Diary Of A School: Me And Yu

Diary Of A School: Me And Yu
BAB 28 Rasa Bersalah



Sekolah tercinta kami. Pertemuan dengan mereka sangatlah berarti dan apapun yang terjadi pada kami, kami akan selalu berada disampingnya.


Afra seperti biasa duduk di tempat menyendirinya di tempat yang sudah tersedia di bawah pohon ijo itu sambil menggunakan earphone dengan volume yang keras dan melakukan aktivitas menggambarnya. Di tengah-tengah menggambar ia mengingat sesuatu yang terjadi tadi malam. Ia sendiri pun tak duga membiarkan orang itu 'Aji' memeluknya agak lama. Dia terus memikirkan hal itu membuatnya semakin malu pada dirinya sendiri. Namun disela itu ia merasakan hal yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Hatinya sedikit mulai luluh terhadap laki-laki. Afra menggelengkan kepalanya, tak percaya ia berpikit seperti itu. Ia fokus untuk menghapus ingatan tersebut. Saat itu juga.


"Afra." Sapaan seseorang yang terdengar tidak asing.


Afra langsung membulatkan matanya. Di depan sana ada seseorang yang telah mengganggu pikirannya sedari tadi. Afra langsung berbenah dengan alat gambarnya dan beranjak dari duduknya.


Saat Aji akan menghampirinya, sebaliknya Afra menjauh dan pergi. Afra berjalan sangat cepat tak ingin bertemu ataupun berhadapan dengannya karena kejadian tadi malam. Ia sangat malu. Hampir sampai ke kelas, karena berjalan terburu-buru ia bertubrukan dengan Hanna.


"Duh," ringkis Hanna.


Afra terkejut.


"Han-Hanna sorry, Na. Gue nggak sengaja." Suara gugup dan kecemasannya bersama.


"Lo kenapa sih? Kayak ada yang nge-"


"AFRA...." teriak Aji.


Afra dan Hanna menoleh ke arah sumber suara. Terlihat Afra sangat cemas dan Hanna memperhatikan mereka berdua.


Hanna mulai menyadarinya, tersenyum.


"Lo kenapa kabur, sih? Gue itu manggil-manggil lo dari tadi," selosor Aji. "Capek tahu."


Afra berusaha untuk tidak gugup. "Ada apa?" ketusnya.


"Nih pensil lo jatuh."


"Ohh, i-iyah makasih Ji," gugup Afra beranjak masuk ke dalam kelas tanpa basa-basi.


"Maen masuk aja," gerutunya. "Yaudah Han gue cabut dulu. Bay baya." Aji mengusap kepalanya sebentar.


Hanna pun ikut masuk ke dalam kelas, kelas sendirinya. Melihat ke tempat duduk Afra dan Hanna pun kesana.


"Afra."


"Hem?"


Namun Afra merasakan keanehan pada Hanna. Afra berpirasat buruk terhadapnya.


"Ciee sama Aji," godanya sambil mencubit-cubit pipi Afra.


Afra tersentak. "Aa-apaan sih Han?" Afra memalingkan pandangan.


"Hem nggak usah boong, gue liat lo sama Aji...." Hanna menggantung kalimatnya dengan memperagakan seolah berpelukan dan itu membuat Afra tertegun.


"HANNA..." Afra membuat penghuni kelas menoleh ke arahnya. Afra pun mendekati Hanna sedikit berbisik. "Nggak seperti yang lo bayangin yah Han." Menekan kata-katanya bahkan dengan volume rendah.


"Emang gue mau bilang apa?" goda Hanna.


Afra merasa kesal dibuatnya.


"Kalau ada apa-apa juga nggak papa, kok." Hanna terus menggodanya.


Mata Afra langsung membulat besar melirik ke arah Hanna.


"Tadi malam kayak ada yang peluk-pelukan. Siapa yah??"


Afra pun langsung menarik Hanna agar duduk di sampingnya. Kepala mereka menyenderkan pada meja dan saling menatap satu sama lain.


"Siapa aja yang tahu soal ini?" tanya Afra berbisik.


"Cuman gue," kekeh Hanna berbisik kembali.


Afra langsung mengangkat kepala yang asalnya tiduran. Dia bernafas lega. "Gue kasih tahu, gue sama Aji emang nggak ada apa-apa. Kemarin itu... Gimana yah bilangnya. Emm, kesalahpahaman yah itu."


Hanna menganggukan kepalanya tapi tetap saja dia terus menggoda temannya itu. "Tapi ada satu orang lagi sih yang tahu."


Sontak membuat Afra terkejut kembali.


"Kasih tahu gue, siapa orangnya? Oni? Gina?"


"Bukan mereka," sanggah Hanna.


"Terus?" Afra sangat penasaran dibuatnya. Jika orang itu melihat Afra dan Aji bisa-bisa gawat.


"Fauzan," jelas Hanna tersenyum.


"Fauzan?"


......................


Gina dan Oni berada di luar kelas menuju ruang BK. Bukan karena mereka ada masalah sehingga dipanggil ke ruang BK melainkan mereka berdua mau menyimpan berkas-berkas yang entah itu berkas apa karena mereka disuruh untuk menyimpannya disini. Saat memasuki ruang BK tersebut, disana sudah terlihat teman kami. Dia adalah Nasrul.


"Ehh ada Nasrul, lagi ngapain?" tanya Oni kepada Nasrul.


Sedangkan Gina langsung mengarah ke meja untuk menyimpan berkas.


"Ngecek file OSIS sekalian ngikut diem disini." Nasrul tersenyum.


Oni hanya ber'oh. Tiba-tiba terdengar suara yang kami kenali dibalik sudut tembok tersebut.


"Kalau kamu bolos lagi, tentu saya akan berikan SP terhadap kamu. Kamu paham?"


"Paham, Bu."


Murid itu beranjak setelah mendapat peringatan dari BK. Hendak akan keluar, dia bertemu dengan teman-temannya yang melihat dalam keadaan seperti ini.


"Tyo?"


"Bulyo?" kejut Oni. Ternyata suara murid laki-laki yang tengah dimarahi adalah Tyo. "Lo, kenapa Tyo?"


Khawatir.


"Gue....."


Dan tak lama guru yang memarahinya tadi keluar dari balik tembok tersebut. "Kenapa masih disini? Kembali ke kelas."


Kami yang mendengarnya sangat takut. Memang beliau adalah guru terketat selain Pak Raja. Bu Yuyun, ini lebih ganas seperti harimau.


"Gue cabut dulu," tutur Tyo terdengar tak bersemangat.


"Gina gue cabut duluan yah," kata Oni dengan terburu-buru langsung menyusuli Tyo.


Gina dan Nasrul menatap kepergian Oni yang menyusuli Tyo. Tiba-tiba saja.


"Kamu, ada kepentingan apa kesini?"


"Ah saya habis simpan berkas, Bu. Disuruh Pak Satria," ungkap Gina. "Yaudah bu saya pamit ke kelas lagi." Gina mencium punggung tangannya. "Assalamu'alaikum."


"Waalaikumussalam."


"Gin, tunggu," ucap Nasrul sambil membenahi pekerjaanya. "Bu saya juga mau kembali ke kelas."


"Tugas kamu udah beres?"


"Sudah bu, kalau gitu saya pergi dulu bu." Nasrul mencium punggung tangan beliau.


Gina dan Nasrul pun kembali ke kelas bersama. Disana.


......................


"Tyo.... Tyo! Tungguin gue."


Oni masih saja berlari untuk menyusuli Tyo yang sangat cepat langkahnya. Akhirnya Tyo pun berhenti.


"Apa?"


"Lo ini kenapa? Nggak kayak biasanya," akunya.


"Bukan urasan lo," decit Tyo kembali melanjutkan langkahnya.


Oni sangat bingung tidak seperti biasanya sikapnya seperti ini. Dingin. Karena Oni kesal dengan sikapnya itu, dia berteriak.


"TYO!! GUE NGGAK SUKA YAHH SAMA COWOK YANG SIKAPNYA KAYA PENGECUT."


Mendengar Oni berbicara seperti itu. Tyo pun sangat tak suka, ia membalik arah menghampiri Oni. "Maksud lo apa?"


"Lo budek yah? Gue nggak suka sama cowok yang sikapnya kayak pengecut kalau lagi ada masalah," ungkap Oni.


Tyo yang mendengarnya terdiam sejenak. Karena mendengar ucapannya Oni, Tyo sedikit mehanan tawanya.


"Duh, lo ngomong dipikir dulu nggak sih?"


"Maksud lo apa? Ngomong tuh yang jelas," cicit Oni terheran-heran.


Tyo terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. "Yaudah lo pikirin lagi deh yang tadi lo omongin." Kemudian Tyo mengelus kepalanya Oni sambil tersenyum manis. "Makasih Olla."


Tyo beranjak pergi.


"HEII BULYO! Mau kemana?" teriak Oni.


Setelah pertengkaran mereka namun dengan akhir yang terlihat membingungkan. Oni berjalan kembali ke kelas sambil melamunkan apa yang tadi di katakan kepada Tyo.



"Pikirin yang tadi gue omongin." Sambil bergumam.


Di luar kelas terlihat Gina dan Nasrul yang tengah mengobrol. Gina dan Nasrul melihat Oni yang tengah kemari sambil memikirkan sesuatu. Mereka merasa heran.


"Berantem nih?" tanya Gina setelah Oni sampai disini. "Selesai?"


"Pisah ranjang ga?" sindir Nasrul.


Namun Oni tidak merespon ejekan Nasrul seperti biasanya. Dia terlihat kebingungan. "Gina, Nasrul."


Oni pun ingin meminta bantuan pada mereka karena mereka mungkin tahu apa yang dimaksud Tyo. "Kalian kan murid terpintar, teladan Se-Baknus."


Nasrul dan Gina saling memandang.


"Jadi?" tanya Gina terheran.


"Gue tadi berantem sama Tyo terus gue bilang 'Gue nggak suka sama cowok yang pengecut kaya lo.' Terus si Tyo malah ketawa coba. Terus dia malah nyuruh gue pikirin yang tadi gue ucapin."


Panjang lebar Oni berbicara kepada dua temannya. Tapi malah mereka pun ikut tertawa dengan apa yang Oni ceritakan.


"Oni... Oni," ledek Nasrul sambil tersenyum.


"Oni sayang kenapa lo jadi, sorry yah oon banget sih." Gina semakin tertawa.


Oni yang melihatnya jengkel dan kesal. "Kalian kok jadi ketawa sih ngeledek gue. Sebel."


"Masalah cinta orang lain bisa lo peka tapi masalah cinta lo sendiri pekanya kemana Oni?" ledek Nasrul sambil tertawa.


Oni masih terdiam masih fokus mendengar apa yang akan mereka katakan.


"Yang lo ucapin ke Tyo itu merujuk bahwa lo itu mengisyaratkan lo suka Tyo dan nggak mau Tyo jadi pengecut seperti yang lo bilang itu," jelas Gina. "Nggak suka cowok pengecut. Alright?"


"Yap betul yang dibilang Gina. Pemikiran Tyo itu pasti sama seperti yang Gina bilang barusan," lanjut Nasrul.


Setelah bertanya pada Gina dan Nasrul. Oni menjadi semakin-makin terlihat gila.Dia tertawa sendiri.


Sahabat-sahabatnya terheran terhadap prilaku Oni tersebut ketika memasuki kelas. Kenapa demikian? Oni terus memikirkan apa yang dikatakan Gina dan Nasrul yang sok pintar, tapi memang mereka pintar sih. HEHEHE.


"Gue suka sama Tyo? Gue ngodein gue nggak suka sama cowok pengecut? Ha-ha-ha hahaha... HAHAHAHAHAHAHAH."


"Kenapa tuh anak?" heran Hanna membalik badannya ke belakang untuk bertanya pada Afra.


Dan Afra mengisyaratkan bahwa Oni sudah gila. 


Pelajaran terakhir sudah berakhir. Sekolah pun dibubarkan Oni langsung beranjak pulang yang pertama. Tanpa pamit memberitahu pada kami sahabatnya.


"Gina, lo tahu Oni kenapa? Maen pergi aja nggak pamitan," kata Hanna. "Dari tadi juga dia senyum-senyum sendiri. Gue takut dia kesambet," kekeh Hanna.


"Sehat?" tanya Afra tertawa bersama Hanna.


"Apa, dia kepikiran yang tadi gue sama Nasrul bilang yah?" gumam Gina.


"Emang ada apaan? Lo ngobrolin apa sama Nasrul, Oni," tanya Hanna penasaran.


"Tunggu bentar," kata Afra membuat Hanna dan Gina terhenti sejenak. "Gue harus jemput ade gue, sorry yah gue harus pulang duluan.


"Ahh iyah nggak papa adik lo pasti udah nungguin," ujar Gina.


Afra tersenyum. "Dah."


Afra mulai beranjak pergi.


"Hati-hati," sahut Hanna.


"Gue ceritain sambil jalan pulang," kata Gina.


"Oh, oke."


Gina dan Hanna pun beranjak meninggalkan kelas. Gina menceritakannya sambil berjalan menuju gerbang sekolah.


...****************...


Dikediaman Oni yang baru saja sampai rumah, suasananya langsung berubah. Dari luar saja sudah terdengar mereka saling mengeraskan suara mereka masing-masing. Karena pertengkaran. Disana Oni bersedih, air matanya langsung bercucuran. Ia pun berbalik arah dan tak jadi untuk memasuki rumahnya. Tapi dia terhenti dia membalik arahkan kembali untuk masuk ke rumah dan memberanikan dirinya. Pertengkaran yang sudah muak Oni rasakan. Dia pun melihat ayahnya yang akan memukul kepada ibunya itu.


Dan ketika itu pukulannya mengenai Oni.


"Aaaah..."


"ONIII?!"


Dari situ Oni memberanikan diri untuk mengungkapkan amarahnya pada keluarganya sendiri terutama ayahnya. Yang akhirnya setelah itu dia pergi dari rumah tanpa melirik kedua orangtuanya itu.


Berjam-jam waktu yang dibuang oleh Oni saat ini. Larut malam ia sedang lewati sekarang. Dan disini langkahnya terhenti, pikirannya kacau. Mungkin dia sudah mengkhawatirkan banyak orang. Ibu, ayah, sahabat-sahabatnya yang terus memenuhi panggilan ponsel dirinya. Dia meng-nonaktifkan ponsel itu. Namun ia bukan tak peduli. Saat ini dia ingin menenangkan dirinya sendirian. Tanpa diduga seseorang memanggil namanya.


"Olla... Hah, gue duga lo pasti ada disini."


Suara yang terdengar tak asing olehnya. Oni melirik ke arah suara itu. "Tyo?"


"Gue sama yang lainnya nyariin lo. Nyokap lo, Oni," ungkap Tyo.


Deg. Oni merasa ada suatu kabar yang buruk.


"Nyokap? Ibu gue? Ibu gue kenapa?" Seketika Oni langsung resah mendengar ibunya diucapkan.


Setelah mendengar apa yang terjadi pada ibunya. Oni langsung berangkat ke rumah sakit untuk menemui ibunya yang dilarikan ke rumah sakit.


...****************...


Disana sudah terlihat sahabat-sahabatnya yang berdiri di ruang ibunya Oni dirawat. Mereka terlihat sangat khawatir dengan keadaan Oni. Oni tanpa sepatah katapun langsung berlari masuk ke ruang ibunya itu dan disusul oleh sahabatnya yaitu Hanna, Gina, dan Afra. Dan di luar Tyo bersama Aji.


Oni sangat sedih. Air mata terus membasahi pipinya. Ia pun terus meminta maaf merasa bersalah telah meninggalkan ibunya di rumah setelah pertengkaran tadi.


"Maaf bu maaf. Harusnya Olla nggak pergi ninggalin ibu. Hiks .... Hikss ... Bu.... bangun."


Hanna langsung memeluk Oni disana agar dia merasa tenang dan tidak mempersalahkan dirinya itu. "Udan Oni, ini bukan salah lo."


"Kalau tadi gue nggak ninggalin nyokap gue, nyokap gue nggak bakalan masuk rumah sakit! Ini salah gue Han!"


Oni sedikit berteriak pada Hanna membuat orang yang di dalam terkejut maupun Tyo dan Aji yang tengah di luar ruangan yang akhirnya mereka berdua masuk. Saking pedulinya Afra tak mau Oni bersikap seperti itu. Afra ingin menyadarkan Oni yang mulai berpikir sempit.


Afra berbicara tegas dan sedikit berteriak. "Dengerin gue, ini bukan salah lo kalau ibu lo dirawat. Ini udah jadi kehendak Tuhan. Ngerti?"


Oni terus terisak tangis.


"Ibu lo sebentar lagi bakalan bangun, nggak usah khawatir," lanjut Afra.


Oni seketika itu berdiam mendengar apa yang dikatakan Afra. Dia mulai menangis kembali. Afra pun memeluk Oni agar tenang.


"Udah, ibu lo bakalan baik-baik aja."


Hanna dan Gina pun menyusuli memeluk Oni.


Oni merasakan tenang mendengarnya. Pelukan hangat dari sahabat-sahabatnya membuat Oni merasa lega dan bersyukur bisa memiliki mereka.


Terimakasih Tuhan.


...🥀...


...Bersambung...


 


...Rilis 07/03/2020...


...Revisi 16/07/2020...