
Seorang siswa laki-laki mengunjungi kelas seniornya. Hendak akan memanggil seniornya di dalam sana. Tiba-tiba suara siswi begitu ketus menyambutnya sehingga dia tercengang di seberang kelas.
"Cari siapa?" tanyanya lagi.
"Gue cari kak Hanna," jawabnya.
"Oh. Hanna," tawar senior itu.
Terdengar suara helaan nafas dari siswa laki-laki ini. Begitu gugup karena dia berhadapan dengan salah satu anggota geng ThreeZ tingkat 3. Astaga.
"Han... ada yang nyari nih," teriaknya.
Hanna, yang sedang mengerjakan sesuatu di kelas, mendengar suara Karin memanggilnya. Dia segera bangkit dari bangkunya. "Siapa?"
"Penggemar lo, ciki Taro." Dia dengan sinis tersenyum tipis dan segera duduk di kursinya.
Hanna hanya terkekeh, sama sekali tidak tersinggung dengan sikapnya itu. Karena semua aggota kelas XII-MIPA 3 sudah terbiasa dengannya. Hanna menemukan adik kelas yang mencarinya sampai kesini, di depan kelasnya.
"Toro," panggilnya.
"Hallo, Kak." Yang menyapa bukanlah Toro melainkan siswa lain yang bersamanya.
Hanna hanya tersenyum, karena dia tidak kenal. "Ada apa cari kakak?"
"Ini kak, kakak dipanggil sama pak Harto ke kantor," terangnya.
"Oh gitu yaudah makasih yah." Hanna tersenyum.
"Iyah kak sama-sama," balas Toro tidak kalah tersenyum manis. Toro masih diam dengan senyuman itu membuat temannya juga Hanna terheran.
"Toro? Toro..."
"Ah iyah kak?" Toro tersadar.
"Masih ada yang mau dikasih tahu sama kakak?"
Toro tampaknya gelagapan untuk bicara. Namun lagi-lagi temannya itu yang menjawabnya. "Kak Hanna, Toro itu gugup."
"Gugup kenapa?" Heran Hanna.
Toro mengerutkan keningnya menatap temannya itu.
"Gugup karena kak Hanna itu, kakak kelas yang disu--mmpp!!!" Suara itu terputus karena dibungkam oleh Toro dengan tangannya. Toro berseri melihat Hanna.
"Hehehe maaf kak, temen aku rada-rada," sanggah Toro yang masih menutupi mulut temannya itu. "Kalau gitu aku pergi dulu ya kak."
"Ah iyah," jawab Hanna namun masih kebingungan dengan tingkah adik kelasnya itu. Tapi tidak lama ia pun tidak peduli lagi.
"Hann."
Hanna menoleh. "Um?" Menemukan sahabatnya yang keluar dari kelas.
"Ada apaan?"
"Oh itu... Toro, ngasih tahu gue disuruh ke kantor sama pak Harto," terangnya. "Yaudah Gin, gue ke sana dulu ya."
"Hu'um oke."
Hanna pergi menuju kantor guru melewati kelas-kelas lain. Seseorang dibalik kelas samping hendak berjalan keluar kelasnya dan ia melihat Hanna lewat. Dia memperhatikan Hanna pergi lalu melihat ke arah kelas sebelahnya, menemukan sosok yang membuatnya tersenyum sekarang.
"Gin," panggilnya membuat langkah Gina terhenti yang hendak masuk ke dalam kelas.
"Nasrul?"
Nasrul tiba dengan senyuman. "Buat besok. Semangat."
Gina sedikit terkekeh. "Gue kira apa. Yah semangat juga buat lo."
......................
Hanna masuk ke ruang guru untuk bertemu dengan guru mata pelajaran bahasa Indonesia, Pak Harto. Sekaligus guru pembimbing dari ekstrakurikuler Jurnalistik. "Assalamu'alaikum, Pak."
"Hah kamu dateng juga, bapak mau--"
"Waalaikumssalam warahmatullahi wabarakatuh," potong Hanna terkekeh.
Harto mengehela nafas, malu sendiri lalu tersenyum. "Assalamu'alaikum."
"Waalaikumssalam," balas Hanna.
Guru dan murid malah saling terbalik mengucapkan salam.
"Bapak ada apa manggil Hanna?"
"Bapak panggil-panggil Aji, tapi belum dateng juga yaudah bapak manggil kamu aja," ungkapnya. Hanna masih menyimak. "Nah besok sudah pemilihan ketua OSIS dan MPK, buat anggota Jurnalistik persiapkan buat dokumentasinya."
"Kalau itu beres, Pak," jawab Hanna.
"Masih ada," ungkapnya.
"Oh apa lagi, Pak?"
"Minggu depan Paskibraka dan tim basket sekolah kita ada kompetisi, tolong dokumentasikan juga."
"Baik pak siap."
Hanna mengerut heran ketika melihat ekspresi wajah pak Harto. Pak Harto menyuruh Hanna mendekat, Hanna menurut. "Buat penyemangat tim basket...." Pak Harto membisikan sesuatu pada muridnya.
akakshgsusjsnsjoskn
Hanna terkejut langsung menjauh. "Bapak serius?" Pak Harto mengangguk serius dan yakin. "Kayak ginih?" Hanna menggodanya untuk menjahili gurunya tersebut.
Hanna masih menahan tawanya itu, Pak Harto menatapnya jengkel. "Kalau nanti pak Raja ngomel gimana?"
"Makanya kamu usahain jangan sampai pak Raja tahu."
"Kalau berhasil ada hadiahnya nggak?"
"Sama guru sendiri perhitungan," gerutunya. Hanna hanya berseri. Pak Harto mengambil sebuah buku di atas mejanya lalu mengasongkan pada Hanna. Matanya melebar, begitu senang melihat buku itu hendak akan diambil, pak Harto menariknya lagi.
"Yah pak kenapa diambil lagi?" rengek Hanna.
"Kamu yakin pasti berhasil, kan?"
"Bapak percaya aja sama Hanna. Semuanya akan beres," jelas Hanna membanggakan dirinya.
Perlahan pak Harto memberikan buku itu pada Hanna. Dia tahu bahwa muridnya ini menyukai novel karya Tere Liye. Tampak begitu senang dari raut wajah muridnya setelah menerima buku itu. "Bapak tunggu aja kabar baiknya. Soal buku ini, makasih ya pak."
"Eh tapi kembaliin lagi bukunya," pintanya.
"Loh bukannya dikasihin?" Harap Hanna.
"Maunya, itu mahal."
"Ihs perhitungan sama murid sendiri," cicit Hanna pelan. "Yaudah. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumssalam."
......................
Di tengah lapangan. Ternyata ada dua ekstrakurikuler yaitu Paskibraka dengan tim basket putri yang saling berhadapan, bersiap untuk bertarung.
"Kali ini kita singkirkan kata status sahabat di antara kita." Tatapnya begitu sinis kepada ketua basket putri.
"Oke kalau itu mau lo," jawabnya menantang. Dia menengok ke belakang untuk melihat anggota-anggotanya. "Sikat."
Anggota perempuan bakset melangkah maju menghadapi anggota ekstrakurikuler Paskibra namun yang terjadi, anggota ekstrakurikuler paskibra perlahan mundur dan kabur namun anggota bakset terus mengejar mereka. Mereka tak berani bersama kekuatan otot tim basket. Kalah telak.
Tyo yang baru saja tiba dengan tasnya menyaksikan pertunjukkan yang menyenangkan di lapangan. Saling berkelahi. Sesuatu yang dia sukai. Apalagi disana ada Oni dan Afra yang saling bertarung. Tyo puas sekali melihatnya.
......................
Hanna berjalan dengan gembira dan terus melihat-lihat novel yang dipinjamkan gurunya. Sama sekali tidak melihat jalannya dengan heran. Suara mengejutkannya. "Awasss!!"
Hanna menengadah ke atas, matanya membulat. "AaaAaaahh!"
GEDEBUG..!
Seseorang dengan beraninya terjun dari atas balkon hingga menindih Hanna sampai tersungkur. Hanna masih meringkis kesakitan di kepalanya, belum sadar ada seseorang di atasnya. Saat matanya sudah terpejam melihatnya, ia terperanjat. "Fauzan?" Segera dia menyingkirkan orang itu dari atasnya. Tapi Fauzan menariknya sedikit bergeser ke samping dan menggerakkan Hanna di atasnya, dia begitu terkejut hingga bibir Hanna menempel di hidung Fauzan.
Bruk!
Seseorang terjatuh dari atas. "Awww..."
Hanna menarik diri melepaskannya. Menjauh dari Fauzan untuk bangkit. Hanna masih tertegun, begitu terkejutnya. Raut wajahnya tidak bisa terkontrol, sedangkan Fauzan masih tergeletak di lantai, tidak percaya dengan apa yang terjadi tadi. Dengan tidak sengaja. Padahal Fauzan berusaha untuk melindungi Hanna agar tidak tertindih oleh temannya yang turun dari atas sana.
Hanna tidak tahu harus berkata apa, tenggorokannya seperti tercekik sulit untuk bersuara. Dan lebih memutuskan kabur dengan malu dan kejutnya.
"Zan, buruan nanti ketahuan," cakap orang itu.
"Hah iiya.." imbuh Fauzan gugup.
Fauzan bersama temannya pergi untuk menemui satu orang lagi. Melihatnya di dekat lapangan segera mereka menemuinya. Dia menepuknya.
"Yo, ayok cabut."
"Eh bentar gue pengen liat dulu mereka, asik tuh lagi seru berantem," terang Tyo pada anggota dua ekstrakurikuler yang masih memperebutkan lapangan disana.
"Wah seru tuh," lontarnya. "Eh mumpung lagi rusuh, kesempatan buat kita cabut. Buruan buruan..."
Tyo dan Fauzan langsung pergi mengarah ke arah gerbang dengan alasan.
"Pak Japri..." panggil Tyo.
"Aya naon?"
"Itu pak di lapangan ada yang berantem," lanjutnya.
"Cewek lagi, Mang," jelas Fauzan.
"Beneran ieu teh?"
"Bener atuh, Mang. Masak bohong."
Satpam bernama pak Japri begitu panik. "Yaudah atuh bapak ke sana dulu."
"Iyan pak iyah...." Semangat dari ketiga siswa yang akan membolos itu.
Setelah perginya pak satpam, segera ketiganya kabur dengan mudah melewati gerbang depan sekolah.
...🦄🥀☔...
...Bersambung ......
...__________________...
...Rilis 03/02/20...
...Revisi 15/07/20...