Diary Of A School: Me And Yu

Diary Of A School: Me And Yu
BAB 43 Di Kala...



Pagi telah tiba kembali pada rutinitas sekolah.


Semalam Hanna diantarkan pulang dengan selamat sampai rumah oleh Fauzi dan tidak banyak bicara ataupun mampir ke suatu tempat lagi dari pertandingan semalam itu. Hanna juga tidak menanyakan keberadaan Fauzan.


Di sekolah tercinta.


Hanna sudah berada di kelas sambil menatap ponselnya. Entah kenapa dia sangat ingin mengetahui kabar dari pemilik wajah yang kesulitan untuk tersenyum. Dia membuka kontak chat Fauzan, tapi hanya menatapnya ragu untuk mengirimkan pesan. Karena sebenarnya mereka sama sekali tidak pernah saling mengirimi pesan, hanya bertukar kontak saja.


Dooooor


Hanna terperanjat kejut. Mendengus. Oni mengagetkannya.


"Lagi ngapain?" Oni mengintip pada ponsel milik Hanna tersebut.


Dan. Tunggu.


Oni nanap melihat pada Hanna segera Hanna merebut kembali ponselnya itu dengan kesal.


"Hanna lo beneran sama Fauzan? Jadi rumor itu beneran?"


Hanna menyipitkan matanya itu setelah mendengar kalimat ngawur Oni.


"Astaga gue nggak nyangka." Oni menutupi mulutnya dengan kedua tangannya. "Gue kira lo bakalan sama Fauzi."


"Nggak usah nyebar gosip deh," decit Hanna memposisikan duduknya ke depan sambil membawa novel pemberian pak Harto. Larat, dipinjamkan.


Tetap saja ucapan Hanna tidak berpengaruh untuk Oni. Oni masih ternanap berdiri di sana. Hanna beranjak dari tempat duduknya, mengacuhkan Oni dan pergi begitu saja dengan novel di tangannya dan melewati Gina yang baru saja masuk ke dalam kelas.


Gina kebingungan lalu bertanya pada Oni. "Ada apaan?"


Kata asik dalam pikiran Oni sekarang. Dia mendapat rekan untuk bergosip nya hari ini.


"Apa apa?" kejut Gina langsung ditariknya oleh Oni ke tempat duduk Afra yang paling ujung dan paling belakang.


Afra kemana? Dia dispen karena akan mengikuti pertandingan hari ini.


"Gue lupa mau tanya sesuatu, itu si Hanna seriusan sama Fauzan?"


"Maksudnya?"


"Itu rumor kalau Fauzan lagi PDKT sama Hanna," jelasnya Oni.


"Ahhh iyahyah gue baru inget," kilah Gina. "Gue nungguin lo buat bahas ini, tahu nggak kalau sama Afra mah nggak rame."


Oni tersenyum bangga. "Jelas, sama gue mah diladeni soal ginian mah, sama Afra mah cuman hem iyah oh... nggak seru."


Gina menyetujui hal itu.


...****************...


Di gedung olahraga berada. Afra bersama tim-nya tengah berkumpul di salah satu ruangan untuk bersiap-siap. Namun, Afra merasa telinganya gatal sedari tadi.


"Lo kenapa Fra?"


"Ini telinga gue nggak tahu kenapa, gatel sama sakit..."


"Alah itu mah ada yang ngomongin lo Fra," timpalnya tertawa.


"Wah siapa yang berani ngomongin kapten kita nih..."


Dan Afra bersumpah dalam hatinya siapa yang berani membicarakannya, akan mendapat balasannya.


...****************...


Hanna yang keluar dari kelas dan tanpa sengaja melihat sesosok yang ingin tahu bagaimana keadaannya. Dia berada di satu ruangan berdiri di depan membaca sajak yang ditonton oleh teman-teman sekelasnya. Hanna tiba-tiba terukir dengan senyuman melihatnya.


Yang tak menarik dari mati


adalah kebisuan sungai


ketika aku menemuinya.


Yang menghibur dari mati


adalah sejuk batu-batu,


patahan-patahan kayu pada arus itu


"... Karya Goenawan Mohamad."


Suara tepuk tangan terdengar untuk Fauzan yang membacakan sajak sebagai tugas sekolahnya.


"Gagal," tangkas Harto. "Bapak kan minta sajak romantis kenapa kamu milih sajak bertaduk kematian."


"Pak, Fauzan mah hidupnya hitam semua, nggak berwarna," celetuk Aji.


Dan seisi kelas mentertawakannya. "Hahahahah HAAHAHAHA Ahahahahh...."


Tentu Hanna yang menyaksikan itu ikut tertawa kecil di luar sana.


"Ulangi," sambung Harto.


Fauzan pasrah. Mencoba untuk melupakan menjadi dirinya sebagai Fauzan.


Di kala malam hujan gerimis


Gadis itu bersedih


Di kala langit ikut menangis


Anak nakal tumbuh sadarkan diri


Malam menjadi cerminan


Di kala Hujan yang menghiasi


Meski kenangan pahit


Akan ku tutupi dengan cinta


Cintaku akan menjadi peneduh mu


Seperti payung di kala turun hujan


Engkau Malam dan Aku Hujan


Kita sudah ditakdirkan untuk bertemu


Dan bersama dalam ikatan derita ini.


".... Karya Hujan."


Semua terkesima, takjub, terdiam menatap pada Fauzan sampai bait terakhirnya. Perlahan suara tepuk terdengar lalu semakin ramai tepukan tangan tersebut. Fauzan mendapat pujian dari teman-teman sekelasnya juga guru, pak Harto.


"Sajak cinta yang sedih," ungkap Harto sedikit dramatis mengusap air matanya.


"WIKWIW..... FAUZAN KEREN.... HUY...."


"Gue nggak nyangka lo punya sisi sastrawan," puji Aji.


Fauzan senang tapi tidak menunjukkannya.


"Fauzan, siapa sastrawan Hujan itu?" tanya Harto.


"Ada, seseorang yang saya kenal," jawabnya.


Fauzan kembali untuk duduk tapi di saat itu, dia tidak sengaja melihat ke arah jendela menemukan sosok gadis Malam yang ada dalam sajak yang ia buat tadi. Hanna.


Hanna tampaknya menyadari. Mereka saling bertatapan tidak lama, Hanna menghapus air matanya itu lalu pergi begitu saja.


......................


"Ah jadi ceritanya kayak gitu, gue juga dikasih tahu sama Tyo waktu itu," papar Oni setelah kembali mendengar cerita yang lebih detail tentang kasmaran Hanna dan Fauzan.


Rumor.


"Jadi Hanna belum cerita apa-apa tentang itu?" lanjutnya.


"Belum," jawab Gina. "Gue heran sih. Tapi di depan kita, Hanna lebih nonjolin kedekatannya sama Fauzi. Kalau sama Fauzan... jarang, nggak pernah malah. Cuman waktu itu doang sekali dan itu jadi rumornya."


"Hanna tahu soal rumor itu nggak?"


"Kayaknya sih tahu tapi enggak juga, ah gue nggak tahu, sahabat kita kan orangnya gitulah. Jangan ditanya."


"Bener juga..." sambung Oni.


Hanna yang ada dalam rumor tidak memusingkan hal itu, tapi malah kedua sahabatnya.


"Em menurut lo, Hanna bakalan milih siapa semisalnya saudara kembar itu sama-sama suka sama Hanna?"


Gina berpikir sejenak. "Jujur, gue mendingan Hanna sama Fauzi aja. Fauzi kan udah jelas anaknya baik, berprestasi lagi. Dia pasti bisa jagain Hanna."


"Tapi gue rasa, filing gue Hanna bakalan milih Fauzan," terang Oni. "Lo tahu kan, biasanya karakter kayak Fauzan itu lebih menarik, apalagi buat Hanna, baru kali ini dia ngalamin kayak gini."


"Iyah tapi kita nggak tahu apa yang terjadi sama mereka. Gimana mereka bisa deket atau apapun itu, tapi gue rasa rumor yang Hanna bolos sekolah sama Fauzan itu bener, deh."


"Seriusan?" kejut Oni.


Gina angguk. "Waktu itu Hanna emang ngilang nggak tahu kemana, sampai pulang sekolah dia nggak balik-balik lagi. Tas nya juga nggak ada."


"Gin, kita nggak boleh diem aja. Hanna harus cerita soal ini," tegas Oni.


Gina pun ikut angguk dengan teguh.


"KITA BERSATU dan lupakan Afra yang tidak mau tahu, Hanna yang mau tidak mau."


Solagan bagi Gina dan Oni ketika mereka bersatu dalam tujuan yang sama.


......................


Hanna terus berjalan dan akhirnya berhenti, terdiam sambil menghapus air mata. Entah kenapa tapi tiba-tiba saja air mata keluar membasahi pipinya setelah mendengar sajak yang dibacakan oleh Fauzan.


"Hanna..."


Terperanjat segera menoleh.


"Kamu nggak papa?"



Fauzi khawatir.


"Enggak, aku cuman kelilipan," balas Hanna senyum. "Ngapain disini? Nggak belajar?" Hanna mencoba mengalihkan perhatian.


"Habis selesai kuis," tutur Fauzi.


Hanna hanya ber'oh. "Em aku ke kelas dulu."


"Bareng aja."


Hanna pun mengangguk.


Sedikit berbicang sambil berjalan menuju kelas mereka yang tidak berjauhan.


"Kamu serius nggak papa?" Ternyata Fauzi masih mencemaskan keadaan Hanna.


Hanna mengangguk senyum.


Saat ia tahu bahwa Hanna adalah salah satu korban dari kecelakaan yang sama dengan Fauzan. Fauzi pun ikut merasakan rasa bersalah terhadapnya, apalagi untuk semakin dekat dengannya dia tidak berani. Bagaimana perasaannya sekarang? Bagaimana keadaannya? Apa dia masih menderita sampai sekarang? Dia tidak menyangka bahwa Hanna lah yang dimaksud oleh Fauzan. Tapi, kenapa harus Hanna? Fauzi merasakan, perlahan-lahan ada tembok yang ingin memisahkan dengannya karena masalah ini.


Sampainya di depan kelas Hanna. "Aku masuk."


"Iyah."


Hanna tersenyum setelah itu memasuki kelasnya.


Oni dan Gina yang sedari masih asik duduk di tempat duduknya Afra yang tidak ada, terus bercerita seperti remaja perempuan biasanya.


"Hanna..." Gina memberitahu Oni bahwa Hanna sudah kembali ke kelas.


Hanna langsung saja duduk di tempatnya. Gina dan Oni kebingungan mendapatkan raut wajah Hanna yang murung.


"Han, lo kenapa?" tanya Gina.


"Gue baik, kenapa emang?" tanya Hanna sudah mengubah ekspresinya.


"Seriusan?" sosor Oni. "Apa geng ThreeZ ngusik lo lagi gara-gara lo deket sama Fauzi Fauzan?"


Hanna tersenyum tipis. Pertanyaan aneh.


"Oy Oni," panggil sewot Karin kepada Oni. Oni, Gina dan Hanna ikut menoleh padanya. "ThreeZ dah damai sama Hanna."


"Dih ya kali lo lo pada masih iri sama Hanna," timpal Oni. "Apalagi si Tiara."


"Sorry yah ThreeZ generasi 3 dah pensiun. Tiara juga bakalan bersaing secara sehat sama Hanna," bela Karina untuk teman dekatnya, Tiara.


"Yah bagus deh kalau kalian nggak ngusik orang lagi, tobat," sindir Oni.


"Oni...." Gina berbisik untuk menghentikan perdebatan itu, Oni selalu saja terpancing dan berakhir dengan keributan.


Karina sangat ingin melawannya balik, tapi tidak kuasa untuk hari ini. Dia cukup lelah karena terus latihan Cheerleader untuk penampilannya kemarin.


Tidak lama kemudian.


"Han.." panggil seseorang di luar sana. Hanna menengok melihatnya Aji di sana.


"Kenapa Ji?"


"Ayok, kita harus ke gedung olahraga buat tim basket putri."


Hanna lupa. "Tunggu bentar."


Hanna telah siap menggendong ranselnya. "Gina, Oni gue duluan ya."


"Iyah Han."


Hanna pun bergegas pergi.


...☔🦄🥀...


...Bersambung...


...________________...


...Rilis 18/04/2020...


...Revisi 28/07/2020...