Diary Of A School: Me And Yu

Diary Of A School: Me And Yu
BAB 32 Egois?



Hari berikutnya tiba. Hanna sedang berjalan menuju sekolah. Tadi malam Fauzan mengantarkan pulang Hanna sehingga Hanna pun tidak bisa berkunjung ke rumah sakit. Teman-temannya sangat mengkhawatirkan Hanna karena dia tidak mengikuti pembelajaran sampai tibanya pulang sekolah. Namun, sesampainya di rumah, ia langsung memberi tahu sahabatnya.


Hanna sampai di depan gerbang sekolah saat berpapasan dengan sepeda motor Fauzan yang hendak masuk dan disusul oleh Fauzi yang sedang menggunakan mobil.


Dan saat itu pula seseorang memanggilnya.


"Hanna," panggil Gina yang baru saja keluar dari mobil Afra.


Hanna pun menoleh kepada Gina dan langsung menghampirinya.


"Kemarin lo kemana, Hanna? Kok bisa lo bolos sekolah, sih." Gina begitu cemas.


"Bukan sampe bolos jam pelajaran tapi sampe pulang sekolah," sindir Afta sambil mengunci mobilnya dan menghampiri kami ke sebelah kiri mobil.


Hanna masih berseri.


"Untung kita baik bilang lo sakit pulang lebih awal," papar Gina.


Hanna tersenyum memperlihatkan gigi putihnya itu. "Hehehe. Makasih deh."


Terlihat Fauzan dan Fauzi. Fauzi menyapa kami sementara Fauzan kembali ke awal yang dingin hanya dengan menatap.


"Gue ke sana dulu," kata Fauzi menunjuk ke arah Hanna berada. Fauzan hanya angguk.


Mereka pun berpisah.


"Hai Zi," sapa Gina setelah Fauzi sampai sini.


"Hai."


Kami berjalan bersama menuju kelas, kelas kami satu arah. Saat kami berada di lorong, kami berpisah dengan Fauzi. Fauzi mengaku ingin bertemu guru dulu.


"Gue mau ke sana dulu," tutur Fauzi.


"Oh iyah, Zi." Hanna sambil tersenyum.


Fauzi melambaikan tangannya lalu pergi.


"HEH!" Gina menyenggol Hanna, Hanna terheran. "Lo itu sebenernya suka sama siapa?" Gina yang penasaran dengan perasaan Hanna untuk siapa. Dan Hanna semakin bingung dibuatnya. "Lo pilih satu, suka Fauzi atau sama Fauzan."


Mereka mengobrol sambil berjalan ke arah kelas mereka.


"Apa jangan-jangan lo mau dua-dua nya?" tanya Afra dengan ekspresi terkejut dan tersenyum ledek.


Hanna pun ikut terkejut dan Gina tersenyum ledek mengikuti Afra.


"Apansih kalian. Gue, sama mereka itu temen aja nggak lebih."


Afra dan Gina tidak percaya.


"Seriusan," rengek Hanna. "Gue nggak mau pacaran sebelum tujuan gue udah kecapai Afra, Gina."


Hanna pun beranjak pergi dahulu. Namun segera disusul oleh Afra dan Gina.


"Perasaan itu nggak bisa bohong, Han. Mulut emang nggak mau tapi hati..." kata Gina tersenyum.


"Hati nggak bisa bohong," sambung Afra.


Hanna memutuskan untuk menutupi telinganya untuk tidak mendengar kata-kata ngawur teman-temannya.


......................


Di ruang BK (Bimbingan Konseling). Fauzi menemani Fauzan yang sedang dinasehati dimarahi karena belakangan ini Fauzan selalu absen dan kemarin ditemukan oleh satpam sekolah.


"Benar kamu bolos sendiri? Nggak ditemani temen kamu yang lain?"


"Saya bolos sendirian," jelas Fauzan. Bohong. "Mang Ujang kayaknya salah lihat."


Bu BK masih percaya tidak percaya. "Lain kali jangan diulangi dan lain kali orangtua kalian yang datang bukan kembaran kamu."


"Baik bu."


Fauzan dan Fauzi pun keluar dari ruang BK.


"Zan lain kali lo jangan bolos lagi gimana kalau mamah, ayah tahu dan yang ngangkat telepon kemarin bukan gue," terang Fauzi. "Untung gue kemarin ijin nggak masuk sekolah ngejagain mamah."


"Iyahyah kalau udah ginih lo mirip sama ayah. Baik hati," ucap Fauzan tersenyum sambil meledeki suadara kembarnya.


"Dasar." Fauzan pun ikut tersenyum.


Mereka sedang merindu dengan ayahnya yang sedang bekerja di Singapura cukup lama.


"Yaudah gue jalani hukuman dulu."


"Kalau bisa, gue pasti nemenin lo disana," sambung Fauzi.


"Speak doang." Fauzan tersenyum dan kemudian beranjak pergi.


"Kalau ada apa-apa bilang sama gue," teriak Fauzi.


Fauzan pun berbalik dan mengangkat tangannya satu dan jarinya menunjukan Ok.


...•...


...•...


Usai pembelajaran berlangsung, akhirnya kami kesini dengan sangat bahagia karena waktu istirahat yang kami nantikan telah tiba.


"Karena waktu sudah habis tugas kalian kumpulkan sekarang."


"Baik bu."


"Ketua kelas tolong simpan di meja ibu." Meminta tolong kepada Gina karena dia adalah Ketua Kelas.


"Baik bu."


"Ah iyah ibu sampai lupa dua minggu lagi kalian sudah mengikuti Ujian Praktek dan jangan lupa kalian belajar dengan giat." Bu guru pun meninggalkan kelas.


"Baik bu ...." ucap semua murid yang berada di kelas ini.


Gina mengambil satu per satu buku siswa kelas ini. Ada yang pasrah dan belum selesai mengerjakan, ada pula yang merengek menunggu sebentar. Namun Gina tidak memaafkan dan langsung mengambil bukunya.


"Biar gue bantu Gin," ucap Afra sambil memberikan bukanya kepada Gina dan langsung beranjak ke barisan yang lain untuk mengambil buku siswa yang lainnya.


Karena tempat duduk Afra dan Hanna berdekatan. Hanna pun berbicara. "Dah beres? Diisi semua?"


"Belum," kekeh Afra.


Gina dan Hanna pun menggelengkan kepalanya.


"Lo cepetan salin punya gue atau engga punya Gina biar gue yang bantu Gina," ujar Hanna.


Gina pun mengiyakannya. "Cepetan salin."


"Nggak usah gue cukup gini aja," jawab Afra yang tetap dengan keteguhannya untuk tidak menyalin tugas sahabatnya dan mengerjakan sebisanya dia.


Berbeda dengan sahabat satunya lagi, Oni. Kalau sudah ditawarkan, Oni tidak pernah menolak, selalu ditiru. Gina dan Hanna tersenyum mengingatkan sikap Oni bahwa jika pekerjaannya belum selesai dia selalu meminta kami untuk membantunya dan jika dia mandek dia akan menirunya.


"Ayok," kata Afra yang sudah selesai mengambil sisa buku.


Kami pun bertiga beranjak pergi ke ruang guru untuk menyimpan buku-buku ini dan setelah itu kami akan ke kantin. Namun saat kami berada di kantor. Para guru mengobrolkan seseorang.


"Ohhh jadi yang kemarin bolos tuh anak itu?"


Bolos? Kemarin? Dalam hati Hanna terkejut sekaligus gelisah.


"Katanya pak Ujang, dia lihat dua siswa yang bolos. Tapi, anak itu bilangnya sendiri."


"Mungkin pak Ujang salah lihat, dia kan udah tua. Tapi kasian juga dari pagi anak itu berdiri di lapangan."


Setelah mendengar itu Hanna pun langsung beranjak pergi dengan terburu-buru. Gina dan Afra pun memanggilnya namun dihiraukan.


"Kita susul?" tanya Gina.


Hanna berlari sangat kencang ia memasuki kelas untuk mengambil botol minumnya. Dan langsung berlari kembali ke bawah dengan terburu-buru sampai menyenggol beberapa siswa yang disana.


Hanna berlari begitu cepat hingga dia masuk kelas untuk mengambil botol minumnya. Dan segera berlari kembali ke bawah dengan terburu-buru yang tidak sengaja menyenggol beberapa murid disana. Setelah dekat, langkah Hanna terhenti. Dia berangsur-angsur berjalan menuju Fauzan yang menghadap tiang bendera sambil memberi hormat.


"Pantesan lo nyuruh gue pake topi, terus pergi duluan biar gue nggak keliatan sama pak Ujang," papar Hanna membuat Fauzan menengok ke belakang.


"Hanna?"


Hanna melempar botol minumnya kepada Fauzan dan Fauzan pun menangkapnya. "Ngapain disini?"


Semua orang tertuju pada mereka bahwa mereka sedang dipertanyakan oleh para murid Bakti Nusa yang melihat mereka karena sekarang adalah jam istirahat banyak murid-murid yang berada di luar kelas.


"Buruan minum nanti keburu ada yang lihat," tandasnya.


Fauzan tersenyum saat Hanna tampak mengkhawatirkannya. Dia juga meminum air yang diberikan Hanna dan setelah itu dia mengembalikannya.


"Kirain lo kesini mau nemenin gue dihukum," sindir Fauzan.


"Emangnya ini sinetron?" ledek Hanna. "Kalau gitu tadi lo nggak usah bohong aja sama guru BK."


Tiba-tiba.


"Siapa yang suruh pacaran disini?" Suara tegas dari guru BK yang datang kemari.


Dan Fauzan kembali seperti semula mengangkat tanggan hormat.


"Kamu lagi... Mau dihukum juga?" ucapnya kepada Hanna.


"Ee-enggak bu tadi.. tali sepatu saya lepas jadinya sekalian aja iket langsung," gugup Hanna. "Kebetulan lepasnya disini."


Seperti biasa bu BK tidak segampang itu untuk dikelabui. "Karena ibu ada rapat, hukuman kamu sudah selesai."


Mendengar hal itu Hanna dan Fauzan tampak senang.


"Kali ini saya ringankan hukuman kamu. Kalau kamu berulah lagi saya buat kamu bersihkan toilet di sekolah ini. Semuanya." Bu BK langsung beranjak pergi setelah mendapat anggukan dari Fauzan.


Dengan tiba-tiba nya Fauzan menarik Hanna untuk pergi.


"Mau kemana?" tanya Hanna yang ditarik untuk ikut bersamanya.



Fauzan tidak menjawab dan terus berjalan ke suatu tempat.


"Disini aja, disana terlalu ramai," tutur Fauzan sesampainya di tempat.


Dan ia pun langsung beranjak duduk.


Hanna melirik ke arah sana dan sini. Memang benar lorong ini tak terlalu ramai dan jarang dilalui. Hanna masih terdiam membisu terlihat bingung. Fauzan yang memerhatikan dari tadi ia tersenyum dengan tingkah Hanna ini. Hanna melirik ke arah Fauzan dan sontak Fauzan pun langsung memalingkah wajahnya dan senyuman itu pun hilang.


"Senyum aja gue tahu lo liatin gue, kan?" terang Hanna tanpa malu dan percaya diri.


Fauzan pun terlihat malu dan salah tingkah.


"Eng... enggak. Engga kok siapa yang bilang."


"Hahahah... Kalau muka gue buat lo senyum gue nggak papa, kok. Buat lo gratis, lo boleh liatin wajah gue ini." Hanna bergeser dan langsung menghadap pada Fauzan.


"Ha. Ha. Ha." Fauzan tertawa terpatah-patah tak percaya dengan ucapan Hanna barusan.


Fauzan terus menerus memalingkan wajahnya dari wajah Hanna yang sudah berada di hadapannya itu.


"Muka gue disini bukan disana," kilah Hanna sambil memegang pipi Fauzan membenarkan arah kepala Fauzan agar wajah mereka saling berhadapan.  


Mereka pun saling berhadapan dan bertatapan satu sama lain. Hening tidak ada suara siapapun. Disini pun kami diam tidak mengeluarkan suara dan hanya saling bertatapan. Nyatanya tatapan itu membuat Hanna tidak bisa berpikir jernih, ia merasakan panas dingin dan entah kenapa jantungnya terasa berdegut kencang. DAG DIG DUG.  


......................


Afra dan Gina yang baru saja dari kantin, mereka tengah kembali ke kelas. Di perjalanan mereka mengobrolkan suatu hal.


"Gue rasa mereka ada apa-apanya deh," lontar Gina.


"Mungkin," tawar Afra.


"Terus dia bawa Hanna kemana? Harusnya tadi kita ikutin," lanjut Gina.


"Privasi."


"Gue penasaran Fra, kalau nggak ada apa-apa mana mungkin mereka deket kaya gitu." Gina begitu penasaran. "Sejak kapan mereka deket? Ih Hanna nggak cerita."


Namun, Afra hanya mendengarkan percakapan tersebut. Gina tidak merasa senang dengan suasana ini. Dan Afra pun berpikir sejenak sejak kapan Gina penasaran dengan hal ini, biasanya dia seperti ini jika ada biang keroknya yaitu Oni ​​yang membawakan gosip.


"Ahh lo nggak seru Fra, gue jadi kangen Oni," tutur Gina merengek.


Jika ada Oni mereka yang akan bergosip saling melontaran dan menumukan titik kebenaran sampai keujung akar.


"Yaudah gue pergi," kilat Afra langsung pergi meninggalkan Gina disini.


"Afraaaaa.... Kenapa jadi lo yang ninggalin gue?!" sahut Gina berdiam sejenak dan tak lama menyusuli Afra.


Ternyata ada yang mendengarkan pembicaraan Gina dan Afra tentang kedekatan Hanna dan Fauzan. Di adalah Fauzi, tidak hanya penasaran dengan hubungan saat ini antara Fauzan dan Hanna tetapi sahabatnya juga penasaran dan tidak tahu tentang hal ini serta siswa yang melihatnya ketika Hanna memberi Fauzan minuman di lapangan sana, yang mana terlihat jelas di mata para siswa.


......................


Mereka saling bertatapan satu sama lain. DAG DIG DUG. Hanna merasakan gugup. Saat merasakan gejala tersebut Hanna melepaskan tangannya yang berada di pipi Fauzan dan langsung memalingkan wajahnya dari tatapan Fauzan. Ia juga langsung bergeser ke arah semula.Hanna terlihat salah tingkah padahal ini ulahnya sendiri. Begitu pun Fauzan ia ikut salah tingkah namun tak terlihat jelas.


Yaampun. Gue kenapa? Ko jadi ginih sih. Bisa-bisanya gue ngomong kaya gitu. Dalam hati Hanna sambil berseri melihat ke arah Fauzan dan Fauzan pun ikut tersenyum tipis malu.


Dan tak lama.


"Emm, Na," panggil Fauzan sambil memegang lengan Hanna yang sedang memegang botol minum.


Hanna melirik ke arah lengan yang dipegang oleh Fauzan. "Ke-kenapa ?"


"Gue.... gue minta minum lagi. Haus," terang Fauzan.


Sedikit lega, Hanna kira ada yang lain. Hanna langsung memberikan botol minum tersebut.


BEL MASUK TERDENGAR


"Ehh udah masuk tuh," ucap Hanna ingin segera bergegas pergi karena malu.


Tapi bel terdengar asing. Sebenarnya bukan bel masuk seperti biasanya, tapi setelah bel masuk terdengar suara guru memberitahu kami bahwa hari ini kami dipulangkan dan menyuruh kami belajar di rumah karena ada pertemuan yang sangat penting yang memungkinkan para guru tidak bisa mengajar untuk hari ini.


Tidak lain dari semua siswa begitu senang dengan pemberitahuan ini.


"Yeee pulang." Girang Hanna.


"Segitu senengnya denger dipulangin," ledek Fauzan.


"Daripada pulang sebelum waktunya malah kabur mending gini kan?" timpal Hanna tak mau kalah dan meledeknya.


Fauzan tidak bisa menjawab karena ucapan Hanna memang benar jelas apa yang pernah dilakukan olehnya.


"Yaudah ayo pergi," ajak Hanna mengajak kembali ke kelas.


Namun Fauzan menahannya.


"Kenapa?"


"Nanti sore... Lo mau ikut temenin gue buat siaran radio?"


..."Akan kuhapus jejak masa lalu mu dengan kebahagian sederhana ini"...


...- Fauzan Maevino -...


...🦄🥀☔...


...Bersambung...


... ___________________...


...Rilis 16/03/2020...


...Revisi 19/07/2020...