
Berlanjut....
Pagi telah tiba dengan udara yang begitu sejuk. Di pagi hari ini, Tyo sudah berada di rumah teman seperjuangannya. Akhir-akhir ini dia selalu datang ke rumah Oni. Mungkin karena dia akan pergi ke negara kelahirannya. Sepertinya dia tidak ingin membuang waktunya yang masih berada di Indonesia.
Mereka ada di dapur membantu ibu Oni membuat kue. Kini ibunya memulai bisnis untuk memenuhi kebutuhan mereka yang kini hanya berdua dengan putrinya, Olla. Orang tua Oni akhirnya memutuskan untuk bercerai.
"Yahh habis."
"Apa yang habis bu?" tanya Oni sembari mengaduk adonan.
"Terigu, terigunya habis," jawabnya sambil melepaskan celemak yang dipakai. "Olla, ibu mau beli dulu terigu di warung. Nanti kalau udah 15 menit kuenya angkat yah."
"Kenapa nggak sama Olla aja yang belinya bu?"
"Kamu nggak bakalan tahu, nanti kalau salah harus balik lagi. Sayang waktunya," tutur ibunya tersenyum. "Kalian tunggu disini yah, awas jangan macem-macem." Dengan nada canda seorang ibu.
Oni tersenyum. "Ihh ibu ini."
Tyo hanya tersenyum sambil mengaduk adonan lain.
Di sini hanya Tyo dan Oni yang serius mengaduk adonan disana. Tyo agak kesal, karena Oni diam saja dengan ketidaktahuannya. Tyo menaruh adonan lagi di wajah Oni
"TYO... ?!"
Kejutnya.
Tyo tertawa melihat wajah Oni seperti badut. "HAHAHHA ada badut Ollaf hahahah."
Oni kesal padanya, apalagi saat menyebut dirinya Ollaf, karakter yang dia takuti juga menyebalkan. Eit, bukan karena karakternya melainkan seseorang yang berada di balik kostum badut Ollaf.
Oni membalas lelucon Tyo dengan cara yang sama ketika ada kesempatan ketika Tyo sedang tertawa. Tyo langsung kaget. Dia tersenyum dengan makna tersembunyi. Dia bangkit dari kursinya dan mendekati Oni.
"Mau ngapain?" sungut Oni tersenyum sembari menghindari tangan Tyo yang dipenuhi adonan.
Tuk!
"Ahhh Tyo!!"
Oni membalas tapi Tyo lari menghindar. Mereka saling mengejar di lingkaran meja. Namun, Oni itupun mendapatkannya. Tubuh mereka saling berdekatan saat mengoleskan adonan di wajah Tyo.
Ketika mereka dekat, mereka baru menyadarinya. Tatapan mereka terkunci satu sama lain dengan senyuman mereka perlahan-lahan berkurang satu sama lain. Oni sangat berdebar-debar saat wajah pemuda bernama Tyo itu mendekatinya. Berpikir bahwa Tyo akan menciumnya sekarang.
Saat semakin mendekat ...
"Kuenya... !" ucap Oni menghindari wajah Tyo. Ia menjauh dan beranjak pergi melihat kue yang ada di dalam oven.
Tyo pun merasa malu saat ini. "Gue keluar dulu."
Hati yang seakan copot itu langsung lega Oni bersandar di dinding. Perasaan ini tidak bisa dijelaskan.
...****************...
Hanna terbangun dari tidurnya dengan wajah masih ngantuk tapi berusaha untuk bangun. Afra yang tidur di sampingnya telah pergi. Hanna keluar dari kamar.
"Bangun juga," kata Afra yang tengah menyirami tanaman di halaman rumah.
Hanna tersenyum kemudian ia duduk di kursi yang tersimpan di luar. "Kenapa pada sepi? Pada keluar?"
"Iyah, mamah gue lagi banyak-banyaknya pesenan desain baju. Terus Dea ikut juga."
Hanna mengangguk. Memikirkan kejadian kemarin seperti mimpi. Ternyata, Hanna sendiri sudah mengenal keluarga Afra sejak lama. Hanna baru tersadar tujuan awalnya terlupakan.
"Fra?"
"Hem?"
"Lo kemarin kemana? Kenapa nggak ikut ke bandara? Nggak ngabarin pula."
Afra langsung terdiam mendengar hal itu.
"Afraaa....??"
"Aa-h gue ketiduran. Iyah."
"Aji," ucap Hanna. "Padahal Aji berharap lo dateng."
Afra hanya tersenyum dengan kakunya.
Hanna pun beranjak dari duduknya menghampiri Afra. "Sebaiknya lo kabarin Aji. Dia khawatir sama lo." Hanna pun melangkah pergi untuk masuk ke dalam rumah. "Gue minta minum yah."
Namun langkah terhenti sejenak. "Tapi kalau lo emang bener-bener yakin dengan keputusan lo, sebaiknya jangan." Hanna pun tersenyum. "Atau mungkin lo bisa lakuin dengan cara lo sendiri."
"... Gue masuk yah."
Afra menyadari apa yang dikatakan Hanna. Afra sendiri tidak yakin dengan keputusannya. Mungkin perkataan Hanna itu benar. Bukan Afra jika dia melakukannya seperti orang lain.
...****************...
Di tempat kerja milik ibunya Afra dengan nama Tailor Amna. Dia sedang mengobrol dengan seseorang mendiskusikan pekerjaan. Meski tokonya masih kecil, ia sangat terkenal di lingkungan sekitar karena kemampuannya merancang dan membuat pakaian.
"Gimana bu Siti, apa ibu berkenan untuk kerjasama dengan saya?"
Ibu Siti sangat senang mendengarnya dan juga dia sangat membutuhkan uang sekarang untuk menambah biaya sekolah anaknya, Afra.
"Saya mau bu."
Seseorang yang mengajak ibunya Afra untuk bekerja sama adalah seseorang yang kita sudah tahu bahwa dia adalah ibu Aji. Namun, keduanya tidak saling mengenal.
"Saya senang mendengarnya, bu Siti jangan khawatir ini akan menguntungkan untuk ibu."
Suara anak kecil terdengar berlari kecil ke arah mereka. "Mamah ..."
Dia memeluk ibu Siti.
Bu Siti menyuruh putrinya untuk menyapa tamunya ini. "Salam sama tante."
"Namanya siapa?"
"Dea tante."
"Cantiknya," puji Naila. "Ibu punya anak berapa?"
"Mah ade mau kesana dulu," kata Dea lalu mendapat anggukan dari ibunya.
"Dua bu yang tadi bungsu. Anak saya perempuan semua."
"Wahhh dikelilingi anak-anak cantik ayahnya nih."
Siti tersenyum. "Iyah tapi ayah mereka sudah meninggal, waktu Dea lahir."
Naila nanap dan merasa bersalah. "Ahh maaf bu saya tidak bermaksud."
"Tidak apa-apa ko, sudah lama ini. Saya sudah mengikhlaskannya, saya masih bersyukur bisa memiliki anak-anak saya."
Bu Naila sangat bangga melihat seorang Bu Siti yang sangat tegar dan membesarkan anaknya sendirian.
"Ibu sendiri gimana?" tanyanya untuk menghilangkan perasaan tadi.
"Anak saya satu, cowok. Baru aja lulus sekolah, udah pergi juga buat kuliah ninggalin saya." Naila terkekeh.
"Jagoan ibunya." Bu Siti tersenyum senang. "Kalau boleh tahu disini sekolahnya dimana?"
"SMA Bakti Nusa," jawabnya.
Bu Siti tampak terkejut. "Anak saya juga sekolah disana, baru lulus juga."
"Wahhh kok bisa sama gitu yah? Mungkin anak-anak kita saling kenal," balas Naila begitu senang.
...****************...
Di rumah sakit. Semua berkumpul kecuali ibu dari Si Kembar. Saat itu Fauzi mengatakan pada ayahnya soal yang dialami oleh Fauzan akhir-akhir ini. Fauzan telah melakukan pemeriksaan, dan sekarang hari dimana hasilnya keluar.
Dokter itu menjelaskan riwayat keluhan, gejala lainnya, serta kondisi fisik yang telah diderita oleh pasiennya itu. Dokter tersebut pun memperlihatkan hasil rontgen pada kepala Fauzan, CT scan, dan MRI.
"Di sini... yang membuat kamu merasa sakit lagi, cedera kamu yang sebelumnya itu muncul kembali."
Semuanya menyimak penjelasan dokter tersebut.
"Kenapa bisa muncul lagi, Dok? Padahal anak saya rajin minum obat."
Fauzan mengangguk membenarkan.
"Ketika seseorang sudah memiliki cedera sebelumnya, dan itu akibat dari suatu benturan dan cedera itu akan terasa sakitnya ketika terkena benturan lagi. Atau kemungkinan kedua itu karena efek dari cedera tersebut."
Fauzan memiliki cedera di kepala akibat kecelakaan itu. Dia pun pernah merasakan ruang operasi.
"Apa anak saya harus menjalani operasi lagi?"
"Untuk sekarang tidak. Saya akan memberikan resep pereda rasa sakit dan tekanan pada otak. Juga sebaiknya anak bapak melakukan terapi saraf."
Mereka terkejut dengan kalimat terakhir itu.
"Kenapa anak saya harus terapi, Dok? Apa cederanya parah?"
"Cedera anak bapak tergolong sedang mungkin berat. Karena, otak tidak dapat menerjemahkan informasi yang dikirim oleh mata. Seperti yang tergambar di sini.... bagian otak yang berfungsi untuk menerjemahkan informasi berada dibagian belakang, dan bila bagian ini tidak bisa menerjemahkan, bisa karena stroke, tumor, atau karena kecelakaan seperti yang dialami anak bapak, parahnya maka kebutaan bisa terjadi."
"Nggak, nggak. Saudara kembar saya tidak boleh buta, Dok!"
Fauzi tidak terima. Sedangkan Fauzan hanya bisa diam dengan kesedihan.
...🥀...
...Bersambung...
... ____________...
...Rilis 03/06/2020...
...Revisi 15/08/2020...