
Pergi ke sekolah lalu melakukan aktivitas seperti biasanya. Namun kali ini Oni tidak bisa masuk sekolah karena harus menjaganya ibunya di rumah sakit. Waktu telah berlalu hari ini, sekolah sudah bubar ketika Hanna, Gina, dan Afra akan kembali menjenguk ibu sahabatnya.
"Lo mau ikut, Fra?" tanya Gina.
Afra angguk sambil membenah alat tulisnya.
"Latihan basket lo gimana?" Kali ini Hanna yang bertanya.
"Latihan, kok. Tapi, gue mau liat dulu keadaan Oni sama ibunya," terang Afra.
Hanna tersenyum begitu juga dengan Gina. Afra sahabat terbaik.
"Yaudah, ayok," ajak Gina.
"Eh bentar-bentar," sahut Hanna yang mendapat notif pesan. "Oni ngirim pesan, kita disuruh ke alamat ini." Hanna memperlihatkannya.
Oni mengirimi pesan untuk segera pergi ke alamat yang telah ia beritahukan. Meski kami bingung apa yang akan Oni lakukan itu. Segera kami berangkat untuk mencari tahu.
...****************...
Oni sedari tadi memantau gerak-gerik ayahnya sampai ke kantor. Dia begitu kecewa padanya, padahal ibu sedang dirawat tapi ayahnya sama sekali tidak menjenguk ke rumah sakit.
Akhirnya ayah Oni telah keluar dari kantor sambil berteleponan entah dengan siapa tampak senang. Ia pun menaiki mobil dan melaju pergi.
Oni mengejar berlari mengikuti mobil ayahnya, gagal. Dia kelelahan mengatur nafasnya.
Bim! Bim...
Sebuah Oni kenali menyembunyikan klaksonnya.
"Oni lo ngapa--"
Oni tergesa-gesa masuk ke dalam mobil. "Fra, Fra buruan ikutin mobil ayah gue."
Bingung. Tapi, kami mengikuti arahannya.
Mobil milik ayah Oni berhenti di depan sebuah rumah yang lumayan besar. Kami bertanya-tanya rumah siapa itu? Dengan mudahnya, ayah Oni langsung masuk tanpa seizin pemilik rumah. Oni sendiri tidak tahu tentang rumah tersebut. Kami terus memantaunya. Tak lama kemudian, ayah Oni akhirnya kembali tapi tidak sendiri. Dia bersama seorang wanita yang terlihat lebih muda dari ibunya Oni dan juga menggendong seorang gadis kecil.
"Siapa perempuan itu?"
"Gimana nih mereka mau cabut lagi," kilah Gina.
Oni tanpa berpikir panjang langsung turun dari mobil.
"On..."
"Lo mau kemana?"
Oni langsung menghampiri ayahnya dengan murka.
"Ayah...!!"
Ayah dan seseorang yang bersamanya segera menoleh ke arah Oni. Raut wajahnya kaget saat melihat Oni oleh ayahnya.
"Olla? Ngapain kamu disini?"
"Siapa dia ayah?" batin Oni berusaha tidak mengeluarkan air matanya.
Ayahnya masih terdiam dan tak menjawabnya.
"Aku bilang dia siapanya ayah?" ulangnya.
Pada akhirnya Oni tidak bisa menahan tangisnya.
"Olla dengerin ayah. Perempuan yang di samping ayah ini... ibu tiri kamu."
Ayahnya merasakan kegugupan terhadap Oni.
"Ibu tiri?" geramnya. Keluarlah air mata Oni yang langsung membasahi pipinya.
"Iyah, Nak. Ayah menikah lagi dan ibumu sudah tahu tentang ini."
DEG! Seketika Oni sedih, kecewa, dan ingin marah. Rasanya sakit sekali mendengar hal itu. Ibunya sudah tahu tentang ini dan Oni sendiri tidak diberitahunya.
"Ayah udah nggak sayang lagi sama ibu? Sama Olla? Ayah lebih mentingin dia daripada Olla sama ibu? Hiks... Hiks..."
"Maafin ayah, Olla."
"Kenapa, Yah? Kenapa? Apa karena perempuan ini lebih kaya?" decak Oni.
"Jaga bicaramu Olla!!" Bentaknya.
Oni sangat terkejut dengan bentakan ayahnya itu terhadap dirinya. Ayahnya pun ikut terkejut dengan apa yang dia lakukan.
"Olla .. Ayah tidak bermaksud membentak mu. Maafin ayah."
Oni masih terdiam dengan tangisan demi tetes. "Maaf?" Tersenyum dengan paksa dan menepis lengan ayahnya dari tubuh Oni.
Oni pun langsung beranjak pergi dari sana dan tidak mengatakan apa-apa lagi.
Ayahnya pun tidak mengejarnya.
Oni masuk ke dalam mobil. "Jalan." Dan langsung menyuruh kami untuk pergi dari sini. Afra pun langsung menancapkan gas mobilnya dan pergi dari sini.
..."Terkadang kebeneran akan pahit jika diketahui. Dan kau harus siap apapun resikonya"...
...- Olla Nabila -...
...****************...
Dinginnya malam menemaniku saat ini. Kesedihan dan rasa syukur yang ku terima bersamaan. Mungkin Tuhan memperingatiku bahwa kesedihan yang kuterima ini ada hal yang harus disyukuri karena dengan ini kita tahu bahwa banyak orang yang akan disampingku menyayangiku lebih.
Oni duduk di taman rumah sakit. Melihat langit-langit malam tanpa ada bintang yang bersinar di atasnya. Dan dari situ tidak lama kemudian Tyo datang duduk di sampingnya.
"Maaf." Ucapan pertama yang terlontar dari mulut Oni. "Gue udah bikin khawatir kalian semua. Hanna, Gina, Afra, Aji, termasuk lo Tyo. Dan-"
Tiba-tiba Tyo langsung memeluk Oni yang merasa kesedihannya mulai menghampiri kembali. Oni pun menangis.
"Kenapa jadi terbalik? Seharusnya gue yang ada disamping lo, gue yang bantu lo dari masalah."
" ... Kenapa? Kenapa jadi ginih?" Isak tangis terus terdengar.
Tyo berusaha menenangkan Oni di pelukannya. "If you are sad I am sad too. You are happy I will be happy too. You are very, very valuable."
Kata-kata Tyo membuat hati Oni terasa amat sangat tenang. Oni melepaskan pelukan Tyo.
"Walaupun keluarga kamu terpecah tapi inget satu hal. Di dunia ini masih bayak yang sayang, peduli sama kamu." Sambil mengusap air mata Oni. "Including me."
Begitu nyaman yang dirasakan oleh Oni.
"Dah jangan nangis lagi, nambah jelek," kekeh Tyo.
"Ish!" Oni memukul Tyo.
......................
Oni dan Tyo pun kembali. Mereka masuk dan melihat ibunya masih berbaring dan belum siuman. Disana hanya ada Hanna.
"Yang lain kemana?" tanya Tyo.
Dan Oni duduk disamping ibunya yang tengah berbaring. "Mereka pulang?"
"Iyah Oni. Tadi, kita ngehubungin lo nggak aktif, Tyo juga," kata Hanna melirik ke Tyo. "Afra nganterin Gina pulang, dia harus nemenin neneknya."
"Kalau Aji?" tanya Tyo.
Yap. Aji pun datang kemari untuk melihat kondisi Oni dan ibunya. Apalagi kabar yang menyakitkan untuk Oni bahwa ayahnya berselingkuh dan telah menikah lagi. Mereka begitu khawatir padanya.
"Dia nemenin Afra katanya udah malem takut kenapa-kenapa. Besok pagi mereka balik lagi ke sini," tutur Hanna.
"Modus tuh anak," sindir Tyo.
Hanna mengkode kepada Tyo apakah Oni sudah jauh lebih baik. Tyo pun menganggukan kepalanya.
"Kalian juga harus pulang biar gue sendiri disini nemenin ibu. Besok juga kalian harus sekolah," ucap Oni.
"Nggak papa, aku bakalan nemenin kamu disini jagain tante," sahut Tyo.
"Iyah aku juga bakalan nemenin kamu disini," sambung Hanna mengulang perkataan Tyo untuk meledek dengan kata 'kamu-aku'.
Tyo mendengarnya kesal dan Hanna dengan senang hati tertawa.
"Gue disini yah, di rumah juga nggak ada yang nyariin ini. Hehehe," lanjut Hanna untuk mencairkan suasana.
Karena disini Hanna memang tinggal sendirian di rumahnya itu.
Oni menganguk senyum. Senang mendengarnya.
......................
Tyo dan Hanna ikut menemani Oni di rumah sakit. Oni dan Tyo telah terlelap, sedangkan Hanna dia masih terjaga dalam tidurnya, dia memutuskan untuk keluar mencari suasana. Berjalan-jalan di sekitar Rumah Sakit tapi tidak membuatnya takut. Tidak sengaja dia melihat seseorang yang ia kenali disini.
"Fauzi?" panggilnya.
Dia menoleh.
"Ngapain disini?" tanyanya. Tapi melihat ekspresinya tidak menunjukkan bahwa dia adalah Fauzi. "Ah bukan Fauzi, lo Fauzan." Hanna tersenyum. Lalu bertanya di bertanya lagi. "Lo sakit?"
"Enggak," tolaknya. Dia telah selesai dengan urusannya, mengambil obat. "Gue duluan."
"Tunggu bentar," kilat Hanna menahannya untuk pergi. Dia memandangi wajah Fauzan begitu dekat. Reflek Fauzan memundurkan kepalanya.
"Luka lo masih ada," kata Hanna. Bola mata mereka saling bertemu. "Biar gue obatin."
Fauzan tidak menjawab tapi dia melangkahkan kakinya pergi, tentu Hanna tidak membiarkannya. Hanna berseri. Pada akhirnya Fauzan tidak menolak. Hanna tengah mengobati luka di wajah Fauzan sambil mengomelinya. Fauzan Pasrah.
"Lo itu udah kelas 3 SMA mau lulus, jangan berantem terus."
"Hem," jawabnya malas.
"Nggak kasian sama badan lo ini, nih. Pada memar, luka-luka kayak ginih," omel Hanna. "Ibu lo juga lagi hamil, kan? Kasian," sindirnya.
"Bawel," bisik Fauzan.
"Bilang apa?" selanya.
"Enggak," tawar Fauzan.
Hanna tersenyum dengus meskipun Fauzan tidak memberitahunya, Hanna mendengarnya. Dia mengobati luka-luka Fauzan di setiap sudut bibir, matanya, lalu hidung.... Deg.
Bayangan kejadian yang memalukan itu kembali terlintas dipikirannya. Tapi, kenapa jantungnya tidak bisa terkontrol. Dad dig dug.
Kenapa jantung gue? Dalam hati Hanna yang begitu panik. Gimana kalau dia denger?
"Han?"
"Beres." Hanna segera untuk menyadarkan dirinya.
"Makasih."
Hanna tersenyum angguk.
"Em lo lagi ngapain disini?" tanya Fauzan tapi dia mencoba untuk tidak menunjukkan penasarannya.
"Ibunya Oni dirawat," terang Hanna.
"Sekarang kondisinya gimana?"
"Belum bangun." Terdengar suara sendunya.
"Pasti baik-baik aja, nggak usah khawatir."
Fauzan berusaha untuk menghiburnya. Hanna tersenyum angguk.
"Kalau lo lagi ngapain disini? Lo sakit?" tanya Hanna.
"Nggak."
"Terus itu obat?"
Fauzan lupa. "Em ini obat nyokap gue."
Bohongnya.
Tapi, Hanna percaya. Dia ber'oh.
"Ah Han, gue harus balik dulu," kata Fauzan bangkit dari duduknya. Diikuti oleh Hanna. "Sorry, gue nggak bisa jenguk. Cepet sembuh."
"Iyah, nanti gue sampain. Makasih," jawab Hanna.
"Yah. Mm makasih juga."
Hanna tersenyum, Fauzan sedikit tersenyum tapi segera dia menurunkan sudut bibirnya itu. Perginya Fauzan, Hanna pun kembali ke ruang ibu Oni dirawat.
Fauzan telah tiba di parkiran di area Rumah Sakit. Dia tampaknya sedikit lega bahwa Hanna baik-baik saja, dia kira Hanna berada di rumah sakit, dia sedang sakit.
"Syukur deh kalau lo baik-baik aja."
...🦄🥀...
...Rilis 13/03/2020...
...Revisi 16/07/2020...