
Keesokan harinya Hanna langsung bergegas ke rumah Afra. Sampai saat ini Afra belum mengabari sama sekali dan hal itu membuat Hanna sangat khawatir. Di luar, pintu rumah Afra terbuka, artinya rumah itu ada orangnya.
"Permisi.... Assalamu'alaikum."
Sampai kedua kalinya dia mengucapkan salam. Akhirnya seseorang yang ingin dia temui terlihat.
"Waalaikum-salam?"
Hanna tersenyum melihatnya.
Kami masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar Afra. Sudah lama sekali dia tidak mampir ke rumah Afra lagi. Jika datang ke rumah ini, banyak foto keluarga Afra yang terlampir dan disini juga bisa melihat desain rumah yang dibuat oleh almarhum ayah Afra. Itu adalah kenangan keluarga ini. Berbeda sekali dengan rumah diriya, foto-foto yang terpajang pun sama sekali tidak ada.
Namun di sisi lain, Hanna selalu merasa saat melihat foto almarhum ayah Afra, ia selalu merasa akrab dengannya. Foto itu ada di kamar Afra. Hanna mengambil foto itu dan melihatnya. Afra datang ke sini dengan membawa minuman.
Afra melihat foto ayahnya dipegang oleh Hanna. "Han, lo ngerasa nggak asing lagi sama bapak gue?"
Hanna tersenyum kecil dan mengangguk. "Gue bener-bener nggak inget, tapi rasanya gue kenal sama ayah lo, Fra."
Apa mungkin saatnya gue ceritain ya? Lagi pula keadaan Hanna semakin membaik. Dalam hati Afra.
Afra mengambil sesuatu di laci meja. Kemudian ia memberikan pada Hanna. "Apa ini?" Hanna masih kebingungan. Tapi, ia kembali memperhatikan foto ini.
"I-ni gue kan?" tanyanya terkejut.
Afra tersenyum. "Iyah itu lo, Han."
"Kenapa ada foto gue di elo?"
Hanna benar-benar terkejut dengan apa yang dilihatnya. Fotonya diberikan oleh Afra, ada dia, Afra, Hanna, almarhum kak Anissa, serta almarhum ayahnya Afra. Foto ini cukup tua ketika mereka masih anak-anak.
Afra memberikan sebuah buku gambar saat dimana mereka menggambar bersama.
"Kita pernah ketemu sebelumnya, Han. Kita juga pernah main bareng sama almarhum kak Annisa, sama bapak gue juga," ungkap Afra sedikit serah menahan rasa sedihnya. "Kita bisa saling kenal karena bapak gue pernah kerjasama dengan proyek ayah lo, Han."
Hanna semakin bingung dengan apa yang diceritakan oleh Afra. Kepalanya sangat sakit.
"Han... Hanna, lo nggak papa?" Afra sangat panik melihat Hanna saat ini. "Harusnya gue nggak ceritain ini sekarang, maafin gue. Gue bawa lo ke dokter sekarang yah."
Hanna kesakitan. Ia melihat potongan-potongan masa lalunya mengenai pertemuan dengan Afra dan juga ayahnya. Tapi, ia berusaha melawan rasa sakitnya itu dan ini belum seberapa dibandingkan dengan menahan rasa sakit yang benar-benar luar biasa yang dialami olehnya dari pihak keluarganya sendiri. Hanna tidak boleh kembali dalam ketidaksadarannya.
"Afra.."
"Yah Hanna?"
"Bisa lo ceritain semuanya sama gue?"
Afra belum percaya dengan keadaan Hanna. "Nggak, Han. Sekarang kita ke dokter dulu, ayok."
Hanna menahan Afra. "Gue baik-baik aja Fra, lo ceritain ke gue sekarang."
Ternyata selama ini, Hanna melakukan kesalahan. Bahwa dia sudah sembuh total. Tapi nyatanya itu salah. Hanna harus tahu apa yang belum dia sadari. Akhirnya Afra pun menceritakan semuanya. Hanna mulai teringat sedikit demi sedikit tentang pertemuan Afra dan om Ridwan, ayah Afra. Dirinya begitu kaget, senang, dan sedih.
Di satu sisi, ia mengenang kebahagiaan bersama kak Anissa, Afra, dan ayahnya Afra yang begitu baik hati. Ayah Afra memperlakukan Hanna dan kak Annisa seperti anak mereka sendiri. Dibandingkan dengan orang tuanya sendiri. Di sisi lain, Hanna sangat sedih dan berduka karena ayahnya Afra meninggal sehari setelah kematian Anissa. Dia tidak bisa bertemu lagi dan hanyut ketika ayah Afra, Pak Ridwan, meninggal dunia kepada Yang Maha Kuasa.
Karena hari-hari itu adalah hari-hari yang sangat menyakitkan bagi Hanna sendiri. Dia berada dalam keadaan tidak kenal dengan dirinya sendiri dan lingkungannya. Hari dimana dia ingin mengakhiri hidupnya juga.
...****************...
Fauzan dan Fauzi masih berada di rumah sakit untuk menjaga ibunya. Namun hari ini ayah mereka telah tiba di Indonesia, dalam perjalanan ke mari. Mereka begitu senang untuk menunggu kedatangan ayahnya.
"Assalamu'alaikum...."
"Wa'alaikumsalam."
"Ayah?"
Pria itu adalah ayah dari Si Kembar, dia segera menghampiri istrinya tercinta, mencium keningnya penuh kerinduan. Lalu tidak lupa dengan Si Kembar mereka benar-benar merindukan ayahnya.
"Hallo everyone..."
Seseorang datang dengan riangnya memasuki ruangan ini, bersama dengan putrinya yang seumuran dengan Si Kembar.
"Om Ben?"
Kami menyambutnya, dia seperti anak muda padahal umurnya sudah memasuki 40 tahun.
"Kalian udah pada gede nambah ganteng nih kayak ayahnya," kekeh Ben. Semua orang tertawa atas pujian itu. "Fauzan..." Dia melihat ke arahnya. "Gimana sekarang? Baik-baik aja?"
Ben merasa senang mendengarnya. Lalu berjalan untuk melihat keadaan saudara perempuannya yang akan segera melahirkan. "My sister."
Om Ben adalah adik dari Anita, ibu Si Kembar.
Dan di sisi lain Si Kembar saling memandangi putri dari anaknya om Ben.
"Katlyn, kapan balik ke Indonesia?" tanya Fauzi.
"Bareng sama om Rudi, sama dady juga," jawabnya.
Gadis itu bernama Katlyn. Mereka sama-sama baru saja pulang dari Singapura, namun dalam urusan yang berbeda di sana.
"Kapan kamu balik dari Singapore? Kamu emangnya nggak bertugas di rumah saki?"
"Aku pindah lagi, Kak. Sekarang aku ditugasin di rumah sakit Jakarta."
"Turun jabatan," sindir Rudi.
"Heleh, enggak. Boong tuh, bang Rudi."
Di saat kebahagiaan tiba tapi sesuatu menahan rasa sakit bagi Fauzan. Sakitnya kembali muncul. Dia pergi keluar agar mereka tidak mencurigainya. Segera duduk, tapi sakit yang ia rasakan bertambah. Penglihatannya kabur.
"Zan.."
Ada seseorang tiba di sampingnya dengan khawatir. Fauzan mencoba memfokuskan diri padanya, akhirnya sakitnya menghilang.
"Zan, lo kenapa? Lo sakit lagi?"
"Gue.."
"Jangan bohong sama gue."
"Akhir-akhir kepala gue sering sakit, penglihatan gue juga suka kabur."
Pada akhirnya Fauzan menceritakan sakitnya itu pada saudara kembarnya.
"Kenapa lo nggak bilang dari awal. Lo nggak boleh nyembunyiin, gimana kalau sakit lo itu makin parah." Tampaknya Fauzi sangat kesal dengan sikap saudara kembarnya. "Lo harus periksa, mumpung kita di rumah sakit."
"Enggak, Zi. Gue nggak mau. Gue nggak mau buat mamah cemas, dia mau ngelahirin."
"Kita kasih tahu ayah aja. Lo nggak boleh nolak."
...****************...
Ternyata malam itu telah tiba. Hanna memutuskan untuk tinggal di rumah Afra. Mereka terlihat senang, apalagi dengan Afra. Akhirnya Hanna bisa mengingat masa kecilnya bersama Afra. Mereka sedang melakukan panggilan video dengan sahabat mereka, Oni dan Gina.
"Aaaaaah... Hanna~ Kenapa lo nggak bilang nginep di rumah Afra." Rengekan Oni membuat telinga mereka sakit sekali. Afra segera menurunkan volume laptopnya.
"Dari kapan Han disana?" Gina bertanya dengan suara lembut berlawanan dengan Oni.
"Emm pagi? Awalnya cuman mampir doang ehh ternyata kemaleman jadi nginep deh," balas Hanna tersenyum melihat ke arah Afra.
Hanna memperlihatkan foto tadi pada Oni dan Gina.
"Foto siapa Han?" tanya Oni.
Gina masih melihat-lihat. Dan. "Itu... kayaknya mendiang ayahnya Afra deh terus itu Afra sebelahnya. Tapi dua orang ini...."
"Itu lo deh Han. Eh bentar-bentar," sosor Oni mengingat foto kecil Hanna saat di rumah Hanna sendiri dan itu sangat mirip. "Masa...." Dia masih ragu untuk mengatakannya.
Hanna dan Afra disana tersenyum-senyum.
"Apa jangan-jangan..."
"Itu lo? Hanna?" tanyanya bersamaan Oni dan Gina terkejut.
...🥀...
Â
...Rilis 02/06/2020...
...Revisi 15/08/2020...