
Fauzan tetap diam di kamarnya sejak dia kembali. Fauzi yang melihatnya tahu apa yang dia pikirkan, Hanna. Ini adalah bagian tersulit bagi dirinya dan Fauzi sendiri.
Fauzan sedang duduk di kursi sambil membaca buku yang diberikan Hanna padanya. Satu demi satu dia membuka selembar kertas. Kisah yang ada di buku itu adalah hutan yang penuh keajaiban. Seorang Berbie bernama Odette yang disihir menjadi angsa putih dan ada juga unicorn. Ada senyuman saat membaca buku dongeng. Lalu dia memegangi gelang begitu cantik dengan angsa yang ia beli saat dia berada di taman hiburan. Awalnya dia ingin memberikan gelang tersebut kepada Hanna sebagai hadiah pertama dan terakhir darinya, tapi dia mengurungkan niatnya itu.
Dia juga mengakhiri, kembali diam memikirkan sesuatu.
Terus berpikir apa yang akan dilakukannya. Haruskah dia kembali untuk menghindari Hanna atau haruskah dia terus seperti ini?
Tok Tok Tok
"Zan, gue masuk ya." Dibalik pintu kamar.
Fauzi pun telah memasuki kamar Fauzan.
"Dah minum obat belum?" tanya Fauzi.
"Udah," jawabnya datar.
"Tadi kemana?" Seketika Fauzan menoleh, Fauzi bertanya kembali. "Lagi-lagi lo bolos sekolah, lo pergi kemana tadi?"
"Ada urusan."
"Urusan apa sampai lo bolos sekolah?" desak Fauzi.
Fauzan menatapnya kembali namun dengan aura yang berbeda. "Hanna."
Tertegun.
"Apa yang mau lo rencanain ke Hanna?" Fauzi sedikit emosi. "Seharusnya lo hindarin dia, gue nggak mau terjadi sesuatu sama kalian berdua." Fauzi menarik nafasnya dalam-dalam sambil berkacak pinggang.
"Lo suka sama Hanna ya, Zi." Pernyataannya membuat Fauzi sedikit terkejut. "Maafin gue. Gara-gara gue, lo ngerasa nggak enak deket sama Hanna."
"Nggak usah mikirin itu," deham Fauzi. Meski itu memang benar yang dikatakan Fauzan, bahwa ada rasa bersalah ketika dekat dengan Hanna.
Tak lama obrolan kembali berlanjut.
"Fauzi, gue mau minta tolong sama lo terakhir kalinya."
"Lo ngomong apa sih?" decit Fauzi tidak suka. "Gue nggak mau kalau lo tiba-tiba kaya gini. Gue nggak mau kalau lo depresi lagi gara-gara kecelakaan itu."
"Tolong, Zi. Gue pengen ngembaliin keadaan Hanna. Setelah itu gue bakalan menghilang dari kehidupan dia," jelas Fauzan yang bertekad dan matanya tampak sedih.
Fauzi tidak bisa melawannya. Jika Fauzan sudah bertekad, tidak ada yang bisa mengubahnya. Di sini Fauzi akan terus melindungi saudara kembarnya.
"Jadi apa yang bisa gue bantu?" tanyanya.
Lo mau ngembaliin keadaan Hanna. Tapi, lo nya kapan Zan? Dalam hati Fauzi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari ini berlangsungnya final dalam perlombaan bola basket. Dari tim basket putra-putri SMA Bakti Nusa, mereka berhasil lolos memasuki babak final tesebut.
Namun, satu-satunya orang di sini galau. Setelah hari itu, saat berada di tempat hiburan rekreasi dan hingga kini sosok pria yang menemaninya tidak pernah terlihat lagi, Fauzan. Dia tidak masuk sekolah selama tiga hari. Meski bertanya pada saudara kembarnya itu, Fauzi mengatakan, Fauzan mendapat izin untuk tidak sekolah karena urusan keluarga. Namun tetap saja Hanna merasa ada ganjal di balik itu semua.
Sukses besar bagi tim basket SMA Bakti Nusa, tim putra-putri berhasil meraih juara pertama. Afra dan Fauzi juga menjadi pemain terbaik di perlombaan kali ini.
Kami semua merayakan kemenangan ini di sebuah tempat makan yang cukup kekinian, di tempat ini memperlihatkan pemandangan alam yang indah dengan udara yang begitu sejuk. Semua orang bersenang-senang, tapi raut wajah Hanna juga menunjukkan rasa kesepiannya karena tidak ada orang yang bisa membuatnya nyaman. Dia tidak ada disini.
Seberapa pantaskah kau untuk ku tunggu
Cukup indahkah dirimu untuk selalu ku nantikan
Mampukan kau hadir dalam setiap mimpi burukku
Mampukah kita bertahan di saat kita jauh
Ada sebuah band akustik juga yang mengisi malam ini. Ramai dengan suara merdu nyanyian dan sorakan. Semua orang menikmatinya. Sampainya mereka mengakhiri lagu itu dengan penuh penghayatan membuat semua pengunjung di tempat makan ini merasakan adanya cinta dari setiap orang yang berlabuh kasih.
Afra jadi teringat sesuatu soal nyanyi. Dia melihat ke arah Fauzi dan mengisyaratkan suatu hal tentang rencana itu. Fauzi menyadari, dia pun bangkit dari kursinya. Semua terheran.
Fauzi berjalan ke arah panggung itu. Mengatakan sesuatu kepada orang-orang disana. Dan akhirnya. Suara alunan musik terdengar kembali. Namun.
Oh, secret admirer
When you're around the autumn feels like summer
How come you're always messing up the weather?
Just like you do to me..
Hanna terdiam menatap ke arahnya yang mengeluarkan suara nyanyian itu, tersenyum riang meski lagu yang dibawakan adalah lagu dengan arti mellow. Secret Admirer - Mocca. Lagu tentang pemuja rahasia.
How come you never send me bouquet of flowers?
It's whole lot better than disturbing my slumber
If you keep knocking at my door
Mereka saling menatap satu sama lain, Fauzi tidak melepaskan tatapannya kepada sosok gadis yang ia cintanya itu. Tersenyum. Berharap bahwa gadis itu sadar, ada seseorang yang selama ini mencintainya, bahwa dirinya adalah pemuja rahasia. Bukan yang dipuja.
Dear beautiful admirer
I always think that you're a very nice fellow
But suddenly you make me feel so mellow
Every time you say: "HELLO!"
Fauzan mengganti liriknya, dengan 'beautiful'. Semua orang begitu riang dengan lagu yang dinyanyikan oleh Fauzi.
My silly admirer ('cause I do miss you so..)
My beautiful admirer ('cause I do miss you so..)
Dear secret admirer
'Cause I do miss you so
Berakhir dengan sempurna, tepuk tangan untuknya yang keras bagi dia. Perfect.
Perayaan yang begitu besar untuk menjadi sebuah kenangannya. Semua orang telah pulang, dan di sini, Fauzi kembali mengantarkan Hanna pulang ke rumahnya.
"Makasih."
Fauzi angguk senyum.
"Em kalau gitu gue masuk."
Hendak akan berjalan Fauzi memanggilnya. "Hanna." Hanna berhenti menoleh ke arahnya lagi menatap bertanya. Namun Fauzi malah terdiam memikirkan sesuatu.
"Fauzi?"
"Ah iyah." Fauzi tersadar dari lamunannya. "Good night."
"Good night," balas Hanna tersenyum lalu pergi masuk ke rumahnya.
Fauzi sedikit kesal, ia mengacak rambutnya frustasi. Dia berusaha untuk jujur dengan perasaannya, tapi pada akhirnya dia tidak mampu mengatakannya. "Aaaahish! Udah aja lo jadi pemuja rahasianya sampai mati." Menyindir dirinya sendiri.
Kembali masuk ke dalam mobil dan tidak lama kemudian sampai di rumahnya.
"Assalamu'alaikum."
Berjalan ke ruang utama. Ibunya masih terjaga disana.
"Wa'alaikumsalam," balasnya. Fauzi mencium punggung tangan surganya. "Gimana lombanya? Menang?"
"Menang dong mah...." Riang Fauzi sambil memperlihatkan mendali emasnya. Ibunya begitu bangga pada putranya itu.
"Anak mamah jagoan banget. Mamah udah nyiapin makanan kesukaan kamu, makan ya."
Fauzi mengangguk senyum. "Uzi ke kamar dulu ya, mandi dulu."
"Iyah." Ketika Fauzi hendak pergi namun ibunya melupakan suatu hal. "Uzi... Fauzan kapan pulangnya?"
Fauzi sedikit gugup. "Em mungkin besok mah. Iyah besok." Ibunya hanya ber'oh mengangguk senyum. "Uzi ke kamar dulu," lanjutnya.
Sampainya di dalam kamar. Fauzi begitu gelisah karena dia telah berbohong kepada ibunya. Fauzan yang tidak sekolah, karena izin ada urusan keluarga, itu bohong, Fauzi juga berbohong soal Fauzan kepada ibunya bahwa Fauzan memiliki study tour di sekolah.
"Maafin Uzi, Mah."
Menyesal.
...🦄...
...Rilis 22/04/2020...
...Revisi 29/07/2020...