
Berlanjut....
Setelah mendapat hukuman, Hanna langsung masuk ke kelasnya. Dalam perjalanan, Hanna bertemu Tyo.
"Han..? What is wrong with you? Kok pada basah?"
"Habis dihukum gara-gara telat."
"Dihukum? Lah kan kita udah bebas."
"Nggak tahu tuh bokapnya Nasrul ..." Hanna tersenyum. "Gue ke kelas dulu ya."
Tyo hanya mengangguk.
Hanna sudah sampai di kelas. Melihat teman-teman yang sudah berkumpul dan bercanda dengan sosok makhluk paling menyebalkan.
"Lo ngapain duduk di kursi gue? Awas." Hanna mengusir Aji yang duduk di kursinya.
Aji pun beranjak berdiri setelah diusirnya oleh Hanna. "Kenapa baru dateng?"
Hanna pun duduk. "Habis dihukum dulu sama Pak Raja."
"Dihukum?! Gegara apa?" kejut Oni.
"Telat masuk," jawabnta.
Semua terdiam setelah mendengar hal itu.
Aji mengoceh. "Bisa-bisanya main hukum katanya kelas 12 udah boleh bebas."
"Dihukumnya juga udah jadi udahlah," tukasnya.
"Cowok lo sih Gin.." sindir Oni.
Gina terheran. "Cowok gue?"
Oni mengangguk. "Itu kan calon mertua lo galak amat. Bilangin sama cowok lo itu, Nasrul."
"Ihhh! Oni! Kalau ngomong tuh jangan asal-asalan jangan buat gosip..." Gina jengkel.
Hanna tersenyum melihat mereka bertingkah kembali. Segera Hanna menerima pemberitahuan pesan dari kontak bernama Hujan.
| Mau berangkat sekarang?
Read
^^^Sekarang?^^^
^^^Emang boleh keluar sekolah?^^^
| Gatau
| Tapi kalau pun ga boleh, mau bolos?
Read
Hanna membulatkan matanya karena terkejut.
^^^Bolos? Ga salah?^^^
| Kalau gamau juga gapapa
| Kita tunggu sampai jam pulang sekolah.
Hanna berpikir sejenak. Kalau nunggu pulang sekolah bakal kelamaan.
^^^Yaudah sekarang aja^^^
| Gue tunggu di tempat itu
^^^Ya^^^
Aji yang selama ini memperhatikan Hanna dengan ponselnya sangat penasaran.
Hanna pun beranjak dari tempat duduk. "Guys gue pergi dulu."
"Mau kemana?" tanya Oni.
"Lo baru dateng udah mau pergi lagi?" sambung Afra.
"Ada urusan." Hanna tersenyum. "Gue duluan yah. Dadah ..."
Saat menuju pintu untuk keluar Aji menahan Hanna. "Mau pergi kemana?"
"Gue ada urusan."
"Urusan apa?"
Hanna ragu untuk mengatakannya. Tapi, "Gue mau pergi sama Fauzan."
Aji nanap mendengarnya. "Fauzan?"
Hanna pun tersenyum.
Mengingat perkataan Dokter Rey bahwa Fauzan membuat Hanna lebih baik dan harus selalu bersamanya.
Aji pun tersenyum. "Yaudah sana pergi. Gue dukung kok."
"Hah? Dukung?"
"Iyah yah sana..."
......................
Dengan terheran-heran, Hanna pergi menemui Fauzan menuju lokasi kejadian yang tak terduga terjadi hingga bolos sekolah. Fauzan sepertinya biasanya membangun piramida dari balok untuk membantu memanjat tembok dan akhirnya selesai.
"Fauzan..."
Fauzan tersenyum. "Ayo naik."
Saat Hanna tengah menaiki balok-balok itu. Tiba-tiba saja. PRITTTT PRIT PRITTT
Hanna dan Fauzan panik. Kali ini mereka tidak bisa lolos seperti saat itu.
"Mau pergi kemana kalian ha? Hahah mau bolos kan?"
"Emm..." Hanna menyenggol Fauzan. "Gimana nih?" Fauzan pun kebingungan.
Ketika melihat seragam yang dikenakan. "Kalian kelas 12?"
Hanna mengangguk. "Iyah Mang."
"Ohh mau keluar?" tanyanya lagi.
Hanna dan Fauzan mengangguk.
"Kenapa lewat sinih atuh? Kan bisa keluar lewat gerbang."
Hanna dan Fauzan masih terdiam.
"Kalian kan kelas 12 boleh pulang datang jam berapa aja," sambungnya.
"Ohhhhhhhh ..."
"Berarti kita dikerjain dong sama pak Raja," cicit Hanna.
"Mang kita mau lewat sini aja nggak papa kan?" ucap Fauzan.
"Lewat situ?"
Fauzan mengangguk.
"Yaudah sana."
"Makasih, Mang."
Fauzan mengajak Hanna untuk menaiki kembali balok-balok itu.
"Dasar anak muda," kata Japri, satpam SMA Bakti Nusa.
...•...
...•...
Gedebum.
Hanna berpegangan pada Fauzan yang sudah berada di bawah sana. Jarak mereka cukup dekat membuat detak jantung mereka sangat cepat. Hanna memejamkan mata ketika wajah Fauzan semakin mendekatinya. Dan.
Apa yang terjadi setelah itu? Hanya kami yang tahu :)
...****************...
Gina, Oni, Afra dan Aji masih berada di dalam kelas dan tak lama seseorang memanggil mereka.
"Aji."
"Oy? Sini, Rul. Yo."
Nasrul datang bersama Tyo dan Tyo langsung mendekati Oni.
"Ada yang ngajak tanding basket nih adik kelas F1. Lo mau ikutan?" tanya Nasrul.
"Boleh tuh sekarang? Lo ikut nggak Yo?"
"Gue enggak ah males," balas Tyo.
"Tim kelas 12 kurang soalnya gue nggak bisa ikut gabung," lanjut Nasrul.
"Oh lo mau kemana emang?"
"Gue ada urusan sama ibu BK."
"Oke deh. Afra, lo ikut maen juga ya." Aji menarik tangan Afra untuk ikut bergabung bermain basket.
"Eh Ji..." Membuat Afra terkejut karena ditarik secara tiba-tiba. Aji menghiraukan Afra dan tetap menariknya untuk ikut.
"Gin, kita disuruh ke ruang BK," kata Nasrul.
"Aku juga ikut?"
"Iyah ayo," ajak Nasrul.
Disusul Nasrul dan Gina keluar kelas dan meninggalkan Oni sendirian, tapi untungnya Tyo datang secepatnya bersama Nasrul tadi.
"Kalau gue nggak dateng lo bakalan sendiri."
Oni melirik Tyo dan tersenyum. Dia langsung memasang earphone pada Tyo dan dirinya sendiri.
"Lo dengerin lagu pacar-pacar gue."
"Ih No!"
"Nurut aja deh... cuman dengerin doang," gerutu Oni memaksa.
Tyo akhirnya mengalah pada Oni. Dengarkan lagu bersama dalam satu earphone dengan senang hati. Meski Tyo tidak paham dengan lirik lagu tersebut karena bahasa Korea.
......................
Di Ruang Bimbingan Konseling (BK), Gina dan Nasrul sedang mengobrol dengan salah satu guru disana. Mereka terlihat senang dan bahagia satu sama lain mendengar pernyataan guru tersebut.
"Selamat atas keberhasilan kalian. Ibu sangat bangga."
"Terima kasih bu."
"Untuk Gina kamu segera mungkin urus data-data kamu dan kirim pada ibu ya."
"Baik bu saya akan segera mengirimnya."
"Nasrul?"
"Iyah bu?"
"Pak Raja belum saya beritahukan atas diterimanya kamu di Universitas Padjadjaran. Kamu bisa memberitahunya sendiri."
Nasrul tersenyum. "Iyah bu terima kasih."
Hari yang membahagiakan bagi mereka karena mereka sudah diterima di salah satu universitas yang mereka impikan dengan jurusan yang diinginkan. Mereka berdua berhasil menggapai impian menjadi dokter.
Gina dan Nasrul yang keluar dari Ruang Bimbingan Konseling (BK) merasa sangat senang dan bahagia karena keduanya telah diterima di Universitas.
Gina terlalu kegirangan sampai ia meloncat-loncat dan memeluk Nasrul hanya sekejap tapi mampu membuat Nasrul membeku karena terlalu senang.
Gina tersenyum. "Selamat ya Nasrul."
"Kamu juga."
Keduanya tersenyum. Mereka pun berjalan bersamaan.
"Kamu jadi anak Bandung dong nanti."
"Hehe iyah kota kelahiran kamu, kan?"
"Iyah," jawab Gina tersenyum tapi tampak sendu dengan mata itu. Nasrul menyadarinya.
Setelah mendengar tentang kampung halamannya, Gina sedikit sedih mengingat dia dibesarkan di panti asuhan di sana. Dia tidak memiliki keluarga atau orang tuanya yang ia ketahui.
"Gin...?"
"Hem?"
"Kamu naek sepeda kan?"
"Iyah kenapa emang?"
Nasrul tersenyum penuh arti dan kemudian menarik tangan Gina ke suatu tempat. "Ikut aku."
......................
Afra dan Aji sama-sama bermain basket dan bersaing dengan juniornya. Hanya tim kelas 12 yang mampu memainkan anggota perempuan. Nah itu Afra karena dia mantan pemimpin bola basket yang sangat bagus. Mereka sangat menikmati pertandingan tersebut begitu juga dengan Afra dan Aji. Afra merasa senang terkadang mencuri pandang untuk melihat Aji, yang tidak pernah melupakan kekonyolannya yang membuat Afra seperti ini. Dia mulai luluh.
Meski harus menerima kepergiannya untuk melanjutkan studi di Belanda. Ia berusaha menjaga perasaannya agar tidak jatuh cinta pada sosok laki-laki itu, Aji.
...🏫...
...Rilis 30/05/2020...
...Revisi 15/08/2020...