
Setelah selesai sekedar jalan-jalan yang tidak disengaja, Fauzan dan Hanna pulang. Hanna tampaknya begitu senang hari ini, dia juga bisa bersama kak Bella tadi dan sekarang bersama Fauzan melakukan hal baru yang menyenangkan.
Di lapangan komplek, anak paskibra tampaknya bersiap-siap untuk pulang karena sudah larut malam dan mereka juga sudah kelelahan. Satu persatu sudah meninggalkan tempat ini, dan Oni bersiap pulang, Tyo masih setia menemaninya disini sampai tertidur.
"Yo, Yo..." Oni berusaha membangunkanya.
"Eungh.. udah beres latihannya?" Masih dalam keadaan belum sadar karena terbangun.
"Iyah kita pulang."
Tyo bangkit terduduk melihat arlojinya. "Jam 9." Lalu menatap ke arah Oni. "Makan dulu gue laper, lo juga belum makan."
"Iyah...." Oni bersuara lemas bahwa dirinya benar-benar kelelahan. "Gue juga laper."
Tyo sudah berdiri untuk bergegas pergi. Mereka berjalan ke arah motor terparkir.
"On."
"Hum?" Sambil memakai helm.
"Gue nggak salah liat, kan?" Tyo mengusap matanya menatap lekat pada Oni.
Oni heran dan gugup. "Kenapa?"
"Tunggu, tunggu." Tyo semakin mendekat.
"Ma-mau ngapain?"
"Mata gue yang burem atau gimana? Lo kok cantik, sih?"
Oni tertegun, tersipu malu.
"Yaah kayaknya setelah bangun tidur, mata gue jadi salah ginih."
Seketika tersipu malu itu menghilang menjadi jengkel. "Mata lo bangun tidur itu yang asli, setelahnya lo itu buta cewek."
"Dih..." Hendak akan menaiki motornya dengan Oni yang masih mengoceh. Pandangan Tyo kembali lagi pada seseorang yang membuatnya terkejut. "Oni mata gue nggak salah liat?"
"Mau bilang apa lagi? Gue cantik? Jelek? Imut? Kayak Ariana Grande?"
"Ihs itu itu buruan liat ke sana," kilah Tyo segera Oni menoleh. Oni membulatkan matanya kejut. "Itu beneran Fauzan sama Hanna, kan?"
Oni angguk. "Gue nggak salah liat, kan? Ini... seriusan? Hanna sama Fauzan? Kok bisa?" Oni benar-benar tidak percaya dengan pemandangan yang ia lihat, Hanna diboncengi oleh Fauzan. "Sejak kapan mereka deket? Gue kira Hanna bakalan jadian sama Fauzi."
"Lo ketinggalan banget," ejek Tyo. "Sini..." Oni sedikit mendekat. "Waktu itu ada rumor kalau Fauzan sama Hanna itu bolos berdua." Oni menganga kejut tidak percaya. "Dan waktu itu juga, Fauzan lagi dihukum, dikasih minum sama Hanna."
"Kenapa gue ketinggalan gosip sih...." rengeknya. "Gina sama Afra diem-dem aeee lagi, nggak ngasih tahu gue."
"Soal gosip ajah muka ngerut kayak gitu," sindirnya lagi. "Naik, gue udah laper nih."
Oni masih kesal karena rumor sahabatnya sendiri ia tidak tahu. Dia sudah ketinggalan karena beberapa hari tidak masuk sekolah.
...****************...
Setibanya sampai rumah, Hanna segera menuruni motor Fauzan.
“Nih,” kata Hanna memberikan sesuatu.
Fauzan kebingungan.
“Buat lo, biar tahu ceritnya,” sambungnya.
Fauzan tersenyum aneh. “Hah serius?”
Buku cerita dongeng untuk anak-anak yang diterima oleh Fauzan.
“Pegang aja, baca yah.”
Fauzan sedikit ragu namun mengambilnya.
“Kalau gitu gue masuk. Makasih buat hari ini.” Melangkah masuk ke dalam rumah sembari melambaikan tangannya. “Dah ..”
Hanna pun sudah memasuki gerbang rumahnya. Fauzan yang masih aneh memandang buku yang diberikan oleh Hanna. “Berbie Of Swan Lake."
Fauzan pun bergegas pergi.
Hanna baru saja memasuki rumahnya dan belum sampai ke kamarnya sendiri. Tiba-tiba saja.
TingTongTingTong ......
"Ihh siapa sih? Berisik." Omel Hanna yang baru saja akan menaiki anak tangga.
Hanna pun membuka pintu dan mendapatkan.
"Berisik tahu! Nggak bisa santai apa mencetnya?" gerutu Hanna.
Orang tersebut langsung memasuki rumah.
"Udah ada yang baru jadi lupa sama gue?"
"Apaan sih Aji nggak jelas," cicit Hanna langsung beranjak duduk.
Aji pun ikut duduk disana. "Habis dari mana ajah sama Fauzan? Katanya pergi sama kak Bella," tanyanya seperti menginterogasi. "Gue dari tadi udah ke sini, lo nya kagak ada, nungguin sampai perut gue keroncongan."
Hanna masih diam dengan omelan Aji.
"Lo kencan sama dia?"
Mata Hanna langsung membulat. "Enggak...!"
"Terus?"
Hanna menghela nafas. "Pulang sekolah gue emang pergi sama kak Bella dan udah itu gue ada janji juga pergi sama Fauzan."
"Pergi kemana?" tanya Aji.
"Ihh lo kepo banget sih," decit Hanna langsung beranjak dari duduknya.
"Gue kan kakak lo juga disini, buat jagain lo. Jadi gue harus tahu dong," serunya.
"Iuww kakak-kakak." Hanna meledek.
Sekejab hening.
"Ngapain malem-malem kesini?"
"Apa sih mau mu??" Hanna melagamkan seperti lagu.
"Ihhh!" Kesal frustasi Aji kembali duduk.
Hanna malah tersenyum. Ia pun melihat handphonenya yang ternyata lobet.
"Ponsel gue lobet ternyata." Hanna berseri. "Maaf yah." Hanna ikut duduk disampingnya. Meminta maaf. Hanna mengolo. "Maaf dehh kakak kan? Yah yah? Jangan marah."
"Lain kali--" Baru saja mau mengucapkan Hanna malah memotongnya.
"Iyah iyah gue nggal akan ngulangin lagi," ujarnya langsung.
Aji pun beranjak dari duduk. "Awas yah kalau diulangin lagi."
"Iyah..."
"Kalau gitu gue balik. Udah malem, lo langsung istirahat. Besok kan lo ada jadwal terapi."
"Iyah gue inget kok."
Aji melangkah menuju pintu, Hanna mengantarkannya. Aji berhenti sejenak saat sudah berada di luar.
"Ada apa?"
Heran.
"Lo seneng?" tanya Aji.
"Kenapa? Iyahlah." Terlihat dengan raut wajah yang senang.
Aji tersenyum. "Syukur deh." Melambai-lambai rambut Hanna. "Gue balik yah kalau ada apa-apa langsung kabarin gue."
"Iyah."
Aji pulang dan Hanna segera beristirahat seperti apa yang dikatakan oleh Aji.
...****************...
Fauzan tiba di rumahnya. Ia
memasukkan motornya ke dalam garasi. Berjalan menghampiri pintu dan membuka. Memberi salam. Sudah terdengar balasan dari orang yang berada di dalam rumah. Mereka tengah duduk di ruang televisi, ibu dan Fauzi.
Fauzan bersalaman pada ibunya.
"Mah."
"Nggak biasanya pulang sampe larut ginih," sahut ibunya bernama Anita.
Fauzan ikut duduk disampingnya. "Habis siaran tadi. Tapi mampir dulu Mah ke mall."
"Sendirian?" tanya Fauzi sambil memakan cemilan.
Fauzan masih terdiam sejenak. "Em sama temen."
Fauzi sedikit curiga. Ada yang aneh.
"Udah makan?" tanya Anita. "Kalau belum di meja itu udah ada dipisahin buat kamu. Tapi sebelum makan, mandi dulu." Ibunya mengendus badan Fauzan. "Hm, bau."
Fauzan mengendus tubuh sendiri. "Emm wangi kok." Fauzan berseri. "Yaudah Uza ke atas dulu."
Fauzan sudah bergegas pergi. Namun pandangannya Fauzi masih menatapi kepergian Fauzan dengan curiga. Saat sudah berada di kamar. Fauzan kembali melihat buku pemberian Hanna itu. Terlintas ia tersenyum, namun memberi arti sebaliknya.
Beberapa menit kemudian.
Tidak hampir setengah jam. Fauzan sudah keluar dari kamar mandi. Dia sedikit terkejut. Dihadapannya sudah mendapati Fauzi yang tengah duduk di kasur dengan memegang buku dongeng yang Hanna kasih padanya.
"Ini.. lo yang beli, Zan?" tanya Fauzi.
Fauzan sedikit ragu untuk memberitahunya. Tapi. "Bukan."
Fauzan berpikir bahwa apakah sekarang waktu yang tepat untuk mengatakan yang sebenarnya. "Uzi."
"Apa?"
"Apa... lo masih inget waktu kecelakaan itu dan gue kabur dari rumah."
Fauzi sedikit tersentak kejut dengan apa yang dikatakan oleh Fauzan. Menceritakan suatu kejadian yang sensitif bagi mereka berdua.
"Gue pernah cerita, gue ketemu sama keluarga korban kecelakaan itu."
Fauzi pun mengangguk. "Gue nggak pernah lupa soal itu. Apa lo ketemu lagi sama orang itu?"
Fauzan mengangguk pelan dan duduk di kursi. Fauzi terkejut mendengar hal itu. Dia tidak mau melihat Fauzan merasa bersalah kembali berkali-kali lipat seperti halnya dulu.
"Zan, kalau ketemu orang itu lagi. Gue harap lo hindari. Gue nggak mau liat lo tertekan," jelas Fauzi.
"Gue nggak bisa, Zi." Suara semakin berubah menjadi sendu.
Fauzi beranjak dari duduknya. "Kenapa, hah? Fauzan dengerin gue--"
"DIA HANNA, Zi....! HANNA...."
Fauzi membeku.
Fauzan menundukkan kepalanya merasakan kembali perasaan yang hancur. "Orang itu Hanna, Zi. Keluarga Hanna."
Fauzi terdiam, tubuhnya mulai menegang mendengar hal itu. Orang yang tidak terduga bahwa sosok orang itu sudah berada di dekat mereka. Di antara kami.
"Lo... lo se-seriusan? Lo yakin?"
"Gue yakin, Zi. Waktu itu pun gue nggak percaya bahwa itu Hanna. Tapi semakin gue menyangkalnya semakin gue yakin bahwa itu dia, Hanna. Dan gue...." Begitu sulit untuk berbicara. "Gue merasa bersalah, Zi."
Fauzi berusaha menenangkannya. "Itu bukan salah lo, Zan. Gue udah bilang berkali-kali... ITU BUKAN SALAH LO!!"
Fauzi berteriak kepada Fauzan.
Bukan karena marah. Tetapi ia tidak mau melihat Fauzan tertekan kembali dan terus menerus selama hidupnya merasa bersalah. Fauzi tidak mau melihat Fauzan seperti itu lagi.
...❤️🥀...
...Rilis 18/03/2020...
...Revisi 19/07/2020...