banget tuh anak."
"Sabar, Yo. Bentar lagi juga nyampe," sahut Nasrul. "Eh iya semalam lo seriusan jadi nembak Olla?"
Nasrul baru saja teringat tentang itu.
Tyo hanya mengangguk dengan perasaan sedikit galau.
"Dari cara lo nanggepin pertanyaan gue kayanya lo di tolak."
"Yah gue ditolak.... Huaww Hiks." Tyo berpura-pura menangis.
"Hahahaha sabar Yo."
Tampaknya seseorang yang ditunggu-tunggu telah nampak.
"Ahh tuh Aji."
Aji pun datang menghampiri teman-temannya tersebut. "Sorry telat."
Tyo yang pura-pura sedih langsung memberikan ekspresi yang sudah kita kenal. Dia mengerutkan kening karena kesal.
Sedangkan Nasrul ia masih tenang dan berbaik hati.
"Nunggu satu jam nih," kesal Tyo.
"Yahh sorry Yo. Gue kan nunggu Hanna bangun," timpal Aji.
Tyo masih saja memperpanjang masalah ini. "Lo kan bisa bangunin Si Hanna. Apa susahnya?"
"Gue diusir dari kamarnya sampe dilempar pake bantal. Gue kan nggak mau jadi sasaran amukannya," decit Aji sedikit berasalan.
Tyo hanya berdehem.
"Lo sensi banget sih apa gara-gara lo ditolak sama si bocah tengil," ejek Aji. "Phtt..."
Tyo membulatkan matanya mendengar hal itu membuatnya bertambah kesal.
"Eii udah bro.... Kenapa jadi pada ribut," lerai Nasrul.
Tyo dan Aji kemudian berdiam.
"Kita langsung aja bahas kenapa kita kumpul ginih," lanjutnya.
Tyo lah yang mengajak mereka untuk berkumpul di pagi hari ini. "Not important. But, pengen ngobrol-ngobrol sebelum gue pergi."
Dan giliran Aji yang menjadi kesal mendengar jawaban Tyo. Rasanya ingin menumpuknya. Tyo yang sudah marah-marah terhadap Aji karena terlambat tapi nyatanya dia mengajak kami hanya ingin sekedar mengobrol.
Aji pun mengusap-usap dadanya. "Sabar."
"Yaudah mau ngobrol apa?"
"Lo pada pergi ke luar negeri kan?" tanya Nasrul memulai obrolan disini. "Kapan berangkat?"
"Kayaknya gue pergi after graduation. My grandma pengen gue punya kenangan sekolah in Indonesian," ungkap Tyo.
"Tapi disana lo lanjut study?" tanya Nasrul.
"Kemungkinan gue bakalan telat masuk," jawabnya. "Lo gimana, Ji?"
"Setelah selesai ujian. Lusanya gue langsung berangkat," jelas Aji.
"Cepet amat Ji," kilah Nasrul.
"Hu'um, ada yang harus cepat-cepat diurus sana."
"Hanna udah tahu?"
"Udah, gue kira Hanna bakalan nahan gue. Tapi ternyata...." Aji tersenyum. "Gue pikir kondisi Hanna udah mulai membaik." Aji tampak bahagia. "Gue harus bilang makasih sama Fauzan."
"Bagus kalau gitu."
"Ehh bukannya lo lagi PDKT sama Si Afra. Tuh anak gimana?" lontar Tyo.
PDKT (Pendekatan)
Aji hanya tersenyum dengan arti yang tersirat. Aji pun merasakan sedih dan berat meninggalkan teman-teman berharganya. Apalagi dengan Hanna begitu pun dengan Afra orang yang ia cintai.
...****************...
Hanna akhirnya selesai dan berpakaian rapi. Dia meninggalkan rumah. Tak jauh dari situ, Hanna harus berjalan kaki dulu untuk bisa sampai ke angkutan umum. Sesampainya di sana, beruntung angkutan umum tetap tidak bergerak. Namun saat akan memasuki angkutan umum tersebut. Tiba-tiba.
"Fauzan?"
Pemilik motor tersebut membuka helmnya agar wajahnya terlihat. "Mau kemana?"
"Gue mau ke butik bunda," jawab Hanna yang masih tetap berdiri di pintu masuk angkutan umum.
"Gue anter," kata Fauzan.
Hanna masih diam.
"Ayo," ajak Fauzan melepaskan helm yang terkait di belakang untuk diberikan kepada Hanna.
Hanna mengucapkan kata maaf kepada supir angkutan umum ini karena telah menunggunya lama. "Maaf mang saya nggak jadi naik."
"Ahh si eneng mah, kumaha sih." Supir itu mengomeli Hanna dan kemudian angkutan umum itu melaju.
Hanna melangkah pada Fauzan berada.
Fauzan memberi Hanna helm sambil tersenyum melihat Hanna yang tidak naik angkutan umum dan membuat kesal pengemudi.
"Gara-gara kamu."
Fauzan tertawa kecil. Hanna pun menaiki motor.
Mereka bergegas menuju butik milik ibu Aji. Hari demi hari, Hanna melihat Fauzan terbuka dan tersenyum padanya. Dan itu membuatnya bahagia, entah bagaimana.
Dia kembali diboncengi oleh Fauzan dengan sepeda motornya. Bertanya-tanya padanya. Sesampainya di butik.
"Kamu baru aja dari sekolah atau mau ke sekolah?" tanya Hanna karena Fauzan memakai seragam sekolah.
Namun, dia juga bertanya-tanya kemana arah Jalan Fauzan. Karena rumah Fauzan bukan arah jalan tadi dan letaknya terlalu jauh.
"Gue habis dari sekolah," jawabnya.
"Kenapa kamu bisa lewat jalan sana?" Hanna masih bertanya sambil meletakkan helm.
"Dari rumah temen, ngembaliin buku."
Hanna pun ber'oh. Dan segera seseorang memanggilnya. Suara itu milik ibu Aji.
"Bunda kira nggak bakalan kesini loh."
Hanna dan Fauzan menghampirinya yang berdiri di depan kami, tak jauh dari situ. Kami berjabat tangan dan mengucapkan salam. Di sisi lain, Bunda terlihat bingung menanyakan siapa orang ini bersama Hanna.
"Eh ada Fauzi juga..."
"Fauzan bunda bukan Fauzi," sanggah Hanna.
Fauzan tersenyum.
"Ah kembarannya... heheh maaf ya, bunda baru liat kamu," kekeh Naila.
"Nggak papa tante."
"Tadi Hanna nggak sengaja ketemu, terus Fauzan nawarin tumpangan deh." Hanna bercerita.
"Ohh .. emang Aji kemana? Kenapa bukan Aji yang nganterin?,
"Aji pergi bun ketemu sama temen-temennya."
"Oh gituh. Eh kenapa jadi ngobrol disini, ayo masuk-masuk," ajaknya untuk masuk ke dalam butiknya.
Sudah di dalam. Baik Hanna maupun Fauzan melihat butik tersebut dan Hanna sudah lama tidak mampir ke sini.
"Bunda kenapa nyuruh Hanna ke sini?"
"Tunggu sebentar..." balasnya beranjak pergi.
Hanna dan Fauzan duduk tidak lama ibu Aji telah kembali sambil membawa sesuatu.
"Hanna coba kamu pake ini yah," pinta Naila memberikan Hanna sebuah gaun.
Hanna mengambilnya. "Kenapa Hanna disuruh coba gaun ini? Ini gaun siapa, Bun?"
"Kamu coba dulu aja cepet-cepet..." Bunda Naila bersemangat, mendorong-dorong Hanna untuk segera mengganti pakaian.
Hanna juga pindah dari sini ke ruang ganti dan tiba-tiba ibu Aji menoleh ke arah Fauzan. "Nah Fauzan, kamu cobain ini juga yah."
Bunda Naila memberikan pakaian jas yang komplit sampai bawah. Fauzan masih berdiam. Tapi bunda tetap menyuruh-nyuruh untuk mengganti pakaian seperti halnya Hanna.
Menunggu begitu lama. Naila duduk melihat majalah. Fauzan muncul lebih awal. Melihatnya, Naila terkesima dengan sosok Fauzan dengan apa yang dikenakannya.
"Wahhh itu cocok banget dipakai kamu, Nak," puji Naila.
Fauzan senyum-senyum dengan keheranan.
Tak lama kemudian Hanna pun terlihat dengan gaun yang dipakainya. Setiap orang yang melihatnya sangat terpesona, dia terlihat cantik.
Cantik. Dalam hati Fauzan terpesona.
"Ah.. anak bunda cantik sekali," puji Naila sembari menghampiri Hanna.
"Hehe makasih bunda."
Naila mengecek gaun yang dikenakan Hanna. "Tapi, disini harus dikecilin lagi. Hanna kamu ngurusin."
Hanna berseri. "Gaun ini emang punya siapa bun?"
Hanna sedikit malu dengan apa yang dikenakannya. Kenapa Bunda menyuruhnya mencoba gaun ini.
"Itu punya kamu, bunda khusus buatin buat kamu."
"Punya Hanna?"
Naila angguk.
Kemudian Hanna menoleh ke Fauzan dan menyadari apa yang dikenakan Fauzan. Hanna terkekeh. "Kamu disuruh nyobain juga?"
Fauzan hanya tersenyum dan sedikit malu.
"Sini-sini nak Fauzan, berdiri di samping Hanna," pinta Naila.
Fauzan melangkah ke tempat Hanna berada, mereka berdampingan. Wow. Mereka begitu harmonis sehingga ibu Aji ingin segera melihat anak-anaknya menikah.
Seorang pegawai yang ada di butik ini, memandangi Hanna dan Fauzan. "Wah kalian cocok banget." Ketiganya menoleh pada pegawai yang masih muda itu. "Udah cantik, ganteng..." Pegawai itu terus memuji kedua remaja yang memakai gaun dan kemeja formal. "Saya doakan semoga lancar nikahannya."
WHAT?! NIKAH?
Hanna, Fauzan tersentak kejut.
Bunda Naila terkekeh-kekeh.
"Ih, Mbak. Kita nggak bakalan nikah..." tolak Hanna gelisah.
"Mereka nyoba ini buat kelulusan sekolah nanti," sahut Naila kepada pegawainya.
"Ah~ kirain saya mau nikah hehehe udah cocok banget soalnya."
Hanna dan Fauzan merona malu.
"Yaudah kamu kerja lagi..."
"Baik bu bos..."
Pegawai itu pun pamit untuk bekerja kembali.
Hanna terlihat malu, Bunda nya Aji memang selalu terang-terangan. "Ihh bunda."
"Hahaha... lucu sekali. Bunda foto..."
Hanna dan Fauzan tidak bisa berkata-kata dengan apa yang dilakukan bunda Naila. Menurut Fauzan, ibu dan anak itu sama. Yaitu Aji.
"Tapi kayaknya terlalu formal, Fauzan coba lepas jas nya."
Fauzan nurut melepaskan jas hitamnya, memperlihatkan sweter hitam yang menutupi lehernya, dibalut dengan kemeja putih.
"Nah ini baru cocok." Merasa masih ada yang kurang.
"Bun kenapa lama?"
"Bentar." Naila mengambil buket. "Nah pegang ini."
Naila memberikan buket bunga kepada Fauzan, Fauzan menerima dengan kakuk sambil tersenyum.
"Siap pose...."
Cekrek.
"Udah."
"Bunda kenapa kita disuruh pake ini? Kayak mau ke pesta aja," selosor Hanna.
"Kalian kan mau ke pesta setelah kelulusan nanti."
"Hah?"
"Setelah kelulusan pemberian ijasah kan ada prom night," lanjut Naila.
Hanna lupa tentang itu. Bahwa di sekolah kita sudah terbiasa dengan kegiatan tersebut dari generasi ke generasi setelah memberikan kelulusan dilanjutkan dengan prom night yang diadakan di sekolah.
"Kamu lupa yah?"
"Iyah Hanna lupa heheh."
Hanna dan Fauzan akhirnya berganti pakaian lagi. Mereka kembali dengan pakaian asli mereka. Dan Fauzan mengembalikan jas itu. Naila juga menerimanya, namun ia malah memasukkannya ke dalam bingkisan dan memberikannya kepada Fauzan.
"Buat kamu."
Fauzan diam bingung.
"Terima ya." Bunda Naila memaksa.
Fauzan terlihat tidak enak dengan pemberian ini. "Tante saya jadi nggak enak, tante baru ketemu saya juga."
Bunda tersenyum. "Sopan sekali kamu. Tapi, tante mau ngasih jasnya, soalnya cocok buat kamu. Makasih udah mau nolong tante buat nyobain jasnya."
"Tapi..."
"Udah Zan terima aja, yah Bun?" ucap Hanna.
Bunda mengangguk senyum.
Fauzan terlihat malu untuk menerimanya. "Makasih tante."
"Sama-sama."
Setelah itu, Hanna dan Fauzan berpamitan untuk pulang. Mereka bersiap-siap naik sepeda motor. Hanna menerima ajakan kembali untuk diantarkan olehnya.
"Han.."
"Um?"
"Haus nggak?" tanya Fauzan. "Kita mampir beli minum dulu mau?"
"Boleh," jawab Hanna.
Kami pun berangkat dari butik ini dan menuju ke suatu tempat.
...🥀☔...
...Bersambung...
...___________...
...Rilis 23/05/2020...
...Revisi 04/08/2020...