Diary Of A School: Me And Yu

Diary Of A School: Me And Yu
BAB 15 Mimpi Buruk Lalu



Hari ini perasaan Hanna sangat cerah. Karena sekarang Hanna mempunyai banyak teman yang selalu setia bersama dengannya dengan tulus. Mengawali di pagi hari ini begitu indahnya. Hanna bersiap-siap pergi ke sekolah. Hanna bercermin memandang dirinya yang begitu berbeda hari ini. Dan tersenyum di balik cermin tersebut dan ia siap untuk memulai hari ini dalam aktivitasnya.


Saat membuka pintu akan keluar rumah, dengan terkejutnya ada seseorang yang sudah berada di balik pintu tersebut. Raut wajah Hanna langsung berubah dratis. Ia sangat tak ingin bertemu dengannya. Matahari pada dirinya menjadi mendung. Seseorang itu tersenyum kepada Hanna namun Hanna mengabaikan.


Hanna mempersilahkan masuk ke dalam rumah. Sebenarnya dia sangat tak ingin berlama-lama dengannya apalagi memasukkannya ke dalam rumah.


Namun apa boleh buat dia mengatakan bahwa ada pembicaraan yang sangat penting untuknya. Dan Hanna pun akhirnya ijin tidak sekolah dengan mengirimkan pesan kepada sahabatnya.


"Kenapa kakak dateng dan nemuin Hanna lagi? Bukannya kakak udah nggak nganggep aku lagi di kehidupan kakak."


Sebenarnya Hanna tidak mau memanggilnya kakak tapi nyatanya perasaan adik terhadap kakaknya masih ada walaupun dia hanya kakak tiri. Hanna masih ada hormat terhadapnya dan juga ada kerinduan yang terbenak dalam dirinya kepadanya. Yah dia adalah kakak tiri Hanna yang bernama Bella.


"Kakak tahu seharusnya kakak nggak ninggalin kamu sendiri disini." Penyesalan Bella atas perbuatannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hanna adalah anak kedua dari sepasang kekasih seorang pengusaha dengan kesuksesan mereka. Dia mempunyai kakak yang bernama Annisa Mafaza, Hanna dengan kakaknya berselisih 5 tahun, mereka sangatlah akrab.


Awalnya keluarga mereka sangatlah harmonis walaupun mereka sibuk dengan pekerjaanya, mereka selalu meluangkan waktu untuk kami, kami sangat dimanja dibuat mereka. Namun saat Hanna beranjak umur 9 tahun. Saat dia harus menerima keinginan kedua orangtuanya dan ia pun menurutinya walaupun keinginan itu tidak disukai oleh Hanna.


Kedua orangtuanya sudah mulai mengatur kehidupan Hanna begitu juga dengan kakaknya. Mereka selalu menekannya apalagi dengan ayahnya dengan keinginan mereka untuk di masa yang akan datang. Menyadari bahwa kemanjaan mereka harus terbayarkan. Diusia mereka yang seharusnya belum melakukan kegiatan orang dewasa. Mereka berdua sudah memulainya, satu persatu diajarkan kepada mereka yang seharusnya tidak diajarkan kepada Hanna dan Annisa yang masih belum cukup umur untuk melakukannya. Tapi karena kemampuan yang diturunkan dari kedua orangtua kami. Kami mampu menerapnya.


Setelah aku masuk Sekolah Menengah Pertama. Aku mulai membatah kepada orangtuaku dan terus menerus. Dengan aturan mereka yang dibuatnya untukku maupun kakak. Yang sudah mengatur kehidupan kami walaupun kami tidak menyukainya.


Sebenarnya saat-saat aku mulai menuruti kemauan ayahku, kondisi fisiku melemah dengan semua yang dibuatnya. Dan itu membuat ayahku selalu memarahi karena kesalah yang ku buat.


2013th. Akhirnya aku terkena penyakit delirium yang disebabkan oleh gangguan tidur maupun gangguan emosi menurut deagonis dokter pribadiku yang membuat kemampuan berpikir maupun ingatanku menurun. Saat dinyatakan aku terkena delirium, ibuku sudah mulai membatasi kegiatanku agar penyakitku cepat sembuh walaupun dia sangat tak senang dengan keadaanku yang sekarang namun dalam dirinya dia khawatir dengan keadaaku saat itu. Sedangkan ayahku merasakan kekecewan yang mendalam terhadap diriku. Dia mulai membatasi jarak denganku dan saat itu juga dia selalu membanding-bandingkan aku dengan kakakku Annisa.


Hanna dengan ibunya, hubungan mereka membaik berbanding terbalik dengan ayahnya. Ibunya merasa bersalah atas prilaku terhadap anak-anaknya. Namun ayahnya masih saja ingin memuaskan keinginan terhadap Hanna maupun Annisa. Hanna dan Annisa masih akrab seperti biasanya. Selalu bercerita tentang kehidupan mereka masing-masing. Hanna pun saat itu sudah kelas 2 SMP.


Maret, 2015 th. Saat pulang sekolah Hanna akan pergi terapi seperti biasanya untuk penyembuhan penyakitnya itu. Awalnya Hanna akan berangkat sendiri ke dokter. Namun kak Annisa sangat ingin menemaniku kesana.


Kak Anisa saat itu kelas 3 SMA dia diambang dengan aturan-aturan ayah untuk menjalani hidupnya sesuai keinginan ayah kami itu.


Mobil pribadi ayahku yang selalu menjemput kak Annisa sudah terlihat. Aku langsung masuk ke dalam mobil tersebut.


Aku memandang ke jendela. "Hujan."


"... Kak, makasih yah udah mau nemenin aku." Hanna memeluk erat kakaknya itu.


Senyum terukir di wajah Anisa. "Hanna?"


"Iyah, Kak?"


"Kamu tahu kakak sebentar lagi mau lulus. Kalau kakak udah lulus ayah bakal kirim kakak ke luar negeri." Pembicaraan mulai serius. "Kalau kakak nanti nggak ada, kakak nggak selalu ada disamping kamu, Hanna. Kakak mau kamu jalanin hidup sesuai keinginan kamu sendiri."


Hanna mendengarkannya. Pembicaraan ini seperti pesan terkahir dari kak Annisa untuknya. Bahwa kali ini Hanna harus siap apapun yang akan terjadi jika kak Annisa sudah tidak disampingnya lagi setiap saat.


Disaat Hanna terpuruk, disaat Hanna sudah mulai rapuh dengan keadaannya, disaat lelah, sedih, marah, maupun bahagia yang menghampirinya.


"Cari kebahagian kamu ya," ucapan terakhir yang membuatku semangat untuk bahagia.


Tapi.


Tapi.


TIIIINNNN.... BUGH...


Hosh!


Hosh.


"K--kak...."


BRUKKK!!!


Saat itu mobil mereka pun kecelakaan, truk menubruk mobil mereka dari dari arah samping sampai mobil mereka terguling. Dan disanalah nyawa Annisa sudah tidak bisa tertolong. Hanya Hanna yang masih terselamatkan. Supir dan Annisa meninggal di tempat kejadian.


Hanna dipersalahkan oleh ayahnya dengan kejadian yang merenggut nyawa kak Annisa. Ibunya bersedih dengan kehilangan anaknya begitu juga ayahnya. Kak Annisa adalah anak kesayangan mereka berdua yang selalu dibangga-banggakan olehnya, kak Annisa yang penurut yang akan menjadi penurus mereka.


Hanna berpikir kenapa bukan Hanna saja yang mati.


Hanna yang hidup akan membuat kedua orangtuanya selalu kecewa, tidak akan memberikan kebahagian untuk mereka dibanding dengan kakaknya yang justru sebaliknya. Dan saat kematian kak Annisa. Hanna beranjak pergi dari rumah di saat hujan deras di malam hari. Back to Prolog.



Kedua orangtuanya tidak mempedulikan Hanna, Hanna tidak disayang seperti dulu kala. Mereka ingin Hanna tidak ikut dengan mereka berdua. Karena mereka mempersalahkan kematian Annisa kepadanya juga tentang apapun.


Hanna benar-benar sedih, ia ingin pergi jauh dari mereka. Yang akhirnya ayah yang menerimanya walau dia tak ingin sebenarnya.


Hanna tinggal bersama ayahnya.


2 bulan dari perceraian, ayah Hanna menikah kembali. Dia menikah dengan seseorang yang sudah mempunyai anak perempuan. Anak itu bernama Bella, berumur sama dengan kak Annisa. Ibu tirinya berprilaku tak baik kepada Hanna, dia mengabaikan Hanna jika sedang bersama.


Namun anaknya, Bella sangat baik terhadap Hanna. Hanna merasakan kehadiran kembali kak Annisa dengan adanya dia. Keadaan prilaku kepada Hanna masih sama seperti dahulu. Bella menjadi anak kesayangan ayahnya karena Bella anak penurut persis seperti almarhum kak Annisa. Dan Hanna sebagai anak kandung sendiri diacuhkan olehnya.


Karena suatu permintaan oleh istri barunya, ia sangat ingin tak mau bersama Hanna karena Hanna dianggap sebagai pembawa sial. Ia ingin Hanna pergi sangat jauh. Hanna berpikir apa kesalahan dirinya terhadap istri baru ayahnya.


Hanna selalu diam dengan kebencian yang diberikan oleh keluarganya tersebut.


Ayah, ibu tiriku, juga kak Bella pindah rumah karena kemauan ibu yang tak ingin bersamaku, melihatku. Akhirnya aku tinggal disini, di rumah yang dulu sendirian.


Walaupun begitu Bella selalu mengunjungi Hanna selalu memastikan apa dia baik-baik saja tanpa sepengetahuan aya dan ibu. Karena jika tahu Bella sering kemari maka akan menimbulkan permasalahan.


Aku selalu menunggunya setiap harinya. Menunggunya terus menunggu kedatangannya. Keadaan menjadi janggal. Beberapa hari ini Bella tidak mengunjungiku lagi. Aku mulai terpenguru kembali. Aku mencari tahunya, setelah aku memberanikan diri untuk datang ke rumah ibu. Walaupun aku disana tidak diterima sama sekali olehnya. Aku pun bertanya tentang keberadaan Bella. Ibu memberitahuku bahwa Bella sudah lama tinggal di luar negeri.


Mendengar hal itu aku merasa sedih, kak Bella sama sekali tidak memberitahuku. Kak Bella sudah tidak mempedulikan aku lagi sama seperti kedua orangtuanya. Aku marah, sedih, rindu dengan kak Bella.


Dan sekarang kak Bella tiba-tiba muncul di hadapanku sendiri selama bertahun-tahun dia meninggalkan aku sendirian disini sesampainya saat ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mataku mulai mengeluarkan tangisan karena adanya kak Bella disini. Mengingat masa lalaku yang sangat buruk yang ku alami. Membuatku menjadi-jadi dengan tangisan yang ku buat. Kak Bella memeluk dengan erat, dia pun ikut menangis. Dia terus menurus meminta maaf kepadaku atas kesalahannya. Dan aku hanya diam dan menangis.


...****************...


Suasana sekolah. Disini Gina, Oni,  Afra tanpa adanya Hanna. Mereka membicarakan Hanna karena pesan yang dikirimkannya. Mereka sangat khawatir dengan keadaan Hanna sekarang.


"Kamu serius Fra?" tanya Oni.


"Iyah liat ajah ini." Afra memberikan handphone miliknya.


Bahwa pesan yang dikirimkan oleh Hanna benar adanya.


"Perasaan Hanna gimana yah bertahun-tahun nggak ketemu sama kak Bella tanpa kabar sama sekali?" tutur Gina. "Gue khawatir."


"Denger dari ceritanya sih, walaupun dia marah, sedih tapi dibenaknya masih sayang sama kak Bella walau kakak tiri," timpal Oni.


"Yang pasti Hanna pasti rindu sama kakaknya itu," lanjut Afra.


"Semoga aja Hanna baik-baik aja." Gina berdoa untuk keadaan Hanna sekarang.


Mereka bertiga sudah tahu dengan permasalah yang terjadi dalam hidup Hanna selama ini. Walau belum tentu kami mengetahui semuanya, Hanna hanya bercerita saat situasi yang tidak terduga-duga.


Satu persatu kami pun mengetahuinya baik melalui Hanna sendiri dan teman kecilnya. Kedua orangtuanya yang bercerai. Keduanya yang selalu mengatur hidup Hanna. Hanna yang dipersalahkan atas kematian kak Annisa. Penyakit yang dideritanya. Ayah dan ibunya yang tidak menerima dan membuang Hanna. Dan sekarang oleh ibu tirinya juga.


Walaupun kami selalu menyebut-nyebut Hanna pelupa, Hanna sama sekali tidak marah. Memang keadaannya benar. Kadang-kadang mereka selalu menemani Hanna untuk menjalankan terapi kembali.


Dulu Hanna berhenti melakukannya. Yang membuat dia ingin menjalankan lagi karena dorongan dari sahabatnya itu. Mereka menjadikan Hanna kembali sebagai orang yang kuat, sabar, dan ceria kembali.


Mereka ingin Hanna membuktikan bahwa Hanna akan tubuh dengan baik, sukses, tanpa orangtuanya itu. Dan membuat orangtuanya menyesal atas perbuatan mereka kepada Hanna.


Dan kami tidak tau perasaan macam apa yang dirasakannya. Yang terpenting dia sangatlah kuat.


..."Bohong kalau aku mengatakan aku tahu perasaanmu. Namun aku tahu bahwa kau sangatlah kuat"...


...- Afra Mafaza -...


...🦄🥀☔...


...Bersambung ......


...________________...


...Rilis 17/01/20...


...Revisi 14/07/20...