
Hari persiapan ujian nasional telah berakhir. Kami fokus untuk lulus dengan hasil yang baik dan dapat melanjutkan tujuan kami masing-masing. Masuk universitas favorit, memiliki pekerjaan, atau tujuan hidup lainnya. Ujian Nasional juga berlangsung selama empat hari. Selama ujian kami fokus belajar dan tidak bertemu teman sama sekali. Dimana ujian selalu menciptakan ketegangan. Namun, jika benar-benar belajar dengan serius tidak akan membuat merasa tertekan dan stres.
'Belajar juga sesantai mungkin dengan caramu sendiri agar materi bisa masuk dan dimengerti'
Ujian yang sedang berlangsung akhirnya selesai. Hari terakhir ini mereka sangat antusias untuk menyelesaikannya dan sangat senang. Keluar dari ruang ujian, mereka memberikan senyum senang dan lega sambil melompat-lompat kegirangan. Mereka saling berpelukan untuk mendukung.
"Akhirnya... gue bisa tidur dengan tenang lagi," girang Oni.
Semua tersenyum mendengarnya.
"Kita belum selesai. Tapi, kita nikmati dulu untuk hari ini," sambung Gina.
"Bener," sambut Afra.
Meski ujian sudah usai, satu hal lagi adalah setelah lulus SMA, terkadang kita selalu bingung jalan yang kita inginkan. Banyak tentangan dari orang lain. Memilih jalan mana yang harus kita jalani menuju tujuan kita.
"Han, SBMPTN gimana? Lo belum daftar juga," cetus Gina. "Pendaftaran gelombang terakhir bentar lagi ditutup, Han." Gina khawatir dengan sahabat yang satu ini, bahwa dia belum memutuskan tujuannya.
"Bener Han, jangan disia-siain kepintaran lo. Gue yang oon diantara kalian ikutan SNPTN, SBMPTN," lontar Oni berseri.
"Nggak ada kata bodoh, lo nya aja males belajar," sindir Afra.
"Hehehehe..."
Hanna tersenyum mendengarkan mereka sambil berpikir, mereka semua memiliki impian dan telah memilih jalan. Hanya dirinya yang belum, SNPTN sendiri tidak mendaftar meski termasuk dalam jajaran paralel di sekolah. SBMPTN belum memutuskan akan ikut atau tidak. Karena Hanna masih ragu-ragu untuk memilih jalannya.
"Gue nggak mau salah jalan, belum bisa mutusin," ungkapnya.
Afra tersenyum untuk mendukung Hanna. "Santai aja Han, jalan masih panjang, lo pasti nemuin kesukaan lo. Daripada buru-buru ngambil keputusan yang salah."
Hanna senang mendengar hal tersebut.
"Fra...?"
"Hem?"
"Lo sadar nggak makin kesini lo banyak ngomong," ejek Oni.
"Lo mau ngeledek atau muji?" deham Afra.
Tidak ada jawaban tapi suara tawa memenuhi mereka. Kami jadi mengingat lagi di mana Oni memberi tahu kami tentang pertemuannya dengan Afra dengan cara yang tidak biasa.
Tak lama kemudian suara seseorang terdengar, suara yang tidak menyenangkan.
"Woii Kebo Sengklek." Teriaknya sangat jelas bahwa itu suara Aji.
"Gue punya nama, Hanna," protes Hanna.
Aji mengacak-ngacak rambut Hanna sambil terkekeh. "Uhhh sayang sayang."
Hanna menepisnya. Aji selalu begitu memperlakukan Hanna seperti anak kecil. Dan kemudian Aji melirik pada Afra dan kemudian tersenyum. Dan Afra pun membalas senyuman itu meskipun tampak kakuk.
Aji mendatangi kami tidak sendirian. Dia bersama Fauzan karena mereka satu kelas. Tak ketinggalan juga diikuti oleh Nasrul dan Fauzi dan yang terakhir adalah Tyo, hanya saja dia kelas yang berbeda dari kita semua.
"Udah ngumpul semua nih, gimana kalau kita jalan-jalan," saran Aji.
"Wahhh ayo ayo seru tuh," sambut Oni bersemangat.
Semua orang menyetujui saran itu.
...🚗🌲🛵...
Mereka akhirnya jalan-jalan melihat keindahan kota Bogor ini. Ekspresi wajah yang tidak berhenti tersenyum dan tertawa. Mereka sangat bahagia. Mereka juga menghentikan kendaraannya. Turun untuk berjalan-jalan di kebun teh untuk melihat pemandangan. Bogor adalah kota yang sangat sejuk jika berada disini dan cantik.
Hanna. Dia menemukan kumbang merah atau disebut juga dengan ladybird. Dia asik bermain dengan hewan tersebut.
"Han lagi ngapain?"
Hanna menoleh menemukan sosok Fauzi yang menghampirinya. Hanna tersenyum. "Liat ada kumbang merah." Hanna memperlihatkan kumbang merah dengan ceria.
"Ladybird," sambung Fauzi.
Hanna mengangguk-angguk riang.
"Udah lama kita nggak pernah ngobrol."
Hanna tersenyum dengan ragu perlahan.
Hanna dan Fauzi sendiri sudah jarang bertemu belakangan ini, mungkin terakhir. Sudah lama. Di samping itu. Afra dan Gina bersama. Aji mendekati mereka. Gina terlalu sensitif untuk ini.
"Gue kesana dulu, Fra."
Gina memberikan waktu untuk mereka berdua. Meski begitu Afra sedikit tidak mau untuk ditinggalkan oleh Gina. Gina menghampiri Oni, Tyo, Fauzan dan Nasrul.
"Mana Afra?" tanya Oni.
Gina menunjukkan Afra berada bersama Aji.
"Lo tahu nggak Fra?" tanya Aji.
Aji berdehem. "Suatu saat nanti gue pengen tinggal sama pasangan gue di rumah."
"Yaiyalah di rumah masak di kandang sapi," celetuk Afra.
"Hahahah.... " Aji malah tertawa mendengar hal itu. "Bukan itu tapi rumah kita yang dibangun sama lo Fra."
Afra tersedak walaupun dia tidak minum maupun makan sesuatu. Dia sedikit malu dan menahan tawanya. "Ha-haha lucu."
"Nanti lo desainnin rumah kita yah," lanjut Aji.
Afra hanya diam tidak menjawab.
"Afra lo tahu nggak?" tanyanya lagi.
"Apa?"
"Lo harus kangenin gue yah," terangnya.
Afra menengok. "Enggak mau."
"Harus karena gue mau pergi."
DEG. Afra memandang Aji bingung dan bertanya-tanya. "Emang lo mau pergi kemana?"
"Gue mau lanjut sekolah di luar negeri. Gue udah diterima disana," ungkap Aji dengan ragu.
Aji penasaran dengan reaksi yang diberikan oleh Afra. Afra nampaknya terkejut mendengarnya. "Dimana?"
"Belanda. Lusa gue udah berangkat kesana."
Afra berusaha tidak sedih, dirinya senang mendengar kabar baik dari temannya ini. "Ba-bagus dong selamat yah. Ternyata lo pinter juga bisa diterima disana."
Afra berseri berusaha untuk senang.
Namun Aji merasa tidak senang melihat reaksi darinya. Apa Afra nggak sedih gue tinggalin?
"Lo sedih ga gue pergi?" tanya Aji.
Afra tersenyum kikuk. "Kenapa gue harus sedih? Malah gue ikut seneng lo bisa sekolah disana, di luar negeri. Keren."
Aji merasa sedih. Mungkin Afra tidak memiliki perasaan yang sama dengannya.
"Selamat yah." Kemudian dia beranjak melangkah pergi menuju teman-teman yang lain. "Ayok."
"Kayanya gue salah ngira lo suka juga sama gue." Menatap punggung Afra yang melangkah jauh. "Jangan putus asa, gue harus tetep nyatain perasaan gue ke Afra."
Hanna dan Fauzi terlihat asik mengobrol sampai mereka tertawa bersama. Fauzan yang melihatnya ikut senang masih bisa melihat Hanna tertawa seperti itu. Namun saat itu pun pandangan Fauzan kabur untuk melihat semua yang ada disini. Dia tampak panik.
Buram.
Fauzan mencoba memfokuskan pandangan ini dan segera kembali normal.
Semakin kesini kenapa sering kambuh tiba-tiba? Apa... makin buruk? Batin Fauzan gelisah.
Hanna masih bersama Fauzi bermain-main dengan kumbang merah itu.
"Kamu tahu nggak kalau Ladybird punya filmnya," kata Fauzi.
Hanna memberikan eskpresi penuh keinginantahuan. "Ohyah? Film kumbang hewan kayak ginih?"
Fauzi malah tertawa. "Bukan bukan. Judulnya aja Ladybird."
Hanna pun ber'oh, dia kira film hewan Ladybird.
"Udah pernah nonton?"
Hanna menggeleng sambil memainkan kumbang merah tersebut, dia menemukan satu lagi Ladybird.
"Filmnya seru. Nanti, aku ajak nonton itu mau?"
"Boleh. Kapan?"
"Kalau malem ini gimana?"
"Emm.. boleh deh."
"Nontonya di rumah aku, sekalian kamu juga belum pernah ke rumah ku kan? Nanti aku jemput."
Hanna mengangguk senang.
...🥀🐞...
...Rilis 25/05/2020...
...Revisi 05/08/2020...