Diary Of A School: Me And Yu

Diary Of A School: Me And Yu
BAB 38 Sahabat Kecil



Saat kepergian kak Annisa juga kedua orangtuanya yang bercerai dan meninggalkan Hanna sendiri. Hanna sempat berhenti menjalani terapi dan juga berhenti meminum obat. Saat itu penyakitnya semakin jadi sempat ia mengalami amnesia walaupun sekejap. Untungnya Aji beserta bunda dan ayahnya mengetahui hal itu saat berkunjung ke rumah Hanna yang sudah tinggal sendirian disana. Saat mereka datang, Hanna sempat lupa dengan mereka. Dan itu membuat mereka khawatir dengan keadaan Hanna.


Akhirnya mereka membawa Hanna ke dokter. Dan saat itu Hanna pun mengingatnya kembali, walaupun ia tidak sadar pernah lupa dengan Aji beserta bunda dan ayahnya Aji walaupun hanya sebentar. Akhirnya kedua orangtua Aji memutuskan agar Hanna tinggal bersama mereka. Supaya terpantau dengan kegiatan dan keadaan Hanna saat itu.


Sempat saat itu orangtua Aji sangat kesal, bisa-bisanya ada orangtua sekeji itu pada anaknya sendiri. Pernah mereka mendatangi rumah baru yang ditinggali ayah Hanna yang berada di Jakarta dan memberitahu keadaan Hanna saat itu. Melihat reaksinya sangat mengacuhkan dan tidak peduli, walaupun orangtuanya meninggalkan harta kepada anaknya itu Hanna untuk bisa hidup sendiri. Baik dari ibu maupun ayahnya memberikan sejumlah uang yang sangat banyak dan rumah tersebut untuk Hanna. Namun itu bukanlah cara untuk menyelesaikan masalah tersebut.


Yang diinginkan Hanna adalah kasih sayang dari kedua orangtua bisa ada kembali untuknya, tapi itu tidak berhasil. Akhirnya ayahnya Aji yaitu Raden memutuskan hubungan pekerjaan maupun pertemanan mereka dengan ayahnya Hanna, yaitu Wisnu.


Sekitar 2 tahun Hanna tinggal di rumah kediaman keluarga Aji. Dia sangat senang bersama mereka mendapatkan kasih sayang yang diinginkannya, walaupun bukan orangtua kandungnya Hanna sangat bersyukur mereka menganggap Hanna seperti anaknya sendiri. Dan saat itu Hanna pun selalu bersama Aji, sekolah pun dipindahkan agar Hanna tetap bisa terawasi dan terjaga. Dan Aji sangat melindunginya.



...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hanna dan Aji sudah berada di suatu tempat. Tempat dimana Hanna selalu merasakan kecemasan dan kesedihan yang mendalam. Mencoba melawan rasa takut dalam dirinya. Aji tersenyum mengangguk mengisyaratkan bahwa Hanna bisa menjadi orang yang kuat.


Kami langsung diarahkan menuju ruang dokter. Kami langsung disambut olehnya. Dia sudah menjadi Dokter yang merawat Hanna dari sejak awal dirinya merasakan penyakit seperti ini. Dokter tersebut bernama Rey.


"Hanna apa kabar?"


"Baik om," jawab Hanna tersenyum.


"Aji nggak ditanyain?" tanya Aji terdengar cemberut.


"Ikut-ikutan mulu," dengus Hanna.


"Biarin."


Dokter Rey tertawa melihat mereka. Hanna sangat beruntung ada orang seperti Aji di dekat dirinya. Dan itu akan mempercepat kesembuhan Hanna.


"Yaudah gimana kabar Aji sehat?"


Aji merasa senang. "Seh--"


"Nggak sehat om," sosor Hanna.


Dokter Rey bingung.


"Coba om periksa deh. Kayanya Aji gangguan jiwa soalnya .." Di akhir suara Hanna sedikit meredup.


"Soalnya kenapa?" tanya Dokter Rey.


"Soalnya dia nggak punya otak om." Hanna tertawa menjadi-jadi. Aji langsung saja menyerbu Hanna. "Ah... ampun-ampun."


"Jadi lo anggap gue gila? Oke Hanna Mafaza. Gue pecat lo jadi daftar Kartu Keluarga gue," tutur Aji.


"Silahkan. Emangnya gue terdaftar dalam Kartu Keluarga lo?"


Aji sejenak berpikir. "Bener juga."


Melihat hal itu. "Tuh kan om, lihat, mending periksa aja ni Aji."


Dokter Rey hanya tersenyum dan tertawa kecil melihat anak-anak ini. Mereka sudah dianggap seperti keponakannya yang beranjak remaja. Bukan. Hampir dalam masa akhir keremajaannya mereka.


"Sudah sudah kalian ini dateng-dateng malah ribut disini."


"Hanna yang mulai sih, om," cicit Aji.


"Bukan tapi Aji," timpal Hanna.


"Udah, udah ... Jadi kapan nih diperiksanya?"


"Sekarang om," jawab Hanna.


"Kalau gitu Hanna duduk disini," pinta Dokter Rey. "Hanna tiduran dulu rileks."


Hanna mengikuti arahan dari Dokter Rey.


"Tarik nafas pelan-pelan dan rileks. Sudah siap?"


Hanna mengangguk.


"Coba Hanna kasih tahu om kegiatan-kegiatan yang baru saja terjadi."


"Berantem?"


Dokter Rey tertawa kecil. "Hahah kamu ini lucu sekali. Ginih, akhir-akhir ini Hanna masih ingat melakukan hal apa saja?"


Hanna masih berpikir. "Emm... Oh, Hanna pergi sama temen Hanna namanya Fauzan."


"Fauzan?" tanyanya balik.


Hanna mengangguk. "


Waktu di sekolah Hanna nggak kenal sama sekali sama Fauzan dan juga kembarannya, Fauzi."


Aji yang duduk tidak terlalu jauh ikut mendengarkan ungkapan cerita dari Hanna.


"Jadi Fauzan punya kembaran?"


"Iyah om. Hanna ketemu sama Fauzi dulu. Waktu itu Hanna ikut kegiatan sekolah dan satu tim dengannya."


Dokter Rey sangat fokus dalam mendengarkan cerita pasiennya. Dan sedikit merasa senang.


"Semakin kesini Hanna sendiri jadi deket, berteman, sama Fauzi dan setelah itu baru Fauzan."


"Jadi awal mulanya sama Fauzi dan kemudian Fauzan...."


Hanna mengangguk.


"Masih ingat kenapa kamu bisa dekat dengan Fauzan?" tanya Dokter Rey.


"Masih om."


Hanna pun kembali bercerita tentang awal mula Hanna dengan Fauzi dan Fauzan bisa saling kenal dan berteman. Dokter Rey sangat puas dan senang dengan perkembangan Hanna kali ini. Dia telah mengingat suatu kejadian yang telah lama maupun yang baru saja terjadi.


"Boleh om tanya lagi?" tanya Dokter Rey berhati-hati.


Hanna mengangguk.


"Iyah Hanna sangat nyaman dengan mereka. Dan Fauzan membuat Hanna sadar tentang kehidupan."


"Ohh benarkan? Itu bagus."


Aji tentu saja mendengar cerita Hanna tadi. "Fauzan?" Mendengar dimana Hanna sendiri belum menceritakan pada dirinya.


"Fauzan membuat Hanna mengenal diri Hanna dan kesukaan Hanna."


"Wah... om jadi ingin ketemu dengannya," kata Dokter Rey. "Ini yang terkahir Hanna. Kamu siap?"


Hanna mengangguk kembali.


"Hanna masih selalu merasakan gejala cemas saat Hujan tiba? Mungkin saat malam hari? Berhalusinasi?"


"Terkadang. Hanna masih suka berhalusinasi kejadian itu... waktu mau tidur, malam atau hujan dan kemudian mimpi buruk yang sama. Tapi kali ini Hanna bisa mengatasinya om."


Dokter Rey tersenyum senang. "Oke Hanna, kamu bisa bangun sekarang. Om senang mendengarnya kamu jauh lebih membaik sangat jauh."


Hanna terlihat senang. "Beneran om?"


"Iyah sangat membaik."


"Aji .." panggil Dokter Rey.


"Yah om?" Aji segera beranjak dari duduknya.


"Hanna, kamu masih minum obatnya?" tanya Dokter Rey.


"Masih om tapi kalau Hanna lagi bener-bener nggak bisa ngatasiin. Tapi itu udah lama."


"Kapan?"


"Terakhir... Oh waktu Hanna masih kelas 10."


"Udah lama juga itu ..." jelas Dokter Rey. "Bagus Hanna."


"Aji .. om mau ngasih tahu untuk selalu ingetin lagi Hanna apapun itu. Tapi sepertinya om tidak usah lagi memberinya obat. Mungkin beberapa tidak akan seperti dulu."


Hanna terlihat senang kembali.


"Baik om," jawab Aji.


Dan ini adalah perkataan Dokter Rey yang selama ini ditunggu-tunggu oleh kami. Perkataan yang membuat kami senang mendengar keadaan Hanna yang jauh lebih baik.


"Om kami pamit dulu. Makasih,"


pamit Hanna memeluknya.


"Sama-sama."


"Dadah ... om."


Hanna meninggalkan ruangannya. Namun Aji tertahan lebih dulu oleh Dokter Rey.


"Kenapa om?"


"Om mau kasih tahu kamu lagi jaga baik-baik lingkungan Hanna, karena itu akan sangat membantu proses kesembuhannya."


"Pasti om."


"Dan juga om lihat Hanna saat dia bercerita tentang Fauzan, dia sangat bersemangat dan terdengar nyaman untuk menceritakan hal itu. Lebih baik Hanna sering-sering untuk bersamanya. Kemungkinan besar Hanna akan menemukan jawabannya."


Aji tersenyum. "Iyah om."


Pintu ruangan ini terbuka. "Aji? Kenapa masih disini? Gue kira lo ngilang dimakan om." Hanna berseri.


"Kamu ini," sahut Dokter Rey.


"Aji pamit dulu om. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumussalam."


"Dadahh ... Om Dokter Rey," ucap Hanna.


Dokter Rey melambaikan tangannya.


Hanna dan Aji sudah ada di parkiran.


"Sekarang mau ke mana?" tanya Aji.


"Nggak tahu. Emang lo nggak ada kegiatan?"


"Enggak ada, lo sendiri?"


"Enggak juga."


Aji berpikir sejenak lalu mengingat sesuatu. "Gimana kalau kita main ke markas


kecil? Kita udah lama nggak ke sana."


Tampaknya Hanna sangat senang. "Ayok."


"Oke deh. Ayok naik. Pegangan." Hanna berpegangan pada Aji melingkar tangannya padanya seperti memeluk. "Udah siap?"


"Udah."


"Okay meluncur...."


Motor Aji melaju.


Tempat markas kecil mereka sejak kecil. Dimana tempat ini adalah tempat yang dipenuhi dengan kenangan mereka berdua. Tidak akan pernah lupa. Mereka seperti tidak pernah bertengkar dan akur-akur saja tapi mereka sebenarnya sering melakukan itu, bertengkar tapi tidak akan lama mereka akan berbaikan. Untuk Hanna, Aji adalah sosok yang benar-benar tidak ingin kehilangannya. Hanna sangat menyayangi Aji, begitu juga sebaliknya. Tapi kata sayang itu tidak menganggapnya lebih dari sekedar adik dan kakak.


Seperti saling menyukai? Itu terdengar konyol bagi kami. Memang, semua orang mengira kami berpacaran tapi kenyataannya tidak. Kami memang kelewatan dekatnya karena sejak kecil kami dekat, dan selama beberapa tahun Hanna tinggal dengan keluarganya Aji. Hanna sudah dianggap sebagai putri dari orang tua Aji, bagian dari keluarganya.


...🌈...