Diary Of A School: Me And Yu

Diary Of A School: Me And Yu
BAB 18 Apapun Itu Alasannya



Sepeda motor yang sedang melaju dihentikan tiba-tiba oleh sekelompok orang. Dia memandang satu per satu ke orang-orang yang menghalangi jalannya. Orang-orang yang memaksa membawanya ke jalan pergaulan yang buruk.


Pengendara itu memarkir motornya, bangkit dari tempat duduknya dan melepas helmnya. Dan. Bugh! Dia melemparkan helm ke arah mereka. Tanpa basa-basi dia langsung beraksi menghajar mereka. Begitu juga dengan sekelompok orang-orang itu. Saling berkelahi, memukul satu sama lain. Tapi keburuntungan kali ini ada dipihak pengendara motor putih itu.


"Awas lo, gue nggak bakalan biarin lo hidup tenang. Lo udah berkhianat," hardiknya perlahan berjalan mundur untuk menjauh. "Pembunuh seperti lo harus sama-sama mati."


"Ayo cabut."


Pengendara itu berjalan untuk mengambil helmnya yang dilemparkan. Sedikit menahan ngilu di wajahnya, karena luka yang kemarin pun belum hilang dan sekarang bertambah lebam lagi. Hendak akan pergi tapi tiba-tiba saja penglihatannya menjadi kabur, dia merasa pusing dan kepalanya begitu sakit.


"Aaaa," ringkisnya. Berusaha mengatasi sakitnya itu. Tidak begitu lama akhirnya rasanya sakit itu hilang. Dia mengatur nafasnya sebelum dia pergi untuk pulang.


...****************...


Di rumah besar tanpa kenyamanan. Bella baru saja pulang dari kantor dengan pakaian rapi yang sudah terlihat lesu. Saat dia berjalan memasuki rumah, ekspresinya menjadi datar dan tidak senang saat melihat lelaki tua itu duduk di meja makan di tengah makan malam ini.


"Kenapa diam saja? Sini, tidak mau menyapa ayah?" katanya.


Dengan terpaksa dia berjalan ke arahnya memberi pelukan menyambut ayahnya yang baru saja kembali dari perjalanan bisnisnya. Ayah yang tidak sedarah.


Tapi saat pelukan itu perlahan terlepas. "Kenapa kamu menemuinya?"


Suara itu membuatnya merinding tapi tidak kali ini. Bella tidak mau lagi ada dibawah kengkangan ayah tirinya. "Maaf ayah, aku harus menjenguk adikku. Aku bukan seperti ayah dan ibu yang melantarkan anaknya meski kalian menghidupinya dengan materi."


Sepertinya kata-kata Bella membuat ayahnya geram. "Kenapa kamu jadi anak pembangkang seperti ini?" Bentaknya. Bella terperanjat. "Oh atau anak itu yang menyuruh mu berlaku seperti ini pada ayah? Ck, dasar anak tidak tahu diuntung."


"AYAH!!" tekannya. Bella tidak terima bahwa ayahnya menuduh anak kandungnya sendiri. "Kenapa kalian terus-terusan menyalahkannya? Dia masih kecil, dia tidak tahu apa-apa. Seharusnya kalian tidak membuatnya mengalami hal seperti sekarang ini, hidup sendirian. Diumurnya yang sekarang dia butuh kasih sayang kedua orangtuanya, dukungan dari kalian."


"Kamu benar-benar sudah dipengaruhi," bisiknya.


"Ayah....!! Kenapa ayah belum sadar juga," hardik Bella nafasnya naik turun. "Semua yang terjadi ini bukan salahnya. Ini takdir, ayah harus menerima dengan ikhlas."


Ayah dan ibunya masih diam menatap putrinya itu.


"Kalau ayah seperti ini terus. Lebih baik aku tidak menuruti kemauan ayah lagi. Apa itu.. perusahaan, aku tidak membutuhkannya." Bella pun pergi setelah mengatakan hal tersebut.


Membuat ayahnya membulatkan matanya tidak terima. "Bella... Bella!! Mau kemana kamu?"


"Bella..."


"Ck."


...****************...


Rumah itu sangat nyaman untuk dilihat dari luar tetapi tidak untuk hati pemiliknya. Seorang pemuda tiba dengan sweter dan celana pendek berdiri di depan rumah tersebut dengan tersenyum begitu cerah menyinari malam ini. Dia masuk membuka gerbang itu. Tok tok tok.


"Hanna...."


Dia memanggilnya.


"Assalamu'alaikum."


Pintu itu terbuka. "Waalaikumssalam."


Fauzi tersenyum menyapa bi Onah, asisten rumah tangga yang selalu membantu Hanna di rumah ini. Hanna bilang, bi Onah sudah seperti keluarganya karena dari kecil bi Onah yang selalu menjaganya. Keluarga? Hanna belum menceritakannya. Foto-foto keluarga pun satupun tidak ada yang terpasang di rumah ini. Tapi, Fauzi sedikit mendapatkan informasi bahwa kedua orangtua Hanna sudah bercerai.


"Bibi sehat bi?"


"Sehat atuh," jawabnya berseri.


"Bi..." Tidak lama suara yang ditunggu-tunggu telah terdengar, dia keluar.


Fauzi memberi senyuman untuk menyapa begitu juga dengan Hanna.


"Bi, Hanna pamit dulu ya mau keluar sebentar sama Fauzi." Hanna meraih tangan bi Onah untuk mengalaminya.


"Aduhh... anak muda bibi teh jadi hoyong oge," candanya.


"Hoyong naon bi?" tanya Fauzi penasaran.


"Bobogohan atuh den mah..." kekeh Bi Onah sambil menahan malunya.


Fauzi dan Hanna tertawa kecil. "Yaudah bi, sama Fauzi mau nggak dijodohin sama mang Asep?"


"Mang Asep tukang bubur?" tanya Bi Onah.


Fauzi angguk. "Heem."


"Ah." Bi Onah menjadi lesu. "Atuh si mang Asep mah alim bibi mah, teu resep kana kumisna..." Bi Onah sedikit berbisik. "Jualan we bubur, tapi kumisna jiga lele nu tukang maranggi."


Fauzi dan Hanna tidak berkata-kata, bi Onah sangat menghibur.


"Eh naha jadi ngobrol kieu. Hok hok gera berangkat, bisa kemalaman teuing."


"Haha iyah bi. Hanna pergi dulu, assalamu'alaikum."


"Assalamu'alaikum bibi dadah..."


"Waalaikumussalam hati-hati." Bi Onah tersenyum melihat mereka. Bersyukur Hanna mempunyai teman-teman yang baik disisinya. Terlepas dari masa lalu yang menyiksa.


Hanna dan Fauzi hanya berjalan-jalan di sini tidak akan jauh. Saat pulang sekolah bersama, Fauzi mengajaknya makan mie ayam di depan kompleks malam ini dan Hanna menerima ajakan tersebut karena sudah lama juga dia tidak makan mie ayam mang Ucup.


"Mang dua posri ya," pinta Fauzi.


"Oke siap." Katanya sambil menyiapkan pesan orang lain dan miliki kami.


Fauzi dan Hanna duduk.


"Rambut digituin lo makin mirip sama Fauzan," lontar Hanna. "Susah ngebedain."


Hanna mendengus malas. Fauzi tertawa kecil untuk hal itu. Tidak begitu lama kami mendapatkan pesanan kami juga. Mie ayam spesial buatan mang Ucup.


"Makasih mang," kata Hanna.


"Oke neng Hanna."


Mereka berdua mengaduk mie ayam itu agar tercampur dengan bumbu. Melahapnya begitu nikmat.


"Gue udah lama nggak makan mie ayam ini. Enak," puji Fauzi. "Mang Ucup..." Pedagang mie ayam ini menoleh. "Mie ayamnya enak." Fauzi memberikan jempol bintang 10 padanya dan mang Ucap senang.


Hanna hanya berseri dengan tingkah Fauzi itu.


"Lo belum pernah maen ke rumah gue," kata Fauzi kepada Hanna. "Lain kali gue ajak ke rumah ya. Mau?"


Hanna hanya mengangguk senyum. Fauzi senang.


"Lo suka bunga nggak? Kalau iya, di rumah gue banyak. Tamanan apapun, macam-macam bunga ada," papar Fauzi begitu bersemangat mengenalkan rumah yang dipenuhi bunga.


"Kalau bunga Bangkai ada?" canda Hanna.


Raut wajah Fauzi langsung menurun. "Emm kalau itu..." Fauzi berseri. "Heheh nggak ada." Dan langsung kembali dengan makanan di depannya.


"Katanya macam-macam bunga ada," sindirnya sambil terkekeh.


"Ada. Tapi ya kalau bunga itu mana ada orang yang mau nanem. Paling yah itu... Taman Nasional."



"Hahahah ...."


Mereka juga bercanda dan tertawa. Mereka saling menghibur. Saat melihat ke depan sebuah sepeda motor putih yang dikenali Fauzi sedang melintas. Fauzi langsung berteriak memanggil karena motornya tidak melaju terlalu kencang.


"Fauzan...."


Motor itu berhenti mencari siapa yang sudah memanggilnya. Dia menolehkan kepalanya ke belakang. Menemukan saudara kembarnya yang sedang makan mie ayam bersama gadis itu, Hanna.


"Baru pulang?"


Fauzan angguk.


"Sini dulu. Makam mie ayam," ajak Fauzi.


"Lo aja," jawabnya singkat.


"Seriusan?" tanya Fauzi menggodanya.


Tampak Fauzan disana sedang berpikir. "Tolong bungkusin." Dan setelah itu dia kembali menyalakan mesin motornya dan bergegas pergi.


Fauzi terkekeh-kekeh, tentu dia tahu saudara kembarnya tidak akan menolak makanan. Apalagi dia baru saja pulang setelah melakukan pekerjaannya itu.


Hanna juga tidak bisa menahan senyum untuk Fauzan.


...****************...


Motor Fauzan sudah terparkir di depan rumahnya. Dia langsung saja masuk ke dalam rumah. Assalamu'alaikum. Mengucapkan salamnya di dalam hati. Dia tidak mau ibunya melihat kondisi anaknya ini babak belur lagi.


"Eh Den Uzan udah pula--"


"Shutt...."


Pekerja di rumah ini langsung menutupi mulutnya dengan tangan, terkejut. Fauzan memberi isyarat untuk tidak berisik. Bi Asih itu mengangguk oke. Fauzan dengan pelan-pelan menaiki tangga untuk pergi ke kamarnya.


Bi Asih terkejut.


"Uzan kenapa nggak salim dulu sama mamah?"


Fauzan terhenti dan terperanjat kejut. Perlahan membalik badannya dan tersenyum, ia menuruni anak tangga untuk menemui ibunya.


"Assalamu'alaikum, mamah." Mencium punggung tangan surganya. Lalu mencium pipi ibunya itu.


"Waalaikum--Uzan..." Seketika ibunya khawatir setelah melihat wajah putranya itu. "Ini apa?" Mengecek lukanya itu. "Kamu berantem lagi?"


"Nggak, Mah. Ini tadi cuman kebentur tembok. Hehe."


"Bohong," bisik ibunya.


Fauzan hanya berseri.


"Biar mamah obatin dulu, ayok."


"Eheeh Uzan mau mandi dulu."


"Kalau udah selesai langsung turun ke bawah," perintahnya.


Fauzan mengangguk senyum lalu pergi ke atas tapi sebelum pergi dia mengusap perut ibunya itu yang besar. Pintu kamar itu terbuka, dia berjalan melemparkan tasnya ke sembarang arah. Langkah kakinya mengarah ke cermin untuk melihat luka baru di wajahnya, sedikit meringkis perih saat dipegang. Lalu menatap ke depan pada pantulan cermin yang menunjukkan dirinya.


"Gue nggak bisa diem aja."


...🦄🥀☔...


...---------...


...Rilis 26/01/20...


...Revisi 15/07/20...