
Kami semua berkumpul di sini dengan perasaan kacau. Begitu pula dengan Hanna dan Fauzan. Fauzan berusaha menenangkan diri dan mencoba menjelaskan semuanya. Namun Hanna menangis, kekecewaannya mulai bertambah. Terasa dikhianati. Orang yang selalu membuat nyaman tersesat.
Hanna bisa terbuka padanya, memberitahu secara langsung dari mulutnya sendiri tentang masa lalunya. Tapi tidak kepada teman-teman yang lain, mereka tahu karena diberitahu oleh Aji dan setelah itu Hanna bisa terbuka kepada mereka.
Tapi ternyata. Di balik itu semua. Ia semakin dekat, karena ada niat terpendam. Misteri mulai terkuak. Hanna terdiam dan menitikkan air mata.
"Hanna... Aa-ku bisa jelasin..."
Fauzan mendekati Hanna tapi dia menjauh. Hanna perlahan bangkit dan lari untuk menerima kenyataan. Fauzan menyesali segalanya dan berhenti pada kepergian Hanna.
Dan Fauzi, memutuskan mengikuti Hanna yang pergi.
Bugh!
Fauzan terkejut, dia menerima pukulan dari Aji.
"Dari dulu... Gue udah curiga lo ada maksud lain deketin Hanna! Lo seharusnya dapet pukulan lebih dari ini," geramnya. "Ini nggak sebanding dengan kehancuran hidup Hanna dulu."
Fauzan diam dan tidak berdaya karena dia berhak menerima semua ini.
...****************...
Orang yang menghajar Fauzan tadi, tiba di suatu tempat bertemu dengan teman-temannya.
"Bang... lo nggak papa?"
Dia menangkisnya dengan perasaan kesal.
Ketika dia sudah siap bersama teman-teman sekolahnya untuk bertarung bersama musuh sekolahnya. Menunggu kedatangan adik dan kunci kemenangannya yaitu Fauzan, tapi tidak kunjung datang.
"Ki gimana nih? Fauzan sama adik lo belum dateng-dateng tapi musuh...."
Namun musuh telah tiba bersiap bertarung.
"Kita nggak usah nunggu mereka! SEKARANG...!!"
SERANG.....!
Perkelahian terjadi antar sekolah dan meresahkan masyarakat sekitar. Tentu, masyarakat akan meminta pertolongan.
Ketika suara sirene polisi tiba, semua orang berhamburan untuk kabur. Begitu juga dengan dia, dia tida mau ditangkap oleh polisi, hendak untuk kabur namun seseorang menahannya.
"Lo kabur lo jadi pengecut!"
Tidak terima. Dia dengan kesadarannya itu, memukul musuhnya itu dengan batu bata pada kepalanya. Bagh! Darah mengalir, dia terkejut, panik, ketakutan.
Suara pistol yang hendak mengaktifkan terdengar olehnya. "JANGAN BERGERAK!"
Dia masih membeku dengan apa yang telah ia perbuat. Polisi datang dan memborgolinya.
"LEPASIN PAK!!"
"LEPAS! SAYA TIDAK MAU DIPENJARA!"
Dimasukannya ke penjara, dia menerima kabar bahwa adiknya meninggal karena kecelakaan. Dan itu membuatnya semakin dilanda kesedihan dan kemarahan. Hari berlalu di penjara, temannya yang telah dibebaskan, mengunjungi dirinya, mengatakan bahwa adiknya meninggal kerena berselisih dengan Fauzan di dalam mobil. Dia tak terima, bahwa adiknya meninggal, semua orang meninggal, kecuali Fauzan.
Mengingat kembali pada masa lalu yang membuatnya menjadi seperti ini. Masa depannya hancur. Orang tuanya tidak memperdulikan dirinya lagi, adiknya meninggal, dan sekarang dia hidup dengan kebenciannya.
"Gue nggak akan biarin lo hidup, Fauzan!"
...****************...
Hanna berlari mengarah ke arah jembatan. Berhenti di tengahnya. Jembatan ini kembali menjadi saksi menyakitkan hidupnya. Menatap kesedihan, kekecewaan kembali hadir dalam hidupnya.
Fauzi yang berdiri melihatnya dari jauh membuat dirinya nelangsa dengan semua jawaban ini.
"KENAPA...? Kenapa.... harus gini.....! Aaaaa... hiks...."
Disaat kamu yang membuat semuanya sudah begitu sempurna kenapa kamu yang menghancurkannya juga.
Andai saja hidup itu adil. Tapi, aku tahu kalau itu tidak mungkin, karena itu alasannya kamu mendekatiku.
"Kenapa mendekat kalau akhirnya kamu sakitin aku....... Hikss Hiks...."
Aku ingin melupakanmu Hujan.
Selamanya.
Hujan mendengarnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hujan yang turun pada malam hari mengembalikan kesedihan Hanna dan Fauzan. Hujan selalu tahu apa yang terjadi pada mereka. Membuat semua jatuh kembali ke lubang hitam dalam kegelapan hidup.
Fauzan menatap wajah sedihnya. Air matanya bercampur dengan air hujan yang membasahi. Tangisan penyesalan kembali muncul dalam hidupnya.
Saat hujan turun hari ini, lusa, esok dan seterusnya. Nelangsa sedih ketika kita melihat keluar jendela mengingat hal menyakitkan. Tidur membawa pada mimpi buruk. Seolah berpura-pura memperdalam kehancuran dalam hati.
Bagaimana bisa mereka hanya sekejap mendapatkan kebahagiaannya. Luka dalam hidup kembali menghantui mereka. Berharap akan sesuatu yang mustahil bagi mereka sekarang.
Tuhan yang sudah merencanakan semuanya, mempertemukan mereka kembali. Namun apa dayanya mereka harus menerima kehancuran dan kenyataan semua ini. Apakah ini semua sudah berakhir?
Tidak. Tidak. Tidak akan terjadi seperti ini.
Aku yakin akan datang hari di mana aku dapat mengembalikan kebahagiaanmu. Aku percaya takdir itu akan datang padaku, pada kita.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ini Diary Sekolah mereka. Semuanya punya cerita sendiri-sendiri. Di hari akhir, jadi siapakah yang akhirnya bertahan dalam menghadapi berbagai keadaan?
Seorang Nasrul yang terlihat begitu sempurna di mata orang lain. Tapi dia berpikir untuk menanyakan banyak hal dengan semua tatapan kosong itu.
Gina, seorang wanita yang begitu kuat mencoba menjalani hidup sesempurna mungkin, menerima dan melepaskan. Tanpa mengetahui keluarga sebenarnya.
Seorang pemuda Jerman bernama Tyo yang meninggalkan rumah dan meninggalkan negara asalnya hanya untuk mencoba mengalihkan perhatian orang tuanya di sana.
Seorang gadis, Olla yang ceria tanpa henti untuk selalu berbicara. Mendapatkan hati yang tersakiti sebagai perempuan melihat ibunya tersiksa oleh ayahnya sendiri. Dan membuat kepercayaannya hancur, tentang kesetiaan.
Hidup sekuat mungkin menjadi tulang punggung ibu dan adik. Berusaha sebaik mungkin untuk melindungi orang yang dia sayangi. Itulah Afra.
Aji, seorang sahabat yang selalu meminjamkan bahunya, membuat semua orang tersenyum dan bahagia. Terkadang menyebalkan, tapi membuat orang merindukannya.
Semua kehidupan manusia sangat berbeda, begitu pula seseorang yang memiliki saudara kembar.
Fauzi yang terlihat tidak memiliki beban hidup, namun apadaya bahwa sebenarnya mencoba untuk mengerti liku-liku masalah yang ada disekitarnya.
Dinginnya seseorang, diamnya seseorang memiliki perkataan-perkataan yang ingin diungkapkannya. Namun dirinya tidak mampu. Fauzan, memikirkan orang lain tanpa tahu bahwa dirinya pun harus diperhatikan.
Kecelakaan kecil membuat dirinya mengalami masalah yang besar. Hati yang begitu rapuh namun orang-orang disekelilingnya dapat menguatkan dirinya. Hanna. Kehilangan semuanya membuatnya sangat merindukan sesuatu. Seperti pribahasa "Laksana jentayu menantikan hujan"
...🥀...