
...Bonus Pertemuan Awal Afra dan Olla...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mereka saling menatap namun tidak ada suara satu sama lain. Orang-orang yang melihat ini saling memandang saat mereka berjalan.
"Nggak minta maaf?" tanya siswi itu yang menurut Afra, dia ingin menabrakan diri.
"Yang salah lo, buat apa gue minta maaf," celetuk Afra.
"Ihh yang salah lo lah," hembusnya kembali siswi itu.
Kemudian Afra melirik papan namanya, dia belum melapaskannya. "Olla?" Dia tersenyum mendekatkan diri kepadanya, dan berbisik. "Mau lo apa? Gue udah tahu lo sengaja mau nubrukin diri."
Sontak Olla pun membulatkan matanya. Ketika Afra sudah sedikit jauh dengan dirinya. Olla mengedipkan matanya menandakan sesuatu entah itu apa. Tiba-tiba.
Olla berbicara dengan lantangnya. "Ahh iyah nggak papa gue maafin kok."
Sontak Afra yang mendengarnya terheran-heran.
Apa-apaan dia? Batin Afra.
Terdengar dengan sengaja berbicara lantang. "Ohhhh mau nganterin gue pulang? Wahh makasih banyak nih, gue maafin ko tenang." Langsung mendorong-dorong Afra untuk masuk ke dalam mobil.
Ini anak udah gila apa? Dalam hati Afra.
Karena terpaksa akhirnya Afra pun memasuki mobil maupun siswi yang tidak dikenalnya itu pun ikut masuk. Afra merasa kesal.
Berprilaku aneh seperti itu membuatnya ingin marah. Afra pun manancapkan gas. Dan saat sudah di jalanan.
BRUMMMMMM......
"AHHHHHHHHH!!!" teriak siswi itu karena terkejut.
Mobil tersebut melaju sangat kencang.
Olla memegang sangat erat sembari berteriak. "Lo mau ngajak gue mati?!"
Afra hanya tersenyum acuh mendengarkan ocehannya. Dirinya merasa terhibur. Tak lama akhirnya Afra memberhentikan mobilnya secara mendadak pula. Afra menoleh pada anak tersebut, merasa puas batinnya.
Ketika mobil tersebut berhenti, Olla cepat-cepat keluar karena dirinya merasa mual dibuat olehnya. Melihatnya Afra pun ikut keluar dari mobil tersebut.
UWOKKKK UWOKK
Suara mualan siswi tidak jelas tersebut.
Disana Afra menyenderkan tubuhnya pada mobil sembari melihat Olla itu mual, dan merasa puas dapat mengerjainya. Terdengar sangat jelas, bahwa Afra tertawa terbahak-bahak disana.
Seketika itu. Olla mengerutkan dahinya dan menatap tajam pada Afra. Afra pun perlahan berhenti tertawa dan tersenyum.
"Udah?" tanyanya.
Olla memberikan nada yang kesal. "Ihh lo ko gitu sih? Gue kan nggak mau mati muda."
"Emang salah siapa? Lo yang nggak jelas banget." Menatap tajam kembali. "Tadi, lo kan yang mau nubrukin diri ke mobil gue. Nah sekarang gue bantu lo buat mati."
Olla pun tiba-tiba berjongkok kemudian merengek dan menangis sangat kencang membuat Afra panik disana.
"Heii jangan nangis dong... nanti gue yang dikira ngapain-ngapain lo," panik Afra.
"Kalau lo nangis gue tinggal," ancam Afra sembari beranjak menuju mobil.
Namun tiba-tiba tangisan itu berhenti dan Olla menahan Afra untuk pergi.
"Jangan tinggalin gue." Memasang wajah memelas.
Afra pun kembali dan ikut duduk disampingnya. Hanya beberapa detik terjeda.
"Kalau nggak ada yang diomongin gue mau balik." Sedikit beranjak.
"Eh tunggu ada-ada." Bersuara sekilat mungkin. "Gue tadi disuruh sama senior buat drama di depan lo. Dan ujung-ujungnya gue disuruh minta nomer lo buat mereka."
Afra menghela nafas. "Mau-maunya lo dijailin sama mereka, gimana kalau tadi gue nggak buru-buru ngerem? Lo bisa kena."
Olla pun sedikit murung. "Yah .. gimana lagi, gue kan nurut-nurut aja sebagai junior."
"Terus kalau lo gagal dapetin nomer gue gimana?" tanyanya.
"Emm...." Olla masih berpikir. "Katanya sih gue bakalan terus-terusan di ganggu terus bakalan diulek-ulek."
Setelah mendengarnya Afra beranjak dari duduk dan melangkah mengarah ke mobil.
"Mau kemana?" tanya Olla.
Afra membukakan pintu depan mobil sebelah tempat pengemudi. "Masuk."
"Hah?"
"Kalau nggak mau masuk yaudah." Perlahan akan menutupi pintu tersebut.
Olla langsung beranjak. "Ehh .. tunggu-tunggu gue masuk."
Olla pun masuk seperti dibukaan pintu oleh sang kekasih. Afra menutupi pintu dan beralih masuk mobil.
"Rumah lo dimana?" tanyanya.
"Dari pertigaan itu belok kiri, nah langsung ketemu rumah gue. Nahh itu. Berhenti."
Kemudian Olla melepaskan sabuk pengaman. Sebelum keluar Olla mengatakan sesuatu. "Gue .. minta maaf yah, nggak kenal udah nyebelin."
Afra tersenyum tipis. "Gue juga minta maaf."
Merasa senang Olla kembali ceria. "Kalau gitu kenalin gue Olla panggil aja Oni." Dengan semangat menjulurkan tanganya.
"Afra."
Olla pun tersenyum. "Makasih udah nganterin gue pulang."
Afra mengangguk. "Tapi maaf gue nggak busa kasih nomer gue."
Untuk kebaikan dirinya tidak memberikan nomer handphone pada Olla. Karena jika diberikan walaupun Olla mengatakan tidak akan diberikan kepada senior tersebut. Jika terjadi situasi yang tidak terduga dapat menyebabkan Olla bertindak kembali. Olla mengangguk sedikit kecewa tapi memang itu untuk kebaikan Afra.
"Tapi .. " Afra mendapatkan ide.
Saat itu Afra pun memberikan nomer pada Olla tetapi itu nomer bukan miliknya, dan Olla pun mengetahuinya. Afra memberikan nomer HP tukang pijit kenalannya.
...🏫...