
...ποΈ...
Sebelum berangkat sekolah diadakan pesta di sana. Fauzan dan Fauzi berada di rumah sakit terlebih dahulu untuk menemani ibu mereka. Karena ayah mereka sedang di ruang dokter membicarakan sesuatu.
"Anak-anak mamah pada ganteng."
Ia tersenyum bahagia melihat anak-anaknya tumbuh sangat pesat dan kini keluarganya akan bertambah dengan datangnya buah kecil yang masih dalam perut ini.
Ia melihat pada Fauzan dengan seksama dari atas sampai bawah ia memandangi. "Uza, baju siapa itu? Bangus banget, mamah baru liat."
"Ini dikasih sama ibu temen Uza, Mah. Dia punya punya butik, waktu itu disuruh cobain tapi malah dikasih deh."
Ia merasa senang ada orang baik di sekeliling anak-anaknya. "Nanti sampaikan salam terima kasih dari mamah yah."
Fauzan tersenyum angguk.
Tidak lama setelah itu pintu kamar ini terbuka, seseorang masuk dan itu adalah ayah mereka.
"Kalian mau pergi sekarang?"
"Iyah, Yah. Udah jam segini juga," jawab Fauzi.
Tatapan sedih seorang ayah pada Fauzan meredam kekhawatiran.
"Kenapa, Yah?" tanya Fauzan, menemukan ekspresi aneh ayahnya.
Ayahnya memeluk Fauzan dan menepuk-nepuk lembut punggung putranya, tersenyum penuh harap. Fauzan mengerti perasaan ayahnya sekarang, tentang dirinya.
"Nanti kalian telat, sana hati-hati."
Fauzan dan Fauzi berpamitan dan mereka beranjak pergi. "Kita berangkat mah yah. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Istrinya menyadari keanehan yang didapat dari suaminya. "Kenapa, Yah?"
"Nggak. Ayah seneng aja, bisa kumpul lagi sama kamu, si kembar, dan nanti... putri cantik ayah satu-satunya bentar lagi lahir..."
Istrinya tersenyum bahagia.
Maaf sayang, aku harus bohong sama kamu tentang kondisi Fauzan.
...****************...
Sekolah sudah diramaikan dengan para siswa. Semua orang berpakaian pesta, mengenakan jas, gaun maupun pakaian cantik sesuai dengan acara. Wajah mereka tidak berhenti tersenyum.
Nasrul dan Tyo sedang berbicara. Kemudian mereka melihat mobil yang familiar datang. Seseorang yang berada di dalam mobil, keluar satu per satu. Mereka luar biasa cantik di mata Nasrul dan Tyo.
Saat Afra keluar membuka pintu. Oni. menatapnya terkagum. "Fra kali ini gue muji, lo cocok pake itu. Dari dulu kek kayak gitu."
Namun Afra masih tidak biasa, dirinya tidak percaya diri memakai gaun ini dan malu.
"Cantik loh Fra, yah Han?" sambung Gina.
Hanna tersenyum lebar mengiyakan.
Tak lama kemudian mobil milik Fauzi datang, disusul Fauzan yang sedang mengendarai sepeda motor. Berhenti. Ia melepaskan helmnya.
"Fauzan udah ada mobil kenapa nggak barengan aja sama Fauzi?" celetuk Oni.
Kemudian Fauzi turun dari mobil dan mendekati kami. Dan Fauzan terdiam, mengabaikan kata-kata Oni. Oni sedang menunggu jawaban tapi sepertinya dia sadar tidak akan ada jawaban dari orang itu. Oni kesal.
"Guys.... Sini...." Tyo bersuara sangat keras untuk memanggil kami, dia berdiri bersama Nasrul di sana.
Kami pun segera menghampiri mereka.
"Hallo bro..." sambut Tyo kepada Fauzan dan Fauzi yang baru datang.
Berkumpul kami segera kami semua bersamaan memasuki gedung untuk menikmati prom night ini.
...πΆπΆ...
Mereka semua begitu gembira dengan acaranya. Mereka bersenang-senang. Menari, saling bercanda, bernyanyi, dan juga banyak pilihan makanan yang disediakan.
Melihat Fauzan yang hanya berdiri di sana menatap kami. Hanna segera menariknya ke dalam lingkaran ini. Hanna mengundangnya untuk menari. Sedikit demi sedikit Fauzan menggerakan tubuhnya dan akhirnya dia tersenyum lebar.
"Han.."
Hanna menggandeng tangan Fauzan untuk ikut menari. Menggerakkan tangannya.
Hanna tidak bisa lepas dari senyumannya kepada dia.
Sungguh, hujan itu selalu membuatku takut. Tapi tidak dengan Hujan yang ada di depanku. Ia mampu menyamarkan tetesan air mataku dari kesedihan.
Fauzan menatapnya lekat pada sosok gadis di depannya. Merasa ....
Ketika melupakan mu sama sulitnya untuk memaafkan diriku sendiri. Merasa bahagia dan sakit di waktu bersamaan. Suatu penyelesaian yang tidak bisa ku ungkapkan padamu. Tapi, bolehkah aku egois untuk malam ini saja?
"Bentar Han .."
"Ada apa?" Hanna berhenti menari dan diam menunggu apa yang akan dilakukan Fauzan. Fauzan mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Dia membuka sebuah kotak dan kemudian membukanya. "Gelang?"
"Buat lo."
"Buat aku?"
Fauzan mengangguk. "Gue beli ini karena bentuknya ada angsa. Kayak yang ada di buku dongeng Berbie yang dikasih lo ke gue."
"... Terima yah." Fauzan memasangkan gelang tersebut pada lengan Hanna. Hanna tersenyum sangat senang atas pemberian hadiah tersebut. "Cantik kalau angsanya lo."
Hanna tersenyum malu dan kemudian tertawa. "Kamu bisa gombal juga."
"Jangan ketawa gue malu," protes Fauzan.
Mendengar hal itu Hanna malah semakin tertawa keras dan menggodanya. "Ahahah cieee Uzan..."
Tiba-tiba musik berhenti. Kami terheran-heran dan berhenti menari. Pembawa acara berbicara di atas panggung. Berbicara tentang dimana band generasi kita akan tampil di panggung ini.
"Penasaran yahh???? Oke kita sambut The ... Hago ..." Bersuara begitu bersemangat dari murid pembawa acara itu.
Tyo, Nasrul dan Fauzi saling pandang sambil tersenyum. Begitu juga dengan Hanna. Mereka sudah tahu tentang itu. Tapi mereka, Oni, Gina dan Afra. Mereka sama sekali tidak paham. Akankah The Hago tampil di atas panggung tanpa Aji.
Saat mereka di atas panggung. Seseorang terlihat juga naik ke atas panggung. Sontak membuat kami kaget dengan orang tersebut.
"Aji?"
"Ayo ayo kita ke depan," ajak Oni antusias.
Hanna melirik ke mana Afra berada. Afra kaget melihat Aji di sini karena dia tahu dia sudah berada di luar negeri
"Tes tes, cek.."
Aji mengetes mikrofon.
"Apa kabar semuanya ....?" Sorak Aji di atas panggung. Aji terkekeh sendiri. "Gue kembali nih pada kangen nggak?"
HUHUUHUUHU HUHUHUHUHU
Sorakan demi sorakan kepada Aji.
"Seperti yang kalian tahu gue menyempatkan untuk kembali ke Indonesia untuk merayakan kelulusan kita ini dan .. satu hal utama gue balik kesini adalah...." Aji menatap Afra. "Gue belum sempet buat nyatain perasaan gue sama cewek yang gue sayang."
WAHHHHHAHHA WIKWIWWWW ...
Sorakan histeris untuk Aji.
"Dan kali ini gue nggak akan sia-siain waktu gue disini. Gue cinta sama lo."
Mantap penuh arti bagi Afra. Aji tersenyum. Ia pun melirik teman-temannya untuk mulai mengguncang panggung ini, dengan melodi yang romantis.
The Hago pun tampil membawakan lagu Club Eighties - Dari Hati.
Andai enkau tahu
Bila menjadi aku, sejuta rasa dihati
Lama tlah kupendam,
Tapi akan kucoba mengatakan
Semua terdiam menikmati lagu itu. Tiba-tiba Fauzan menarik Hanna keluar dari kerumunan, mengajaknya keluar, dan berhenti lah di sebuah taman sekolah yang terlihat gelap dan sepi.
"Fauzan, kenapa kita ke sini? Di sini gelap."
Fauzan tidak menjawab dia hanya tersenyum lalu pergi, melakukan sesuatu tidak jauh dari sini.
"Fauzan mau kemana?"
Hanna panik, dia tidak ingin ditinggalkan sendirian di sini. Namun tidak lama, semua menjadi terang yang begitu cantik. Hanna terpanah.
"Kamu nyiapin ini semua? Sendirian?"
"Enggak sih, dibantuin temen," kekeh Fauzan malu.
Hanna tersenyum senang mendapat kejutan yang begitu indah. Lagu yang dinyanyikan The Hago masih terdengar sampai ke sini. Fauzan mengulurkan tangannya untuk mengajak Hanna berdansa.
Hanna tersenyum.
Mereka berdansa meski tidak lihai dalam melakukannya, tapi mereka menikmati momen tersebut.
"Hanna."
"Hum?" Hanna terlihat bahagia hari ini. Suasana hatinya benar-benar sempurna untuk itu.
Membuat Fauzan tersenyum juga. Karena dia tahu bahwa salah satu orang tuanya datang menemui Hanna untuk mengakui kesalahannya. Fauzan berhasil.
Musik tampaknya telah selesai disana. Kami pun menyudahi dansa kami. Hanna masih menunggu apa yang ingin dikatakan oleh Fauzan.
Ketika Fauzan mengatakannya. Apa yang dikatakannya barusan membuat Hanna terdiam. Tanpa diduga. Namun.
"Fauzan...!"
Kami segera menengok pada suara tersebut.
"Ada apa?"
Dia membisikkan sesuatu kepada Fauzan. Setelahnya dia tampak begitu panik, ada sesuatu yang mengejutkannya.
"Hanna aku harus pergi dulu."
"Mau kemana?"
"Kamu langsung masuk, jangan kemana-mana, jangan keluar."
Hanna hanya mengangguk tidak mengerti dengan situasi saat ini.
Fauzan pun pergi dengan tergesa-gesa bersama temannya itu.
...π₯...
Β
...Rilis 09/06/2020...
...Revisi 15/08/2020...