
Istirahat tengah berlangsung Gina, Oni, Afra dan Hanna keluar dari kelas untuk segera menuju kantin.
"Kalian duluan aja gue mau ke toilet dulu," kata Hanna.
"Gue anter," kilat Oni.
"Nggak usah kalian langsung ke kantin aja nanti keburu penuh."
"Nggak papa?"
"Iyah," jawabannya dengan cepat dan tergesa-gesa langsung berlari. Tak tahan.
Hanna dengan cepat berlari menuju toilet tapi pada saat itu, sekelompok geng wanita ThreeZ berjalan di hadapannya. Langkah Hanna berhenti, tidak takut tetapi dia tidak ingin mendapat masalah dengan mereka. Terutama Tiara, yang dengan berani memperingati Hanna secara langsung di sekolah.
"Hanna?" Suara Tiara di sana. "Hanna gue." Ucapannya terhenti karena disana Hanna kabur berlari untuk menghindari. Tiara pun meminta kepada teman-temannya untuk mengejar Hanna. "Kejar-kejar...."
Langkah kaki Hanna terus berjalan dengan cepat tanpa henti. Mereka mengejarnya di belakang. "Kenapa ngejar sih? Gue kan kebelet."
"Hanna... Jangan kabur!" teriaknya.
Orang-orang tentu menyaksikan kami yang saling mengejar dan menghindar. Berlari dengan cepatnya sampai Hanna keluar dari gedung sekolah, berlari tanpa arah sampai dimana dia berhenti mencari persembunyian. Dia mendapat tempat yang cocok. Dibelakang semak-semak.
"Kemana ngilangnya?"
"Kak Tiara kenapa ngejar-ngejar Kak Hanna sih? Emang ada masalah apa?" tanyanya yang merupakan adik kelas.
"Lo diem ajah. Nggak usah bawel," sungut Tiara sambil melihat ke sana kemari.
Tepat dibelakang geng ThreeZ itu. Hanna semakin gugup dibuatnya. Gugup karena sudah tidak tahan untuk ke toilet. "Kenapa juga gue harus sembunyi dari mereka?" Pikirannya.
Tidak jauh dari sekumpulan remaja perempuan. Ada seseorang yang sedari tadi memperhatikan mereka. Dia berjalan mendekat.
"Eh ada Fa..." Tiara memperhatikannya lebih dulu. "Ah Fauzan. Ngapain kesini?" Senyum kecentilan Tiara bersama gengnya.
"Mau ketemu aku yah, Kak?"
"Lo apaan sih," sungut Tiara. "Fauzan itu mau ketemu sama gue."
"Bukannya lo maunya sama Fauzi yah?" Polos Karin. Tiara memperingati dengan tatapannya. Dan Karin hanya terkekeh.
"Minggir." Dinginnya. "Gue mau duduk disitu."
"Oh. Iyah yah. Silahkan Fauzan..." Semuanya ikut bergeser ke arah kanan dan ke arah kiri sebagian.
Fauzan pun duduk dengan santainya di kursi. Tapi para siswi itu masih betah memandangi pemuda tampan dan keren itu. "Ngapain masih disini?"
Karena takut. Mereka segera pergi berhamburan meninggalkan Fauzan sendirian.
Masih diam.
Diam.
"Galak amat." Hanna membulatkan matanya terkejut. Dia keceplosan.
Fauzan menengok ke belakang menemukan angsa yang tengah bersembunyi dari para pengganguran. Hanna berseri setelah lalu keluar dari semak-semak. Fauzan terus menatapnya membuat Hanna begitu gugup.
"Gu-gu-gue... pergi." Dia lupa. "Ah, makasih." Setelah mengatakan itu Hanna pergi dengan berlari karena sudah tidak tahan untuk pipis juga dia malu.
Fauzan menyeringai melihatnya.
......................
Hanna keluar dari toilet dengan perasaan lega.
"Han..."
Hanna melihat teman-temannya datang menghampiri. "Han lo nggak papa?" Panik Oni. "Mereka bilang lo habis dikerja sama geng ThreeZ."
"Itu seriusan Han?" lanjut Gina.
"Lo ada masalah apa sama mereka sampai mereka ngincer lo?" tanya Afra.
"Gue baru inget, Toro bilang lo pernah didatengin sama Tiara," sambung Gina antusias.
"Si Toro adik kelas?" tanya Oni.
"Siapa lagi kalau bukan dia," timpal Gina.
"Gue kira ciki Taro," kekeh Oni.
Gina dan Afra menatapnya malas. Hanna tertawa kecil melihatnya. "Nggak ada apa-apa, kok. Tapi iyah emang Tiara datengin gue, gara-gara cemburu."
"Cemburu?" Heran ketiganya.
Hanna angguk.
"Cemburu kenapa?"
"Emang lo lagi deket sama siapa?"
"Dia kira gue pacaran sama Fauzi," ungkap Hanna.
"Dihh... tuh anak kalau kesaingan ya jangan ngelabrak juga kales," sungut Oni untuk Tiara. "Fra, ini nggak bisa dibiarin. Kita harus labrak balik."
Tapi tidak dengan Gina dan Hanna. Mereka langsung mencegahnya.
"Eeeh.... jangan-jangan," kata Gina. "Kalian mau kena masalah? Hem?" Sebagai Ketua MPK, Gina harus melerai kebiasaan labrak melabrak.
"Tapi dia harus dapet pelajaran," sosor Oni. "Tiara harus merasakan tendangan jurus karate Afra."
"Bener tuh," sambut Afra dengan ekspresi datarnya.
"Gue tadi lari ngehindar mereka tuh biar gue nggak dapet masalah. Lah kalian malah mau cari masalah," papar Hanna. Afra dan Oni terdiam. "Udah... lupain aja. Gue udah laper." Hanna sambil mengelus perutnya yang belum terisi makanan.
Akhirnya mereka pun berdamai untuk hari ini. Menahan kekesalannya kepada Tiara. Sambil berjalan ke kantin, mereka berbincang.
"Si Karin ikut-ikutan nggak?" Sungut Oni. Karena jika teman sekelasnya itu ikut-ikutan Oni tidak bisa membiarkannya.
"Enggak, kok. Malah dia yang minta maaf," kekeh Hanna.
"Bagus deh kalau gitu," jawab Oni.
"Kalau mereka gitu lagi, bilang ya Hanna," kata Gina.
Hanna tersenyum angguk.
"Tuh dengerin," sambung Oni. "Biar nanti sama Si Afra diseleding biar mampus. Atau enggak gue bakal minta bantuan sama adik kelas tingkat 2 yang namanya Rave Rave itu, dia kan bos nya anak-anak nakal."
Bukannya cemas ataupun gugup karena masalah ini. Tapi Hanna malah menikmatinya karena menyenangkan. Baru kali dia menjadi sasaran geng ThreeZ.
...****************...
Bel pulang sekolah telah tiba. Hanna sudah berdiri di halte menunggu angkutan umum sambil menggoyangkan kakinya itu.
Di sebrang sana ada dua anak kembar yang berjalan terhenti karena melihat Hanna. "Zan lo duluan aja. Gue mau nyamperin Hanna dulu."
Fauzan hanya angguk biasa. Tapi tidak dengan Fauzi yang begitu bersemangat untuk menghampiri Hanna di halte sebrang sana. Fauzan masih memperhatikan saudara kembarnya itu telah menemui Hanna, mereka saling tersenyum.
Fauzan pergi.
"Lo mau pulang?"
"Iyah," jawab Hanna.
"Bareng."
Fauzi tersenyum lebar.
Hanna angguk. Tapi. "Nggak bawa mobil?"
"Heem, mobil gue lagi di bengkel."
Hanna hanya menjawab dengan anggukan. Angkutan umum sudah datang. Henda akan masuk, Hanna tergeser oleh orang-orang yang keluar masuk. Pada akhirnya Hanna tidak mendapatkan kursi penumpang. Dan harus menunggu lagi.
"Sambil jalan?" Saran Fauzi. "Kalau nanti lewat tinggal langsung naik."
"Mmm... Yaudah ayok."
Perjalanan dengan berjalan kaki untuk sampai ke rumah. Mereka sedikit berbicang-bincang.
"Fauzi..."
"Hem?"
"Umm... itu lo sama Tiara pacaran?" Hanna ingin memastikan kalau memang benar, dia harus menjauh. Bukan. Untuk menjaga sedikit jarak. Apalagi memang Hanna dan Fauzi tulus untuk berteman, tidak ada apa-apa untuk apa saling menjauh.
"Kata siapa?" kejut Fauzi. "Gue nggak pacaran sama Tiara ataupun cewek lain."
Hanna ber'oh setelah mendapat penjelasan. "Kirain."
"Lo dapet informasi darimana?" tanyanya lagi. "Tiara yah yang nyebar-nyebar hoax?"
Hanna terkekeh. "Kayaknya dia benar-benar suka sama lo."
"Tiara bukan tipe gue," cicitnya.
"Cieee...." Hanna malah menggodanya. "Ternyata ada juga orang yang suka sama lo."
"Heh, lo kemana aja? Gue kan udah bilang, gue ini populer." Sombongnya.
"Ih pedean banget. Lo itu makhluk astral mana, muka aja abstrak banget," ejeknya.
Fauzi nanap. Hanna tertawa terbahak-bahak.
...****************...
Sebuah motor melaju dengan cepat dengan keindahan perkebunan teh di sekelilingnya. Motor itu berhenti. Pengendara membuka helmnya. Tatapannya begitu sendu, pikirannya hanya pada seseorang. Dia mencemaskan sesuatu. "Gue harus gimana?"
...🦄🥀☔...
...Rilis 24/01/20...
...Revisi 15/07/2...