
Hari-hari telah berlalu. Persahabatan kami kembali bersama. Dan akhirnya hari ini saatnya kita menghadapi Ujian Praktek Sekolah. Hari pertama untuk kelas Sains. Kelas Hanna sedang melakukan Ujian Praktek Biologi. Mereka ada di lantai bawah Laboratorium Biologi.
Afra, Gina, dan Hanna berada di dalam. Namun.
"Pasti ginih nih."
Seseorang yang tegang karena ujian dan juga merasa sendirian jika disebutkan sesuai nama absenan.
"Bisa stress gue," desisnya.
Tidak butuh waktu lama bagi orang-orang di dalam akhirnya keluar. Dia segera mendatangi mereka.
"Gimana, gimana, gimana? Susah nggak? Gue bakalan bisa nggak?" tanyanya dengan tergesa-gesa dan panik.
"Kalau lo belajar, lo pasti bisa," jawab Afra tersenyum dan beranjak pergi.
Mereka semua menggunakan jas laboratorium.
Oni merasa kesal. "Ihhh Si Afra mah."
"Nggak jauh sama yang kemarin kita belajar bareng, ko," ungkap Gina.
Tampak wajah Oni terlihat sumringah. "Serius?"
Gina mengangguk.
"Lo pasti bisa," kata Hanna.
Oni menjadi bersemangat mendapat dukungan.
Tiba-tiba saja. "Woii Oni, buruan masuk!" Teriak teman sekelasnya.
"IYAH IYAH."
"Semangat Oni," kata Gina.
"FIGHTING!"
Begitu ada efek berapi-api di atas kepala Oni yang sudah siap untuk bertempur.
......................
Afra keluar dari kamar kecil. Sambil memegang jas labnya. Usai menggoda Oni yang akan mengikuti ujian, ia langsung pergi ke kamar kecil. Tanpa disengaja, dia juga bertemu dengan Aji yang sedang keluar dari kamar kecil juga. Namun, Afra mengabaikannya seolah tidak melihatnya. Dia pergi dari sana.
"Eh, Afra tunggu-tunggu." Aji menyusuli Afra dan menyamakan langkahnya.
Di sini tenang. Aji tidak berbicara, begitu pula Afra. Namun itu tidak berlangsung lama.
"Lo nggak ada kerjaan apa? Ngikutin gue," ketus Afra.
Aji terkekeh. "Heheh... Gue nunggu lo ngomong."
Afra berdecak kesal melanjutkan langkahnya.
"Ehh tunggu tunggu." Menarik lengan Afra.
"Apa lagi?!"
"Gu-e punya tiket masuk Pameran Seni IB. Apa lo mau temenin gue kesana?"
Aji berharap.
Afra sedikit terkejut mendengar Pameran Seni IB ( International Bangsa). Di dalamnya banyak sekali ragam kesenian dalam dan luar negeri yang ditampilkan di sana. Dan juga hanya setiap dua tahun sekali diadakan pameran tersebut.
"Gue liat lo suka gambar. Mungkin lo bakalan suka," lanjutnya.
Afra senang mendengarnya. Tapi. "Kapan?"
"Minggu. Minggu ini." Terlihat Aji memancarkan penuh harapan.
"Oke," jawab Afra dan langsung beranjak pergi.
Aji sedikit tidak percaya. Dia berteriak saat Afra mulai pergi. "Serius ikut, Fra? Gue nggak mimpi kan?"
Afra menghela nafasnya kasar. "Iyah." Menjawab namun membelakangi Aji.
Aji tersenyum dan kegirangan. Tak disangka Afra akan menerima ajakannya. "YESS... HUHU."
Aji menari-nari seperti orang gila.
"Yes gue pergi sama Afra, yes gue bisa berduaan, yes yes ye yes...."
Semua orang yang melintas memperhatikan kelakuan Aji. Mereka menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Lo kenapa?"
Suara itu menyadarkan kegilaan Aji.
"Eh, Zan," sapanya. "Nggak ada, cuman lagi seneng aja."
Fauzan hanya ber'oh dan melanjutkan langkahnya kembali untuk kembali ke lapangan. Diikuti oleh Aji karena mereka satu kelas. Di hari pertama mereka sudah mendapatkan jadwal Ujian Praktek Olahraga.
Hubungan Aji dan Fauzan, tentu saja sudah kembali akur. Berusaha percaya bahwa Fauzan memang orang yang dibutuhkan oleh Hanna. Karena Hanna tampak bahagia dengannya.
"Kapan lo bakalan nembak Hanna?"
Fauzan.
Tertegun.
Tidak percaya.
Tiba-tiba.
"Lo sebenarnya suka kan sama Hanna?"
Fauzan tidak bisa menjawab.
"Kalau boleh jujur, gue pilih Fauzi daripada lo."
What?
"Soalnya lo itu berandalan."
"Bisanya cuman barantem."
Sudah cukup pujian yang menyenangkan itu. Fauzan memutar bola matanya malas mendengar pengakuan dari Aji.
Terdengar suara helaan nafas dari Aji. "Kenapa bisa Hanna suka sama orang kayak lo ginih."
Fauzan menengok pada Aji secepat kilat. "Hanna suka sama gue?"
"Mana ada cewek yang manja, khawatir banget, apalagi peluk-pelukkan sama cowok, kalau nggak suka," selosor Aji.
"Ada," jawab Fauzan.
"Siapa?"
"Elo sama Hanna."
"Itu beda lagi oon."
"Aji Fauzan." Suara teriakan guru olahraga di lapangan sana. "Dari mana saja? Cepat."
Dengan cepatnya mereka berlari ke lapangan karena sudah mendapatkan teguran.
...•...
...•...
Waktu sudah menunjukkan jam 12 siang. Oni telah keluar dari laboratorium, siswa yang keluar paling terakhir.
Mendesah. Otaknya lelah, padahal ini baru tes praktik pertamanya. Berjalan kembali ke kelasnya, melewati lapangan dan melihat seorang teman seperjuangan di sana sedang bermain futsal. Oni malah terdiam, terpanah ke arahnya.
Dia tersenyum lebar, dengan keringat yang membasahinya membuatnya semakin maskulin, putih yang tidak dimiliki orang Indonesia. Dia membukanya baju atasannya.
Oh My God!
Kembali terpanah dengan perut berototnya.
Jika kalian tahu, ini seperti adegan di film-film. Melepas bajunya, lalu meminum air karena kehausan setelah berolahraga, dan berakhir membasahi wajahnya dengan air minum itu.
Hah~
"Gantengnya."
Tanpa sadar Oni memujinya.
"Ehekm."
Deg! Oni terperanjat kejut segera menengok mendapatkan sosok Afra di sampingnya menatap ke arah lapangan, tapi sudah jelas, Oni terpergok.
"Uuw... badannya bagus," sindir Afra setelah melihat Tyo yang membuat Oni terpanah, lalu melirik padanya.
Oni segera melangkah ke depan Afra untuk menutupi aset badan Tyo. "Lo nggak boleh liat."
"Kenapa? Itu juga bukan milik lo. Awas." Afra berusaha menyingkirkan Oni dari hadapannya, untuk mengolok-oloknya.
"Ih nggak boleh liat!"
"Awas Oni!"
"Enggak!"
Kesal.
"Oni... Afra..." Panggil seseorang di lapangan sana. Afra dan Oni menoleh, Tyo memanggilnya. "Kalian lagi ngapain di sana?"
Tyo masih bertelanjang dada.
Oni membulatkan matanya. "Yaa! Tyo pake bajunya. Lo nggak malu apa... Ini di sekolah."
"Kenapa?" Tampaknya Tyo cengengesan di sana. "Lo juga seneng-seneng aja dari tadi liatin gue. Atau... perut gue?"
Astaga!
Oni menutupi mata dengan kedua tangannya. Malu sudah.
Afra menyeringai ingin tertawa.
Oni cepat-cepat pergi dari sini. Bruk! Menabrak seseorang. "Ihs awas Afra... Minggir."
"Salting," sindir Afra setelah Oni pergi dengan terbirit-birit lalu ia mengikutinya.
Dan di sana Tyo tersenyum melihatnya.
......................
Hanna sedang duduk di kursi di taman sekolah sambil membaca novel. Biasanya dalam sehari dia bisa menyelesaikannya dengan cepat, tapi kali ini dia selalu teralihkan oleh sesuatu. Dia tidak sendirian di sini, di sampingnya ada seseorang yang sibuk dengan buku namun berbeda dengan buku yang dibaca Hanna, melainkan dia membaca buku mata pelajaran. Hanna meliriknya tersenyum lalu kembali lagi pada novelnya.
Setiap orang yang lewat atau yang ada di sini memandang kami dengan tatapan bertanya-tanya maupun ada saja orang yang memasang ekspresi tidak senang. Tapi memang, mereka berdua serasi, sama-sama tidak mempedulikan orang-orang disekitar. Acuh. Hanna memang karena kondisi, penyakitnya. Sedangkan Fauzan, itu sudah menjadi karakternya.
Kedekatan mereka sudah diketahui oleh para murid SMA Bakti Nusa, mereka mengira bahwa Hanna dan Fauzan berpacaran. Ada juga yang mengatakan Hanna berpacaran dengan saudara kembarnya, Fauzi. Tapi, semuanya tidak ada yang tahu dari kebenaran tentang hubungan mereka itu. Berita yang paling panas untuk akhir tahun ini, Si Kembar yang mencintai gadis yang sama.
Fauzan juga banyak perubahan setelah dekat dengan Hanna. Dari penampilannya begitu rapih ketika memakai seragam sekolah, rajin belajar, dia juga tidak pernah lagi dipanggil ke ruang BK, membolos sekolah, maupun berkelahi.
Hanna meletakkan novel di sampingnya lalu mengambil sebuah tempat makan yang berisikan buah-buahan. "Makan dulu."
Fauzan fokus dengan belajarnya. Namun membuka mulutnya lebar-lebar tapi pandangannya tetap pada buku yang ia pegang.
Hanna menyuapinya.
......................
Di tempat lain ada seseorang yang melihat kemesraan mereka meski ia tahu mereka tidak berpacaran. Tapi hatinya sedikit tergores, ada api cemburu.
"Kalau emang lo orang yang tepat buat Hanna, gue rela. Gue rela kalau kalian jadian. Gue harap lo biasa bahagiain Hanna, Zan."
Fauzi pun pergi dengan perasaan yang campur aduk.
...🥀...
...Rilis 05/05/2020...
...Revisi 30/07/2020...