Diary Of A School: Me And Yu

Diary Of A School: Me And Yu
BAB 33 Dia, Langit, dan Angin



Karena hari ini sekolah dipulangkan lebih awal. Sebenarnya Gina mengajak Hanna berkunjung ke rumah Oni karena ibunya baru saja pulang dari rumah sakit. Namun sayangnya, Bela tiba-tiba memberi kabar bahwa dia akan berkunjung ke rumah sekarang. Begitu juga dengan Afra yang tidak bisa ikut karena harus latihan persiapan kompetisi bola basket putri. Oleh karena itu, hanya Gina yang akan berkunjung. Hanna dan Afra hanya akan meninggalkan salam dan permintaan maaf.


Hanna langsung dijemput di sekolah oleh kakak kesayangannya. Belum lama ini, Bela tiba dengan mobilnya. Hanna pun masuk ke dalam mobil.


“Hallo, Kakak.” Disela memasuki mobil.


“Kita makan dulu aja yah, lapar nggak?”


“Lapar.....” Dengan semangat Hanna mengatakannya.


Dirinya sangat bahagia dapat kembali bersama dan bertemu kakaknya lagi. Meski kami tidak sedarah.


...****************...


Anak basket putra dan putri SMA Bakti Nusa telah berkumpul di lapangan. Mereka bersiap-siap untuk latihan, saling berbicang-bincang.


"Gina kemana, Fra?"


"Ke rumah Oni, jenguk ibunya," jawab Afra sambil memasang sepatunya.


"Ooohhh...."


"Ah iyah itu si Gina nggak bakalan ikut lomba? Lo bener-bener udah bujuk dia, kan?"


Memang selain organisasi, Gina juga ikut ekstrakurikuler basket. Tapi itu hanya untuk berolahraga saja, menggerakkan tubuhnya agar lebih sehat. Bukan hanya duduk di kursi, dengan buku.


"Udah gue bujuk. Tapi dia tetep nggak mau, katanya mau fokus sama ujian sekolah."


"Keren banget Gina. Gue salut sama kerja kerasnya. Tapi, yah ini perlombaan terakhir kita, gue nggak mau menyia-nyiakan momen ini."


Afra tersenyum. "Karena ini perlombaan terakhir kita, kita harus semangat buat dapetin piala yang bersejarah kita nanti."


"Siap bosquuuuu......"


Suara sorakan begitu bersemangat karena kata-kata Afra. Afra juga tidak mau melewatkan momen terakhir ini dalam perlombaan basket antar sekolah. Semuanya beranjak untuk berlari sebagai pemanasan.


"Fra.."


Afra menengok, seseorang memanggilnya yang telah sejajar berlari dengannya. Menemukan Fauzi. Fauzi memberikan senyuman namun Afra tidak merespon. Mereka berlari bersamaan. Satu putaran telah mereka lalui, Afra sedikit risih dengannya yang terus berlari bersama.


"Kalau mau ngomong sama gue langsung aja," lontar Afra.


Fauzi berseri. "Sorry."


Mereka mengobrol tanpa berhenti untuk berlari.


"Apa?" tanyanya lagi.


"Emmm..."


"Mau tanya Hanna?"


"Iyah heheh. Em gue mau tanya soal...." Seketika Fauzi berpikir, dia mengurungkan niatnya untuk bertanya soal kedekatan Fauzan dengan Hanna. Lebih baik, Fauzi sendiri yang bertanya pada orangnya. "Ah Hanna suka apa ya? Soalnya gue mau ngasih sesuatu sama dia."


"Oh... kasih aja Novel," usul Afra.


"Novel? Novel apaan?"


"Novel karya Tere Liye." Fauzi masih menyimak sambil berpikir. Afra kembali melanjutkan ucapannya. "Tapi, novel karya penulis itu udah terbatas sekarang."


"Yah terus gimana?"


"Em, lo kan bisa nyanyi sambil mainin gitar. Nyanyiin aja Hanna, dia pasti suka. Ah atau mau sekalian nembak?" goda Afra.


Fauzi tertegun. Afra tersenyum tipis lalu berlari lebih dulu di depannya. Langkah lari Fauzi semakin pelan karena memikirkan apa yang dikatakan Afra.


"Nembak? Apa nggak kecepatan ya, gue juga belum yakin dia bakalan balik suka."


...****************...


Beberapa menit kami sampai di sebuah mall dan kami tidak langsung masuk ke restoran tersebut. Sebaliknya, melihat taman bermain di sana, Hanna ingin mengunjunginya. Dia menarik kak Bella dengan sangat bersemangat.


“Kak... kak mampir dulu kesana, ayo."


Masih sama kayak dulu. Dalam hati Bella sangat senang dan bahagia.


Mereka bermain silih berganti permainan. Dan yang paling serunya adalah mereka bermain game menarik boneka. Sampai ketiga kalinya akhirnya mereka mendapatkan boneka yang cukup besar. Boneka beruang yang ia dapatkan. Itu akhir dari permainan.


Setelah itu kami pun memasuki salah satu restaurant disana. Kami memakan sesuatu yang sangat enak sembari mengobrolkan hal sesuatu yang berbeda.


“Makan yang banyak. Badan kamu keliatan kurus," ledek Bella.


“Kakak juga kurus.” Sembari menjulurkan lidahnya.


Bella hanya terkekeh.


“Makan yang banyak yah biar tubuh kakak sehat. Kakak udah berjuang buat Hanna.” Memberikan potongan daging ke piring di depan Bella. Dengan wajah yang sedikit sedih. “Maaf yah kak,” ucap Hanna disela-sela itu.


Kata-kata itu membuat Bella sedikit marah karena mengkhawatirkannya. “Hanna dengerin kakak, kenapa kamu minta maaf? Kamu nggak salah sama sekali."


Hanna murung. “Hanna banyak salah, Kak.”


Mulai akan mengeluarkan air mata.


Bella berpindah tempat duduk ke samping Hanna. “Udah ...” Dia memeluknya. "Kamu nggak salah, kamu udah mengambil keputusan yang tepat buat diri kamu, buat kebaikan kamu." Hanna mulai menangis dipeluknya. "Kamu harus berjuang dengan jalan yang sudah kamu pilih dan buktiin itu pada kak Annisa. Kakak kamu selalu melihat di atas sana. Dia nggak suka kalau kamu cengeng kaya gini, kamu harus bahagia.”


Menyemangati adiknya. Hanna. Hanna memeluk sangat erat pada kak Bella.


...****************...


Tepat pada pukul 4 sore.


Kak Bella mengatarkanku ke rumah. Ternyata di depan rumahku sudah terlihat seseorang tengah berdiri di gerbang rumahku. Kak Bella maupun aku keluar dari mobil.


“Fauzan?”


Fauzan melihat Hanna bersama seseorang yang lebih tua darinya. Tetapi bisa dikatakan itu masih muda. Fauzan pun membungkukkan memberi salam padanya.


“Udah lama nunggu? Sorry yah gue habis sama kakak dulu," tutur Hanna.


“Engga, baru sampai juga,” balas Fauzan sembari memberi isyarat pada Hanna.


“Ohh, kak kenalin ini temen Hanna," katanya memperkenalkan. "Dan Fauzan, kenalin ini kak Bella."


“Fauzan, Kak." Fauzan bersalaman.


“Em kalian mau keluar?” tanya Bella.


Fauzan dan Hanna saling menatap satu sama lain.


“Kalau sibuk, nggak papa," ucap Fauzan.


“Ehh, kalian jangan sungkan ada kakak disini. Kalian udah janjian, kan?”


“Kalian pergi aja, kakak juga harus pulang lagi, soalnya besok ada pertemuan penting," jelas Bella. "Hanna..."


“Kakak nggak bakalan mampir dulu ke rumah?” tanya Hanna.


“Kapan-kapan kakak kesini lagi,” sahut Bella senyum. Bella pun memanggil. “Fauzan?”


“Yah?”


“Tolong jagain Hanna yah, pulang jangan kemaleman, dan jangan ngebut-ngebut,” kata Bella sepatutnya sifat khawatir sang kakak kepada adik.


“Baik, Kak," jawab Fauzan.


“Kakak balik dulu yah. Assalamu'alaikum."


“Waalaikumssalam. Dah kak Bella, hati-hati.” Melambaikan tangannya.


Mobil pun melaju.


Hanna tersenyum miris. "Di Jakarta." Sembari membuka gerbang. "Kakak gue tinggal sama ayah, ibu."


Setelah mendengar itu. Tiba-tiba. "Hanna." Sembari menahan Hanna untuk melangkah dan membalikan tubuhnya agar berhadapan. "Lo harus inget. Lo itu dikelilingi banyak orang yang sayang sama lo. Inget itu."


Sekejap Hanna berdiam mendengar hal itu. Hanna pun tersenyum, mengusap lengan Fauzan rasa terima kasih. Hanna pun melangkah berjalan. Diikuti oleh Fauzan.


“Hmm Han. Kalau lo capek, kita undur aja."


“Ehh jangan dong, gue kan nunggu momen ini. Penasaran.” Sesampai dekat pintu masuk. “Gue ganti baju dulu yah, lo tunggu disini.”


Fauzan pun tersenyum dan menunggu di teras halaman rumah.


...•...


Diboncengnya diriku ke dua kalinya oleh dia. Menulusuri jalan dengan angin yang sejuk menulusuri tubuhku ini. Mengikuti arah yang sudah kita ketahui kemana tujuannya. Hal yang sangat diinginkan oleh kenyataan dalam menjalani hidup. Hari dimana aku sangat bahagia sekarang dapat merasakan momen dimana aku bisa merasakan kehadiran sosok kakak kembali. Dia, langit dan angin menjadi saksi dari kebahagiannku sekarang. Terima kasih.


...****************...


"Assalamu'alaikum Oni...."


Di rumah kediaman Oni berada. Pintu rumah terbuka. "Gina?" Dia terkejut kedatangan sahabat ke rumahnya. "Masuk masuk Gin."


Gina dan Oni telah memasuki rumah. "Kenapa nggak bilang mau ke sini?"


"Gue udah chat lo, kok. Lo yang nggak ngecek HP ya?"


Oni berseri. "Heheh iyah."


"Ibu lo gimana sekarang?"


"Semakin membaik." Oni terlihat senang.


"Alhamdulillah kalau gitu. Ah ini, On. Dari kita bertiga." Gina memberikan beberapa bingkisan untuk ibunya Oni.


"Makasih, padahal nggak usah repot-repot," kekeh Oni. "Terus Hanna sama Afra nya mana?"


"Nah mereka titip salam buat ibu lo, mereka juga minta maaf karena nggak bisa ke sini. Afra, dia ada latihan. Soal Hanna, kak Bella dateng nge-jemput ke sekolah."


"Oh ada kak Bella?"


Gina angguk.


"Tapi, nggak ada masalah kan sama mereka?" Tampaknya Oni khawatir.


"Nggak ada, kok."


Oni merasa lega.


"Mau ketemu ibu dulu nggak? Eh tapinya tadi gue liat ibu lagi tidur."


"Yaudah nggak papa, biar tante istirahat aja."


"Oke deh kalau gitu kita ke kamar."


Tibanya masuk ke dalam kamar Oni.


...Apa kabar sahabat Radio Kasih? Ketemu lagi nih sama gue Hujan, disini di Radio Kasih 93,7FM Bogor....


Gina mendengar suara yang tidak asing. "Lo dengerin ini juga?"


Oni terkekeh. "Kan gara-gara lo."


Gina tersenyum.


...Tapi disini gue nggak sendiri. Gue ditemani oleh seseorang. Kalian bisa tebak?...


...****************...


Hujan? Hahahha. Auranya beda. Dalam hati Hanna ikut senang karenanya.


“Hanna… Han ..” Fauzan berbisik membuat Hanna tersadar dalam lamunan.


“Waktunya lo ngomong.” Fuazan berbisik kembali.


...****************...


...Hujan 🎙️ : Yahh karena pertama kalinya untuk dia, sedikit gugup bukan?...


^^^Malam 🎙️: Hallo .. semuanya.^^^


Gina hendak duduk di kasur, mendengar suara yang menemani sosok Hujan. "Suara mirip..."


^^^Hai apa kabar sahabat? Yah disini aku menemani sosok Hujan dan perkenalkan aku adalah Malam.^^^


"Malam?" Bergumam. "Oni..."


Hujan🎙️ : Oke Malam wahh nama yang cocok. Gimana nih siaran pertama lo disini?


"Hum?" Oni berjalan untuk berbaring di atas kasur.


"Itu dengerin deh. Suara itu nggak asing banget."


"Suara siapa?"


^^^Malam 🎙️: Aku nggak bisa berkata-kata banyak yang pasti disini aku sangat gugup. Tapi dibalik itu aku senang. Terima kasih untuk Hujan karena sudah mau mengajak Malam.^^^


"Itu di radio, suara yang ceweknya," kata Gina.


Keduanya pun menyimak pembahasan radio tersebut.


Hujan 🎙️ : Kita kembali lagi, seperti biasa gue dan kali ini ditemani Malam akan menemani kalian di sore hari ini dalam senja yang indah, 60 menit kedepan. Seperti biasa Hujan dan Malam akan menyediakan perbincangan-perbincangan hangat seputar apa Malam? Tema kita sekarang apa nih? Bisa lo sebutin.


^^^Malam 🎙️: Siaran kali ini bertemakan Apa Itu Suara Hati?^^^


"Suaranya kayak Hanna," ujar Oni.


"Nah itu bener Hanna. Masak iya Hanna ada di situ," balas Gina.


Dan keduanya pun kebingungan untuk menebak-nebak suara perempuan dibalik radio.


...****************...


📻 Studio On.


Hemmm Malam menurut lo apa sihh suara hati itu?


^^^Kalau menurut aku pribadi, suara hati itu .. suara yang paling jujur.^^^


Jujur?


^^^Suara dimana kita tidak bisa membohongi diri kita sendiri. Semua manusia pasti mengalaminya bukan? Tapi setiap saat. Suara yang sulit kita ucapkan dari mulut kita sendiri, membuat kita menyakiti diri sendiri, hati kita, hati kalian, hati manusia. Dimana suara hati menunjukkan sesuatu yang kita inginkan, tapi ... Kalian jangan takut untuk mengungkapkannya baik itu suara hati kalian yang sedih, kecewa, marah, bahagia. Di balik itu semua pasti ada rahasia ungkapan yang akan kalian temukan nanti. Mungkin lambat atau cepatnya. Tuhan akan mendengarnya.^^^


Fauzan tersenyum terus memandangi Hanna.


Menyentuh sekali bukan? Kata-kata yang indah dari sang Malam untuk kalian. Jadi jangan takut untuk mengungkapkannya karena dibalik itu semua akan ada rahasia dari Tuhan untukmu dan jawabanmu. Jadi dimana ungkapan itu harus nyaman sesuai kata hati kalian. Untuk itu untuk sahabat-sahabat Kasih, Hujan dan Malam menyediakan lagu spesial buat kalian.


 📻 Musik berputar. Andmesh - Nyaman.


...🌧️🥀🌃...


...Bersambung...


... ________________...


...Rilis 17/03/2020...


...Revisi 19/07/2020...