Diary Of A School: Me And Yu

Diary Of A School: Me And Yu
BAB 39 Flashback (1)



...Bonus Awal Pertemuan Hanna - Aji dan Afra...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Selama keterpurukannya, dia mulai masuk Sekolah Menengah Atas. Hanna sangat berbeda dari sekarang. Saat pertama kali memasuki masa orientasi, ia hanya diam, tidak bersosialisasi, terlihat sangat kesepian.


Saat itu Afra dikerumuni oleh beberapa siswa-siswi yang sedang asyik mengobrol, Afra melihatnya, Hanna hanya duduk di pinggir tembok jalan. Karena tidak terlalu suka dengan orang banyak, saat itu Afra menghampiri Hanna, dan langsung duduk di sebelahnya.


Hanna kaget dan melirik ke samping, mereka tak sengaja saling pandang. Hanna tidak tersenyum, begitu pula Afra yang masih menatapnya. Hitungan, hitungan detik, karena situasi itu pertama kali Afra membuat suasana tidak canggung tersenyum lalu tertawa kecil melihatnya.


"Lo kenapa sih?" tanya Afra sembari menahan tawanya, kemudian melirik papan namanya. "Hanna?" Melirik dan menatapnya kembali.


Afra menjulurkan tangannya dan memperkenalkan dirinya. "Gue Afra."


Hanna masih terlihat malu-malu. "Gue .. Hanna."


Saat bersalaman Afra menggerakkannya sangat bersemangat sembari tersenyum. "Seneng liat lo lagi."


"Hah?"


Bingung.


Hanna berpikir apakah dia salah dengar atau apa. Tapi dia tidak berani bertanya.


Dan pada saat itu, dimana mereka kemudian membicarakan beberapa hal yang tidak penting. Setelah itu dari sana Afra selalu membawa Hanna bersamanya. Pada kegiatan orientasi terakhir, seorang siswa mendekatinya.


Seseorang itu berteriak memanggilnya. "Hanna."


Bukan Hanna juga yang melirik ke arah sumber suara melainkan Afra ikut melirik ke suara tersebut. Murid tersebut berjalan menghampiri mereka.


"Han, pulang dari sini bunda ngajak kita makan bareng. Lo jangan kemana-mana habis selesai ini, oke?" kata murid laki-laki itu.


"Iyah nanti aku nggak akan pergi kemana-mana."


Kemudian karena janggal murid itu melirik dan menatap seseorang yang berada di sebelah Hanna. "Dia..." Melirik ke arah papan nama. "Afra?" Lalu menatap Hanna.


"Wahh makasih nih udah nemenin adik gue, mau jadi temennya."


Afra berbicara sangat berbeda kala itu. "Nggak usah berlebihan."


Memang, Afra tampaknya tipe yang keren dan cuek saat mengenalnya. Saat diajak ngobrol dia hanya mengucapkan beberapa patah kata atau to the point. Namun kesan pertama kepada Hanna saat itu, cara mengajaknya memberikan semangat.


"Jutek amat, hem," sindir murid itu bercanda. Seketika dipukulnya oleh Hanna. "Aw-sakit tahu, yaa udah gue kesana dulu. Jangan lupa, bhay."


Dia pun beranjak pergi.


Setelah melihatnya pergi, Afra pun bertanya karena dia mengatakan Hanna sebagai adik. "Kakak lo?"


"Bukan. Dia Aji temen kecil gue, tapi udah dianggap kayak kakak," jelas Hanna.


Afra hanya ber'oh saja.


Akhirnya kegiatan tersebut selesai.


Afra saat itu sudah membawa mobilnya, langsung menjadi sorotan oleh beberapa murid yang melihatnya. Kemudian Hanna menunggu temannya itu bersamaan dengan Afra, yang menemani. Tak lama dia pun Aji datang dan mengajak pergi. Hanna berpamitan, mereka berpisah di parkiran sekolah.


"Nggak inget gue yah?" gumamnya menatap Hanna yang melangkah pergi, kemudian masuk dalam mobilnya.


Saat akan menjalankan mobil dan menyetir. Mendadak. TINNNNNNN. Refleks Afra membunyikan klakson. Afra langsung turun dari mobil tanpa bicara melihat orang yang hendak ditabrak.


Mereka saling menatap namun tidak ada suara satu sama lain. Orang-orang yang melihat kejadian ini saling memandang saat mereka mengambil langkah.


"Nggak minta maaf?" tanya siswi itu yang menurut Afra, dia ingin menabrakan diri.


Gila nih anak. Batin Afra kesal.


...🏫...