
Kembali lagi pada kejadian yang membuatnya berputus asa dalam menjalani hidupnya. Dia bertemu dengan seorang pemuda yang memakai jaket biru langit dan topi yang telah memberikannya payung. Wajahnya semakin samar-samar terlihat olehnya. Semakin terlihat tapi pemuda itu berbalik pergi menjauh setelahnya.
...Mimpi...
...Terbangun...
Hanna membuka matanya menatap langit-langit kamar. Dia hampir saja melihat wajah dari pemuda payung itu. Meski hanya sekedar memberikan payung padanya, tapi itu sangat berarti bagi Hanna. Seolah masih ada orang yang mempedulikannya.
Hanna terbangun, bangkit untuk duduk. Dia melihat ke sampingnya, sahabatnya itu masih tertidur. "Fra...."
"Eunmm..." Dia menggeliat tidurnya.
Afra telah menemani Hanna menginap semalaman di rumahnya. Karena Hanna merasa kondisinya butuh ditemani, jika tidak ada seorang pun di sampingnya. Bisa-bisa terjadi sesuatu yang buruk padanya. Seperti tadi dia bermimpi, tapi sekarang mimpi itu membuatnya penasaran bukan menjadi ketakutan.
Dengan jahilnya Hanna meletakkan bantal ke atas muka Afra dan beranjak pergi untuk mandi bersiap berangkat ke sekolah.
...****************...
Hanna telah tiba bersama Afra di sekolah. Mereka juga bertemu dengan Aji yang tengah memakirkan sepeda motornya. Beruntungnya untuk Aji bisa bertemu dengan Afra disini, karena sesuatu ada yang ingin dia bicarakan dengannya.
"Fra..." Segera menyusuli mereka. Langkah keduanya berhenti.
"Em kalau gitu gue cabut duluan--Eeeh?" Hendak pergi Hanna ditahan oleh Afra untuk tidak meninggalkan dirinya bersama orang Ajinomotif ini.
"Ada apa?"
Dinginnya bertanya.
Aji langsung membuka ranselnya dan mengambil sesuatu dari sana. "Ini."
Afra melihat pada barang yang Aji ingin berikan lagi. "Kotak kemarin?"
Aji mengangguk semangat. "Gue beneran ngasih ini buat lo."
"Gue nggak bisa terima," tolaknya.
"Jangan disia-siain barang yang ada di dalam kotak itu, lo kan butuh itu buat lukisan baru lo nanti..." sosor Hanna pelan meski Afra dan Aji masih bisa mendengarnya. Afra jengkel sedangkan Aji senang karena mendapat dukungan.
Afra menghela nafas dia mengambil kotak tersebut dari tangan Aji. Aji sumringah. Afra membukanya masih bisa melihat surat cinta itu di dalam kotak. "Gue nggak bisa terima yang ini." Afra mengembalikan surat tersebut kecuali kotak dan isinya yaitu spidol warna-warni.
"Ah i-iyah. Itu mah nggak usah hehe." Segera Aji mengambilnya dia lupa kalau surat kejahilan Hanna masih tersimpan di dalam kotak itu. Tampaknya Hanna menahan tawanya disana. Hem. "Tapi kalau mau diterima juga nggak papa sih."
Seketika sikap Aji yang percaya diri dan selalu memalukan dirinya sendiri kembali ada. Hanna bersyukur.
Dengan dingin dan datarnya. "Makasih." Lalu pergi begitu saja.
Aji mendapat meledekan dari Hanna. Hanna sangat puas melihat penolakan itu. Dia tertawa mengolok-olok tanpa ada suaranya. "Kasian deloh." Hendak pergi untuk menyusuli Afra yang sudah pergi sedari tadi. Ransel miliknya ditarik oleh Aji dari belakangnya. "Yaa Aji!"
"Tunggu dulu gue mau ngomong."
"Lepasin dulu," decitnya. Akhirnya tangan Aji sudah terlepas dari ransel Hanna. Hanna membalik dengan kesal. "Mau ngomong apa?"
"Malam ini jangan lupa." Aji mengingatkan sesuatu padanya.
Hanna masih diam berpikir. Cukup lama tapi akhirnya dia ingat. "Iyah gue inget."
"Jangan kemana-mana nanti."
"Iyaah."
Oni hari ini terlihat murung dan sedih tidak seperti biasanya. Di setiap pelajaran dia selalu melamun dan pastinya karena dia duduk di hadapan guru, dia terpergoki oleh guru karena tidak memperhatikan pembelajaran yang berlasung. Akhirnya dia dikeluarkan dari kelas. Kami, sangat khawatir dengan keadaannya sekarang. Apa yang membuatnya seperti itu?
Istirahat pun sudah tiba. Kami langsung mencari Oni di setiap sudut sekolah. Kami terus mencari dan bertanya kepada teman yang lain yang melihatnya dan katanya mereka melihat Oni masuk ke ruang UKS.
Kami pun langsung pergi ke ruang tersebut. Memang benar Oni terlihat sedang duduk di atas kasur yang disediakan sambil menundukkan kepalanya. Dan kami menghampirinya.
"Oni," ucap Gina dengan lembut.
Oni mengangkat kepalanya. Terlihat air mata yang bercucuran. Pipinya basah oleh air mata.
"Oni.... lo kenapa Oni?"
Oni menjadi-jadi dengan tangisannya. Kami langsung memeluk tubuh Oni. Menariknya ke dalam pelukan kami. Kami membiarkan Oni melepaskan kesedihannya sekarang. Dan jika sudah reda kami harus tahu apa yang membuatnya sesedih ini.
"Udah jangan nangis." Hanna sambil mengelus rambut milik Oni. Tangisnya pun mulai merada.
"Ibu gue ... hiks..." putusnya masih tersedu dengan tangisan.
"Kenapa sama mamah lo?" tanya Gina.
Oni menceritakan apa yang terjadi selama ini dalam masalah keluarganya. Akhir-akhir ini ayahnya selalu pulang telat dan ibunya pun akhirnya selalu curiga dan membuat suatu pertengkaran yang terjadi selama ini. Adu mulut yang selalu Oni dengar akhir-akhir ini. Dan hari ini yang membuat Oni sangat sedih ayahnya sudah mulai main tangan. Ayahnya menampar ibu di hadapan Oni sendiri.
"Yaampun kok bokap lo jahat banget sih," lirih Gina sambil memeluk kembali Oni.
Hanna merasakan hal yang sama tentang permasalahan dalam keluaraga, ia turut bersedih.
"Apa bokap lo... itu selingkuh?" tanya Hanna sedikit berhati-hati.
"Gue pikir begitu," putus Oni.
"Kalau gitu lo mau cari tahu?" tanya Hanna yang ingin membantu.
Oni mengangguk. Bahwa Oni sendiri ingin tahu kebenaran di balik itu semua.
"Tunggu. Mungkin kalau lo tahu kebenarannya, lo bisa aja sakit hati," sela Afra memberitahu agar Oni untuk siap, akhir dari semuanya.
"Sekarang pun gue udah sakit hati apalagi nanti. Gue bakal siap apapun resikonya. Kalian harus bantuin gue."
Pulang sekolah telah tiba yang seharusnya keempat remaja yang bersahabat itu harus memulai misi mereka untuk mencari kebenaran dibalik sikap ayah Oni. Tapi mereka harus mengulurnya karena hari ini hujan cukup deras.
Karena kondisi cuaca Afra melanjutkan latihan basket bersama tim-nya untuk lomba yang sebentar lagi akan tiba. Oni pun yang seharusnya memiliki jadwal latihan paskibra juga ditunda karena cuaca, dan memutuskan untuk pulang saja bersama Gina bermain ke rumahnya karena dia tidak mau pulang lebih dulu yang pasti dia akan mendengar keributan lagi dari kedua orang tuanya. Mereka mendapat tumpangan dari Nasrul.
Sedangkan Hanna. Dia berdiri diam di halte tempat menunggunya transportasi. Sedikit menyesali karena dia tidak sabaran untuk pulang sebelum hujan bertambah deras tapi tampaknya dia terjebak disini. Bersama, dia.
Canggung. Bertambah. Semakin. Gila.
Awalnya sedikit ketakutan karena hujan ini. Tapi karena ada dia ketakutan itu perlahan menghilang, meski canggung tapi yang penting dia tidak merasa takut untuk kehilangan kesadarannya. Pada situasi seperti ini. Hujan.
...🦄🥀...
...Rilis 20/02/20...
...Revisi 15/07/20...