Diary Of A School: Me And Yu

Diary Of A School: Me And Yu
BAB 37 Mimpi Buruk Lalu



Kecelakaan itu terjadi. Dimana saat itu Fauzan cukup nakal namun kenakalannya tidak melakukan apapun yang dilarang oleh negara atau agama. Dia dikenal dan sangat populer di masa sekolah menengah pertamanya. Dia sering bergaul dengan para senior dan siswa SMA.


Maret, 2015. Kabar duka kepada keluarga Si Kembar. Mereka mendapat kabar bahwa kakeknya meninggal dunia. Bukan karena sakit ataupun yang lainnya. Karena mungkin sudah waktunya Kakek dipanggil oleh Tuhan. Segera semuanya pergi ke Bogor.


Kakek di Bogor adalah ayah dari ayah Si Kembar. Kakeknya mewariskan rumah tersebut kepadanya. Karena ayahnya sangat ingin dekat, merasa menyesali jauh dengan ayahnya sendiri di umur tuanya itu. Dia memutuskan untuk tinggal di Bogor, meninggalkan kota Jakarta yang begitu suntuk. Anak-anaknya diharuskan pindah sekolah di sini. Dari kedua anaknya tidak mempersalahkan hal itu, meski sedikit sedih harus meninggalkan teman-teman di sekolah lama mereka.


Si Kembar, Fauzi dan Fauzan. Mereka memasuki kelas 2 SMP. Tidak berubah, bahwa mereka masih begitu populer di sekolah baru mereka. Fauzi anak berprestasi dan langsung menjadi kapten basket. Sedangkan kembarannya Fauzan, dia tetap sama. Nakal, sering bolos, berkelahi karena membela keadilan, tapi tidak melanggar hukum, negara, dan agama. Tapi sebenarnya dia pandai belajar, tapi tidak mau menunjukkannya. Dia sangat jago dalam bahasa Inggris.


Hari dimana kecelakaan itu terjadi, Fauzan menaiki mobil bersama para seniornya dalam keadaan yang sedang berselisih di antara mereka.


"Zan buruan masuk."


"Kemana?"


Herannya yang baru saja pulang sekolah.


"Kita disuruh bantuin sekolahnya abang gue, bang Kiki udah nunggu kita di sana. Buruan masuk!"


Seniornya menyuruh Fauzan untuk ikut dalam aksi tawuran. Walaupun Fauzan suka berkelahi untuk bertindak membela yang menurutnya benar, tapi jika tawuran itu sudah di luar jalurnya ia tidak pernah ikut-ikutan. Tawuran membuat orang lain yang tidak bersalah ikut tertimpa.


Ketika itu di dalam mobil. Fauzan duduk di kursi depan sembari berselisih dengan para kakak kelasnya yang sedang mengemudi. Dirinya meminta memberhentikan mobil agar ia bisa turun dan tidak mau melakukan tawuran tersebut.


Tetap tidak diperbolehkan olehnya itu sampai dimana Fauzan berusaha untuk memberhentikan mobil ini dan terjadilan. Di depan mereka ada sebuah truk dan mereka mencoba menghindari truk tersebut dan truk pun ikut menghindar. Tetapi, nyatanya.


BRUKKK....


BRAK


Fauzan mengetahui saat bersamaan berusaha untuk saling menghindar. Truk itu ternyata mengenai mobil orang lain dan menabraknya. Mobil itu terguling, terbalik.


Fauzan keluar dari mobil dalam keadaan luka-luka di bagian wajah dan darah mengalir dari kepalanya. Melihat semua kejadian itu. Ia sangat ketakutan dan merasa bersalah. Karena mencoba untuk menghindar membuat orang lain yang terkena imbasnya.


Kecelakaan tersebut merenggut beberapa nyawa orang. Bukan hanya itu yang terjadi di hari tersebut, tawuran pelajar pun merenggut nyawa seseorang. Dua kejadian itu menjadi sejarah yang naas untuk masyarakat Bogor.



Suara isakan tangis dimana-mana. Fauzan tampak tersadar meski berlumuran darah di kepalanya, tapi tidak berlangsung lama. Perasan bersalah membunuhi dirinya.


Meski harus mendapatkan perawatan, Fauzan bersih keras ingin pulang. Dia sangat tidak menyukai wangi rumah sakit, membuatnya semakin depresi karena merasa bersalah.


Tiga hari telah berlalu.


Pulangnya Fauzan dengan beberapa anggota tubuhnya yang luka dan diperban. Sebelum menuju ke rumahnya, dia mengunjungi pemakaman. Begitu sakit yang dia rasakan, sesak. Merasa semua yang terjadi hari itu adalah salahnya. Menangis. Tidak bisa menerima.


Berlari menjauh.


"Fauzan...."


Menghiraukan mereka yang mengkhawatirkan keadaannya.


Saudara kembarnya Fauzi berusaha untuk mengejarnya. Namun gagal, dia kehilangan jejak. Tapi, Fauzi berusaha untuk mencarinya. Dia begitu takut bahwa Fauzan tekad melakukan sesuatu yang membuatnya kehilangan nyawa.


Malam suara derasnya hujan dan petir di luar sana. Fauzan tidak bisa lagi menahan sesaknya itu, merasa dia tidak berhak untuk hidup.


Menghiraukan hujan.


Dia sudah menyatu dengan alam ini. Begitu menyakitkan. Saat hendak kembali.


"AAAAAHHHHH... HIKS, HIKS...."


Fuazan terkejut.


Dia, melihat seorang gadis di depannya yang tengah rapuh, seperti dirinya saat itu. Gadis itu berteriak sangat kencang membuat dirinya merasakan hal sama dengan gadis itu. Mereka berdua sama-sama bersedih.


Merasa kasian, padahal dirinya pun sama. Dia segera meminjam payung pada orang yang ia lihat di sekitaran sini. Mendapatkannya. Dia takut bahwa gadis itu juga berniat bunuh diri. Segera dia berjalan ke arah gadis itu, meletakkan payung tersebut di pundaknya. Fauzan pergi meninggalkan gadis itu, seorang pemuda yang memakai jaket biru langit dan topi. Dia sedikit menengok ke belakang untuk melihat keadaannya, melihat wajah begitu jelas meski dibasahi dengan air mata yang ditutupi oleh rintik hujan.


Masuk ke dalam rumah, dia disuguhi oleh pembicaraan yang menyakitkan kembali. Asisten rumah tangga di rumah ini, bi Asih mengatakan bahwa salah satu korban dari kecelakaan yang sama dengan Fauzan, berada di komplek ini. Sakit. Dia sudah mati.


Pada akhirnya Fauzan dilarikan kembali ke rumah sakit. Nyatanya Fauzan memiliki cedera di kepalanya yang harus segera ditangani. Dia segera di operasi saat itu juga. Berjalan berhasil meski Fauzan masih harus mendapat perawatan.


Beberapa tahun kemudian....


Kembalinya keluarga Si Kembar ke rumah lamanya di Jakarta untuk mengkubur kenangan itu. Sampai Fauzan dan Fauzi telah masuk SMA. Tapi, ketika mereka akan naik kelas 11, mereka diharuskan kembali ke Bogor. Karena ayah mereka dipindah tugaskan ke luar negeri, dengan tibanya Fauzan menginginkan tinggal di Bogor. Awalnya semua menolak permintaan itu, tapi karena Fauzan orang yang keras kepala, pada akhirnya semuanya kembali ke Kota Bogor dengan kenangan yang menyakitkan bagi mereka. Ibu, Fauzan dan Fauzi tinggal di sana. Tapi mereka berusaha untuk melupakan dan menerima kenangan itu. Teruntuk Fauzan.


Fauzan dan Fauzi masuk ke sekolah baru mereka di SMA Bakti Nusa pada kelas 11 Semester 2. Menjadi murid baru yang populer bagi mereka di sini, tidak berubah sama sekali. Tentu mereka bertemu lagi dengan beberapa teman lamanya SMP di Bogor di sekolah ini. Dan rumor Fauzan tentang kecelakaan itu, menjadi bahan pembicaraan. Fauzan dikenal menjadi murid yang dingin, dan sedikit nakal.


Ketika memasuki kelas barunya di kelas IPS. Dia melihat sosok gadis yang ia pernah liat beberapa tahun yang lalu, berdiri di depan kelas mengobrol bersama murid laki-laki lain. Dimana hari itu dirinya ingin mengakhiri hidupnya, tapi ia sadar bahwa itu adalah dosa, lalu bertemu gadis yang sama-sama menderita, ia memberikan payung padanya karena saat itu sedang hujan deras. Sekilas melihat wajahnya, dan ternyata dia bertemu lagi dengan sosok gadis itu, di sekolah ini.


"Anak baru?" tanya murid laki-laki yang bersama sosok gadis itu.


Fauzan hanya angguk lalu masuk ke dalam kelas. Meski tatapan dia dengan gadis itu saling terkunci beberapa detik saja.


Saat itu Fauzan berpikir bahwa hidupnya sudah tidak berarti lagi karena merasa bersalah. Dan dia memutuskan untuk kembali ke kota ini untuk memperbaiki semuanya. Dia teringat bahwa di tempat tinggal yang sama ada salah satu korban dalam kecelakaan masa lalu itu. Fauzan mencari tahunya, menanyakan kepada orang-orang yang tinggal di komplek ini. Tidak lama, dia menemukan tempat tinggalnya. Rumah berwarna putih tampak nyaman tapi begitu sepi.


Fauzan semakin merasa bersalah bahwa korban kecelakaan itu meninggal di usia mudanya tetapi adik perempuan selamat ketika kecelakaan tersebut. Tapi yang membuat dirinya semakin bersalah, adik korban itu terkena imbasnya. Keluarganya menyalahkan dia karena putri pertamanya meninggal, dan pada akhirnya dia ditinggalkan oleh kedua orangtuanya, meski keduanya telah bercerai. Dia tinggal sendirian di rumah tersebut.


Deg.


Seketika dia tertegun. Gadis itu.....


Jadi, yang ia temui pada hujan deras itu, gadis itu, adalah dia? Korban dari kecelakaan juga.


Hanna.


Hosh


Hosh


Keringat dingin.


Fauzan terbangun dari mimpi buruknya. Beranjak dari tidurnya, mengambil sesuatu di atas meja belajarnya. Sebuah kertas berisikan alamat.


...🥀...