
Berlanjut....
Gina yang terheran dengan tingkah laku Nasrul, dia bertanya-tanya. "Mau kemana?"
Nasrul menarik Gina ke tempat sepedanya berada. "Kita sepedahan."
Gina tersenyum dan mengangguk. Nasrul menumpang dengan Gina. Mereka asik bersepeda dan menikmati setiap suasana yang mereka lewati. Udara yang segar dan cerah juga menjadi mood bahagia kami.
...****************...
Hanna dan Fauzan ada kecanggungan tersendiri karena kejadian tadi. Hanna masih merona akibat apa yang dilakukan oleh Fauzan padanya. Setelah melakukan itu, Fauzan hanya diam saja. Ada sedikit kekesalan untuk Hanna. Kenapa setelah melakukan itu dia diam saja, bukannya mengatakan sesuatu. Mungkin mengajaknya pacaran atau apa.
Itu first kiss gue.
Mereka sampai di Station Radio.
"Hai... Kalian ke sini."
Kami disambut dengan hangat oleh Bang Gilang.
"Gimana ujian kalian? Lancar?"
"Lancar, Bang."
"Bagus bagus bagus." Gilang tersenyum dan senang atas kelancaran ujian sekolah mereka. "Kalian datang ke sini mau ikut siaran atau apa nih..."
"Sebenarnya kita kesini ada perlu sama lo bang," cetus Fauzan.
"Oh perlu sama gue nih? Mendingan kita duduk ajah nih ya, biar enjoy."
Fauzan dan Hanna berbagi kebingungan kami sebagai siswa SMA yang akan segera lulus dan melanjutkan studi ke jenjang berikutnya. Mereka meminta nasehat pada Bang Gilang.
"Disini kalian harus peka apa yang mampu kalian bisa lakukan sendiri dan apa yang hanya bisa dilakukan di bangku kuliah. Bisa membedakan mana hobi dan mana untuk jenjang karir. Tapi kalau memang kalian mau mendalami hal yang kalian sukai itu lebih baik daripada kalian terpaksa mengambil jurusan yang kalian tidak senangi karena kalau salah pilih lebih banyak mereka di luaran sana berhenti ditengah-tengah dan membuang waktu mereka sedari awal."
Hanna benar-benar mendengarkan nasehat bijak Bang Gilang dan mampu membuat Hanna mengambil keputusan yang tepat atas kebingungannya.
"Jadi buat lo lo pada jangan sampai kalian ngambil jurusan yang salah apalagi terpaksa dan membuat waktu kalian terbuang sia-sia. Itu sangat disayangkan. Pilih yang bijak dan buat hati senang."
Hanna tersenyum. "Makasih Bang Gilang. Saran dari Bang Gilang ngebantu banget. Hanna jadi lebih percaya diri buat ngambil keputusan."
"Alah itu nggak seberapa hehehe. Tapi gue seneng, setidaknya gue bisa bantuin kalian dengan kata-kata gue," kekeh Gilang.
Seseorang datang menghampiri kami. "Permisi bang 5 menit lagi."
"Ah iyah yah." Gilang bangkit. "Hanna Fauzan, gue nggak bisa nemenin lama-lama, gue masih ada jadwal."
"Nggak papa, Bang. Makasih malah," ucap Fauzan.
"Sekali lagi makasih yah, Bang," sambung Hanna.
"Sama-sama. Okee see you."
Hanna tersenyum lebar pada Fauzan. Fauzan sangat senang jika Hanna benar mendapatkan jawaban yang selama ini dicarinya. Mereka kemudian meninggalkan Stasiun Radio dan berjalan-jalan menikmati suasana cerah hari itu.
...****************...
Saat berada di jalur pudunan yang sangat tajam dan menurun. Nasrul tiba-tiba mengerem.
"Kenapa?"
"Jalannya mudun. Kita... turun ajah yah nggak usah naiki sepeda. Bahaya," paparnya.
"Justru itu yang serunya. Kamu takut?"
Nasrul diam memandangi kembali pudunan itu, tampak ketakutan. Gina melihat reaksi tersebut tersenyum.
"Yaudah biar aku yang di depan, kamu di belakang aja. Aku boncengin."
Meski masih ragu, akhirnya Nasrul memutuskan untuk dibonceng oleh Gina.
"Siap?"
"Iiiyah..."
"Last Go...!" Sepeda akhirnya melaju kembali menuruni jalan menurun dan itu sangat menyenangkan.
Nasrul memegang erat pinggang Gina karena dia takut jatuh saat ini dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan. Nasrul benar-benar ketakutan tapi menurutnya. Seru juga.
Akhirnya kembali ke jalan yang mulus tapi sepedanya masih melaju.
"Gimana? Seru?"
"Seru tapi takut juga hehe."
Gina tertawa melihat Nasrul seperti itu. Ternyata dia juga punya ketakutan. Saat melintas, Gina tanpa sengaja melihat seekor kucing terjebak di dahan pohon. CEKITTT.
Dia mengerem tiba-tiba sampai kepala Nasrul membentur punggungnya dan itu membuat Nasrul membeku. Jantungnya berdebar-debar. DEG DEG DEG.
Jantung gue jangan kaya ginih. Bisa-bisa Gina denger. Batin Nasrul.
"Nasrul?"
"Nasrul?"
"Ah i-iyah Gina?" Nasrul segera mengalihkan kepalanya dari tubuh Gina lalu turun dari sepedah.
"Disana ada kucing." Gina menunjukkan kucing tersebut. "Aku mau tolongin kucing itu dulu. Kamu tunggu disini."
Gina langsung menghampiri kucing yang terjebak di dahan pohon. Yang memungkinkan si kucing tidak bisa turun dari sana.
Nasrul masih saja terdiam. Ia sebenarnya ingin membantunya juga. Tapi ....
"Gina hati-hati .." teriak Nasrul.
"Iyah ..." Gina sudah berada di dahan pohon itu dia berhasil memanjat dan membawa kucing tersebut. Namun pada saat itu kakinya terpeleset saat akan turun dari pohon tersebut. Yang kemudian.
"Aaaaaaaa.....!"
"Gina ...?!!"
Nasrul berhasil menangkap Gina yang terjatuh dari pohon dan sama-sama jatuh ke tanah. Mereka saling bertatapan. Orang-orang yang ada disini dan karena jalan ini selalu dilintasi oleh murid-murid dari sekolah yang sama.
"Hahahaha Aahahahahh HAHAHAHA..."
"Itu kan si Nasrul."
"CIEEE CIEE ....."
"WIKWIKWIW ..."
"Mantan Ketos sama Buketu MPK nih ..."
Gina dan Nasrul segera berjauhan dan beranjak untuk berdiri. Mereka saling senyum dan malu. Salah tingkah.
...****************...
Hanna dan Fauzan dilanda kembali dengan kecanggungan karena hanya berduaan. Fauzan merasa bersalah juga, sudah mencium Hanna. Apalagi dia tidak mau dianggap sebagai laki-laki yang mempermainkan wanita, tapi dia juga tidak bisa mengajaknya untuk pacaran.
Fauzan mencoba meraih tangan Hanna lalu digenggamnya tangan lembut itu. Hanna sedikit terkejut, Fauzan tersenyum. Mereka saling bergandengan tangan. Tanpa tahu status mereka apa sekarang.
Fauzan baru sadar dengan tempat ini. Ternyata tempat ini adalah tempat yang mempertemukan dirinya dengan Hanna.
Jembatan ini....
Begitu juga dengan Hanna, dia tersadar bahwa tempat ini adalah tempat dirinya ingin berhenti melangkah, dia ingin mengakhiri hidupnya disini.
Bahwa kenyataannya tempat ini adalah sebuah takdir bagi mereka. Suatu pertemuan sekaligus tempat yang membuat mereka sama-sama ingin mengakhiri hidup namun suatu harapan muncul di saat mereka sama-sama merasakan penderita.
"Kamu kenapa bisa telat tadi? Nggak bawa motor juga."
Akhirnya ada pembicaraan juga di antara mereka.
"Matornya mogok."
"Ohh... Ah iyah aku juga nggak liat mobil Fauzi tadi di sekolah, dia nggak ke sekolah?"
"Engga, dia jagain mamah di rumah."
"Mamah kamu mau lahiran?"
Tampak kepanikan dari Hanna membuat Fauzan tersenyum. "Belum."
"Kirain heheh.. Aku nggak sabar pengen liat adik kamu, padahal aku belum pernah ketemu mamah kamu loh. Ke rumah kamu juga belum heheh."
"Nanti."
Singkat.
"Fauzan, makasih ya sekarang aku udah dapet jawabannya."
Fauzan mengangguk senyum. "Gue seneng kalau lo udah tahu apa yang lo cari selama ini."
Mereka mengobrol sambil berjalan berdampingan.
"Uzan..."
"Hem?"
"Aku ngerasa nggak asing sama kamu," lontar Hanna secara tiba-tiba membuat Fauzan terkejut.
"Hah?"
Fauzan terdiam.
"Inget apa? Apa... dulu kita pernah ketemu?"
Fauzan terdiam kembali. "Emmm.. mungkin."
"Jadi kita pernah ketemu? Dimana?" tanya Hanna antusias.
Fauzan hanya terdiam dan melanjutkan langkahnya.
"Ihh... Fauzan jawab ..."
Fauzan menggelengkan kepalanya tidak mau dam Hanna berusaha agar Fauzan memberitahunya. Tapi tetap saja usahanya gagal. Ketika itu pandangannya menemukan sebuah menara Eiffel buatan di pinggir jalan menghiasai. Hanna terkesima melihatnya.
"Fauzan, kita ke sana dulu." Ditariknya Fauzan olehnya penuh semangat. Matanya begitu berbinar melihat menara Eiffel meski buatan. Fauzan tersenyum melihat tingkahnya itu.
"Berdiri di sana," pintanya. "Biar gue fotoin."
Hanna dengan semangat berlari kecil mendekati menara Eiffel itu. Fauzan mengambil gambar Hanna begitu banyak dari ponselnya.
"Aku mau liat." Fauzan menghampiri dan memperlihatkannya. "Nanti kirimin ke aku ya."
Fauzan hanya mengangguk senyum.
"Sekarang kita selfie," ajak Hanna. Mencoba meraih Fauzan lebih dekat agar terambil oleh kamera. "Fauzan senyum."
Tersenyum lah Bulan setengah Matahari itu.
"Lo suka banget menara Eiffel?"
Hanna angguk. "Kamu bilang kamu pengen keliling dunia. Dari seluruh dunia itu, kamu mau bawa aku ke Negara mana?"
"Perancis."
"Yaaah kamu bilang itu karena udah dikasih tahu kalau aku suka menara Eiffel...."
"Engga. Gue emang pengen ngajak lo ke Perancis."
Hanna tampaknya senang. "Kenapa? Kenapa? Apa karena romantis?"
"Bukan."
"Terus?"
"Mau ketemu Victor Hugo," jawabnya lalu pergi.
Hanna masih diam dengan kebingungannya. "Victor Hugo?"
"Tertawa adalah matahari yang mendorong musim dingin dari wajah manusia." Fauzan menoleh heran di saat Hanna mengucapkan kata-kata yang memiliki arti dalam itu dengan tiba-tiba. "Kutipan Victor Hugo penulis dari Perancis." Hanna kembali berucap.
Seketika terukir senyuman dari Hanna. Dia mengingatnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya tiba di malam hari. Keberangkatan Aji di bandara Soekarno-Hatta menuju Belanda. Di sini mereka akan berpisah. Cukup lama untuk melihatnya lagi. Sambil menunggu dan berharap. Aji terus menerus mengecek ponselnya.
Hanna mendapati Aji seperti itu, ia tahu apa yang dicemaskannya. "Belum ngabarin juga?"
Aji terlihat murung. Hanna sendiri pun tidak tahu kemana Afra, dihubungi pun tidak ada jawaban sama sekali darinya.
Suara pengumuman penebangan terdengar. Jadwal penerbangan Aji akan segera berangkat, dia harus check-in.
Aji memeluk orang tuanya. Begitu juga dengan Hanna. Hanna memeluknya dengan sangat erat.
Hanna menahan tangisnya. "Lo harus sering-sering kirim pesan ke gue."
Seperti biasanya Aji mengacak-acak puncuk kepala Hanna. "Sini, gue bakalan kangen." Aji menariknya kembali pada pelukan.
Oni yang melihatnya sedih dan terharu oleh kedekatan mereka sampai-sampai dia memeluk Gina yang ada di sebelahnya.
"Pah, bun. Aji masuk sekarang," ucapnya.
"Hati-hati bro. Wait for me there," kata Tyo.
Aji tersenyum sedikit sedih meninggalkan orang-orang yang ia sayangi.
"Cepet balik, Ji. Nanti gue nggak ada orang yang bisa diajak berantem," sambung Oni.
Aji tertawa mendengarnya. "Hahaha."
Melihat semua temannya ada di sini kecuali Fauzan dan Afra. Namun, Aji merasa sangat sedih karena orang yang ditunggunya tidak kunjung datang. Pada saat dirinya akan pergi cukup lama untuk kembali lagi. Kenapa Afra tidak datang.
Afra, apa gue bener-bener nggak ada apa-apanya di mata lo? Dalam hati Aji.
Aji pun akhirnya sudah memasuki bandara untuk bersiap-siap check-in.
......................
Kami berada di tempat parkiran.
"Fauzi, kemana Uzan?" tanya Hanna. "Kenapa nggak ikut kesini?"
Uzan? Maksudnya Fauzan.
"Dia... lagi jagain mamah di rumah sakit. Bentar lagi lahiran," terang Fauzi.
Hanna terlihat senang mendengarnya. "Kalau gitu kabarin aku yah kalau mamah kalian udah lahiran."
Fauzi tersenyum senang memandang Hanna begitu mendalam.
Fauzan, lo semakin deket sama Hanna. Apa keputusan lo ini bener-bener nggak bakalan nyakitin dia lagi setelah lo pergi. Dalam hati Fauzi.
"Ayo Han, kita pulang," ajak R. Sastra. Ayah dari Aji.
Hanna mengangguk. "Aku duluan ya, Zi. Guys gue duluan..."
Hanna melambaikan tangannya.
"Dahh Hanna," ucap Oni.
Semua kembali ke kota Bogor. Awalnya dia akan bertemu Kak Bella, saat Hanna berada di Jakarta. Tapi, dia juga ragu untuk bertemu dengannya. Hanna hanya mengirimkan pesan pada kakak tirinya itu. Dan ternyata Bella juga tidak bisa bertemu. Tetapi dia mengatakan bahwa dia akan pergi ke Bogor dan menginap untuk melihat kelulusan Hanna nanti dan itu membuat Hanna senang.
...****************...
Di sinilah Afra, di rumahnya. Dia berbohong agar dia tidak datang untuk mengantar Aji ke bandara. Karena Afra tidak mau terpengaruh oleh perasaannya sendiri. Tepat ketika dia mulai membuka hatinya kepada seseorang, dia sudah akan ditinggalkan. Afra tak ingin perasaannya membesar dan melihatnya pergi membuat hatinya sakit. Jadi dia memutuskan untuk diam. Berusaha untuk tidak terbawa oleh perasaannya. Apa ini yang dirasakan oleh Oni ketika dia tahu bahwa Tyo akan pergi.
...****************...
Ia tiba di kota Bogor setelah mengantar Aji menuju bandara Soekarno Hatta. Hanna masih memikirkan sikap Afra yang sama sekali tidak memberi kabar.
Besok gue harus ke rumahnya. Dalam hati Hanna.
Hanna ingin memastikan sendiri, dia juga khawatir dengan Afra.
...****************...
"Makasih, Rul," ucap Fauzi
"Zi, salam yah buat Fauzan..." pesan Oni. Tuk! "--Aaawh! Sakit Tyo!"
"Uhh sakit yah? Sini-sini mana?" Pura-pura tidak bersalah. Oni mendengus.
"Yaudah, Zi. Kita cabut dulu," papar Nasrul.
"Oke hati-hati."
Fauzi tidak membawa mobil, dia ikut dengan yang lain agar mereka bisa pergi bersama. Tapi Fauzi turun dan berhenti di rumah sakit. Karena semua keluarganya ada di sini
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Ketika memasuki ruang rawat, ibunya sudah tertidur. Lalu melihat saudara kembarnya yang masih terjaga, duduk di kursi.
"Kenapa lo belum tidur?" tanya Fauzi kepada Fauzan yang tengah duduk.
"Nunggu lo balik."
"Ayah kapan kesininya?"
"Besok."
Fauzi, Fauzan, serta ibunya sudah lama menunggu ayahnya pulang dari urusan bisnisnya itu.
"Zan, lo dah beneran udah yakin?"
Fauzi memastikannya kembali dan Fauzan tahu arah pembicaraan tersebut.
"Gue dah yakin. Keputusan gue udah bulat."
Fauzi menghela nafasnya tidak bisa berkata-kata lagi.
...🥀...
...Rilis 31/05/2020...
...Revisi 15/08/2020...