Diary Of A School: Me And Yu

Diary Of A School: Me And Yu
BAB 52 Sunday Night



๐Ÿ™๏ธ๐Ÿ™๏ธ๐Ÿ™๏ธ


Malam telah tiba. Aji kembali untuk membawa Afra pulang ke rumahnya. Saat tiba, dia tidak sengaja bertemu dengan ibu Afra di halaman rumah bersama adik Afra. Yang pertama akan langsung pulang, tapi ibunya minta masuk dulu. Namun, Afra memberi isyarat untuk menolak ajakan ibunya. Namanya Aji, dia akan melakukan sesuatu yang tidak terduga. Apalagi yang terkait dengan Afra


Afra ada di dapur bersama ibunya memberikan minuman kepada tamunya, Aji. Ibu Afra menyenggol Afra, menggodanya dengan senyuman.


"Kenapa teteh nggak bilang kalau udah punya pacar?"


Teteh sebutan kakak perempuan dalam bahasa Sunda.


"Mah, Aji itu temen, bukan pacar teteh," gumam Afra sedikit kesal dan malu.


Afra tidak pernah memperkenalkannya, apalagi membawa pulang teman-teman prianya. Kecuali teman-teman wanitanya, Hanna, Gina dan Oni.


Aji sekarang berada di ruang tamu bersama adik Afra. Kakak Afra duduk di samping Aji dan menatapnya terus-menerus.


"Aa teh siapa?" tanya adik Afra dengan polosnya berlogat Sunda.


Aa sebutan kakak laki-laki dalam bahasa Sunda.


"Hallo..." sapa Aji tersenyum lebar. Meski dia lahir di Yogyakarta, ayahnya asli Jawa dan ibunya asli orang sini, Sunda. "Nama Aa Aji temennya Afra." Memberikan jabat tangan untuk berkenalan.


Tetapi, adik Afra masih menatapnya dengan tangan yang dilipat di dadanya. "Aa temennya Teh Afra?"


Aji mengangguk. "Iyah."


Tangannya masih dianggurkan.


"Nama adek siapa?" lanjut Aji.


"Karena aa temennya teteh, jadi aku bakalan kasih tau nama aku," jawab adik Afra, ia sangat berhati-hati.


Adik sama kakak sama aja. Dalam hati Aji tersenyum.


Melihat perilaku adik Afra, ia sangat berhati-hati dengan orang lain dan berpikir itu pasti didikan Afra untuk bisa berjaga diri.


Adik Afra akhirnya menerima jabatan salam itu. "Dea. Deidi DeAda. DEA."


Aji sedikit menahan tawa, karena adik Afra lucu. "Halo Dea."


Kemudian Afra dan ibunya datang. Melihat Aji dan adik Dea sedang saling berkenalan.


"Nak Aji maaf nunggu lama yah?" ujar Siti.


"Enggak kok, tante." Aji senyum


Afra meletakkan minuman di meja sambil mengatakan sesuatu pada Aji. "Setelah minum lo langsung pulang."


Mendengar hal itu ibunya langsung menegurnya. "Eihhh teteh ini, mamah kan yang nyuruh Aji mampir dulu."


"Udah malem mah, kasian," kilat Afra.


Isyarat untuk mengusir.


"Besok kan harus sekolah. Yah kan Aji?"


Menekankankan perkataannya.


Aji tersenyum kikuk.


Melihat sang adik masih ada di sini, Afra pun menyuruh sang adik segera tidur karena sudah larut malam.


"De sekarang kamu masuk kamar ya udah malam kamu harus tidur."


"Ade nggak mau tidur dulu, A Aji nya kan belum pulang," tolak Dea.


Afra pun memandang Aji dengan tatapan membunuh.


"Ahh ... yah tante saya langsung pamit pulang. Lagian udah malem juga," pamit Aji beranjak dari duduknya.


"Tuh A Aji nya mau pulang, sekarang ade ke kamar, tidur," pinta Afra.


"Yah yah teteh yang... GA... LAK ...." teriak Dea dan langsung berlari untuk menghindari amukan kakaknya. "A Aji dadahhhh..."


Aji mendengar hal itu dan sumringah. "Dadahhh Dea....."


Afra sedikit tersenyum melihat kelakuan Aji dan adiknya itu. Baru juga bertemu.


"Tante, saya pamit yah. Assalamu'alaikum." Aji memberi salam pada ibunya.


"Wa'alaikumsalam. Lain kali mampir lagi yah," kata Siti.


Aji tersenyum senang dengan ajakan tersebut. "Pasti tante."


Afra mendorong-dorong tubuh Aji untuk cepat pergi. Afra mengantarkan Aji ke depan.


"Adik lo lucu yah," ungkap Aji tiba-tiba sembari mengambil helmnya. "Tapi, kenapa tetehnya galak amat." Kalimat terakhir yang keluar tanpa dicerna terlebih dahulu.


Afra memukul Aji membuat Aji terkejut. "Udah sana pulang."


"Yahyah." Dia pun menaiki motornya, dan menyelakan mesin. "Gue balik yah."


Tetapi motor itu belum melaju sama sekali.


"Kenapa belum jalan juga?" ketus Afra.


"Nggak ada ucapan atau kata-kata buat gue gitu sebelum gue pergi?" tanya Aji meminta harapan.


"Nggak."


Singkat, padat, jelas.


Aji membuang nafas mengingat kembali saat di pameran, Afra banyak bicara dan saat ini ia kembali lagi menjadi super jutek.


Dengan perasaan sedih. "Yaudah deh gue balik yah." Motonya pun melaju sedikit.


Namun, "Makasih untuk hari ini."


Seketika motor Aji terhenti mendengar hal tersebut. Terlintas ia tersenyum bahagia, membalikan arah untuk melihat Afra yang berada di belakangnya.


Terlihat disana Afra tersenyum dan langsung beranjak pergi masuk ke dalam rumah.


Aji sangat merasa bahagia saat ini. "Yesss. Lampu hijau nih."


Sebuah harapan menjadi lebih percaya diri.


...****************...


Ternyata Gina dan Nasrul baru saja pulang. Mereka berjalan menuju jalan rumah Gina. Dalam perjalanan mereka mengobrol dan bercanda. Gina semakin tidak canggung dengan Nasrul jika hanya berdua dan itu membuat Nasrul senang.


"Gina."


"Yah?"


"Gue mau tanya, kalau kita pisah karena beda kampus lo bakalan sedih nggak kayak Tyo sama Oni?"


"Pastinya. Gue juga ikut sedih lihat Tyo bakalan balik ke Jerman."


Jawaban Gina tidak diharapakan oleh Nasrul.


"Jadi kalau gue sama lo beda kampus ataupun sama yang lainnya pun gue bakalan ngerasa sedih," lanjutnya. "Mungkin kita bakalan jarang ketemu. Bukan mungkin. Pasti."


Nasrul terdiam mendengar itu. Sebenarnya Nasrul menanyakan hal itu ingin tahu apakah Gina memiliki perasaan yang sama dengannya.


"Em.. jadi kalau pisah sama gue sedih juga?" tanya Nasrul.


Gina mengangguk.


"Jadi lo anggap gue berharga?" tanyanya lagi.


Membuat Gina segera menoleh dan bertanya-tanya apa artinya ini. Berharga. Gina masih menatap Nasrul sedangkan Nasrul menunggu jawaban apa yang akan dikatakannya.


Karena hanya berdiam dan tidak berkata.



Nasrul melakukan sesuatu yang membuat bola basket yang ada digenggaman Gina berpindah pada dirinya. Dan sontak membuat Gina terkejut. Nasrul hanya tersenyum dan melanjutkan kembali langkahnya.


Gina masih berdiam belum beranjak.


"Apa yang dimaksud lo itu perasaan?"


Nasrul menyadari bahwa Gina tidak ada di dekatnya. Dia menoleh ke belakang.


"Gina .. kenapa diam aja?"


"Ah, iyah."


Gina pun tersenyum menyusuli Nasrul.


...****************...


Fauzi baru saja membeli obat untuk ibunya dari apotek. "Makasih, Mbak." Setelah selesai, ia segera masuk ke dalam mobil untuk pulang.


Malam di hari Minggu untuknya biasa-biasa saja. Padahal sebenarnya dia sangat ingin bertemu dengan Hanna, mengajaknya keluar sekedar mengobrol di taman komplek. Tapi dia memikirkannya kembali. Kenapa malah dirinya yang mendapat perasaan seperti ini juga? Merasa bersalah padanya. Tembok pemisah semakin tinggi untuk kami.


Mobil berhenti karena lampu merah. Awalnya ia tidak menyadari, tapi saat ia melihat nama jalan ini, bayang-bayang masa lalu muncul dalam ingatannya.



Pucat.


Dia melihat dan menyaksikan langsung kejadian tersebut dan segera menolong mereka, begitu juga dengan orang-orang di sana. Fauzi ketakutan, melihat darah itu membuatnya gemetaran menjadi pucat.


Dan disini lah dia mendapat pobia darah.


Tin!! Tin!!


Suara klakson dari mobil lain membuat Fauzi tersadar dari ingatan masa lalunya. Lampu sudah hijau segera ia melajukan mobilnya.


...****************...


Di depan rumah Oni, terlihat seorang pemuda yang masih duduk di atas sepeda motornya. Tidak ada yang salah dengan dia adalah Tyo. Dia sedang menunggu Oni โ€‹โ€‹keluar dari rumah dan akhirnya Oni terlihat oleh matanya. Tyo tersenyum dan beranjak dari motornya.


Oni datang dengan mulut yang menguap. "Hwaa.." Sembari menutupi mulutnya yang terbuka lebar. "Ada apa sih malem-malem dateng ke rumah gue? Ngantuk nih."


"Gitu amat sama temen sendiri," sindir Tyo.


"Lagian lo... udah ganggu tidur gue," cicitnya.


Tyo terdiam dan berpikir sejenak. Tyo memikirkan sesuatu tentang hubungannya dengan gadis ini, Oni.


"On."


"Hem?"


"Will you be my lover?"


Oni yang selama ini mengantuk tiba-tiba menyadari kalau matanya membulat karena terkejut mendengar ucapan Tyo.


"No kidding!"


Namun tatapan Tyo tampaknya serius. "Gue serius On. Lo mau jadi pacar gue?"


Oni tertawa kakuk dengan perkataan Tyo. "Hahaha HAHAHAH lo ngajak gue pacaran dan setelah itu lo pergi jauh ke Jerman dan ninggalin gue?"


Tyo memegang tangan Oni. "I do not want to lose you."


"Kalau lo nggak mau kehilangan gue, apa lo mau tetep stay di sini dan nggak ninggalin gue?"


Tyo berdiam.


Dengan diamnya Oni tahu jawabannya. Dia pun melepaskan genggaman Tyo yang ada pada tangannya.


"Lo nggak bisa kan?" putusnya. "Gue nggak mau ngalamin apa yang ibu gue rasa, dikhianati sama bokap gue dan gue sakit hati Yo, karena itu... karena itu apalagi saat itu tiba, keberadaan lo jauh dari gue. Kesetiaan itu apa masih tetep ada? Apa lo maupun gue bisa mempertahankan hubungan kita nanti?"


Tyo masih terdiam tak berdaya mengatakan sesuatu


"Maaf Tyo gue nggak bisa nerima perasaan lo. Gue nggak yakin dengan hubungan itu."


Oni pun langsung beranjak pergi meninggalkan Tyo yang masih terdiam mematung.


Kali ini Tyo membisu tidak dapat membalas perkataan Oni.


"You're stupid, Tyo! Stupid! Lo bodoh." Mengumpat untuk dirinya sendiri. "Kenapa lo egois Tyo!!"


Nafasnya tidak teratur dengan rambut yang berantakan.


"Gue kira kalau gue nyatain cinta sama lo, lo bakalan seneng lagi."


Tapi kenyataan tidak.


...****************...


Kediaman rumah Aji.


Aji baru saja sampai di rumah melihat Hanna yang tengah asik menonton, dia pun berusaha untuk mengejutkan.


"Hoiii."


"Baru pulang?" tanya Hanna dengan nada mengejek yang sedang duduk sendirian menghadap layar televisi yang menyala.


Nyatanya Hanna tidak terkejut.


"Yaaa kirain bakalan kaget," putus Aji memelas.


"Oh lo mau ngagetin gue?" Sedikit terkekeh. "Gue kira nyapa. Yaudah ulangin lagi."


Aji berseri lalu kembali berjalan mundur lalu....


"DORR...!!--"


"--AAaaAaah duh... kagetnya.."


Hanna berusaha untuk terkejut.


Acting yang bagus. Good job.


Aji terlihat senang lalu menjatuhkan tubuhnya di sebelah Hanna.


"Gimana seneng nggak?" Hanna bertanya sambil mencicipi cemilan.


"Yoaaah seneng, laaaah pergi sama gebetan."


Hanna menggeleng sambil berdeham senyum.


Aji pun menceritakan apa yang dia dan Afra lakukan bersama. Kecuali tentang dimana Afra dan Hanna sudah lama saling mengenali.


Aji pun menceritakan apa yang dia dan Afra lakukan bersama. Kecuali tentang di mana Afra dan Hanna sudah saling kenal sejak lama. Afra meminta agar Aji untuk merahasiakan hal itu padanya karena Afra ingin, mereka berdual ah yang saling mengingat, bukan karena orang lain. Aji berjanji merahasiakan itu.


"Gue kepikiran, lo kan mau pergi ke luar negeri. Kenapa lo malah makin deket sama Afra?" Hanna khawatir terhadap hubungan mereka. "Awas aja lo php'in sahabat gue." Hanna tiba-tiba memberi kepalan tangan terhadap Aji.


"Hei slow girl." Aji merasa takut seketika sambil cengengesan "Gue tahu. Tapi gue mau punya kenangan sama orang yang gue suka, Han. Sebelum gue berangkat."


Hanna menjitak kepala Aji yang benar-benar bodoh. "Itu namanya lo beri harapan palsu OON!"


Aji mengerucutkan bibirnya kesal.


"Kalau lo cuman suka-sukaan doang, mending lo nggak usah dilanjutin," sambung Hanna memberi nasehat karena masalah ini karena menyangkut tentang sahabatnya.


"No... No NO!"


Tolak mentah-mentah oleh Aji.


"Gue serius sama Afra, Han. Gue nggak niat buat PHP in dia, setelah gue sadar gue punya perasaan sama Afra dan gue juga nggak nyangka ternyata gue bakalan ke luar negeri."


"Terus udah ginih gimana? Mau tetep lanjut?"


"Setelah kelulusan nanti gue bakalan nyatain perasaan gue sama Afra," ungkap Aji.


"Kalau lo ditolak karena lo pergi jauh atau emang Afra nya nggak cinta sama lo gimana?"


"Nggak masalah. Buat sekarang yang penting gue udah nyatain cinta dan gue nggak akan pernah berubah sedikit pun soal perasaan gue sama dia," jawab Aji kembali meyakinkan.


Hanna tidak bisa berkata-kata dengan orang yang sedang jatuh cinta dan berharap Afra juga memiliki perasaan yang sama. Harapannya Afra tidak merasa sedih karena kepergian Aji untuk melanjutkan studi ke luar negeri.


"Na..."


"Um?"


"Lo yakin nggak bakal ikut gue?"


"Ikut kuliah di Belanda kayak lo?"


Aji angguk.


"Kasih waktu buat gue nemuin apa yang gue impikan. Setelah itu, gue akan kasih tahu apa keputusannya."


Aji tersenyum lalu mengusap rambut milik Hanna.


...****************...


Bersamaan kembalinya Si Kembar ke rumahnya. Fauzan melepaskan helmnya lalu mengarah untuk melihat Fauzi yang keluar dari mobilnya.


"Darimana?"


"Harusnya gue yang nanya lo habis darimana?"


Suara Fauzi berbeda.


"Gue cari angin."


Bohong.


"Lo nggak bisa bohong sama gue. Lo itu gue."


Fauzan masih tetap diam hendak pergi namun dihalangnya oleh Fauzi. "Cerita sama gue..."


...๐Ÿฅ€...


...Rilis 20/05/2020...


...Revisi 07/08/2020...