
☀️ Esok hari tiba.
Kami sudah berada di meja makan untuk sarapan. Hanya Aji yang belum terlihat di sini. Teringat kejadian tadi malam, Hanna berusaha melepas jika Aji memang ingin melanjutkan kuliah ke luar negeri. Ia berpikir bahwa ia harus berusaha untuk tidak bergantung padanya lagi dan bersyukur telah bertemu dengan Aji dan keluarganya.
Tak lama kemudian, sosok Aji datang.
"Mau kemana? Pagi-pagi udah rapih," kata Papah R. Sastra sembari menikmati kopi di pagi hari.
"Kamu mau keluar?" tanya Hanna yang duduk disamping Papah R. Sastra.
Sedangkan Bunda Naila masih menyiapkan makanan.
"Pah, Aji ijin mau keluar yah," pamit Aji berseri. "Han maaf nih gue udah ada janji."
Hanna angguk. "It's okay."
Aji menghampiri Hanna dan berbisik. "Gue mau jalan sama Afra."
"APA?" Reflek mengeluarkan suara yang cukup keras karena terkejut.
"Ada apa Hanna?" tanya R. Sastra yang juga terkejut karena suara Hanna.
Hanna sedikit malu dan tersenyum. "Nggak papa, Pah. Hehehe."
"Lo sih, biasa aja kalau kaget," decit Aji.
Hanna tidak meladeni hal itu. Yang pasti.
"Kok Afra bisa mau?" tanya Hanna dibalas dengan bisikan kembali.
Aji menyombongkan dirinya. Berusaha terlihat hebat di mata Hanna. "Nggak bakalan ada yang nolak kalau diajak sama orang ganteng."
Mendengarnya terasa ingin muntah. HWUEKK!
"Lo disini dulu ya jangan dulu pulang. Kalau mau pulang hari ini nanti biar gue yang anter," ucap Aji.
"Iyah, yah. Sana nanti Afra kelamaan nunggu," usir Hanna kepada Aji.
Papah R. Sastra menatap dua anaknya itu. Melihat anak-anaknya sedang mengobrol sampai-sampai harus berbisik seperti itu. Dia pun mengegeleng-gelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
"Pah, Aji pergi." Aji berpamitan lagi.
"BUNDAA... Aji pergi dulu. Assalamu'alaikum."
Aji meninggalkan rumah. Tak lama kemudian, Bunda Naila datang membawa makan.
"Pergi kemana katanya?"
"Jalan sama Afra, Bun," jawab Hanna.
Bisikan itu tidak mempan untuk membocorkannya pada Bunda Naila.
"Afra?" R. Sastra kebingungan. "Afra siapa yah? Papah kok baru denger."
"Cewek yang ditaksir sama Aji, Pah. Waktu itu dia pernah dateng kesini tapi papah lagi di luar kota," jelas istrinya. "Cantik lo, Pah. Iyah kan Hanna?"
Hanna mengangguk senyum. "Afra sahabat Hanna, Pah. Dia, ba.... ik. Papah tenang aja."
Papah R. Sastra tersenyum angguk percaya.
...****************...
Di kediaman rumah si kembar. Seseorang dengan pakaiannya yang sudah tahu menunjuk siapa itu Fauzan. Turun perlahan dari anak tangga.
"Uzi, mana mamah?" tanya Fauzan menghampiri Fauzi yang tengah menonton televisi.
"Mamah keluar sama bi Asih," jawab Fauzi. Dan kemudian melihat Fauzan sudah berpakaian rapih ia pun bertanya. "Mau kemana?"
"Gu-e mau cari angin. Nanti kalau mamah nyariin kasih tahu." Bohongnya. "Gue cabut dulu."
Fauzi pun tidak berpikir yang aneh-aneh pada saudara kembarnya. Ia melanjutkan kegiatannya menonton televisi.
Fauzan sudah berada di luar, bersiap untuk pergi. "Kali ini harus bener."
Ia pun mengendarai motornya. Brum.
...****************...
Aji dan Afra sepakat bahwa hari ini Afra akan dibonceng oleh Aji dengan sepeda motornya. Aji menjemput Afra di rumahnya. Afra terlihat berdiri di depan rumah. Saat Aji datang yang sedang berkendara menuju Afra, dia sangat terpana dengan sosok Afra.
Di matanya, Afra tampak bersinar menyilaukan di dalam hatinya. Aji melihat Afra tersenyum padanya.
Namun.
"Aji.."
"Aji!"
Aji tersadar dari hayalannya. Membayangkan sosok Afra tersenyum manis namun ternyata tidak.
"Hai," sapa Aji.
"Hm." Balasan Afra membuat Aji sedikit kesal tapi lucu.
Aji pun memberikan helm kepada Afra.
"Gue nggak usah pamitan dulu nih sama orang rumah?" tanya Aji.
"Nggak usah, udah diwakilin sama gue," kilah Afra kemudian menaiki motor.
Aji hanya mengangguk dan kemudian bersiap-siap untuk pergi.
Kami pun sudah meninggal tempat ini.
Terasa semilir angin pagi yang masih belum tercemar. Aji tak ingin melupakan momen ini. Dia akan menikmati yang terbaik yang dia bisa dengan Afra sebelum dia pergi cukup lama.
...****************...
Hanna juga menikmati saat-saat di rumah bersama ibu dan ayah Aji. Lama-lama kami ngobrol di halaman dengan Bi Imas yang sedang membantu Mang Joko membersihkan rumput di sana.
"Bibi seneng ada Non Hanna kemari lagi. Jadi rame," kata Bi Imas ikut bersuara.
Kami pun tersenyum mendengarnya.
"Yah Non, sering-sering aja dateng kadienya." Diikuti oleh Mang Joko.
Bi Imas pun menyenggol Mang Joko. "Hus.. Emang bumi ieu teh anu Mas Joko? Bisa-bisana bilang jiga kitu, ih."
Kami tertawa mendengar hal semacam itu. Apalagi dengan Hanna, merindukannya.
"Tuh Bi Imas sama Pak Joko juga kangen sama kamu, apalagi kita yah, Pah?"
Papah R. Sastra mengangguk. "Kalau mau nginep jangan sehari atau dua hari langsung aja tinggal disini lagi."
"Hanna juga maunya gitu. Tapi kan Hanna udah gede harus bisa mandiri. Sayang juga rumah itu nggak ada yang ngerawat."
"Nggak nyangka Hanna kita udah dewasa," tutur Naila yang kemudian memeluk putrinya.
"Hahaha Ahahah...."
Hanna dan bunda pun ikut tertawa.
...****************...
"Hachimm."
"Udah gue bilang mending naek mobil," saran Afra sembari melepaskan helm.
"Naek motor biar lebih asik, Fra." Meletakkan helmnya lalu menoleh ke arah Afra berada "Sini." Meminta helm yang dipegang oleh Afra. Afra memberikannya.
"Lo kan belum pernah dibonceng sama orang ganteng," lanjutnya.
Mendengar hal itu membuat Afra merasa geli. Ia pun beranjak pergi meninggalkan Aji.
"Ih... AFRA! Tungguin gue!"
Mereka sudah berada dalam pameran. Berawal dengan banyaknya lukisan yang terpajang disini. Salah satu seni yang disukai oleh Afra. Dia terlihat senang, Aji pun merasakan senang.
Afra berdiam di hadapan salah satu lukisan yang terkenal di seluruh dunia. Walaupun karya seni ini bukan yang aslinya, tapi Afra merasa senang bisa melihatnya.
"Lukisan Luncheon of the Boating Party," kata Aji. "Ini sih Afra juga bisa."
Afra memukul Aji karena itu ledekan yang mungkin bisa dianggap penghinaan, walaupun tahu Aji hanya bercanda.
"Gue bercanda Afra." Aji tersenyum merasa bersalah. "... Yang dilukis, sahabat-sahabatnya yang baik. Pasti seneng banget mereka."
Afra pun melangkah pergi melanjutkan kembali.
"Kalau gitu gue harap lo bisa lukis kita juga," lanjut kembali.
Namun Afra masih terdiam tak menjawab.
"Afraaa ...." panggil Aji.
Afra terfokus kembali dengan lukisan lain.
"Afra."
"Ji, tanpa disuruh pun gue selalu mengabadikan dengan lukisan ataupun memfotonya," kilah Afra.
Aji kemudian terdiam setelah menerima jawaban dari Afra.
Lukisan dihadapan kami tertulis Lukisan The Scream oleh Edvard Munch pada tahun 1893.
"Wow keren, imajinatif sangat," puji Aji.
"Coba lo perhatian, ekspresi apa yang ditangkap sama lo?" ujar Afra melirik Aji.
Aji pun memandang lukisan tersebut.
"Takut?" jawabnya.
"Yang gue suka dari lukisan ini, banyaknya pemikiran yang melihatnya dengan pandangan yang berbeda-beda. Lukisan ini membuat ekspresi yang tidak terduga."
Aji memandang lukisannya kembali. "Gue rasa pelukis ingin menyampaikan pesan. Banyaknya hal ekspresi dalam satu bentuk dan sebagai manusia, kita tidak boleh menyimpulkannya sepihak."
Afra fokus mendengar pemikiran Aji saat ini terhadap lukisan.
"Ketika seseorang memberikan ekspresi seperti halnya itu." Aji menoleh Afra. "Bener kan?"
Afra tersenyum mendengar pendapat Aji. "Lo bisa juga nyimpulin kayak gitu."
Afra pun beranjak pergi lebih awal lagi.
Aji merasa senang, dia pun mengikutinya. "Makanya lo harus cari tahu lebih tentang gue itu seperti apa."
Afra tak lama melirik ke arah Aji yang berada di belakangmya. "Kenapa gue harus cari tahu lebih tentang lo?"
Aji berpikir sejenak. Seketika.
Dia melihat sesuatu yang indah.
"Afra. Sini." Ajak Aji. "Liat ini, dari jauh pun lukisan ini menarik perhatian orang termasuk gue karena pemandangannya yang indah."
Lukisan The Starry Night dari Van Gogh tahun 1889.
Afra pun bertanya-tanya. "Hubungannya lukisan sama cari tentang lo apa?"
"Ibaratkan gue itu jadi lukisan ini, lo sangat tertarik sama lukisan itu karena menarik perhatian. Jadi, lo mencari tahu tentangnya."
"Dasar, itu kemauan lo," ledek Afra.
"Tapi sebenarnya itu lo, Fra. Lo kayak lukisan ini, buat gue tertarik dan lebih ingin tahu tentang lo. Pemandangan yang diinginkan di suatu mimpi yang indah," ungkap Aji.
Perkataan yang tidak terduga-duga oleh Aji.
Afra tersenyum dan kemudian meninggalkannya kembali.
Aji yang melihatnya tersenyum juga karena ada balasan yang luar biasa dari Afra yaitu ia membalas dengan senyuman. Juga baru kali ini Afra bisa berbicara panjang lebar bersama Aji.
...****************...
Masih di halaman menikmati suasana sejuk di kota Bogor. Nikmati kue kering, camilan, dan teh panas.
"Kamu udah ada rencana setelah lulus nanti?" tanya R. Sastra sembari membaca koran.
Hanna terdiam. Sekarang ini topik itu adalah menjadi kegalauannya. "Belum, Pah."
"Belum?"
Hanna mengangguk. R. Sastra dan Naila saling menoleh satu sama lain.
"Aji.. udah ngasih tahu kamu soal kuliahnya?" tanya Bunda Naila.
Hanna mengangguk kembali. "Udah bun, dia mau pergi kan?"
"Kalau kamu mau, kamu juga bisa ikut," saran Naila.
"A-ku nggak tahu, Bun. Belum kepikiran," tawar Hanna mengingatnya kembali merasa ingin menangis jika memang benar-benar Aji akan pergi jauh.
"Kalau kamu udah ada rencana, kasih tahu papah sama bunda."
"Iyah pah, bun."
...🌹...
...Bersambung...
...___________...
...Rilis 13/05/2020...
...Revisi 30/07/2020...