
Pagi-pagi sekali, setelah adzan subuh, Aji sudah berada di rumah Afra. Di halaman rumah Afra, Aji menunggu Afra keluar karena Aji sudah lama menunggu, dia tertidur. Afra keluar rumah dan melihat sesosok yang masih mengantuk hingga tertidur disini. Afra tersenyum kecil melihatnya.
"Ji bangun."
"Aji..."
Aji terbangun meski masih terlihat mengantuk. "Udah beres?"
Afra hanya mengangguk.
"Yaudah ayo nanti keburu telat."
Tadi malam, setelah mengantar Gina pulang, Aji ingin ikut dengannya. Padahal saat itu dia membawa sepeda motor. Akibatnya sepeda motor Aji harus ditinggalkan di rumah sakit. Usai mengantar Gina, Afra justru menawarinya untuk mengantar Aji juga, karena ini mobil Afra. Tapi justru Aji yang mengantar Afra seperti sedang menggunakan mobilnya sendiri. Setelah itu, Aji kembali ke rumahnya menggunakan angkutan umum jika ada.
Kami sudah berada di mobil. Yang mengemudi siapa lagi kalau bukan Aji, dia keras kepala. Padahal dia mengantuk tapi tetap saja memaksakan dirinya.
"Lo mending tidur aja, biar gue yang nyupir," kata Afra.
"Afra.... lo duduk tenang aja ya. Duduk dengan manis oke?" sahut Aji.
"Nggak. Kalau gitu setelah dari rumah Hanna biar gue yang bawa," kilat Afra.
Mereka sama-sama keras kepalanya.
Aji tersenyum.
Sebelum ke rumah sakit mereka ke rumah Hanna dulu untuk mengambil seragam sekolah Hanna. Dan setalah itu kami akan pergi ke rumah sakit. Sedangkan Gina dia akan langsung menuju rumah sakit.
...•...
...•...
Sesampainya di rumah Hanna. Keadaan Aji bersama Afra di rumah Hanna.
"Afra...." teriak Aji yang berada di atas dia melirik ke bawah.Dari bawah Afra menunggu Aji yang sedang membenahi baju Hanna
"Apa?" Dibalas teriak kembali dan menoleh ke atas.
"Lo nggak kepikiran apa?"
"Nggak kepikiran apa?" tanya balik Afra.
"Gue yang benah pakaian Hanna," tutur Aji.
"Yah terus?" tanya Afra yang belum konek.
"Terus?" tanya balik terheran.
Nih anak kenapa sih? Apa dia tenang-tenang aja gitu gue beresin pakaian Hanna. Hanna kan..
Beberapa detik Afra pun baru tersadar apa yang dimaksud oleh Aji. Dia tersentak "Duh bego amat sih."
Dia langsung menyusuli Aji ke atas. Di lantai atas.
"Baru sadar," sindir Aji tampak Afra telah tiba di lantai atas.
"Hem. Lo udah ngapain aja tadi di kamar Hanna?" tanya Afra sedikit gugup.
"Gue? Gue barusan ngebuka lemarinya setelah liat itu gue baru sadar juga. Hehe." Sekilas Aji tersenyum takut karena kesalahannya.
"Itu?"
"Ii-yah itu." Aji menggerakan tangannya seperti bentuk gunung. Tak salah lagi Afra langsung memukul Aji tanpa sedikipun memberi ampun padanya. "AAAAW!!"
"Lo bisa-bisa liat itu." Sambil memukul Aji.
"Aduh... Maaf, Fra. Gue juga baru sadar. Baru sadar dia udah gede," celetuk Aji.
"Gede apanya?" raung Afra semakin makin karena ucapan Aji.
Duh salah ngomong nih gue. Batin Aji.
"Jangan pukul gue dulu!"
Afra pun akhirnya berhenti. "Cepet ngomong!!" Afra terlihat kesal.
"Gue kan sama Hanna dari kecil udah kenal satu sama lain. Gue lupa kalau gue sama Hanna udah beranjak dewasa gue pikir yah masih anak kecil. Gituh," tutur Aji memperjelas.
Afra masih tak percaya masih melihat Aji dengan tajam. Akhirnya Afra langsung pergi dan masuk ke kamar Hanna untuk membenahi pakaian sahabatnya itu.
...****************...
Di rumah sakit.
"Olla, Olla .." Suara yang terdengar masih lemas. Dia mengelus kepala Oni.
"Ibu? Ibu udah sadar?"
"Olla panggilin dokter dulu yah." Ketika akan beranjak lengan Oni dipegang oleh ibunya. "Kenapa ibu? Ibu ada yang sakit? Sebelah mana?" tanya Oni khawatir.
"Maafin ibu, ini salah ibu. Seharusnya kamu nggak mengalaminya. Maafin ibu, ibu salah," tutur Ibunya Oni.
"Ibu nggak salah kok ayah yang salah bukan ibu harusnya ayah yang minta maaf ke ibu, ke Olla." Sendu Oni.
Hanna dan Tyo melihatnya dan mendengar semua pembicaraan Oni dan ibunya. Hanna merasakan kesedihan yang menimpa mereka.
"Gue panggil dokter dulu, Han," ucap Tyo.
...****************...
Akhirnya Afra selesai. Dia kembali ke bawah karena Aji sedang menunggunya. Di bawah. Afra segera menemukan dia yang sedang tidur nyenyak.
"Malah tidur." Afra memandang sebentar wajah Aji. "Kasian juga. Apa nggak usah dibangunin dulu yah?"
Tik Tok Tik Tok Tik Tok
Waktu berjalan dan sekarang sudah menunjukan pukul 06.28 WIB.
"Duh gue ketiduran. Jam berapa ini?" Aji yang masih tiduran di sofa. Ketika menoleh ke samping. Aji yang baru saja terbangun dari tidurnya ternyata Afra ada di bawah sofa di sampingnya dirinya.
Afra tertidur dengan sofa yang menjadi sandaran kepalanya. Aji menggeserkan kepalanya agar lebih dekat melihat wajah Afra yang sedang tertidur. Dia terus memandang Afra. Mengaitkan rambut Afra kesela telinganya sambil tersenyum.
"Lo kayak bayi kalau lagi tidur, tenang." Aji tersenyum. "Tapi nih yah setelah lo bangun, lo bakalan--"
"L-lo lo nggak tidur?" tanya Aji gugup.
"Gue tidur. Tapi pas lo mainin rambut gue, gue bangun." Afra menjelaskan tetapi menunjukkan ketenangan tanpa sedikit pun dia tidak merasa canggung dan gugup.
Dia bangun dengan muka datarnya.
Mampus dah gue. Batin Aji.
"Buruan nanti telat," kilah Afra yang langsung beranjak pergi menuju mobil.
Dan mereka pun berangkat kembali.
Diperjalanan.
Gue harus gimana? Kok gue yang ngerasa canggung sendiri sih. Duhh apa dia marah yah? Tapi kalau marah dia langsung mukul gue, sih. Dalam hati Aji. Astaga. Apa jangan-jangan... Si Afra udah mulai suka sama gue nih.
Tingkat kepercayaan dirinya tidak luntur sedikit pun.
Gimana nih? Gue harus bersikap biasa-biasa aja. Yah gue harus lakuin itu. Ihhhh dasar Aji. Dalam hati Afra sambil mengemudi. Yang sebenarnya dia pun ikut canggung.
...****************...
Akhirnya ibunya Oni sudah sadarkan diri dan membaik. Namun, Oni tetap harus menjaga ibunya ini di rumah sakit. Sehingga dia harus izin untuk tidak masuk sekolah. Kami pun berangkat sekolah dari rumah sakit setelah menemani Oni disana ada pula yang pulang dan kemari lagi ke rumah sakit.
Kini hanya ada kami bertiga di mobil Afra yaitu Gina dan Hanna tentunya pasti ada Afra karena dia yang mengemudi.
Sedangkan Aji dia membawa motornya kembali setelah motornya itu menginap di rumah sakit dan Tyo, dia membawa motor juga, dia pulang dahulu.
...****************...
Kami pun sampai di sekolah dan turun dari mobil. Tiba-tiba saja Afra berbicara kepada Hanna.
"Hanna lain kali lo minta bantuan yang.... Mmm lebih tepatnya pakain cewek biar kita aja jangan suruh cowok," papar Afra.
Kami mengobrol sambil berjalan menuju kelas.
"Maksud lo Aji?" tanyanya. Hanna masih belum paham. "Tenang aja gue cuman minta ambilin seragam sekolah doang."
Hanna yang terlihat tenang. Persis seperti Afra saat itu.
"Lo nggak usah cemburu gitu Fra." Hanna menyenggol Afra sambil tersenyum untuk menggodanya.
"Bukan gitu Hanna," tekan Afra.
Tetapi Hanna terus menggodanya. Membuat Afra jengkel.
Ni anak polos amat. Batin Afra.
Afra pun langsung pergi dahulu.
"Dia ngambek," sindir Hanna.
Gina dan Hanna tersenyum. Tak lama Aji pun berada di belakang kami.
"Afra kenapa tuh?" tanya Aji yang tiba-tiba sudah berada di dekat kami.
"Ngambek," jawab Gina.
"Ngambek?" Aji mengulang kembali.
Hanna mengangguk. "Dia cemburu. Gara-gara gue nyuruh lo bawain seragam."
Aji langsung membulatkan matanya. Teringat apa yang terjadi tadi subuh. Aji malah tersenyum sepertinya Afra tak memberitahu lebih detailnya kepada Hanna.
"Syukur...." Dengan suara pelan namun masih terdengar oleh Gina dan Hanna.
"Syukur kenapa?" heran Hanna.
"Ahh ng-enggak nggak papa. Heheh." Aji berseri. "Em sbelumnya gue minta maaf yah." Aji memberikan senyuman yang aneh. "Gue duluan, dah." Aji langsung cabut dari sana.
Hanna dan Gina terheran-heran melihat tingkah laku Aji. "Kenapa tuh anak?"
...****************...
Di rumah sakit, Oni baru saja memberikan sarapan kepada ibunya, dia menyuapinya. Setelah itu, tiba-tiba seseorang memasuki bangsal ini.
"Selamat pagi menuju siang."
"Tyo?"
Tyo pun tersenyum. "Tante udah baikan?"
Ibu Oni tersenyum.
Setelah menemani sarapan ibunya. Dan ibunya kembali beristirahat setelah minum obat. Tyo dan Oni meninggalkan ruangan ini agar mereka bisa mengobrol tanpa mengganggu istirahat ibu Oni. Kami mengobrol di taman rumah sakit.
Kami mengobrol di taman rumah sakit.
"Bulyo, lo bolos lagi? Nanti kalau lo kena SP gimana?" Oni sangat khawatir. "Berangkat ke sekolah sana."
Tyo tidak menjawab sama sekali. Dia terus memandang Oni yang terus menerus berbicara. Tyo amat sangat senang Oni bisa kembali menjadi Oni yang bawel.
"Kenapa malah diem? Senyum-senyum lagi," sindir Oni kebingungan.
Tiba-tiba Tyo mengelus kepala Oni. "Syukur deh lo udah baikan."
Oni terdiam dibuatnya.
Kenapa sikapnya jadi manis ginih ke gue?
...🦄🥀☔...
...Bersambung ......
... _________________...
...Rilis 13/03/2020...
...Revisi 19/07/2020...