
"Ciee yang tadi berangkat bareng." Goda Oni.
"Ehemmm ehemm." Suara Afra disamar-samarkan untuk menggoda temannya itu.
Dan Hanna ikut tertawa melihatnya. Gina merasa risih semua orang membicarakan dirinya karena pergi ke sekolah bersama Nasrul. Ia merasa seharusnya ia tolak ajakannya. Tapi apa boleh buat uang jajan untuk saat ini utuh tidak terpakai untuk ongkos angkutan umum.
"Udah deh kalian jangan gitu." Rengek Gina dengan muka memelasya.
"Hawwhahha." Tertawa mereka malah semakin jadi.
Membuat Gina menambah kesal dibuat mereka. Yang akhirnya dia beranjak pergi disana.
"Yahh marah dia," sahut Oni.
Afra sedang duduk di atas meja, dia langsung turun. "Hayoh Oni susul sana."
Oni mengerutkan dahinya. "Ih kenapa gue doang? Kalian juga kan ikutan."
Hanna beranjak dari tempat duduknya dan langsung mengajakan Afra dan Oni langsung menyusuli Gina.
"Ayo."
Mereka menyusuli Gina dan mencari. Mereka langsung tertuju pada suatu tempat yaitu perpustakaan. Gina memang selalu kesana menurutnya tempat itu adalah tempat yang menyenangkan untuk suasana hati. Karena suasana disana sangatlah hening.
Kami sampai disana sudah terlihat di depan mata. Gina sedang duduk sambil membaca buku. Kami pun menghampirinya. Namun Gina mengacuhkan kami bertiga. Oni langsung memulai pembicaraan, supaya Gina tidak marah lagi terhadap kami. Terus menerus kami membujuknya sampai-sampai terciduk oleh penjaga perpustakaan.
"Shuttttt yang disana!!"
Kami langsung terdiam. Tak lama kami membuka mulut lagi dan membujuk Gina. Sampai Hana tak ada cara lagi ia menggelitik tubuh Gina. Dan Gina pun tertawa karena geli oleh ulah Hanna. Yang akhirnya tertawa kami membuat seiisi ruangan ini tertuju pada kami karena bising. Dan penjaga perpustakaan pun mendatangi dan mengusir kami. Saat itu kami langsung berlari namun meminta maaf terlebih dahulu.
"Hahahah duhh perut gue." Oni tertawa sampai perutnya kesakitan.
Kami berhenti di lapangan. Tak terasa kami berlari sampai sini. Kami tertawa bersama karena ulah kami sendiri saat disana. Mentertawakan satu sama lain membuat kami kembali bersama dalam kehangatan dan kebahagaian yang terukir oleh kami.
"Hann lo nekat juga," kilah Afra sambil menarik nafas karena kelelahan.
Hanna tersenyum dan melirik ke arah Gina. "Masih marah?" tanyanya.
Gina pun berhenti tertawa dan terukir senyuman di bibirnya. "Udah kayak gini apa gue berhak marah?" tanya kembali.
Kami pun saling memberi senyuman dan berpelukan disana. Tanpa sadar orang-orang memperhatikan kami. Tiba-tiba seseorang melewati kami.
"Fauzan kan?" ucap Oni di sela-sela berpelukan.
Kami pun menolehnya.
Seseorang itu berhenti. "Kenapa?"
"Bener Fauzan," tutur Oni.
Oni pun memberi isyarat kepada Hanna untuk mengucapkan terimakasih. Dan memberi isyarat juga terhadap Gina dan Afra agar mereka ditinggalkan berdua.
"Hanna lo nggak lupa kan?" tanya Oni sambil tersenyum. "Gina, Afra ayo." Mengajak pergi dari sini.
"Dahh Hanna."
Mereka melambaikan tangannya.
Afra menengadah ke langit, menyadari akan datangnya hujan.
"Eh kalian kok ninggalin gue?" kilah Hanna tak sadar seseorang di depannya memperhatikan dirinya. Dan Hanna pun tersenyum.
Beberapa detik hening diam. TIK TOK TIK TOK ...
Gue mau ngomong apa? Kok jadi deg degan ginih. Serem.
"Emmm." Hanna bingung untuk memulai pembicaraan. Padahal hanya mengucapkan terimakasih namun terasa sulit baginya entah kenapa.
"Gue minta maaf soal kejadian lo kena bola gara-gara gue," ujar Fauzan yang tiba-tiba dia memulai pembicaraan.
"Em? Ohiyah nggak papa hehe." Hanna merasa malu tidak tahu kenapa. "Gue juga mau bilang makasih kata temen gue lo yang jagain gue waktu pingsan kan?"
Fauzan hanya menganggukan kepalanya. Pembicaraan ini berada di tengah lapangan. Dan hanya ada Hanna dan. Fauzan disini terasa canggung dibuatnya. Tidak seperti bersama Fauzi, mereka berdua jauh berbeda.
GLUDUKKK
"Hhhaa." Hanna langsung terkejut mendengar petir dan tanpa sadar ia memegang lengan Fauzan.
Dan Hanna pun melepaskan pegangan tersebut. Dan tak lama hujan pun turun sangat deras. Kami berdua berlari dan berteduh di bawah pohon dekat lapangan. Sangatlah jauh dengan koridor sekolah. Yang pasti jika kami menerobos pakaian kami akan sangat basah karena hujan yang sangat lebat.
Gue takut. Batin Hanna.
Fauzan melihat tubuh Hanna yang gemetaran dan wajahnya pucat. Seperti seseorang yang ketakutan. "Lo nggak kenapa-napa?"
Hanna angguk. "A-apa kita terobos aja?"
"Jangan," timpal Fauzan.
Duhh kenapa hujan sih? Jangan sampai gue kambuh disini. Dalam hati Hanna sambil menggigil kedinginan.
Fauzan yang melihat Hanna merasa kedinginan. Ia menyadarinya, walaupun dirinya sedang memakai jaket ia tidak akan melepaskan jaketnya dan memberikan jaket tersebut kepada Hanna.
"Gue nggak biaa kasih jaket ini," ucapnya.
"Gue kasih ini aja, bersih," kata Fauzan memberikan sapu tangan.
Terlintas senyuman dari Hanna. Aneh.
Dan rasa takut itu hilang seketika.
......................
Suasana di kelas di jam pelajaran sedang berlangsung. Teman-temannya membicarakan Hanna.
"Hanna belum balik juga?" Gina merasa khawatir.
"Hujan gede lagi," lanjut Afra.
"Tenang dia pasti sama Fauzan," kilah Oni sedikit berbisik karena pelajaran sedang berlangsung.
"Tapi dia jadi bolos masuk kelas," kata Gina.
"Alah sesekali nggak papa," acuh Oni sambil mencatat materi. "Lagian juga si bapaknya tiduran. Nggak pernah ngabsen juga. Hanna bakalan aman."
......................
"Hujannya udah agak reda," kata Hanna. "Gue pergi duluan ya." Hanna melongo ketika menengok ke sampingnya Fauzan sudah tidak ada, Hanna melihatnya dia sudah pergi berjalan di depannya itu. "Ihs nggak sopan banget maen nyelonyong aja."
Hanna pun bergegas menuju kelasnya. Memang tampak sepi lorong ini, semua kelas sedang berlangsung pelajaran. Hanna mengintip ke dalam lewat jendela sambil berbisik-bisik. "Shhut... Shuttt...." Mamanggil temannya. Hanna mengetuk kaca pelan. Dan yang duduk di dekat jendela tersebut menengok.
"Lo kemana aja?"
"Us, bantuin gue. Jangan sampai bapaknya bangun ya. Gue mau masuk."
"Oke oke!"
Oni di dalam sana melihat Hanna yang mengintip di luar kelas. "Eh Hanna... Masuk."
Sontak membuat semua orang terkejut mengarah pada pandangan Oni yang melihat ke arah luar kelas. Hanna tersentak bisa-bisanya Oni bersuara keras sampai bapak guru tersebut terbangun dari tidurnya.
"Olla kamu tuh teriak-teriak, ada apaan?"
"Eh maaf, Pak. Heheh itu Hanna ada di luar, suruh masuk," kekeh Oni.
Balas dendam yang tercapai.
Dug.
"Apaan sih?" sungut Oni seolah-olah tidak berdosa menengok ke belakang karena kursinya ditendang oleh Afra yang duduk dibelakangnya.
Hanna dengan pasrah masuk ke kelas karena sudah ketahuan. Tapi.
"Kamu baru masuk?"
"Nggak, Pak. Tadi habis dari toilet. Soalnya bapak tidur jadi saya nggak minta ijin dulu."
Bohongnya.
"Ohh... Terus itu kenapa? Seragam kamu kenapa basah?" tanyanya lagi.
Si Bapak kepo banget sih.
"Di luar hujan, Pak. Bapak nggak denger rintik-rintik hujan itu?" Melihat ke arah jendela ke arah yang berlawanan. Memperlihatkan embun disana.
"Tik.. tik.. tik... bunyi... hujan di atas genting. Airnya turun tidak--"
"Kenapa kamu malah nyanyi?"
Hanna terkekeh. "Hehehe terlalu mendalami dengan suasana hujan, Pak."
"Yaudah duduk lagi. Catet materinya."
"Siap, Pak." Hanna pun tersenyum melangkahkan kaki ke tempat duduknya.
Dan Hanna mendapatkan tawa dari semua orang di kelas ini.
Hanna telah duduk.
"Nyanyi tuh nggak yang elit dikit apa," sindir Oni.
Gagal balas dendam.
Hanna menjulurkan lidahnya untuk meledek. Hanna tahu persis Oni mengerjainya untuk balas dendam. "You." Sambil menunjuk. "Can't go against me."
Oni mendengus kesal. "Hem." Dan memalingkan kembali pada catatannya.
Hanna menyeringai dan disana Afra mentertawakan Oni.
...🦄🥀☔...
...Rilis 17/01/20...
...Revisi 14/07/20...