Diary Of A School: Me And Yu

Diary Of A School: Me And Yu
BAB 20 Kebaikan dari Keluarga



Bel pulang sudah terdengar. Kami pun berbenah buku-buku dan alat tulis. Aji pun datang dan langsung memasuki kelas kami.


"Heii."


"Aji?"


"Nanti malam gue tunggu di rumah. Gue bikin selametan atas kemenangan band The Hago," teriak Aji begitu senang.


"YEEEE PARTY PARTY," tutur Oni.


"Yaudah gue cuman mau ngasih tahu itu doang, gue balik dulu bhay bhay," sahut Aji langsung beranjak pergi namun saat sudah di dekat pintu ia terlupa sesuatu.


"Ohiyah Gina."


Gina langsung menoleh ke arah Aji.


"Ada salam dari Nasrul katanya kangen," kekeh Aji menyampaikan salam dari Nasrul namun dilebih-lebihkan oleh Aji.


"Hmm, yah." Gina bergumam.


Dan kami tertawa mendengarnya.


Setelah perginya Aji dari kelas. Afra memberi isyarat kepada Gina dan Oni untuk menanyakan kabar tentang Hanna dan kakak tirinya itu. Mereka saling meminta satu sama lain siapa yang akan membuka suara untuk menanyakannya hal itu. Dan di sisi lain Hanna memperhatikan gelagat ketiga sahabatnya itu.


"Kalian ini kenapa?" Heran Hanna.


Ketiga begitu gugup. Afra, Gina maupun Oni.


"Umm itu Han,, Gina mau nanya," lempar Oni kepada Gina. Gina mengerutkan keningnya, Oni berseri.


"Ada apaan?" tanya Hanna lagi.


"Han ginih, mmm kita boleh tanya?" Akhirnya Gina yang berani menanyakan hal tersebut.


"Lo minta ijin dulu?" kekeh Hanna. "Kalian ini kenapa? Kok pada gugup."


Gina pun ikut tersenyum. "Kita masih khawatir, lo nggak papa, kan? Pas kakak tiri lo dateng ke rumah."


Hanna langsung terdiam. Mendengar mereka yang berhati-berhati untuk menanyakan soal ini. "Gue nggak papa, kok. Makasih udah khawatirin gue," jawab Hanna tulus.


"Kita ikut seneng kalau lo sama kak Bella udah baik-baik aja," sambung Afra.


Hanna tersenyum begitu tersentuh terhadap ketiga sahabatnya. "Makasih.


Flashback On.


Hubungan Hanna dan kak Bella sekarang mulai membaik. Dia menceritakan bahwa dirinya pergi melanjutkan sekolah di luar negeri yang diinginkan oleh ayah tirinya itu. Dan juga ayahnya ingin menjauhkan kak Bella dari Hanna. Saat itu juga dia sama sekali tidak bisa memberitahukan Hanna soal dirinya yang pergi ke luar negeri. Ibunya mengancam jika dia masih berhubungan dengan Hanna maka Ibu sendiri akan benar-benar menghancurkan Hanna.


Maka dari itu bertahun-tahun ia tidak memberi kabar kepada adik tirinya Hanna yang sudah dianggap sebagai adik kandung sendiri. Namun sekarang dia sudah lulus sekolah disana. Dia pulang ke Indonesia. Dia sangat ingin bertemu dengan adiknya itu. Saat ingin menghampiri adiknya ke rumah yang dulu, ia diketehui oleh ibunya.


Ibunya mengancam. "Mau kemana kamu? Jangan sampai kamu menemui adik tirimu itu, kalau tidak-"


Namun Bella menghentikan ucapan tersebut.


"Kalau tidak aku tidak akan meneruti kemauan ayah lagi." Bella memberanikan dirinya sekarang.


Dia sudah lelah hidup dalam tekanan orangtuanya. Ibunya pun langsung terdiam.


"Aku tidak akan mengurus perusahan yang ayah minta."


"BELLA!!" teriak dengan tekanan ibunya.


"Kalau ibu tidak mau aku seperti itu, ibu ijinin Bella nemuin Hanna."


Ibunya tidak bisa menolak. Yang akhirnya dia memberikan ijin kepada Bella untuk menemui Hanna.


Flashback Off.


...****************...


Malam tiba. Kami berada di rumah Aji. Disini juga yang pasti ada Nasrul, Fauzi, Tyo, Gina, Oni, Afra, dan juga Hanna sendiri. Kecuali Fauzan, dia tidak bisa ikut bergabung. Fauzi bilang saudara kembarnya itu ada urusan.


Kami memanggang daging, sosis, dan semacamnya. Menyiapkan makan malam di halaman rumah Aji. bundanya yang baru datang dan menghampiri kami dia juga ikut membantu kami disini sedangkan papahnya sedang berada di luar kota.


"Hanna," panggil bundanya Aji.


Hanna menoleh yang ternyata itu adalah bunda Naila


"Bunda ..." Hanna berteriak langsung berlari dan memeluk bunda.


"Sayang apa kabar? Bunda kangen, kamu jarang main lagi kesini."


Hanna tersenyum. "Maaf bunda."


Teman-teman yang lain memperhatikan Hanna bersama bundanya Aji. Mereka sudah sangat dekat dan juga mereka sudah menganggap Hanna sebagai anaknya.


Orangtua Aji pun sudah tahu permasalahan dalam kehidupan Hanna. Bunda dan papah nya Aji pernah membantu Hanna dan juga papah Aji pernah bertengkar dengan ayah Hanna karena ikut campur dalam urusana keluarganya. Itu masa lalu Hanna dengan keluarga Aji, Hanna banyak merepotkan pada keluarga Aji namun ia juga sangat bersyukur atas kehadiran mereka.


"Hanna ayo ikut bunda." Mereka masuk ke dalam rumah. "Tante tinggal dulu yah." Bunda berpamitan kepada yang lain.


Bunda dan Hanna masuk ke dalam rumah. Bunda menyuruhnya menunggu di ruang ini. Dan bunda pergi sebentar untuk mengambil sesuatu. Tak lama bunda pun datang. Beliau langsung memperlihatkan kalung kepada Hanna.


"Cantik bunda kalungnya," kata Hanna.


"Cantik kan?" Hanna mengangguk senang. "Ini hadiah buat putri bunda satu-satunya."


Hanna tersentuh mendengarnya.


"Biar bunda yang pakeiin." Bunda langsung memasangkan kalung tersebut pada leher Hanna. Hanna terlihat senang dengan pemberian bunda.


"Bunda, Hanna seneng atas pemberian bunda tapi-"


"Shutt udah kamu terima aja. Hanna kan anak bunda juga." Bunda tersenyum lebar.


Hanna ingin mengeluarkan air mata namun ia masih bisa menahannya. Ia langsung memeluk erat bunda. Sangat-sangat erat. "Makasih bunda."


Hanna ingin mengucapkan beribu ribu kata terimakaih kepada keluarga Aji. Ingin sangat. Namun air mata ini yang mewakili semua ucapan Hanna kepada mereka. Air mata yang sudah deras keluar membasahi pipinya.


"Duhh jangan nangis ah, nanti bunda juga ikut nangis."


Hanna tertawa mendengarnya.


Aji yang diam-diam melihat  bundanya berbuat baik dan kepada Hanna sangat senang, bundanya memberikan kasih sayang terhadapnya yang membuat Aji sangat bersyukur dan bahagia yang dirasakan.


"Hanna." Aji memanggilnya. "Ayo udah pada siap. Bunda juga ayok ikut."


Mereka pun bermakan malam dan menikmati disetiap hidangan yang sudah tersedia. Merasakan kehangat disini bersama mereka semua orang-orang yang Hanna sayang.


...****************...


Hari sudah berganti. Sekolah belum dikatakan libur. Hanna, Gina, Afra, dan Oni mereka berada duduk di dekat lapangan. Mereka juga sangat senang dengan menggoda Afra. Melihat Afra sekarang dia sangat lucu. Dia salah tingkah dengan candaan kami karena tadi malam saat di rumah Aji.


Flashback On.


Aji pernah bercerita soal Afra kepada bundanya. Dan itu juga tak sengaja karena bundanya yang selalu memancing Aji tentang asmaranya di sekolah. Keluarga Aji sedang berkumpul di ruang tv.


"Dia baik bun jauh lebih baik dari pada dulu," ungkap Aji sambil memakan popcorn.


"Syukur kalau Hanna baik-baik aja."


Aji tersenyum dan terfokus lagi pada tontonannya.


"Kamu itu sama Hanna pacaran?" tanya papah menggodanya dan juga mengagetkan Aji.


"Kamu pacaran sama Hanna, Nak? Kok nggak bilang sama bunda sih?" Sedikit kecewa kepada anaknya.


"Enggak pah bun Aji sama Hanna nggak pacaran," terang Aji menjelaskan.


"Lagian kamu nggak pernah ngenalin cewek selain Hanna yah nggak bun?"


Papahnya was was kepada Aji yang mungkin dia punya teman cewek hanya Hanna saja.


"Aji banyak ko ceweknya." Bunda dan papahnya langsung terkejut. "Maksud Aji temen cewek Aji banyak di sekolah."


Merasa lega karena kesalahpahaman.


"Kamu punya perasaan nggak sama Hanna?" tanya bunda.


"Kalau kamu suka sama Hanna, papah bantu. Papah jodohin kamu sama Hanna, mau?" Sambungnya.


Aji terkejut kembali bisa-bisanya papah dan bundanya ingin menjodohkan dirinya dengan teman masa kecilnya itu, Hanna.


"Enggak pah enggak nggak usah. Aji sama Hanna bakalan tetep jadi sahabat. Dia juga kan adik Aji yah nggak bun?" Aji tersenyum.


Bunda pun tersenyum ikut senang mendengar hal tersebut.


"Terus kamu sama siapa? Awas ajah kalau kamu itu...."


Papahnya membuat Aji dan bunda gelisah.


"Ehh enggak, Pah. Amit-amit jabang bayi."


Papahnya tertawa karena menjahili anaknya itu.


"Justri Aji lagi suka sama sahabatnya Hanna bun pah," ungkap Aji. "Eh." Dia tak sadar dengan ucapannya. Mengatakan sejujurnya kepada bunda dan papahnya.


"Ciee yang lagi falling in love," goda bundanya. "Siapa nama sahabat Hanna itu?"


"Afra, Bun. Dia itu orangnya kuat, walaupun dia agak judes, cuek tapi sebenernya dia diem-diem perhatian tanpa disadari sama teman-temannya loh bun. Terus-terus yah sekalinya dia senyum... Ehmm bun... cantik."


Sambil memberikan jempol.


Aji membayangkan Afra. Dia selalu memperhatikan Afra saat di sekolah. Saat Afra sedang berjalan sendiri, tak sengaja Aji melihatnya. Terlihat nenek yang selalu membersihkan sekolah sedang tertidur kelelahan. Afra pun membantu membersihkan, ia menyapunya sampai bersih. Ibu itu masih tertidur pulas.


Setelah beres Afra pun pergi. Tapi ternyata Afra kembali lagi dengan membawa botol minum dan diletakkan di sebelah nenek itu. Aji sangat terkesan dengan perbuatan yang dilakukan oleh Afra. Aji pun tak sengaja lagi melihat sisi baik Afra, Afra menolong orang yang akan terkena bola tanpa disadari oleh orang itu. Dan masih banyak lagi kebaikan yang dilakukan oleh Afra.


......................


Saat malam perayaan kemenangan The Hago di rumah Aji.


"Aji mana yang namanya Afra Afra itu?" tanya bunda.


"Itu bun yang rambutnya pendek lagi motion, cantik kan cantik kan?"



Aji membanggakan pilihan dirinya.


"Ohh itu yang pake baju putih ?" Bundanya memastikan.


Aji mengangguk. "Bunda jangan mikir hantu yah." Bundanya terkekeh-kekeh. "Gimana bun, cantik kan?"


"Cantik persis yang kamu ceritain waktu itu, manis yah." Bunda terlihat senang.


"Tapi bun dia susah dideketin." Aji mengeluh kepada bundanya. "Coba yah bun kalau sama Aji di sapa tuh dia nyuekin Aji, sapaan Aji nggak dibales bun." Aji sedikit merengek.


"Bagus dong berarti dia tuh bukan cewek yang gampangan kan?" tanya bundanya.


"Iyah sih," kilah Aji.


Dan bunda pun beranjak pergi dari sini.


"Bunda mau kemana?" tanya Aji.


"Nyamperin calon mantu," jawab bunda tertawa.


Aji pun langsung menyusuli bundanya yang akan menghampiri Afra. "Bundaaaa ..."


Bundanya pun sampai disini.


"Afra yah?" tanya bunda.


"Ehh iyah tante saya Afra," tutur Afra langsung berdiri dengan sopan.


"Kamu panggil tante, bunda aja yah?"


Afra terheran-heran. "Ahh iyah tan ehh bunda."


"Anak bunda, katanya kamu itu susah dideketin. Kamu nggak suka sama anak bunda ini Aji?"


Bunda langsung jujur terhadap Afra tanpa basa-basi. Afra langsung terdiam setelah mendengarnya. Teman yang lain pun yang berada disini  terdiam mendengarnya karena ucapan bunda barusan. Dan Aji pun akhirnya datang dengan tampang malunya.


"BUNDAA!!" Aji sedikit berteriak.


Semua yang ada disini tertawa terbahak-bahak melihatnya terkecuali Afra.


Flashback Selesai.


"Ciee Afra gimana nih udah ketemu sama calon mertua," goda Oni.


Kami sangat senang bisa menggoda Afra jarang-jarang Afra menjadi pusat perhatian kami soal masalah kasmaran.


"Lo nggak bilang-bilang kalau lagi deket sama si Aji," protes Hanna menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Shutt kalian tuh yah," lirih Afra


"Haha cie yang salah tingkah," goda Oni.


Afra tak tahan mendengarnya dia pun beranjak pergi dan malah ikut bermain basket bersama murid-murid di tengah lapangan itu.


...🦄🥀☔...


...Bersambung...


...Rilis 01/02/20...


...Revisi 15/07/20...