Diary Of A School: Me And Yu

Diary Of A School: Me And Yu
BAB 5 Pertemuan yang Menjadi Harapan



Berlanjut ....


Ketika diperjalanan untuk pulang ke rumah.


"Pala gue masih sakit," rintih Hanna masih merasa ngilu.


Disana Hanna sempat mengecek handphone miliknya. Hanna terkejut dengan apa yang dilihat dari handphonenya itu. Ketika melihatnya banyak notif pesan dari Aji. Ternyata Hanna kembali dalam kelupaanya.


"Astaga! Hanna, kelupaan lo masih ada."


Hari ini sedang berlangsungnya rapat. Akhirnya Hanna kembali ke sekolah dengan berlari secepat mungkin.


...****************...


Di dalam mobil yang Afra kemudikan. Oni sempat berpikir, bahwa dia merasakan keganjalan. Merasa ada yang terlupakan. Tapi entah itu apa. Gina pun bertanya.


"Kalian ngerasa ada yang lupa ga sih?" tanya Gina.


Afra dan Oni terdiam juga mengingat-ngingat apa yang mereka lupakan. Tak lama pun mereka bersamaan mengatakan bahwa.


"HANNA?!"


Mereka lupa memberitahukan pada Hanna bahwa hari ada jadwal rapat untuknya.


...****************...


Hanna akhirnya sampai kembali di sekolah. Dia langsung menuju tempat dimana rapat itu berlangsung. Tak lupa, ia harus menerima hukuman kembali karena keterlambatannya.


"Udah sadar Han?" tanya Feby sebagai seksi keamanan.


Sambil menjalani hukuman Hanna hanya memberikan sekilas senyuman kepadanya. Setelah selesai ia pun memasuki ruangan dengan meminta ijin dari ketua pelaksana. Hanna pun mendapatkan ijin masuk dan langsung duduk di kursi yang masih kosong.


Baru saja Hanna bisa beristirahat. Ketua pelaksana menyuruh kami yang berada disini duduk sesuai dengan tugasnya masing-masing. Namun Hanna masih bingung karena pasangan pembimbing dirinya entah tahu namanya apalagi wajahnya.


"Itu .. Hanna kan?"


Tak lama seseorang melambaikan tangannya kepadaku dan memanggil namaku juga. Pemikiranku langsung tertuju bahwa sepertinya dia adalah pasangan pembimbingku.


Aku pun menghampirinya, memberika sekilas senyuman dan langsung duduk disampingnya. Aku ingin menanyainya. Pada saat akan mengawali tiba-tiba dia yang memulainya.


"Hanna kan?" tanyanya. "Gue Fauzi." Sambil memberi jabatan tangan.


Hanna menerima jabat tangan tersebut. "Hanna."


Hanna merasa orang itu tak asing dipikirannya. Walaupun dia tahu kami satu sekolah. Tapi Hanna merasakan ini pertemuan pertama dan baru mengenalnya. Ia tak tahu sama sekali sebelumnya ataupun Hanna tahu sekilas dan langsung melupakannya.


Rapat pun berlangsung kembali dan kami memperhantikannya.


Langit pun sudah mulai pudar berwarna jingga yang terhias. Kami pun selesai dalam rapat kali ini.


"Hanna," teriak seseorang yang Hanna kenal. Dia melirik ke sumber suara tersebut. "Han, lo udah baikan? Padahal tadi nggak usah ikut rapat aja," sahut Aji sambil melihat dahi Hanna yang diberi plaster.


Hanna memberikan raut wajah yang jengkel terhadap Aji. Padahal Aji sendiri yang menyuruh Hanna cepat-cepat datang dikarenakan ketua pelaksana yang memintanya. Yang akhirnya Hanna kembali ke sekolah.


"Iyah yah salah gue deh sorry yah. Yaudah gue cabut duluan, mau nebeng ga?" ajak Aji.


Hanna mulai kesal kembali dibuatnya. Karena Aji setiap ke sekolah selalu memakai skateboard listriknya.


"Aji. Lo yah..." Kepuncakan kemarahan Hanna sudah mulai membara.


Dan Aji pun langsung berlari karena takut kena pukulan dari Hanna juga kemarahannya. Sambil tersenyum-senyum kepada Hanna karena puas bisa menjahilinya kembali.


"Dahhh Hanna," teriak Aji yang langsung memainkan skateboardnya.


Baru saja akan melangkah. Ada seseorang yang memanggilnya kembali. Hanna pun menengok ke arah belakang. Ternyata Fauzi lah yang memanggilnya.


"Mau pulang?" tanya Fauzi.


Sambil melangkah pergi. "Enggak, mau nginep."


Fauzi tak lama tertawa. "Ahahaha."


Hanna pun memberikan raut wajah yang aneh untuknya. "Emang lucu?"


"Enggak juga," kekeh Fauzi.


Hanna pun menatapnya malas.


Sudah sampai gerbang sekolah. Hanna langsung saja pergi ke arah jalan pulangnya. Sedikitpun tidak menyapanya kembali yang bernama Fauzi karena sudah merasa lelah juga sakit di dahinya. Tapi ketika itu Hanna merasakan seseorang menuturinya. Tak salah lagi dialah orangnya.



"Lo ngikutin gue?" Dengan sadar Hanna langsung berbicara.


Fauzi pun berhenti langkahnya dan berdiri tegak. "Gu-e juga mau pulang," kejutnya.


Hanna masih menatapnya seolah tidak percaya. 


"Arah pulang gue juga kesini," lanjut Fauzi.


Hanna hanya ber'oh dan kembali melangkah pergi. Fauzi pun berlari menyusuli langkah kaki Hanna. Yang akhirnya mereka sejajar dan pulang bersama.


"Rumah lo beneran di daerah sini? Nggak boong kan?" tanya Hanna menyakinkan.


"Kalau boong idung gue nanti pesek," ucap Fauzi.


"Biasanya kalau boong tuh idungnya jadi panjang kayak Pinocchio," timpal Hanna tidak menyadari terikut dalam obrolannya.


"Gue kan beda, idung udah mancung buat apa nambah mancung lagi," balas Fauzi.


"Aneh lo."


Fauzi berseri.


Hanna telah sampai di rumahnya dan Fauzi pun ikut berhenti di depan rumah Hanna.


"Rumah lo disini?" tanya Fauzi.


"Yah," jawab Hanna sambil membuka gerbang.


"Sepi amat?" tanyanya lagi.


"Emang gue tinggal sendiri." Fauzi sedikit memperlihatkan rasa kaget. Dan sedikit terdiam sejenak. "Lo nggak akan pulang? Maaf ya gue nggak bakal nampung makhluk kayak lo disini."


Fauzi pun tersadar dengan lamunannya. "Ohh iyah gue pulang lah. Bentar... Makhluk apa maksud lo?" tanya Fauzi sambil melangkah kembali ke arah sebelumnya. "Makhluk super ganteng kan?" lanjut Fauzi.


Hanna seperti mau muntah. "Bhay." Menghiraukan Fauzi dan langsung berjalan masuk ke dalam rumah.


"HANNA.... Rumah gue nggak jauh dari sini tinggal lurus belok kanan lurus lagi belok kiri lurus lagi terus rumah gue deket taman sini. Yaudah dah Hanna."


Hanna hanya terdiam mendengar ocehannya. "Kenapa gue banyak dikelilingi orang-orang aneh." Hanna bergumam. Dan langsung beranjak pergi masuk ke dalam rumah.


...🦄🥀...


..."Seseorang yang tidak kamu sadari akan mengisi hari-hari selanjutnya"...


...- Fauzi Maevino -...


...__________________...


...Rilis 10/01/2020...


...Revisi 30/06/2020...