Diary Of A School: Me And Yu

Diary Of A School: Me And Yu
BAB 12 Terlambat Mengetahui (2/2)



Di lapangan kami berkumpul melihat murid yang sedang bermain basket. Kami duduk di tempat penonton di sekitar sana. Sambil memakan makanan yang kami bawa. Oni sangat serius menonton murid laki-laki yang bermain basket bersama Gina sambil membicarakan laki-laki yang berada di depan mereka. Dan diikuti oleh Afra dan Hanna. Hanna sambil melirik buku yang dipeganginya.


"Tuh liat ganteng banget, kan." Dengan memancarkan cahaya pesonanya terhadap orang yang dipuji yang sedang melakukan shout bola ke ring.


"Iyah juga sihh On, tapi nih menurut gue mendingan dia lebih cerah. Senyumannya itu loh," sahut Gina memilih orang yang berbeda dari Oni.


"Tuhh liat wahhhh."


Orang yang dipujinya itu tersenyum lebar disana bersama teman mainnya. Mereka berdua masih berlanjut dengan obrolannya yang memilih murid laki-laki yang menurut mereka tampan maupun lebih keren.


"Nggak ada bedanya mereka sama-sama mirip." Dengan datarnya Afra menjawab pembicaraan mereka. Yang saking sudah kekehnya.


"Jelas beda Afra." Gina dan Oni bersamaan menjawab.


"Nggak asik ah," sindir Oni.


Dan Hanna tersenyum menggelengkan kepalanya dan kembali fokus kepada buku yang dipegang. Tapi ia memikirkan hal yang terjadi kemarin.


"Yang lainnya mana? Lo joging sendiri?"


"Ya." Dengan singkat dia menjawab.


"Lo kenapa sih? Sakit? Padahal malem tadi lo ga kenapa-kenapa deh," sahut Hanna sambil memegang dahinya. Pada saat itu juga seseorang memanggil diriku dari belakang.


"HANNA ..." teriak seseorang.


Ternyata mereka teman-temanku. Dan aku pun terkejut. Seseorang yang berada di sisiku ada di depanku. Aku langsung terkejut melihat ke arahku dan kembali melihat ke depanku.


"Fauzi? Lo? Ko-kok ada bisa ada dua?" tanyanya dengan terkejut.


Hanna terus mengingat kejadian kemarin dan mengira ketika bertemu dengan sosok Fauzi yang berbeda, dia mengira kembaran Fauzi adalah memang Fauzi karena dia tidak tahu. Dan ternyata itu adalah Fauzan saudara kembarnya, itu pasti dia. Tak heran bila ia mulai dekat, mengenal Fauzi sering mendengar atau samar-samar menyebut nama Fauzan, yang ia tidak tahu, karena menurut Hanna Fauzi memang sedang mengobrol. Dengan sebutan lain mungkin?


Nyatanya Fauzi yang ia kenal baru-baru ini mempunyai kembaran. Mereka sangatlah mirip tak jauh berbeda walau hanya gaya maupun sikap mereka berbeda.


"Walaupun mereka kembar mereka jauh beda. Yang satu kakaknya Fauzi, dia kayaknya baik, humoris, yang pasti dia selalu senyum yah nggak?" terang Gina orang yang dari awal ia puji adalah Fauzi.


Oni mengangkat alisnya. "Yap, sedangkan sang adik walau keliatannya dingin justru jadi keren, cool. Hahahah." Sambil memandang orang yang dipujinya yaitu Fauzan. "Dan lo Hanna."


Hanna langsung menoleh dan mengangkat alisnya untuk bertanya.


"Lo murid mana sih? Dari dulu lo baru kenal sama mereka." Oni menggelengkan kepalanya tak percaya bahwa temannya itu terlalu cuek dan pelupa.


"Gue lupa-lupa inget sama namanya atau mungkin sama orangnya juga." Membela dirinya.


Mereka mendengus karena sikap Hanna yang terlalu. "Ohiyah lo udah bilang makasih belum sama dia?" tanya Gina.


"Dia siapa?" tanya Hanna.


"Fauzan," jelasnya.


"Fauzan? Urusannya apa gue harus bilang makasih? Aneh deh kalian ini," lirih Hanna.


"Tuh kan ni anak harus di ruqiyah dulu baru ilang penyakit lupanya," sahut Oni.


"Fra nanti bawa si Hanna ke kakek lo tuh," lanjutnya.


Afra memberikan jari jempolnya. "Beres."


"Gue kan udah pernah bilang, lo pingsan gara-gara Fauzan, dia juga yang nungguin lo beberapa jam lo nggak bangun-bangun."


Hanna terkejut.


Aku kira setelah beresnya kegiatan camping tidak akan lagi berurusan dengan Fauzi, namun ternyata tidak. Aku akan berurusan kembali apalagi yang dikatakan oleh yang lain, tentang kembaran yaitu Fauzan.


Kehidupan ku mungkin akan sedikit berubah dengan kedatangan mereka, orang-orang baru yang mulai muncul dalam kehidupanku karena dari dulu temanku hanya sahabat-sahabatku itu; Gina, Oni, Afra, Aji, Tyo, dan Nasrul.


"Han," panggil seseorang.


Membuat mereka semua menoleh pada suara tersebut.


"Aji?" Hanna melihat Aji melambai-lambai tangannya, menyuruh untuk datang menemuinya.


"Guys gue ke sana dulu," pamit Hanna.


Mereka hanya mengangguk untuk membiarkan Hanna pergi menemui Aji. Seluruh sekolah sudah tahu dan tahu tentang hubungan mereka yang seperti saudara kandung. Tetapi pada awalnya mereka mengira bahwa mereka sedang berpacaran.


"Kenapa Ji?" tanya Hanna yang telah sampai.


"Bantuin gue ngurusin daftar nama anggota. Gue puyeung nih, ayok."


Hanna baru saja berdehem sebagai penegasan. Dia tidak dapat menolak karena dia adalah sekretaris ekstrakurikuler dan belum pada hari pelengserannya. Sesampainya di ruang ekskul, ada seorang adik kelas 10 yang dia tahu adalah salah satu anggota ekstrakurikuler ini, Toro. Dia menyapa Hanna lebih dulu.


"Hallo kak Hanna."


Hanna hanya tersenyum, melambai tangan sambil hendak melepaskan sepatunya.


"Ehekmm cewek pikun," sindir seseorang dari arah belakangnya. Hanna membalikkan badannya untuk melihat siapa dibalik suara tersebut.


Ada dua siswi di tahun yang sama dengannya dan salah satunya adalah teman sekelas Hanna, namanya Karin. Tapi orang yang memanggil sindiran itu bukanlah dia tapi satu lagi pemimpin geng ThreeZ dari tingkat 3 yang dikenal sebagai geng yang turun menurun di sekolah ini, cukup buruk juga. Tapi tidak untuk menindas lebih kepada murid yang satu sekolahan. Mereka masih bersolidaritas satu sama lain.


Hanna hanya diam bukannya takut tapi malas untuk meladeni.


"Katanya lo makin deket sama Fauzi yah," sindirnya lagi. "Lo pacaran?"


Deket? Perasaan nggak deh.


"Nggak," tawar Hanna.


"Ck. Dasar kecentilan, semuanya aja lo babat cowok Baknus di sekolah ini."


Hanna menghela nafas kasar.


Toro adik kelasnya pun bangkit untuk memberitahukan kepada kakak kelasnya, Aji yang berada di dalam ruangan. "Bang... bang..."


"Hum? Ada apa?" tanya Aji fokus pada laptop. "Ah iyah Hanna mana? Kenapa belum masuk juga?"


"I-itu bang... Kak Hanna," gugup Toro.


"Di-di luar... ada geng ThreeZ ribut sama Kak Hanna."


"Tingkat berapa?" tanya Aji santai sambil beranjak dari duduknya.


"3. Ada Kak Karin sama Kak Tiara," terangnya.


Aji dan Toro segera bergegas keluar.


"Lo kalau mau--"


"Oy ada apa ni ribut-ribut disini?" tanya Aji. Ucapan Tiara yang ingin sedikit mengancam Hanna terhenti karena terpotong olehnya.


"Superhero lo dah dateng nih," sindir Tiara.


"Kalau mau ngusik orang jangan di sekolah dong. Dan lo juga ngelanggar aturan geng ThreeZ SMA Bakti Nusa," tegas Aji. "Bisa-bisa gelar ketua lo dicabut, dan lo akan dapet ancaman dari murid-murid sini."


Tiara pun mendengus kesal, dia kalah karena orang ini. Tanpa berkata-kata, dia pergi bersama temannya itu Karin. Tetapi Karin berbisik setelah Tiara pergi lebih dulu. "Han, maaf yah."


Hanna tersenyum angguk. Karin memang masuk ke dalam geng buruk sekolah ini. Tetapi dia tetap baik apalagi dengan urusan teman sekelasnya. Solidaritas masih tertanam.


"Lo nggak diapa-apain kan sama si Tiara?"


"Nggak, kok."


"Dia kenapa ngelabrak lo?"


"Nggak ada apa-apa," kilah Hanna. "Katanya lo minta bantuan sama gue. Ayok."


Aji pun hanya angguk tidak lagi membahas soal tadi. Tetapi hendak akan masuk lagi-lagi tertunda oleh sesuatu di luar sana. Suara keributan yang terdengar dari sini.


"Ada apaan?"


"Eh bang, Kak Hanna. Katanya di lapangan ada yang berantem," sahut Toro sambil melihat ponselnya mendapat pesan grup begitu ramai.


"Siapa yang berantem?" tanya Hanna.


"Dari tingkat 3. Ketua ThreeZ Bang Handika sama Bang Fauzan."


"Fauzan?"


Pada akhirnya mereka pun penasaran untuk melihat keributan di lapangan. Sudah ramai oleh murid-murid yang ingin menonton perkelahian tersebut. Hanna begitu terkejut melihatnya yang saling pukul memukul. Hanna dan Aji bertemu dengan teman-temannya disini.


"Hoy itu kenapa pada barantem?" tanya Aji.


"Bukannya tadi mereka pada maen basket," lanjut Hanna.


"Biasalah--"


"Padahal... ku selalu tersenyum..." Potong Afra dan Gina saling terkekeh menyanyikan lagu yang sedang viral. "BIASALAH."


"Lagi genting gini kalian malah bercanda," decit Oni.


Hanna dan Aji pun jadi aneh. Kenapa tingkah sahabatnya jadi saling tertukar. Gina dan Afra berhenti tertawa.


"Itu Handika nggak terima kalah sama Fauzan," lanjut Oni.


"Ji, buruan pisahin," pinta Hanna khawatir.


"Ih gue nggak berani nanti gue kenanya juga," timpal Aji.


"Ih dasar payah," ejek Hanna.


"Hei! Yaa! Kenapa pada ribut di sekolah! Hah?!" Bentak salah satu guru di sekolah ini yaitu Pak Raja. Perkelahian itu berhenti.


Hanna pun menjadi merasa lega.


"Kalian ini seperti tidak diajarkan bagaimana bersikap baik di sekolah ini," semburnya. Murid yang sedang ditegur itu hanya menunduk. Pak Raja lalu melihat sekelilingnya yang sudah ramai. "Apaan kalian ini? Bubar... Ini bukan tontonan."


Karena takut kena semprotan marahnya guru killer, semua murid pun bubar berhamburan kesana kemari. Hanna masih diam melihat ke arah di depan sana, matanya bertemu pemilik mata salah satu siswa disana, saudara kembarnya Fauzi yaitu Fauzan. Mereka saling memandangi hanya beberapa detik, pandangan mereka terlepas karena Hanna pergi mengikuti temannya yang sudah pergi lebih dulu.


...🦄🥀☔...


...Bersambung...


..._________________...


...Rilis 14/01/20...


...Revisi 09/07/20...


...🥀...


...Salam Kenal Nih dari si kembar...


...Fauzi Maevino dan Fauzan Maevino...


 


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Mampir juga ke cerita Author Aniedaa yang lainnya...


**1. Diary Of A School SERIES 1 : Me and Yu



Suara Rafasya & Ryana


Idol Friend's : Legendary Demos Oneiroir


Me and Yu : Maevino [ Saquel dari D'OAS Series 1** ]