Diary Of A School: Me And Yu

Diary Of A School: Me And Yu
BAB 22 Malu Sekali



Berlanjut ....


"Astaga! Apa yang gue lakuin barusan?" Hanna masih syok dengan kejadian dia mencium teman sekolahnya sendiri, Fauzan. Meski tidak disengaja, bukan hanya pikirannya yang kacau tapi detak jantungnya juga kacau.


Dia memegangi bibirnya, bayang-bayang itu masih melekat dalam pikirannya, dia terus menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran itu. "AaaaAa nggak-nggak!" Memukul-memukul kecil bibirnya itu sambil menghentakkan kakinya.


"Hanna..."


Seketika buyar.


"Kaaaalian kenapa? Kenapa pada panik?" tanya Hanna melihat sikap panik sahabatnya datang bersamaan dengan Nasrul.


"I-itu... Oni sama Afra berantem di lapangan," ungkap Gina cemas.


"Berantem?" kejut Hanna.


Gina segera mengangguk cepat.


"Yaudah kita samperin," kilat Hanna ikut panik.


Mereka pun segera pergi untuk menemui kedua sahabatnya. "Eh Han kesini. Mereka udah ada di BK."


Segera Hanna membalik arahnya bergegas ke arah ruangan Bimbingan Konseling.


| R. BK |


"Kekanak-kanakan sekali kalian ini. Sudah ada jadwal masing-masing kenapa masih ngeributin tempat?"


"Pak... bukannya gitu. Ekskul paskibra mau lomba jadi kita tuh harus latihan tiap hari biar hasilnya maksimal," jelas Oni. "Bapak nggak mau kan kalau piala umum Paskibraka itu, diambil sama sekolah lain." Melihat ke arah piala yang dipajang di ruang ini.


"Bukan tim kalian aja," sindir Afra menatap Oni. "Pak, ekskul basket juga harus latihan biar bisa menang. Basket putri selalu menang JUARA 1." Tekannya kata Juara 1 oleh Afra.


Pak Raja menghela nafas panjang menyenderkan kepalanya pada kursi. Oni dan Afra saling memalingkan wajah sambil menyilangkan tangannya.


Nampak dari luar ruangan Bimbingan Konseling (BK) dipenuhi oleh anggota ekstrakurikuler paskibra dan basket putri. Hanna, Gina dan Nasrul mencari kedua sahabatnya itu di antara mereka.


"Oni sama Afra nya mana?"


Mereka hanya menunjuk ke arah dalam. Afra dan Oni berada disana segera kami masuk untuk menemuinya.


"Afra, Oni."


Mereka membalik untuk melihat kedatangan kami.


"Pak mereka kenapa berantem?" tanya Nasrul kepada gurunya sekaligus ayahnya.


"Rebutan tempat buat latihan," tawar Raja sambil memijat pelipisnya pusing.


"Lapangan kan dua," kata Gina.


"Di pake tim basket putra," sosor Oni. Dia kesal dengan ekskul basket yang serakah.


"Ginih juga diributin," sindir Hanna langsung mendapat tatapan dari semua orang yang ada di dalam.


"Emang kamu punya solusi?" tanya Raja pada murid yang mempunyai banyak akal , IQ tertinggi, tapi juara dikelas tidak.


Hanna menyeringai memikirkan sesuatu yang berhubungan dengan permintaan pak Harto. "Ada."


"Yaudah kasih tahu solusinya," pintanya.


"Ada syaratnya, Pak. Tapi bapak harus serahin urusan tim basket sama saya."


Sedikit curiga tapi kecurigaan itu hilang dengan pemikiran keringanan beban tanggung jawabnya. "Yaudah bapak serahin sama kamu. Bapak udah capek."


"Siap, Pak."


Mereka keluar dari ruang BK tersebut. Sangat penasaran apa yang akan direncanakan oleh Hanna.


"Han rencana lo apa sih?" tanya Oni.


"Afra," panggil Hanna. "Lo bisa pake lapangan sekolah."


"APA?" Oni masih tidak terima.


"YES." Afra tersenyum kemenangan. "Yaudah, gue mau latihan dulu ya. Makasih, Han."


... Ayok." Afra langsung pergi bersama teman setim nya itu dengan gembira.


Tapi di sisi lain, Oni kesal dengan keputusan Hanna itu. "Terus ekskul paskibra gimana?"


"Pulang sekolah nanti gue kasih tahu," terang Hanna. "Em Gina, Nasrul, Oni. Ge harus cabut, banyak yang harus diurus nih, dah..." Mereka menatap keheranan dan penasarannya pada Hanna.


Hanna telah pergi menuju ke suatu tempat. Dimana tempat itu adalah tempat perkumpulan geng ThreeZ. Sama sekali tidak takut, karena dia juga sudah senior.


"Eh ada Hanna..." goda dari sekelompok murid laki-lakinya.


Hanna acuh. Siapa mereka, siapa namanya, Hanna tidak peduli. Lagipula nanti juga segera lupa dengan orang-orang ini.


"Ngapain ke sini?" Sinisnya.


"Eh Hanna..." Sapa Karin ramah.


Hanna senyum. " Hai." Karin ini ini berubah-ubah sikap, pikirnya.


"Ngapain ke sini?" tanyanya lagi, dia adalah Tiara. "Lo mau ngaku kalau Fauzi emang bener pacar lo?"


"Hih deket juga enggak, apalagi pacaran," timpal Hanna. "Gue juga baru tahu dia."


"Whatever."


Hanna mendengus. "Gue kesini nggak mau ribut soal itu. Gue mau ngasih kabar baik buat kalian."


Sebenarnya tidak mau mendengar ucapan Hanna. Tapi tetap menyimak. "Apaan?"


"Kalian boleh gabung lagi sama Cheerleader Bakti Nusa."


Kabar mengejutkan bagi mereka. "Seriusan?"


Hanna mengangguk ikut senang. "Tim basket kita mau tanding dan gue harap kalian ada di tim cheerleader tahun terakhir ini."


Mereka begitu senang atas kabar itu. Karena dulu mereka anggota Cheerleader, karena mendapatkan masalah membuat mereka dikeluarkan dari ekskul itu.


"Kalian mau, kan?"


"Pasti mau, lah."


Hanna berseri. "Syukur deh. Kalau gitu gue pergi."


"Iyah." Senyum Hanna dan bergegas pergi lagi.


Misi pertama telah selesai. Tinggal satu misi lagi yaitu menyelamatkan ekskul paskibra.


......................


Yang tadi dicari sedang duduk di bawah hijau pohon Bakti Nusa. Terus menatap kotak terbungkus indah yang dipegangnya.


"Gue kasih enggak ya."


"Kasih?"


"Enggak?"


"Kasih?"


"Enggak?"


Sambil melipatkan jari-jarinya untuk menghitung. "Kasih?"


"Enggak?!"


Aji menggeleng cepat. "Itung lagi."


"Enggak kasih."


"Kasih."


"Enggak kasih."


"Kasih."


Hanna melihat Aji dengan tingkahnya yang aneh. Dengan perlahan dia mendekat untuk mengejutkannya. Daaaa.....


DOR!


"EUHH!" Aji terperanjat kejut.


"Hahahah... HAHAHAHAH."


Hanna tertawa terbahak-bahak.


"Ihs ngagetin aja," sungut Aji.


Hanna melihat sesuatu yang dipegangi Aji. Terlintas di otaknya untuk menggoda dia. "Ciee kotak apaan itu... Buat Afra ya?"


"Kepo."


Hanna memutar bola matanya malas. "Gue pergi."


"Eeeeh... tunggu."


"Apa?" tawarnya.


"Bantuin gue dong."


"Ck, tadi ditanyain dibilang kepooohh..." sindirnya.


"Hehe canda doang," kekeh Aji. "Bantuin dong kasihin ke Afra."


Hanna masih malas untuk menanggapi.


"Hanna.... Hanna... Cantik deh." Puji Aji terpaksa.



Hanna menahan senyumnya. "Yaudah mana?"


"Yes! Ini." Aji menyerahkan kotak untuk diberikan pada Afra. "Makasih, Hanna."


"Hum."


"Eh iyah Ji. Jurnalistik disuruh dokumentasiin anak paskibra sama tim basket."


"Oh mau lomba ya?"


Hanna angguk. "Oh buat besok juga pemilihan ketua OSIS sama MPK."


"Widihhh... akhirnya Bapak Nasrul sama Ibu Gina lengser juga," kekeh Aji "Yaudah sekarang kita kumpulin anak-anak Jurnalistik."


Mereka pun segera mendatangi ekstrakurikuler Jurnalistik untuk persiapan kegiatan selanjutnya. Mereka melewati lapangan di belakang sekolah, melihat tim bola basket putra sedang berlatih.


"Wih keren Si Fauzi," puji Aji melihatnya memasuki bola langsung mendapatkan tiga poin. "Fauzi..." Aji berteriak memanggilnya.


Fauzi menengok, tersenyum. Menyapanya balik dengan mengangkat tangannya. Lalu melihat ke arah gadis di samping Aji, Hanna. Fauzi tersenyum, Hanna membalasnya dengan senyuman juga. Tapi seketika dia jadi teringat kejadian yang memalukan meski melihat saudara kembarnya, tetap saja bayangan itu muncul kembali.


"AaaAahh nggak-nggak."


Pergi begitu saja.


Aji kebingungan.


Fauzi terheran-heran.


...****************...


Di satu tempat, ketiga murid Bakti Nusa itu membolos hanya untuk main PS. Tapi karena sebelumnya salah satu dari mereka tidak fokus pada kejadian yang membuatnya canggung, malu dan .... AH!


Dia melemparkan begitu saja Stik Ps itu dan langsung bangkit. "Gue cabut duluan."


"Zan... nanggung nih, belum beres. Bentar lagi gue menang nih," lirih Tyo.


Fauzan tidak mendengar keluhan temannya itu, melanjutkan langkahnya itu untuk pergi. Dia memegang hidungnya yang telah dicium oleh Hanna, mendesah tidak percaya. Malu sekali.


"Aish."


Berbicara dengannya pun hanya sekali. Apa artinya kejadian ini? Hah... Padahal dia berusaha untuk menghindari tapi kenapa harus begini.


...🦄🥀☔...


...Rilis 06/02/20...


...Revisi 15/07/20...