Diary Of A School: Me And Yu

Diary Of A School: Me And Yu
BAB 42 Pertandingan



Kali ini anggota ekstrakurikuler Jurnalistik yaitu Aji dan Hanna ikut menemani Paskibraka SMA Bakti Nusa yang mengikuti perlombaan yang diadakan di sekolahan lain. Mereka akan mengambil gambar dan merekam Paskibraka dari sekolah mereka. Untuk diabadikan.


Hanna memotret para anggota Paskibraka termasuk salah satu dari mereka adalah sahabatnya, yaitu Olla alias Oni. Meski tidak terlalu pendek tidak terlalu tinggi juga, 155 cm. Dia menjadi pembawa baki. Dia terlihat mungil dan lucu.


"Udah aja memori kamera habis karena foto lo doang," sindir Aji kepada Oni. "Han udah jangan dipotret terus tu anak."


"Suka-suka Hanna, lah. Kenapa lo yang sewot?" decit Oni.


Hanna yang menggeleng.


"Semuanya..." Pelatih Paskibraka Bakti Nusa datang untuk memberitahukan Informasi. "Siap-siap udah giliran kita."


Semua bergegas bersiap-siap. Ada yang tenang, gugup dan panik. Mereka saling menyemangati.


"Hanna.... Hanna. Gue gugup banget." Oni memegang tangan Hanna.


Hanna merasakannya. Dingin. "Lo pasti bisa. Semangat."


Oni angguk tersenyum. "Afra, Gina mau kesini nggak?"


"Katanya sih mau kesini. Mungkin mereka nunggu di luar."


"Awas aja kalau mereka nggak liat perlombaan gue. Apalagi Afra, kalau dia nggak dateng, gue juga nggak bakalan dateng liat lomba dia nanti malem." Oni sudah kesal saja. Tapi itu bagus karena akan menghilangkan kegugupannya.


Hanna hanya berseri. "Yaudah sana cepet kumpul. Gue keluar duluan."


"Oke."


Giliran Paskibraka SMA Bakti Nusa tengah berlangsung di lapangan. Mereka semua memakai seragam berwarna merah yang cerah dan berani. Penampilan mereka pun benar-benar luar biasa karena sekolah kami pernah menjadi juara umum. Mereka mendapatkan tepuk tangan yang meriah dan pujian dari orang-orang yang menontonnya. Hanna dan Aji terus mengabadikan dengan lensa kamera yang mereka pegang. Sedikitpun tidak boleh ada yang tertinggal.


Hanna mendapati seseorang berdiri di sisinya. Ternyata itu kedua sahabatnya, Gina dan Afra telah tiba.


"Udah dari tadi, Han?" tanya Afra.


"Tuh kan, Fra. Kalau Oni marah karena kita telat nontonnya gimana?" sosor Gina.


"Nggak, kok. Baru mulai juga."


Gina bernafas lega. "Untung deh."


"Oni ngomong ke elo ya, kesel. Kalau misalkan kita nggak dateng," lanjut Afra terkekeh kepada Hanna.


"Huum." Hanna berseri.


Mereka pun menyaksikan kembali sahabatnya disana.


"ONIIII..... SEMANGAT...." Teriak Gina bersorak menyemangati.


Paskibraka SMA Bakti Nusa telah selesai perform. Hanna, Gina, dam Afra langsung menemui Oni, mengucapkan selamat padanya. Saling berpelukan dan berfoto bersama.


Tidak lama kemudian Tyo datang bersama dengan Nasrul dan Fauzi, Tyo membawa sebuket bunga besar. Kami menatap ke arahnya heran.


"Selamat ya." Tyo menyerahkan buket bunga itu pada Oni.


Oni terkesima. "Makasih."


Ada suara yang menahan tawa dari dua anak laknat disini. Aji dan Afra. "Pthh...."


Semua orang menatap ke arahnya.


"Bawa buket segala, mau ke kondangan?"


"Atau mau nikahan?"


"Wisudaan?"


"Ah mau nembak? Jedar jedor?"


Baru kali ini dua anak itu mempunyai frekuensi yang sama untuk menyindir Oni dan Tyo. Mereka saling mengajak tos. Tapi Afra segera tersadar, dia kembali menjadi dingin untuk pria itu Aji.


"Ck, kalian berdua emang cocok. Sama-sama laknat sama sahabat sendiri," sindir Oni.


"Jadian aja sana," sambung Tyo menyindir.


"Kalau dia mau oke oke aja," ajak Aji.


Tidak tahu malu.


Afra mengerut keningnya jengkel.


Dan mereka tertawa bersama.


"Oh iyah Oni, gue nggak bisa lama-lama, gue harus balik lagi kumpul sama tim basket," papar Afra.


"Gue juga," lanjut Fauzi.


Oni angguk. "Makasih dah dateng bebep." Untuk Afra.


Afra menatapnya tidak suka. Tapi tidak lama dia mengangguk juga. "Gue duluan ya." Pamitnya pada semua orang.


"Mau gue anterin nggak?" tanya Aji.


Afra mengabaikannya dan langsung saja pergi. Aji mendapatkan tawa dari semua orang.


"Kasian deloh," ejek Oni.


"Eh Zi jagain gebetan gue," pintanya.


"Siap," kata Fauzi. Dia kemudian melihat ke arah Hanna. "Han..."


"Um?"


"Jangan lupa nonton pertandingan gue ya."


Hanna tersenyum angguk. Fauzi senang.


"Ehemkk ehekmm...." Sindir semua orang.


Hanna dan Fauzi hanya tersenyum saja.


Fauzi pun berpamitan lalu pergi menyusuli Afra.


...🌃...


Malam sudah tiba dan sekarang waktunya pertandingan bola basket antar sekolah. Bukan hanya pertandingan basket, tapi untuk penonton penyemangat dan cheerleader antar sekolah dinilai.


Diawali dengan pembukaan dari Cheerleader SMA Bakti Nusa. Yap, mereka geng ThreeZ.


Tapi dari beberapa orang bagian dari sekolah Bakti Nusa, sedikit terkejut karena tampilannya geng ThreeZ tersebut.


"Siapa yang mengizinkan mereka tampil?" sembur Raja. Guru killer mereka.


Semua tertegun menjadi gugup, mereka menggeleng cepat kepalanya ke kanan ke kiri. Lalu Raja melihat ke arah jajaran guru yang datang untuk menyaksikan pertandingan ini. Dan salah satu dari mereka yaitu Harto, yang meminta bantuan kepada muridnya Hanna agar anak didiknya itu geng ThreeZ bisa tampil untuk terakhir kalinya. Dia pura-pura tidak tahu, ketika Raja menatapnya.


"Mana Hanna?" tanya Raja kepada murid-muridnya. Mereka pun kembali secepat kilat menggeleng kepalanya tidak tahu. "Olla dimana Hanna?"


Seketika sekujur tubuhnya Oni mulai keringat dingin. "Nggak tahu, Pak. Saya juga dari tadi belum liat batang hidungnya." Meski gugup tapi dia tidak kenal takut dengan candaan itu.


Raja baru ingat, bahwa muridnya itu Hanna meminta menyerahkan urusan tim basket padanya, dan itu termasuk Cheerleader dan yang lainnya.


Saat jadwal tim basket putra sedang berjalan, seorang Fauzi sedang mencari sosok yang ditunggunya, Hanna. Tapi dia tidak terlihat sampai timnya memenangkan pertandingan. Sedikit kecewa tapi tidak apa, siapa dirinya untuk Hanna?


"Fauzi..."


Dia berlari dengan nafas yang tidak teratur.


"Hanna?"


"Fauzi hah.. hah..." Sambil mengantur nafasnya. "Maaf aku datengnya telat. Aku masih sempet liat kamu tanding, kan?"


"Udah selesai," jawab Fauzi kecewa.


"Hah?" Hanna merasa bersalah. "Tim kita menang?"


Fauzi tersenyum tipis. "Iyah."


Hanna merasa lega mendengarnya. Tapi. "Maaf Fauzi, aku ketiduran. Tapi aku janji, pertandingan selanjutnya aku bakal liat. Ya, liat kamy."


"Janji ya?"


Hanna tersenyum. "Janji."


Tampaknya Fauzi kembali ceria dengan janji Hanna tadi. Semoga ditepati.


"Ayok kita ke tribun, tim putri yang tanding sekarang," ajak Fauzi.


Hanna tersenyum angguk.


Hanna bertemu dengan teman-temannya di sana. Mereka langsung menyerang Hanna dengan beberapa pertanyaan, karena Hanna telat datang.


"Han sini..."


Hanna dan Fauzi menghampiri teman-temannya dan bergabung untuk bersorak.


"Kemana aja lo baru dateng?"


"Ketiduran." Hanna berseri.


"Kebiasaan."


"Hehehe...."


"Hanna, pak Raja nyariin lo tadi." Oni berbisik padanya.


"Ada apa nyariin gue?"


"Nggak tahu, tapi waktu Cheerleader TreeZ tampil tanduknya langsung keluar."


Hanna tersentak. Pasti berakhir seperti ini.


"Lo ngatain bokap gue," sindir Nasrul.


Dan Oni terkekeh.


"Sekarang pak Raja nya dimana?"


"Tadi sih disitu.. sekarang nggak tahu noh."


"Yaudah nggak usah bilang-bilang gue ada disini ya," pinta Hanna.


"Emang ada apaan sih?"


Kepo Oni.


Tapi tidak lama.


Di bawah sana anak basket telah memasuki lapangan. Dan tim basket putri SMA Bakti Nusa Bogor melawan tim basket putri dari sekolah lain.


BAKNUS BAKNUS BAKNUS BAKNUS.....


WWAAAAAAAAAAA


Sorakan penuh semangat dari penonton untuk kedua sekolah mereka.


AFRA SEMANGAT.....


Meski memiliki badan yang kecil, teriakan Oni melebihi semua orang.


Tapi di sini, Hanna tidak melihat keberadaan Fauzan. Ingin bertanya tapi dia keluh untuk menanyakan pada saudara kembarnya Fauzan, Fauzi.


Pertandingan telah selesai semua orang telah bubar, dan pertandingan tadi dimenangkan oleh tim basket putri SMA Bakti Nusa. Kedua dari tim putri putra Bakti Nusa masuk ke babak selanjutnya.


Di sini Oni cerewetnya minta ampun, terus membahas pertandingan tadi yang dilakukan oleh Afra yang sangat memukau di lapangan tadi. Dia mencetak skor banyak.


"Wah keren nih sahabat gue, siat siat.... nge shot gol.... Keren dah...."


Afra hanya terkekeh melihat kelakuan sahabatnya itu. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Kapan jadwal kalian tanding lagi?" tanya Hanna.


"Putri sih besok udah tanding lagi, kalau putranya lusa ya," sahut Afra melihat ke arah Fauzi.


"Putra lusa nya," sambung Fauzi.


"Nanti kita dukung kalian lagi sampai final," lanjut Nasrul.


Aamiin....


Amin.


"Yo ah cabut," kata Aji.


"Han mau pulang bareng sama aku?" tanya Fauzi.


"Aku..." Ketika ingin menjawab pandangannya tidak sengaja menemukan orang yang harusnya dihormati tapi kali ini ia harus menghindarinya. Pak Raja. "Zi, ayok kita pulang sekarang."


"Ah iyah oke."


Hanna segera mendekat pada mobil Fauzi.


"Cabut duluan," pamit Fauzi.


Semua mengangguk.


"Hati-hati bawanya Zi, awas kalau Hanna kenapa-kenapa." Amanat dari Aji.


Fauzi terkekeh. "Siap."


Bhim..


Mobil telah melaju pergi.


Datang Raja ke arah kami.


"Eh bapak..."


"Hallo pak..."


Semua penyapa guru sekolah mereka. Pak Raja tampaknya sedang menghitung jumlah muridnya itu.


"Mr. Raja why?" tanya Tyo terheran-heran.


Pak Raja masih diam.


"Si bapak kayak yang lagi ngitung domba ajah mau bobok," canda Aji.


Sebenarnya mereka ingin tertawa tapi mereka tahan. Takut kena sembur.


"Mana Hanna?"


Lagi.


Pak Raja menanyakannya lagi.


"Hanna nggak ke sini pak," selosor Oni.


Bohong.


Dia masih ingat kalau Hanna menghindarinya. Dengan alasan yang belum ia ketahui. Semuanya menatap heran kepadanya.


"Why are you lying?" Tyo berbisik kepada Oni.


"Dah diem aja dulu," decit Oni padanya.


"Iyah pak dia sakit perut jadinya nggak bisa dateng," sambung Gina membantu. Meski tidak tahu apa yang terjadi sekarang ini kenapa Oni berbohong.


Tampaknya pak Raja percaya. "Ohh." Lalu melihat ke arahnya Nasrul, anaknya sendiri. "Pulang sekarang..."


"Iyah pak," jawab Nasrul. "Tapi Gina ikut sama kita nggak papa kan pak? Nasrul mau nganterin pulang."


"Yah boleh," balas Raja. "Kalian juga langsung pada pulang jangan mampir dulu ke tempat lain. Udah malam."


"Baik pak.."


"Siap..."


Mereka bersalaman pada guru mereka. Nasrul dan Gina telah pergi. Dilanjut oleh Tyo dan Oni yang pulang bersamaan menaiki motor. Dan tunggallah Aji dan Afra yang masih disini.


Afra berjalan menuju mobilnya mengacuhkan Aji seorang diri di sini.


"Fra," panggil Aji.


Afra yang hendak masuk, seketika tidak jadi. "Apa?"


"Nggak nawarin tumpangan nih?"


"Nggak bawa motor?" tanya Afra.


Aji berseri. "Gue bawanya ini." Dia memperlihatkan skateboard listriknya itu.


Afra menghela nafas. Tanpa berbicara tapi dia mengisyaratkan untuk masuk ke mobil. Dan Aji sumringah kegirangan bisa diantar pulang oleh gebetannya.


Bukankah terbalik?


...🥀...