Diary Of A School: Me And Yu

Diary Of A School: Me And Yu
BAB 47 Ketenangan yang dirindukan



Selama dua hari Hanna terkena demam membuatnya tidak bisa masuk sekolah. Dia tinggal di kamarnya, beristirahat, memulihkan kesehatannya, dirawat oleh bi Onah. Dia juga masih memikirkan kejadian waktu itu, dimana sikap Fauzan berubah terhadapnya. Bukan dingin yang ia kenali selalu terasa nyaman, tapi dinginnya membuat rasa sakit kala itu. Setelah kejadian itu Hanna dan Fauzan tidak pernah lagi berinteraksi maupun di saat berpapasan, mereka saling menghindar.


...🏫...


...SMA Bakti Nusa...


Gina, Oni dan Afra berada di kantin tengah mengisi perut mereka yang sudah terkuras karena pembelajaran Fisika yang membuat mereka terus berpikir dan menghitung. Lelah.


Mereka menikmati makanan kantin.


"Ikut gabung," kilat Aji segera duduk di antara mereka. Tentu dia mencari celah agar bisa duduk di sebelah Afra. Aji mengukirkan senyum namun dibalas jutek oleh Afra.


Dan disusul oleh Tyo sambil membawa makananya.


"Kondisi Hanna sekarang gimana, Ji?" tanya Gina selagi ada Aji yang lebih tahu tentang kondisi Hanna.


"Kata bi Onah sih, demamnya udah mulai turun."


Mereka senang mendengar kabar baik itu.


"Gue mau ke rumah Hanna, kalian mau pada ikut?" ajak Aji.


"Gue nggak bisa ikut, soalnya mau ke Bandung," jawab Gina.


"Gue juga nggak bisa, gue mau ke pengadilan nemenin ibu." Ada kekesalan dan kesedihan yang dirasakan oleh Oni.


Dan mereka ikut merasakan apa yang dirasakan oleh sahabatnya itu, Oni.


"Yang sabar ya, On," kata Aji.


Oni mengangguk senyum menguatkan hatinya. Dimana kali ini, dia harus hidup tanpa seorang ayah. Orangtuanya akan segera bercerai. Gina mengusap Oni agar tetap tegar.


"Lo bisa sama Afra, katanya dia mau ke rumah Hanna," lanjutnya.


Oni mendapatkan tatapan elang Afra. Afra sedikit kesal padanya. "Gue nggak jadi ke rumah Hanna."


"Bukannya di kelas lo bilang hari ini mau jenguk Hanna lagi," sambung Gina.


Oni dan Gina cengegesan menjahili sahabatnya itu.


Punya sahabat malah nyeblosin gue sama orang ini. Batin Afra kesal.


"Yaudah kita bisa bareng ke rumah Hanna," kata Aji gembira.


Namun Afra hanya berdeham.


"Kalian pada tahu, kenapa sama Fauzan?" tanya Oni kepada Tyo dan Aji ketika mereka semua sedang menikmati makanan mereka.


"Emang kenapa tuh anak?" tanya Aji hanya bertanya. Dia juga tidak penasaran dengan anak itu.


"Ada yang aneh sama sikap Fauzan sama Hanna," lanjutnya.


Ketidak penasaran itu menjadi penasaran yang berlimpah bagi Aji karena suatu nama tersebutkan, yaitu Hanna.


"Apaan? Aneh kenapa?"


"Sebelum Hanna sakit kayak ginih. Sikap Fauzan sama Hanna itu aneh, mereka saling ngindar. Nggak tahu tah ada masalah apa sama mereka berdua," papar Oni.


"Terus Hanna cerita nggak kenapa?" Aji terus melontarkan pertanyaan-pertanyaan kepada sahabat Hanna.


"Cerita. Tapi, Hanna juga nggak tahu kenapa Fauzan kayak gitu. Jadi ya ginih mereka saling ngindar," sambung Gina.


Afra sedikit cemas setelah melihat ekspresi Aji yang tampak kesal. Aji selalu terpengaruh dengan ucapan orang-orang dan sepertinya sekarang Aji berpikiran negatif pada Fauzan. Dia bangkit meninggalkan kantin.


Afra berdecak. "Kenapa kalian bahas itu sama Aji?"


"Emang kenapa? Siapa tahu Aji tahu masalah mereka," terang Oni. Dia belum memahami apa yang akan terjadi sekarang.


Afra mendesis lalu bangkit meninggalkan kantin.


......................


Emosi yang meluap pada diri Aji setelah mendengar tentang Fauzan dan Hanna. Dia berpikir Hanna sakit karena ulah Fauzan.


Aji masuk ke dalam kesal dan menemukan sosok yang ia cari itu. Segera ia tarik kerah baju Fauzan sampai terangkatnya, bangkit dari tempat duduknya.


Fauzan tersentak. "Apa-apaan...?!" Segera menangkisnya dengan emosi.


Tentu saja siapa yang tidak emosi jika diperlakukan tidak pantas tanpa alasan yang jelas.


Orang-orang yang berada di kelas ikut terkejut dengan yang terjadi sekarang.


"Udah gue bilang, kalau lo nyakitin Hanna, gue nggak bakalan tinggal diem," bisik Aji.


Fauzan masih bingung.


"Lo berurusan sama gue sekarang," lanjutnya.


Ketika pukulan itu sudah melayang untuk Fauzan.


"AJI....!!"


Teriakan itu mampu menghentikannya. Aji menoleh, Afra segera berlari untuk mencegah perkelahian antara mereka. Dan langsung saja Afra menarik Aji keluar dari sini.


"Afra gue belum selesai sama dia..." kelakarnya.


Tapi Afra tidak mendengarkan Aji. Menariknya sejauh mungkin dari tempat sebelumnya.


Dan di sisi lain Fauzan masih kebingungan apa yang terjadi. Kenapa Aji bisa semarah itu dengannya? Lalu Hanna?


Apa terjadi sesuatu sama Hanna? Batin Fauzan menjadi khawatir.


......................


"Fra, gue harus buat perhitungan sama Fauzan," keluhnya.


Akhirnya Afra melepaskan genggaman itu. "Bukan salahnya," celanya.


"Terus salah siapa kalau Hanna sakit kayak ginih?"


Afra diam.


"Lo nggak bisa jawab kan," sindir Aji. Dia berdecak kesal.


"Tapi nggak kayak gini kalau lo mau nyelesain masalah mereka. Lo bilang lo mau lindungi Hanna, tapi dengan lo bersikap kayak ginih malah nambah masalah," tegur Afra.


Kali ini Aji yang diam.


"Maaf."


"Minta maaf sama Fauzan, bukan ke gue," sindirnya.


"Iyah..." jawabnya malas.


......................


Fauzi meninggalkan kelas dan segera menemukan saudara kembarnya mendekatinya.


"Gue denger lo ribut sama Aji, ada apa?"


"Cuman salah paham aja," tawar Fauzan.


"Soal Hanna?" Tebak Fauzi.


Fauzan hanya mengangguk.


Fauzi menghela nafas berat. Tidak lama kemudian Aji terlihat bersama Afra berjalan ke arah sini.


"Zan, gue minta maaf."


Fauzan angguk. "Maaf juga."


"Fauzan gue mau tanya sama lo," cetus Afra. "Termasuk lo juga, Zi."


Fauzi terheran.


"Akhir-akhir ini lo kenapa ngehindar dari Hanna? Hanna sampe kebingungan sama sikap lo itu. Kalau semisalkan lo punya masalah sama Hanna, yang kita nggak tahu, coba selesaiin biar Hanna paham."


Fauzan diam.


"Dan lo Fauzi, kita tahu kalau lo suka Hanna. Dan saudara kembar lo ini" Menujuk pada Fauzan. "juga deket sama cewek yang lo suka. Apa kalian ini sedang bersaing? Atau mau mempermainkan Hanna? Karena yang kita tahu, dari dulu, kalian berdua sama sekali jauh dari keadaan sekarang ini. Dari kita semua."


Aji tercengang mendengar Afra berbicara panjang lebar tidak seperti biasanya dengan suara tegasnya. Aji malah terpesona.


Fauzan tidak bisa menjelaskan kepada mereka soal permasalahan yang terjadi. Begitu juga dengan Fauzi. Meski mereka menganggapnya ini adalah permasalahan percintaan tapi kenyataannya salah. Ini masalah kebahagiaan dan kesedihan yang terjadi di masa lalu.


Suara langkah kaki yang berlari mengarah ke arah sini. Gina, Oni, Nasrul dan Tyo tampak cemas setelah mendengar ada keributan yang terjadi pada Aji dan Fauzan.


Dan langsung disuguhi dengan suasana yang begitu serius di antara mereka. Fauzi, Fauzan, Aji dan Afra.


...****************...


Malam telah tiba. Sepulang sekolah, Aji dan Afra mampir ke rumah Hanna untuk mengunjunginya melihat kondisi Hanna saat ini. Kondisinya semakin membaik. Karena telah larut malam Afra harus pulang.


"Gue pulang dulu ya, Han. Cepet sembuh."


"Makasih."


Afra tersenyum lalu melambaikan tangannya. Afra sudah tidak terlihat lagi.


"Lo nggak mau nganterin Afra?" tanya Hanna kepada Aji.


"Gue kan harus jagain lo."


Aji ragu.


"Di rumah kan ada bi Onah," lanjutnya.


"Nggak papa nih?"


"Iyah."


Aji tampak senang, ia mendekati Hanna dan memberikan kecupan di kening, sebagai tanda kasih sayang kakak kepada adiknya. "Gue nggak bakalan lama-lama." Hanna tersenyum angguk.


Waktu terus berjalan dan sekarang sudah jam 10 malam. Aji belum kembali juga. Hanna sudah terlelap dalam tidurnya setelah meminum obat. Namun.


JGEEER....


Hanna terperanjat, suara petir membangunkannya. Hanna melihat ke arah jendela, hujan deras. Perasaannya menjadi ketakutan, malamnya tidak terjaga.


...****************...


Dinginnya manusia seperti dinginnya malam ini. Malam yang tidak terjaga bagi dirinya. Sesuatu telah mengganggu pikirannya. Suara petir dan turunnya hujan malam ini membuat dirinya semakin memikirkannya.


...****************...


Hanna, dia diselimuti dengan ketakutannya malam ini. Dan. Tiba-tiba saja ceklek. Suara listrik mati. Semua menjadi gelap disini.


"Bi.... Bi Onah...." Hanna memanggil namun tidak ada balasan.


Hanna menyalakan senter dari ponselnya, sambil ketakutan dan gemetaran. Meski tersinari tapi sepenuhnya gelap gulita. Dia kembali menyelimuti tubuhnya, sampai tertutup semua. Hanna di dalam selimut.


Jgeer....


"Ahhh..!!"


"Kak Annisa... Hanna takut... Hiks... Kak...."


...****************...


Fauzan tidak bisa diam. Hanna terus ada dalam pikirannya membuat dirinya mengkhawatirkan gadis itu. Fauzan beranjak untuk memastikan keadaan Hanna sekarang. Mengambil jaketnya, dan langsung bergegas pergi sambil membawa payung. Benar-benar gelap. Setiap rumah tidak ada yang terang. Sepertinya adanya pemadam listrik akibat hujan ini.


Sepi sekali.


Fauzan mencoba menghubungi Hanna sambil menengadah ke atas ke arah kamar milik Hanna.


Diterima.


"Han--"


"Fauzan.. Hiks..."


Suara Hanna membuat Fauzan tertegun.


"Aku takut..."


"Hanna." Cemasnya. "Jangan takut, tunggu."


Dengan terburu-buru Fauzan menerobos masuk ke dalam rumah Hanna.


......................


Suara Fauzan sudah tidak terdengar di balik ponselnya. Berharap bahwa Fauzan akan menemaninya dalam kegelapan ini.


Dan.


Kreeek.


Pintu terbuka.


"Hanna.... ini gue."


Terkabul. Hanna membuka selimutnya untuk menunjukkan diri. Fauzan ada di sini. Hanna segera memeluk setelah Fauzan sudah mendekat, berada di sisinya. Ketenangan yang ia rindukan kembali ada. "Kak Annisa..."


"Gue ada di sini."


Berusaha untuk menenangkan Hanna, tubuhnya begitu gemetar.


Semua hal yang terjadi, Fauzan telah tahu tentang Hanna. Semuanya.


Hanna berada dalam dekapan Fauzan menerima semua kenyamanan, ketenangan darinya. Waktu terus berjalan. Sekarang Hanna tampak lebih tenang dari sebelumnya. Fauzan merasa lega dan terus akan memberikan ketenangan padanya.


"Kenapa sendirian? Bi Onah kemana?"


Hanna menggeleng. Tidak mendengar suara darinya, tapi Fauzan merasakannya. Dia masih mendekapnya.


"Tadi ada Aji ke sini tapi dia nganterin Afra dulu," ungkap Hanna. Fauzan mendengarnya "sampai sekarang belum balik lagi."


Fauzan mengelus rambutnya.


"Fauzan..." Hanna sedikit mengangkat kepalanya untuk melihat Fauzan.


"Hum?"


"Kamu kenapa jauhin aku?" Fauzan diam. "Apa aku ada salah sama kamu?"


"Enggak ada."


"Terus kenapa?"


"Gue lagi banyak pikiran aja. Maaf."


"Jangan lagi kayak gitu," pinta Hanna sendu. Fauzan angguk. "Kalau ada masalah, kamu bisa cerita sama aku kayak waktu itu." Fauzan mengangguk kembali sambil menatap Hanna. "Masih sakit?" Meski gelap tapi masih tersinari dengan cahaya senter dari ponsel, Hanna melihat luka Fauzan itu yang tampaknya sudah mengering.


"Udah enggak."


"Jangan berantem terus," pintanya.


"Maaf."


Ceklek. Akhirnya listrik menyala. Semua menjadi terang menderang. Hujan pun tidak sederas tadi, hanya rintik-rintik saja.


"Masih takut?" tanya Fauzan.


"Udah enggak. Makasih."


Fauzan tersenyum.


Dan tibalah dibalik pintu kamar dengan terkejut.


"Ngapain lo disini?" kelakar Aji. "Lo apain Hanna, hah?!" Mendekati ke arah Fauzan berada dengan emosi.


Namun Hanna melindunginya. "Aji. Lo apa-apaan sih? Nggak usah emosi juga."


"Lo kenapa lindungin dia? Bilang sama gue lo habis diapain sama dia?" Plak! "--Awwwh!? Hanna..." Aji mendapatkan pukulan kecil dari Hanna.


"Ih! Gue sakit hati ya lo bisa-bisanya suudzon sama gue sama Fauzan." Hanna tidak terima. Tampaknya emosi Aji sedikit mereda, karena terhalang juga oleh Hanna. "Fauzan nemenin gue disini, gue ketakutan karena lo belum balik-balik juga, bi Onah juga dipanggil-panggil nggak jawab."


"Lo beneran nggak ngapain-ngapain Hanna?" Menatap tajam pada Fauzan.


Fauzan menggeleng.


Namun Aji mendapat pukulan lagi dari Hanna. "--Awwwh.."


"Masih nggak percaya?"


"Iyah yah percaya," keluhnya.


Tidak lama kemudian bi Onah terlihat. "Eh kenapa rame banget disini?"


Ketiga menoleh ke arah sumber suara itu.


"Bibi kemana aja?" tanya Hanna.


"Maaf, Non. Bibi tadi nyari-nyari lilin ke warung, eh pas bibi masuk, listriknya dah nyala ternyata," terang Onah. Lalu melihat ke arah Fauzan. "Eh den Fauzan kapan datengnya?"


"Tadi bi," jawab Fauzan. "Em yaudah Han. Gue pulang dulu."


"Makasih."


Fauzan angguk.


"Zan, maaf." Ucap Aji sedikit malas.


Fauzan kembali mengangguk.


"Fauzan pamit dulu ya bi."


"Iyah den, hati-hati."


Fauzan pun pergi.


...🥀...


...Rilis 29/04/2020...


...Revisi 29/07/2020...


Mampir juga ke cerita Author Aniedaa yang lainnya


• Idol Friend's : Legendary Demos Oneiroir


• Suara Rafasya & Ryana (TAMAT/ Tahap Revisi)


• Me and Yu : Maevino [ Season 2 ] Nb : Kelanjutan dari cerita ini.