Diary Of A School: Me And Yu

Diary Of A School: Me And Yu
BAB 63 Graduation



Dalam keadaan apapun. Berbagai macam perasaan yang muncul oleh manusia. Kami tidak tahu apa akhirnya. Namun, kami hanya mengharapkan yang terbaik untuk itu. Masalah terus menghampiri kita. Kesedihan membasahi segalanya untuk apa yang menyakitkan. Kebahagiaan tidak lupa datang untuk menyembuhkan hati kita. Namun, apa yang kita tahu dalam hidup semua perasaan itu berjalan seperti roda.


Dengan orang-orang yang kami sayangi, yang selalu mendukung kami apa pun. Kita harus bersyukur dan berterima kasih. Kebaikan yang mereka berikan kepada kita harus diingat dan dikenang.


Sudah satu minggu setelah kejadian itu Hanna dipertemukan kembali dengan ayah kandungnya. Hanna telah menerima kembali orang-orang yang pernah menyakitinya di masa lalu. Meski puzzle dalam kesedihannya belum sempurna tertutup, karena seseorang masih belum ia ketahui dimana dan bagaimana keadaan sekarang.


Dimana hari ini adalah hari wisuda SMA Bakti Nusa. Satu per satu, mereka naik ke atas panggung untuk menerima setumpuk nilai kertas sekolah. Rapor dan tanda kelulusan SMA.


Yang tidak disangka nilai Ujian Nasional Hanna sendiri masuk dalam 10 besar se-Indonesia.


Membuat teman-temannya sangat kagum dengan perkembangan Hanna. Hanna sendiri sebenarnya adalah anak yang pintar. Jika kalian tahu bahwa IQ-nya lebih tinggi dari Gina dan Nasrul, siswa terpintar di SMA Bakti Nusa.


Nasrul dan Gina masuk dalam 10 besar nilai Ujian Nasional se-Jawa Barat dan mereka juga menjadi siswa dan siswi terbaik angkatan kami.


Mereka bertiga menaiki panggung untuk mendapatkan penghargaan.


"Selamat untuk kalian semua." Ucapan selamat dari Kepala Sekolah SMA Bakti Nusa.


"Terima kasih, Pak."


"Selamat Gina."


"Terimakasih Pak Raja."


"Dan buat kamu Hanna, selamat atas hadiah kelulusan kamu yang mengejutkan semua orang," kekehnya. "Bapak nggak nyangka. Kamu ini murid yang akan dikenang semua orang termasuk untuk bapak sendiri."


Murid yang selalu membuat onar tapi dengan keonarannya selalu memberikan yang terbaik.


"Makasih, Pak. Hanna juga nggak bakalan lupa sama bapak. Karena, bapak yang sering hukum Hanna."


Mereka tersenyum dan mulai tertawa kecil.


"Bapak bakalan kehilangan kamu sama Aji si biang kerok Baknus," sindirnya.


Tawa kami mengundang perhatian di bawah sana.


"Hahahhaha... Tapi, bapak jangan lupa sama Ello anak dari kelas F1."


"Ahh... itu sih lebih biang keroknya."


Pak Raja pun melirik putranya sendiri, Nasrul. Dia memeluknya dengan perasaan bangga pada putranya.


"Bapak bangga."


Nasrul tersenyum.


Nasrul dan Gina turun lebih dulu sedangkan Hanna. Ia menjadi salah satu perwakilan yang menyampaikan pidato perpisahan sekolah.


Kalimat demi kalimat telah disampaikan. Ucapan yang terdengar tulus bisa membuat semua orang sedih dan hidup.


"Setelah ujian yang telah kita lalui, ujian sekolah yang menegangkan telah berakhir. Kami lulus!! Kami bukan lagi anak Sekolah Menengah Atas lagi!! Kami akan meninggalkan sekolah tercinta ini Bakti Nusa."


".... Semua kenangan yang ada disini kami akan selalu terus mengenangnya sampai kapanpun. Terpisah ... Perpisahan ... Setiap ada pertemuan pasti adanya perpisahan karena tak abadi disetiap sisi. Kebahagiaan kita selama tiga tahun ini sanggup untuk bertahan."


".... Tidak akan tergoyahkan seakan-akan kita menyangkalnya. Bahwa kita akan menentukan jalan kita sendiri, kuliah, bekerja, ngekos ataupun ada yang sudah dipertemukan dengan jodohnya, menikah."


".... Terima kasih atas jerih payah guru-guru kami yang telah mendidik dan memberi ilmu pada kami. Terima kasih untuk teman-teman tersayang. Teman dekat, teman kelas, adik kelas, teman ekstrakulikuler, teman nongkrong, teman bolos. Pacar." Hanna sedikit terkekeh. "Terima kasih atas doa dan perjuangan orangtua semua murid yang kami cintai dan sayang. Terima kasih ... Selamat dipisahkan!! Dan selamat berjuang!!"


PROK PROK PROK PROK


...•...


...•...


Seri demi seri masih terlihat formal. Usai resepsi kami semua berfoto bersama termasuk teman-teman, guru serta orang tua yang pernah menghadiri acara ini. Kecuali teman kita, satu. Aji. Kami berharap dia bisa bergabung dan merayakan kelulusan ini bersama-sama. Tapi nyatanya tidak, dia sudah berada di negeri asing. Belanda.


Orang tua juga mengobrol seperti kami anak muda.


"Bu Naila?" panggilnya terkejut.


Bu Naila 'Bunda dari Aji' pun mendengarnya, ia mendapati seseorang yang ia kenali. Mereka saling bersalaman menyambut satu sama lain.


"Bisa ketemu juga disini," kata Naila.


Afra terheran-heran melihat interaksi antara ibunya dengan ibu dari Aji. Mereka saling kenal?


Kemudian ibunya memanggil Afra untuk kemari. Afra sedikit bingung dan ia tersenyum.


"Nah ini anak saya bu yang kemarin saya ceritain," ungkapnya.


"Hallo tante," salam Afra.


Naila terkejut ternyata anak dari Bu Siti adalah orang yang ia kenali yaitu Afra sebagai perempuan yang disukai oleh anaknya sendiri.


"Wahh kalau ini sih saya kenal, Bu. Afra, putri cantik kesayangan anak saya."


"Ohh ibu sudah kenal sama anak saya?" Siti ikut terkejut.


Naila tersenyum angguk. "Anak ibu temen anak saya, Aji. Afra juga pernah ke rumah saya bareng temen-temen anak saya yang lain."


"Aji?" Nama itu m terdengar familir diingatan bu Siti. "Ahh Aji yang pernah dateng ke rumah waktu itu? Naek motor?" tanyanya pada anaknya, Afra.


Afra mengangguk.


"Jadi Aji anak Bu Naila..."


"Wahh ternyata dunia ini sempit yah. Kita udah tahu dan ketemu sama anak kita masing-masing."


"Benar."


Bu Naila melirik pada Afra. "Udah lama nggak ketemu, makin cantik aja. Kaya ibunya."


Bu Siti tersenyum mendengarnya.


"Makasih tante," balas Afra malu.


"Ehh kenapa masih nyebutnya tante?"


Afra masih ragu dan malu untuk mengatakannya. "Iiyah bunda."


Bu Naila senang mendengar hal itu.


"Siapa bun?" tanyanya yang baru saja tiba.


"Ini Bu Siti rekan kerja ibu di butik dan ini yang lebih mengejutkan, Pah. Afra anak dari Bu Siti."


Afra tersenyum. "Hallo om."


"Ohh jadi ini yang namanya Afra."


Afra tersenyum, sepertinya Aji telah banyak cerita tentang dirinya kepada orangtuanya ini. Benar-benar terlalu terbuka.


Dan disana pun, pandangan Afra seperti seseorang yang sedang mencari sesuatu atau mungkin sedang menunggu seseorang.


Mana mungkin dia dateng, dia udah di negeri orang. Dalam hati Afra.


"Anak Bu Naila nggak keliatan, yang mana yah?" tanya Siti.


"Ahh anak saya enggak dateng. Anak saya udah di Belanda, lanjut sekolah di sana," terang Naila.


"Ohh gitu, selamat....." Bu Siti mengucapkan selamat untuk anak mereka. Lalu memandang anaknya, Afra.


Hanna melihat si kembar Fauzi dan Fauzan bersama seorang lelaki tua yang mungkin adalah ayah mereka. Namun, pria itu segera muncul dan segera pergi. Setelah pergi, Fauzi dan Fauzan melihat ke arah kami. Mereka datang.


"Hanna. Selamat atas kelulusannya," ucap Fauzi memberikan buket bunga kepadanya.


Hanna sangat senang. "Makasih." Lalu dirinya melirik pada Fauzan.


"Selamat Han," sambung Fauzan tersenyum.


"Makasih." Hanna ikut tersenyum.


Aku berharap apa sih dikasih sama Fauzan. Tangannya kosong nggak bawa apa-apa. Batin Hanna sedikit kecewa.


"Yang tadi ayah kita," lanjut Fauzi.


Hanna mengangguk-angguk akhirnya pertanyaan terjawab. "Kenapa langsung pergi?"


"Harus ke rumah sakit, jagain mamah."


Hanna ber'oh dan mengangguk mengerti kenapa langsung kembali lagi ke rumah sakit. Karena ibu mereka akan lahiran.


Tiba-tiba Oni merangkul Hanna. "Hayohhh... lagi ngapain? Mending kita foto-foto, ayok!" Oni beranjak menuju arah Fauzan dan Fauzi, ia menariknya. "Kalian juga harus ikut." Namun yang berhasil Oni menarik Fauzi. Fauzan bisa terlepas darinya.


Segera ia mendekat pada Hanna, mengambil setangkai bunga dari buket pemberian Fauzi itu. "Buat lo." Diberikan lagi pada Hanna, Hanna mengambilnya dengan mengejek.


"Nggak modal."


Fauzan tersenyum senang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Happy Graduation "Diary Of A School: Me and Yu" ...


...💐💐...



...07/06/2019...