Diary Of A School: Me And Yu

Diary Of A School: Me And Yu
BAB 44 Hari Terakhir Bersamanya



Berlanjut....


Hanna, Aji bersama teman-teman sekolahnya yang sedang mendukung tim basket putri yang tengah bertanding ini. Tidak hanya untuk menyemangati mereka di tengah lapang, tapi Hanna dan Aji memiliki tugas tersendiri yaitu mendokumentasikan anak-anak basket.


Tapi Aji nyatanya terbawa dengan suasana hatinya yang mengagumi sosok gadis di lapangan itu, kapten Bakti Nusa. Dia terus memotret Afra, untuk diabadikan.


Ketika lensa kamera Hanna mengarah ke arah samping tempat berdirinya Aji, raut wajahnya begitu bersinar. Hanna tahu apa yang terjadi. "Dokumentasi lo penuh dengan cinta."


Benar, Hanna menyindir.


"Heheh.... sorry. Salah Afra, kenapa bisa keren dan cantik gitu buat gue dag dig dug kayak suara gendang," lontar Aji.


Hanna tersenyum menggeleng terhadap apa yang dikatakan oleh Aji.


"Han..."


"Hum?" Sambil fokus mengambil gambar.


"Bantuin gue dong biar gue bisa deket sama Afra," harapnya.


Hanna menoleh melihat ekspresi wajah Aji yang memelas. "Bantuin gimana?"


Aji malah memberikan senyuman penuh artis sedangkan Hanna terheran.


...Waktu telah berlalu begitu cepat....


...•...


...•...


Ternyata harapan Aji ingin dekat dengan Afra dengan cara ini. Hanna menjadi tumbal kembali untuk mengajak Afra ikut dengan kami, tujuan pergi ke taman rekreasi yang cukup populer di kota ini, JungleFest.


"Kalian ngapain tiba-tiba ngajak maen ke sini?" heran Afra. Karena setelah selesai bertanding dan memenangkan pertandingan, dengan tibanya Aji dan Hanna mengajaknya ke sini.


"Mau aja, yah Ji." Hanna melirik pada Aji. Berpura-pura bahagia. Tapi menyenangkan juga untuk dimainkan. Tapi bukan begini juga, jadi nyamuk di antara orang-orang yang mau PDKT.


Rasanya seperti ini.


"Kalau gitu ayok kita masuk....."


Begitu bersemangat.


"Eits tunggu bentar," desak Aji.


"Apa lagi?" tanya Hanna.


"Tunggu dulu bentar lagi nyampe dia," jawab Aji.


"Lo ngajak orang selain kita?" Bingung Hanna.


Aji hanya mengangguk. Hanna tidak tahu sama sekali. Tidak lama kemudian, orang itu tiba dengan si pemilik Hujan.


"Sorry gue nggak telat kan?"


"Tidak, waktu yang pas," berondong Aji.


Hanna masih nanap dengan adanya Fauzan di sini. "Fauzan, ini belum waktunya pulang. Kenapa lo bolos," tegurnya.


Aji menyembunyikan senyum arti itu begitu juga dengan Afra kepada Hanna.


"Yah! Aji kenapa malah senyum-senyum. Lo kenapa ajak dia, ih lo mah ngajarin anak orang yang nggak bener," semburnya.


"Dia nya juga mau-mau aja diajak maen," tukas Aji membela diri. "Udah ah kelamaan ayok, Fra."


Aji dan Afra berjalan lebih dulu. Sedangkan Hanna masih diam, Fauzan mulai melangkah kakinya sambil melihat pada Hanna sambil tersenyum tipis.


Mereka menaiki satu persatu wahana yang ada disini dan menikmatinya. Mereka begitu gembira, terkadang dengan tingkahnya Aji selalu membuat Afra kesal. Tapi tetap saja kami menikmati momen ini, sangat menyenangkan. Hanna yang awalnya tidak suka jika Fauzan terus-terusan bolos, akhirnya dia memaklumi untuk kali ini saja. Dia tidak bisa menyembunyikan raut bahagianya untuk hari ini.


...****************...


Sekolah telah dibubarkan. Fauzi berada diparkiran bergegas untuk pulang. Tapi, seseorang menemuinya.


"Gue mau ngasih tahu, Fauzan bolos lagi." Fauzi terkejut. "Yaudah, gue mau bilang itu doang. Gue duluan."


"Makasih," balas Fauzi.


Fauzi membuang nafas, sudah sangat lelah untuk mengingatkan saudara kembarnya itu. "Kenapa belum kapok juga."


Padahal karena tingkah lakunya sendiri membuat dirinya mendapatkan luka dalam akibat masa lalunya itu. Tapi tetap saja dia sama sekali tidak berubah. Fauzan semakin berulah akhir-akhir ini.


...****************...


Tidak kenal waktu karena terlalu asik bermain kesana kemari. Mereka akhirnya merasa lapar, memutuskan untuk beristirahat sejenak dan mencari makan. Di sana Aji dan Fauzan tengah memesankan sesuatu. Sedangkan Afra dan Hanna tinggal enaknya, menunggu datangnya makanan.


Meski Aji sedikit kesal karena kejadian tadi, ketika mereka menaiki wahana Kincir Raksasa, niatnya Aji ingin berdua masuk bersama Afra. Tapi, Afra sepertinya tahu akal busuk otak Aji itu, dia langsung menarik Hanna dan Fauzan untuk masuk bersama mereka. Hanya berdua, gagal total.


Sambil mengantri Aji membuka suara tentang sesuatu yang ia ingin segera tanyakan padanya. "Zan gue mau tanya sesuatu sama lo, sejak kapan lo deket sama Hanna? Kok gue nggak tahu ya hubungan lo sana Hanna udah saling nyaman gitu."


Fauzan masih diam.


"Ginih, Zan. Gue nggak maksud curiga, tapi waktu itu gue ngerasa lo selalu ngejauh kalau gue lagi sama Hanna. Setelah gue ngenalin lo sama Hanna waktu pertama kalinya juga."


Fauzan mengingat kembali kejadian itu. Dimana dirinya sama sekali tidak merespon begitu juga dengan Hanna saat itu. Dan dia segera pergi dan menjauh menghindari saat dimana dia sudah merasa bahwa orang itu dia.


"Lo ada maksud apa deket sama Hanna?" Aji sepertinya sedikit curiga. "Gue kenal lo, lo nggak pernah kayak ginih. Sorry, Zan. Apa rumor tentang lo itu bener soal lo pernah bunuh orang?"


Dalam lubuk Fauzan tergores begitu menyakitkan. Dia dirumorkan menjadi seorang pembunuh. "Sorry, Ji. Gue nggak mau bahas itu."


"Tapi gue butuh bahas itu," resah Aji. "Karena sekarang lo deket sama Hanna. Gue nggak mau terjadi sesuatu sama dia, karena masalah lo itu."


Suasana sedikit berubah. Tampaknya Hanna dan Afra melihat keanehan dari mereka.


"Mereka kenapa?"


Afra pun tidak tahu. "Lo disini, biar gue cek."


Hanna angguk. Afra menghampiri mereka.


Aji dan Fauzan menaruh emosi yang ditahan.


"Kenapa malah ngajak gue ke sini kalau lo curiga dan mau nge-jahuin gue sama Hanna," decaknya.


Aji terdiam sejenak. Alasannya adalah. "Karena Hanna udah terlalu nyaman sama lo."


Seketika Fauzan membisu, terkejut, dan berharap. "Tahu darimana?"


Fauzan diam. Bukan karena takut pada ancaman Aji, tapi dia takut bahwa dirinya memang benar-benar akan menyakiti Hanna.


Seharusnya dari awal gue terus hindarin Hanna. Batin Fauzan.


"Kalian kenapa?"


Suara Afra menyadari kedua pemuda ini.


"Kalau ribut jangan disini, apalagi sampai Hanna tahu," sambungnya.


Mereka hanya diam tidak menjawab.


Antrian kembali berjalan, Fauzan dan Aji tengah memesan.


...🌃...


Hari menjelang malam, dan taman rekreasi ini semakin indah untuk ditinggali. Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu oleh Aji datang juga, dia bisa berduaan bersama Afra. Mereka berada di Dancing Fountain, wahana air mancur menari.


"Kenapa mereka belum balik juga?" heran Afra.


Karena yang ia tahu Hanna dan Fauzan ijin untuk ke toilet.


"Ini rencana lo lagi kan?" Curiga Afra.


"Enggak," tangkas Aji menolak tuduhan itu.


Afra menyipitkan matanya, tidak percaya. Lalu berjalan kembali untuk melihat-lihat wahana tersebut yang tampak indah dan memukau. Dan tidak sengaja, dia mengingat sesuatu.


"Ji."


Aji segera menengok begitu bersemangat. Akhirnya Afra membuka suara duluan. "Kenapa?" Matanya berbinar-binar.


"Tadi, kalian kenapa?"


Aji tahu kemana pembahasan ini. Soal Fauzan dengannya. Aji bukan orang yang menyembunyikan sesuatu, dia selalu terbuka dan terang-terangan. Sedikit. "Gue takut karena kedekatan Hanna sama Fauzan. Gue takut kalau si Fauzan ada maksud lain sama Hanna."


Apa karena rumor itu?


"Lo tahu hubungan mereka?" tanyanya Aji.


Afra menggeleng tidak tahu. "Hanna nggak pernah cerita soal Fauzan."


"Kalau Fauzi?" tanyanya lagi.


"Em nggak juga," jawab Afra. "Tapi yang gue tahu, kalau Fauzi suka sama Hanna."


"Beneran?" kejut Aji.


Afra angguk.


Meski terkejut, tapi Aji sudah menyadari bahwa Fauzi akan berakhir menyukai Hanna. Sikapnya sangat berbeda kepada Hanna.


"Gue nggak bisa ngelarang Hanna buat nggak deket-deket sama Fauzan, ataupun sebaliknya. Hanna udah nyaman sama dia," terangnya.


"Percaya aja," sahut Afra. "Kalau Hanna ngerasa nyaman, berarti Fauzan orang yang baik dong buat Hanna. Jadi, lo nggak usah khawatir. Mungkin tujuan Fauzan sama kayak Fauzi."


Penjelasan Afra tadi cukup membuat Aji sedikit bingung.


"Sama-sama suka sama Hanna," sambungnya.


Dan mungkin, itu akan menjadi pemikiran positif untuk Fauzan.


......................


Sebenarnya Hanna dan Fauzan memang ke toilet dan setelah itu mereka kehilangan Aji dan Afra. Meski sebenarnya, bisa saja menghubungi mereka. Fauzan da Hanna berjalan di temani dengan lampion yang berwarna-warni.


Hanna. Mungkin ini akan menjadi hari terakhir kita ketemu, gue akan berusaha hilang dari pandangan lo. Dan gue, akan berusaha menyembuhkan luka lo, Hanna.


"Fauzan.." panggilnya begitu ceria.


Fauzan menengok padanya.


"Aku liat kamu lagi baca sajak, dan sajak terakhir itu... Karya Hujan. Kamu yang buat kan?"


"Bukan."


"Bohong," kilahnya.


Fauzan hanya tersenyum, Hanna berseri.


"Apa hari ini lo seneng?" tanya Fauzan.


Hanna menatapnya lalu tersenyum lebar. "Seneng lah. Kamu sendiri?"


Fauzan tersenyum angguk.


"Jangan angguk doang, kamu harus bilang kalau kamu juga senang hari ini," pinta Hanna.


Fauzan menggeleng tidak mau.


"Ih Fauzan, harus..."


"Nggak."


"Harus cepetan..."



Seperti biasa, dengan pasrah. "Gue juga seneng."


"Nah gitu, kan enak dengernya." Hanna kembali tersenyum.


..."Apa tujuan Tuhan mempertemukan ku kembali dengannya? Untuk memperbaiki semuanya ataukah akan menyakitinya kembali?"...


...- Fauzan Maevino -...


...🥀...


...Rilis 20/04/2020...


...Revisi 28/07/2020...