
Hari Ujian Praktek berjalan dengan baik. Hari terakhir Ujian Praktek, mereka merasa senang dan lega. Meski ujian lainnya masih menunggu, hari ini mereka menghela nafas lega karena sedikit bersenang-senang melanjutkan perjuangan untuk menyudahi jenjang SMA ini dalam berbagai macam ujian.
"Hah... akhirnya..." Hela nafas Oni dalam duduknya di dalam kelas.
"Kita belum selesai, minggu depan UAS sedang menunggu." Gina sembari merapihkan tasnya.
Hanna dan Afra juga sedang merapihkan tas di meja mereka.
"Setidaknya kita bisa rehat dulu sejenak," kata Oni.
"Berusaha berkata bijak," ejek Afra sedikit tertawa mendengar ucapan Oni.
"Hahaha hahahah....."
Oni mendengus.
"Ayo pulang," ajak Hanna bergegas.
Kami berjalan menyulusuri lorong-lorong. Bercanda, tertawa, mengobrol bersama. Afra terus memperhatikan Hanna, tampak jauh lebih baik. Bahagia.
"Han, auro lo jadi beda," ucap Afra.
"Beda kenapa?" tanyanya bingung.
"Jauh lebih bahagia," lanjutnya.
Hanna tersenyum senang.
"Bahagia banget. MALAH. Soalnya lagi berbunga-bunga...." sosor Oni menyindirnya. "Bunga-bunga... Kiss kiss kiss kiss. Muach." Oni malah menyanyikan lagu Syahrini. "Di cintai oleh Si Kembar. Siapa yang nggak seneng."
Hanna menjadi malas jika membahas itu.
"Udahlah nggak usah bohong lagi, Han. Jujur aja napa sama kita, lo suka kan sama Fauzan."
Oni masih setia berbicara panjang lebar.
"Gue nggak tahu," tawar Hanna.
"Lo emang nggak tahu atau emang lo nggak mau ngakuin? Itu berbeda loh," papar Gina.
Hanna mendengar.
"Kalau nanti Fauzan nembak, lo bakalan terima?" tanya Oni lagi.
Hanna menggeleng.
"Nggak diterima?" tanya Oni.
"Nggak tahu," jawab Hanna.
Afra merangkul Hanna. "Nggak usah diladeni orang KEPO kayak mereka mah." Menyindir kepada dua sahabatnya. "Mending kita cabut aja, ayok."
Hanna tersenyum dan Afra mengajaknya pergi lebih dulu. Dan di belakang, Oni dan Gina ditinggalkan kesal.
"Jadi gimana? Dokter Rey bilang apa sama lo?"
Afra ingin memastikan kondisi Hanna.
Hanna tahu apa yang dia maksud. Usai memeriksakan diri ke dokter menjalani terapi ditemani oleh Aji. Hanna senang mendengar hasil yang dikatakan oleh Dokter Rey.
"Dokter Rey bilang, gue udah dalam tahap akhir."
"Wah... selamat, Han." Hanna terkejut. Bukan suara Afra melainkan seseorang yang memeluknya dari belakang. Oni dan Gina telah kembali. "Pantesan dari kemarin tanda-tanda kelupaan lo nggak keliatan. Apalagi akhir-akhir ini nilai lo semakin naik."
"Gue bersyukur kalau lo sembuh total," sambung Gina.
"Lo harus tetep berusaha," kata Afra.
"SEMANGAT!!!"
Hanna mengangguk dan tersenyum senang karena ada orang di sampingnya yang selalu mendukung dan menyemangati dirinya.
Kami masih berada di sekolah. Berniat untuk tidak pulang ke rumah dulu. Karena kami akan pergi ke suatu tempat untuk makan bersama teman-teman yang lainnya. Bersama Aji, Nasrul, dan Tyo. Mereka sudah berada di parkiran dan menunggu kami disana.
Sebenarnya kami mengajak si kembar Fauzan Fauzi juga. Tapi mereka bilang, mereka tidak bisa ikut karena ada kepentingan lain.
"Berangkat sekarang?" tanya Nasrul.
"AYOOOO! Last Go!!" Oni bersemangat.
"Ji lo nggak bawa motor kan?" tanya Nasrul.
"Yoi gue berangkat pakai skateboard kesayangan gue," jawab Aji mengangkat skateboard listrik miliknya.
"Lo mau ikut gue atau Tyo?" lanjutnya bertanya.
"Gue nggak mau boncengan naek motor gede," sindirnya. "Sama laki lagi. No!!"
"Ehh siapa juga yang mau boncengin lo," lirih Tyo bergegas menghampiri motornya.
TINNN ...
"Mau tetep ngobrol disana?" tanya Oni yang sudah berada di dalam mobil milik Afra.
"On jangan pergi dulu," teriak Tyo.
"Apaan?" sungut Oni terheran-heran.
Tyo segera menghampiri mobil Afra dan membuka pintu mobil tersebut. "Lo ikut gue."
Oni terkejut dengan sikapnya yang tiba-tiba seperti ini. "Tapi--"
"Udah sana pergi."
Afra mengusirnya.
Tyo pun langsung menarik Oni keluar dari sana. "Nggak usah banyak mikir." Tyo pun menutupi kembali pintu mobil tersebut.
"Duluan yah, dadah." Gina melambaikan tanganya.
Dan dilanjutkan oleh mobil Nasrul dan Aji ikut bersamanya. "Kita duluan."
"Oke!" kata Tyo.
Tyo tengah bersiap-siap. Namun disini Oni terus-menerus berbicara. "Ada apa dengan lo hah? Lo mulai nggak mau jauh-jauh dari gue yah? Aahhh~ gue yakin lo udah mulai suka sama gue, kan? Temen seperjuangan lo ini."
Tingkat kepercayaan dirinya oke juga.
Tyo hanya menatap malas dengan ocehan yang tidak jelas dari Oni.
"Kepedean banget sih .." ejek Tyo mendorong kepala Oni ke belakang. Oni menatapnya kesal kemudian. "Buruan naek nanti ketinggalan jauh."
"Hem."
...✨...
Meski belum berakhir. Kami menikmati waktu yang tersisa. Untuk bersenang-senang dengan teman. Menikmati angin sejuk, sinar matahari yang cerah menyinari kami. Kami tiba di sebuah kafe.
"Kalian cari tempat duduk, gue mau ke toilet dulu," kata Aji.
Tidak lama kemudian, kami menemukan tempat duduk yang masih kosong. Juga pelayan disini langsung menghampiri dan memberikan buku menunya. Kami selesai memesan satu per satu makanan yang kami inginkan.
Aji pun sudah kembali.
"Udah pada pesen nih?"
"Udah, baru aja pelayannya pergi," balas Hanna.
"Susul aja yang itu tu," sambung Nasrul.
Aji pun melirik ke arah yang ditunjuk oleh mereka. "Gue kesana dulu." Lalu pergi untuk memesan.
"Kita nggak bakalan lama lagi lulus, kelanjutannya gimana?" tanya Nasrul.
Kami terdiam mendengarnya. Meskipun kami menunggu wisuda, rasanya menyenangkan, tetapi ada hal-hal yang kami takuti untuk mengucapkan selamat tinggal kepada teman-teman. Dan itu adalah hal tersulit bagi Hanna sendiri. Dia benar-benar tidak ingin berpisah dengan mereka. Karena dalam hidupnya, mereka adalah teman, sahabat sekaligus keluarga.
"Gue denger lo mau masuk fakultas kedokteran ya," ucap Oni.
Nasrul angguk. "Rencananya gitu."
Oni menghela nafas. "Kepintaran lo emang harus dimanfaatkan. Enaknya punya otak pinter kayak lo."
Nasrul hanya terkekeh.
"Yang lain gimana?"
"Impian gue dari kecil pengen jadi dokter hewan. Mungkin gue bakalan ambil itu,"
jawab Gina.
"Wawww..." Oni takjub dengan impian mereka. "Kalian emang pasangan dokter."
Prok Prok Prok
Aji yang baru muncul langsung penasaran. "Heii pada bahas apa nih?"
"After graduating, Nasrul and Gina both want to enter the medical faculty," tutur Tyo.
"Mantap jiwa nih. Keren," balas Aji menatap bangga pada Nasrul dan Gina. "You guys are really smart, you can definitely enter."
Semua mengucapkan Aamiin. Amin.
"Lo sendiri gimana, Ji?" tanya Oni.
Aji terdiam dan menatap Hanna. "Gue ... belum punya rencana." Aji berseri-seri seperti yang dia katakan
Afra yang melihat sikap Aji sepertinya menyembunyikan sesuatu.
"Anak tunggal dari pemilik perusahaan bahan baku pasti nerusin perusahaan keluarganya lah," celetuk Oni dengan ucapan blak-blakannya.
"Olla..." ucap Hanna.
Oni berseri. "Maaf, Ji."
"Santai aja, lah. Sebenarnya gue punya rencana tapi masih ragu. Gue nggak mau bilang dulu sama kalian," timpal Aji belagu. Canda.
"Heleh, sok sok'an rahasia-rahasiaan sama kita," ledek Oni.
"Lo nggak bakalan nanyain suami lo tuh," lanjutnya melirik bule lokal. "Dia mau balik ke Jerman."
Pernyataannya Aji itu membuat semua orang terkejut. Mereka terdiam setelah mendengarnya. Melihat tatapan Tyo kepada Aji. Aji pun meminta maaf karena membocorkannya sekarang.
"Sorry Yo gue keceplosan," kekeh Aji.
"Gue udah tahu jadinya bakalan kayak gini. Tapi tetep aja gue percaya sama lo," sindir Tyo.
"Hehehe sorry."
"Lo mau balik ke Jerman?" tanya Gina.
"Serius, Yo?" tanya Nasrul.
"BULYO!!!" teriak Oni.
Teriakan Oni membuat kami terkejut kembali. Di sinilah kami merasa bahwa Oni-lah yang paling terkejut mendengarnya. Karena Oni paling dekat dengan Tyo. Namun, Tyo sama sekali tidak memberitahunya tentang hal ini.
Ternyata makan bersama kami berakhir dengan perbincangan serius. Mereka takut akan kepergian teman-temannya satu per satu. Ternyata seperti ini rasanya belum juga ditinggalkan tapi sudah terasa kehilangan. Setelah makan kita pulang kerumah dan tidak sesuai dengan awal pemberangkatan. Yang pasti, Tyo dan Oni kembali bersama. Mereka pergi. Sepertinya mereka akan membahas tentang Tyo pergi ke Jerman. Dan Hanna sendiri ia ada urusan dengan Aji sehingga mereka tetap berdiri disini, melihat satu persatu teman mereka pulang
"Kenapa, Han?" tanya Aji. "Lo serius banget."
"Hari ini gue nginep di rumah lo yah," terang Hanna sembari melangkah dan berjalan.
Aji tersenyum dan merangkulnya. "Bunda sama papah pasti seneng lo dateng."
Hanna senyum.
...****************...
Oni sudah berada di depan rumahnya, Tyo mengantarkan Oni pulang. Selama diperjalanan mereka hanya terdiam.
"Tyo, aku."
Tyo mengusap rambut Oni. Berkata dengan hati-hati. "Maaf Oni. Setelah lulus aku bakalan balik ke Jerman."
Oni terlihat sedih dengan ucapan yang keluar dari mulut Tyo sendiri. Bukan dari orang lain.
"Bukannya kamu nggak suka disana."
Tyo membenarkan.
"I want to stay in Indonesia. But. My papa was very ill and I had to go there. Grandma ikut bersama ku juga," terang Tyo.
Ketika Tyo berbicara memakai bahasa Inggris ataupun bahasa aslinya, Eropa. Sebagai orang Eropa terlihat jelas.
"A-aku nggak tahu harus gimana. Aku juga nggak berhak ngelarang kamu pulang ke Jerman, ketemu sama keluarga."
Sedih.
Kenapa kamu juga harus pergi Tyo? Setelah ayahku pergi ninggalin aku sama ibu demi istri keduanya. Batin hati Oni.
"Kalau gitu aku pulang dulu, kamu harus masuk."
Saat Tyo akan pergi dan berbalik arah. Tiba-tiba Tyo kaget. Oni memeluknya dari belakang.
"Tyo ... Hiks hiks ..."
Oni tidak bisa menahan air matanya. Tyo adalah salah satu temannya yang sangat penting dalam hidupnya. Selama ini Tyo selalu menghibur dirinya dan selalu ada disaat ia mengalami kesulitan, keterpurukan, ataupun kesedihan yang membahagiakan.
Tyo membiarkan Oni dulu lebih tenang.
Membiarkan Oni memeluknya. Karena mungkin inilah kenyataan yang sulit dilepaskan dari seseorang yang dekat dengannya. Begitu juga dengan dia.
...****************...
Di kediaman rumah keluarga Aji. Dimana rumah itu dipandang pun sudah memberikan kehangatan dan ketentraman yang ada di dalamnya. Hanna sangat senang bisa berada di tengah-tengah keluarga Aji.
"Bundaaa... liat siapa yang dateng ...
Bunda ada.
"Ahh... udah bunda duga. Pasti anak bunda satu-satunya yang paling cantik," puji Bunda Naila memeluk Hanna.
Hangatnya.
"Bunda... Hanna kangen," ucap Hanna berseri dan terus memeluknya.
"Bunda juga kangen."
"Ikutan dong dipeluk," sahut Aji yang akan ikut memeluk.
Namun, Hanna berusaha mendorong Aji agar tidak ikut-ikutan. "Aji sana... nggak boleh. Hus! Hus..."
Suara berat terdengar oleh mereka. "Wahh .. siapa yang dateng ini? Sampai rame banget." Sembari tersenyum dan terlintas bahagia dalam raut wajahnya.
"Hallo pah, apa kabar? Hanna kangen," ungkap Hanna memberi salam dan memeluknya juga.
"Baik, Hanna sendiri gimana? Sehat?" tanya Papah R. Sastra.
"Sehat pah liat nih sampai pipi Hanna kayak bapau," kekeh Hanna memegang pipinya.
Suara mereka, wajah mereka sangat humoris dan gembira dengan kedatangan Hanna. Mereka tertawa.
"Hanna mau nginep boleh bun? Pah?"
R. Sastra dan Naila saling menatap dan terlintas tertawa kecil.
"Kenapa harus tanya dulu? Kamu bebas mau nginep disini, ini kan rumah kamu juga," tutur Naila.
"Kita ini keluarga kamu, bunda sama papah kamu," sambung oleh R. Sastra.
"Aji?" tanya Aji anaknya sendiri yang tidak terlihat.
Ini seratus persen adegan mereka bertiga yang saling merindukan.
"Hahahaa Hahahah....."
Mereka tertawa mendengar hal itu.
Kami disuruh mandi dan istirahat sambil menunggu makan malam untuk makan bersama. Di sini Hanna menyimpan beberapa pakaian di kamar yang dia tempati karena jika terjadi sesuatu yang tidak terduga seperti ini. Ini tidak akan merepotkan. Hanna pun selesai mandi dan memandang kamar yang dulu ia tempati terasa sangat dirindukan maupun kembali mengingat kesedihan.
"Hannaaa ... Hannnaa."
Panggilan di balik pintu kamar. Membuat Hanna tersadar dari lamunannya.
"Apa?"
"Gue masuk yah."
"Masuk aja nggak dikunci."
Hanna yang sedang duduk di atas kasur.
Pintu itu terbuka. Aji yang sudah berganti pakaian dengan rambut yang masih basah menghampiri Hanna. Aji pun ikut duduk di samping Hanna. Kemudian membaringkan tubuhnya di kasur memandang langit-langit kamar.
"Dulu, lo selalu nyuruh gue buat tetep nemenin lo disini," kekeh Aji. "Dan takut buat tidur sendiri."
Aji tersenyum mengingat hal itu.
"Tapi sekarang, lo udah berani bisa tidur sendiri apalagi di rumah lo itu," lanjutnya.
Hanna ikut berbaring disana melihat langit-langit kamarnya. "Gue juga nggak tahu sejak kapan bisa berani tidur sendiri
di rumah itu." Lalu menengok ke arah samping kepada Aji.
Mereka berdua tersenyum. Aji mengelus-elus rambutnya. Lalu kembali menatap langit-langit kamar.
"Han, gue kepikiran soal tadi."
"Soal apa?"
Aji pun beranjak bangun diikuti oleh Hanna.
"Soal setelah kita lulus."
Hanna berdiam.
"Apa lo udah kepikiran setelah lulus nanti? Apa udah ada rencana mau kemana?" tanya Aji. "Soalnya lo nggak pernah cerita, gue jadi khawatir juga."
Hanna tersenyum. Dia belum memikirkan kelanjutannya setelah lulus. Padahal itu hanya hitungan hari kami akan segera lulus.
"Kalau lo sendiri gimana?"
"Gue?"
Hanna mengangguk.
"Sebenernya gue disaranin kuliah di luar negeri," ungkapnya yang membuat Hanna tertegun. "Dan kalau lo juga mau ikut, gue beneran seneng. Tapi... kalau lo mau tetep disini, gue bakalan disini. Gue bakalan tetep disamping lo, Han."
Hanna menunduk. Berpikir sejenak. Merasakan kesedihan yang tak terduga. Yang akan ditinggalkan kembali. Hanna mencoba tersenyum. Menahan air mata yang ingin menangis.
"Ji, lo tadi bilang gue udah berani kan? Kalau lo juga nerima saran buat belajar di luar negeri, gue nggak papa. Lo bisa kesana, keinginan lo ada disana kan?"
Meski sudah terbukti tidak menangis. Tapi tidak bisa. Air mata menetes.
"Han .. kalau lo mau, lo bisa ikut gue juga."
Hanna mengusap air matanya. "Aji .. gue sangat berterima kasih. Lo selalu jagain gue, dari dulu berusaha buat gue kembali bangkit. Tapi, ada saatnya lo juga harus mikirin diri lo sendiri. Jangan buat gue jadi penghalang buat ngejar cita-cita lo." Hanna berusaha tegar. "Gue disini bakalan baik-baik dan jangan khawatirin gue."
Aji tidak bisa berkata-kata. Dia memeluk Hanna. Hanna memeluknya erat-erat, mungkin ini terakhir kali dia merasakan kehadiran Aji selama bertahun-tahun berada di sisi Hanna.
Hanna terisak tangis begitupun dengan Aji.
Aji begitu sayang dengan Hanna. Hanna adalah orang yang spesial dalam hidupnya. Sebagai teman, saudara perempuannya maupun sebagai adiknya sendiri.
Telah lama mereka berdua hidup bersama. Namun waktu itu tiba kami akan berpisah.
Padahal Hanna sendiri tidak tahu kemana harus pergi setelah ini. Tapi, Hanna pasti akan berusaha untuk pulih dan bangun. Berusaha mewujudkan impiannya bersama kak Annisa. Yaitu berusaha hidup sesuai keinginan kita tanpa diatur oleh orang lain seperti boneka.
... 🥀...
...Rilis 11/05/2020...
...Revisi 30/07/2020...