Diary Of A School: Me And Yu

Diary Of A School: Me And Yu
BAB 46 Menyakitkan



Malam yang dingin. Selama tiga hari itu menghilang tanpa jejak. Sepeda motor yang dikenal telah terlihat lagi di kota. Hilangnya dia, kembali dengan informasi penting yang ia dapatkan.


Brum Brum Brum....


Suara motor yang melaju kencang darinya. Tapi, tiba-tiba saja motor itu berhenti secara tiba-tiba sampai motor itu berputar. Beberapa motor dan mobil menghalangi jalannya.


Fauzan membuka kaca helmnya itu. Menatap tajam pada orang-orang yang berusaha menghalang-halanginya. Menuruni motornya sambil melepaskan helmnya tersebut.


"Mau apa lagi?"


Dinginnya suara Fauzan.


"Lo lo pada apa nggak capek terus-terusan ngungkit masa lalu?"


"Ck. Sampai kapanpun gue nggak terima kalau lo masih hidup," murkanya. "Lo enak-enak disini, sedangkan yang lain... di penjara! MATI!"


"Lo udah tahu yang sebenarnya. Itu bukan salahnya gue."


"Berandalan! SIAL*N!!! HAJAR....!!!"


Perintah.


Semua orang berlari untuk menghajar Fauzan seperti serigala yang sedang memburu seekor domba. Tapi, kenyataan bahwa mereka lah dombanya, Fauzan yang menjadi serigalanya.


......................


Motor ninja hitam yang dikendarai oleh seseorang bukan orang lokal. Namun yang diboncenginya asli orang sini. Sambil bergarau meski mereka ada di atas motor.


"Sekarang kita mau kemana lagi?"


"Udah malem, Yo. Lo bawa gue pulang aja."


"Okay my princess."


Merasa senang mendapatkan pujian darinya. Tapi sesuatu terjadi membuat Oni terkejut. "Yo, Yo, Bulyo..." Sambil menepuk-nepuk pundaknya.


"Apaan?"


"Berhenti dulu."


Motor berhenti.


"What happened?"


"Ada yang berantem, Yo. Itu kasian dikeroyok. Licik banget satu lawan seribu orang," resahnya sedikit di dramatiskan.


Tyo menoleh ke arah yang Oni maksudkan. "Should I just call the police?"


"YES..." Ada penekanan dari jawaban Oni.


Tyo menghubungi kantor polisi sambil menunggu panggilan ini diangkat, Tyo melihat pada perkelahian tersebut. Ketika manik mata tajamnya menemukan sosok yang ia kenal dari mereka. Menganga tidak percaya, dia semakin gelisah.


"Hallo..."


"Ada yang bisa dibantu?"


Suara dibalik ponsel sudah terdengar. Namun, Tyo masih belum menjawabnya.


"Yo.. Tyo...." Oni menyadarkan lamunan Tyo. "Itu polisinya..."


Tyo kembali dalam panggilan daruratnya. "I want to inform you that there was a motorcycle gang that destroyed the road."


Namun dibalik itu polisi sepertinya kesusahan untuk mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Tyo. "Bisakah bicara dengan bahasa Indonesia?"


Tyo mematikan panggilan itu.


"Yaa kenapa lo matiin?" heran Oni.


"Lo tunggu disini, gue harus selamatin Fauzan." Dengan paniknya, Tyo segera bergegas untuk menolong Fauzan di sana.


Oni masih terheran-heran. "Fauzan?" Namun seketika melihat kembali ke arah perkelahian ia baru tersadar ada sosok Fauzan di sana yang berusaha melindungi dirinya dari orang-orang yang ingin menghajarnya itu.


......................


Tibanya Tyo langsung beraksi dengan tendangannya. Brak!


Fauzan terkejut dengan kedatangan Tyo yang tiba-tiba. Meski begitu bebannya terkurangi. Lawan mereka mulai berkurang, Oni yang disana begitu panik. Benar-benar panik rasanya ikut merasakan ngilunya.


Pertumpahan darah yang terjadi. Fauzan bersama lawannya dipenuhi dengan amarah yang murka.


Tapi suara sirine polisi terdengar membuat mereka berhamburan pergi untuk kabur. Tapi tidak dengan yang satunya, Fauzan masih menahannya. Melayangkan pukulan yang masih tertahan.


"Kenapa...? Kenapa diem aja.." Dia cengegesan dengan angkuh tidak kenal takut kepada Fauzan. "Bunuh. Bunuh gue...!"


Menantangnya.


Dia menyeringai.


"Lo pasti gampang buat bunuh gue sekarang. Karena lo... udah jadi seorang. Pem. Bu. Nuh."


Fauzan tidak tahan lagi dengan omongan itu. Segera melayangkan pukulan kepadanya.


"Fauzan!"


Tyo mencegahnya.


"Lo mau ditangkep polisi huh?!"


Dia mencegah agar Fauzan mengakhiri perkelahian ini sekarang juga. Tyo menarik-narik Fauzan untuk menjauh dan pergi sebelum polisi datang.


Dan lawannya itu pergi juga.


Setelah keadaan terlihat aman. Oni segera pergi untuk menemui mereka.


"Tyo... Fauzan..."


"Lo kenapa kesini? Polisi mau dateng... Kita harus cabut," lirih Tyo


"Polisi nggak bakalan dateng, suara sirini itu dari HP gue," ungkapnya.


Tyo sedikit lega meski itu panggilan yang dapat menyelamatkan mereka berdua dalam perkelahian. Dan Oni menoleh ke arah Fauzan, dia berlumuran darah dan memar di wajahnya membuat Oni mengkhawatirkannya.


"Zan, lo nggak papa?" Paniknya. "Ih Tyo, itu darahnya..."


Fauzan sedikit meringkis sakit setelah memegangi dahinya yang berdarah.


"Kalian berdua harus ke rumah sakit. Ayok."


...🌄...


Hari esok telah tiba. Semalam Fauzan menginap di rumah Tyo karena Fauzan tidak mau orang rumah melihatnya dalam keadaan babak belur. Apalagi membuat ibunya cemas. Fauzan menghubungi saudara kembarnya untuk datang ke rumah Tyo dan meminta membawakan seragam sekolahnya.


Fauzan diam.


"Crazy, you could just die at their hands," lanjutnya ngeri mengingat kejadian tadi malam.


"Mereka emang pengen gue mati," ungkap Fauzan dengan ekspresi datar.


Tapi tidak dengan Tyo. Terkejut. "Ernsthaft?"


Fauzan hanya mengangkat halisnya.


Tyo menggeleng-geleng tidak percaya. Benar-benar gila orang-orang semalam tadi.


"Wait, so ... are those rumors true?"


Fauzan mendongkrak.


"Your enemy..." Tyo berkata dengan hati-hati. "Jangan-jangan, have you ever killed someone? Are the rumors true? Oh My God!"


"Lo mau mati sekarang huh?!"


Fauzan geram.


Malah dibalas dengan cengegesan Tyo. "Hahaha haha I'm kidding, joke. Okay, sorry."


Fauzan melepaskannya.


"If the rumors were true, you would have already been imprisoned," lanjutnya. "Gue nggak sebodoh itu, ke makan sama rumor. But--"


"Shit!" Umpatnya pelan. Lelah mendengar suara bule itu yang terus mengoceh.


"Ouwww! Slow man. Okay... sorry sorry gue tutup mulut."


Tidak lama kemudian dari itu, seseorang tiba juga.


"Hoy Zi.... What's up?" Sapa Tyo.


Tapi.


"Apa-apaan? Lo lo pada berantem?"


Heran dan paniknya Fauzi melihat kondisi Fauzan dan Tyo. Tentu Fauzi lebih mencemaskan saudara kembarnya.


"No. But, I've helped your brother," jawab Tyo menepuk Fauzi lalu pergi untuk bersiap ke sekolah.


Setelah mendengar hal itu, Fauzi menatap adiknya itu.


"Merekanya...." ucap Fauzan ingin membela diri.


"Lo nya..." lirih Fauzi. "Lo bisa aja hindarin mereka, nggak usah diladenin."


Fauzan tidak bersuara namun sambil memasangkan seragam sekolahnya itu. Fauzi memeriksa luka yang didapat oleh Fauzan. Namun.


"Aaa-hw.!" Fauzan berdecak kesal karena Fauzi menekan lakunya itu.


"Sakit, kan? Makanya jangan berantem," sindirnya. "Obat lo..." Lalu memberikan obat yang selama ini Fauzan konsumsi untuk penyakitnya.


"Makasih."


"Awas aja penyakit lo makin parah," urainya. "Kalau gue liat dan denger lo berantem lagi, gue nggak bakalan bantuin lo lagi."


"Iyah."


Dehamnya.


"Lo sakit, Zan?"


Suara Tyo mengejutkan Fauzi dan Fauzan.


"Ini sakit dahi," tawar Fauzan menunjukkan luka yang ia dapat kemarin malam.


"Oohh... kirain."


...****************...


Hanna baru saja tiba di sekolah, baru saja memasuki kelas Oni menghampirinya dengan begitu panik. Afra dan Gina juga menatap ke arahnya begitu cemas.


"Ada apa?"


Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Oni. Hanna segera bergegas pergi untuk menemui seseorang dengan perasaan yang khawatir. Menuju kelasnya dia berada.


"Eh, Han. Lo kenapa disini? Cari gue?"


"Ji, Fauzan udah sekolah belum?" Cemasnya.


"Fauzan? Dia belum ada tuh."


"Lo nggak bohong, kan?"


"Ngapain gue bohong. Lo kenapa nyariin Fauzan? Panik kayak gitu lagi. Emang ada apaan?"


Hanna tidak menjawab langsung saja dia pergi begitu saja. Berjalan ke arah keluar menuju parkiran untuk memastikan apakah hari ini dia datang ke sekolah. Ternyata sepeda motornya ada. Tapi kemana pemiliknya? Hanna terus mencari keberadaan Fauzan.


Mencari ke setiap sudut sekolah yang selalu disinggahi oleh Fauzan. Namun pada akhirnya mereka saling bertemu. Hanna menemukannya. Tapi tidak untuk Fauzan, dia ingin menghindarinya.



"Fauzan..." Nafasnya tidak teratur. "Kamu nggak papa?" Tapi melihat luka di wajahnya, itu tidak baik-baik saja. "Kenapa bisa kayak ginih?" Ketika ingin memeriksa, Fauzan manangkisnya namun pelan. Tapi itu membuat Hanna tersentak.


"Gue baik-baik aja." Berusaha menahan rasa sakitnya. "Gue harus pergi."


Grep. Hanna mencegahnya pergi.


"Kamu ada masalah apa? Kamu bisa cerita sama aku. Atau... kalau aku punya masalah, aku minta maaf. Kamu jangan kayak ginih."


Sesak. Harusnya gue yang minta maaf, Han.


Sama-sama menatap sendu dari keduanya. Perlahan Fauzan melepaskan tangan Hanna darinya. Lalu pergi.


...🦄🥀☔...


...Bersambung...


... _______________...


...Rilis 25/04/2020...


...Revisi 29/07/2020...