
Gina berangkat menuju sekolah menggunakan sepeda. Biasanya dia selalu menebeng pada Afra kali ini tidak. Karena Gina sedikit terlambat dan dirinya tidak mau temannya menunggu dirinya. Kemungkinan jika ia terlambat dan Afra pun dapat terkena hukuman.
Saat di perjalanan. Gina tidak sengaja bertemu dengan teman sekolahnya. Dia adalah Nasrul. Dirinya tengah memandang ke arah sana dan sini. Mencuri pandang juga pada mobil miliknya itu.
Nasrul menyadari kedatangan Gina.
"Gina?"
Gina berhenti. "Kenapa? Mogok?"
Nasrul mengangguk. "Iyah tiba-tiba aja mobilnya nggak bisa jalan."
"Emmm... Yaudah bareng sama gue aja."
"Hah?"
"Yah ayok naek sepeda. Dari pada nanti telat masuk."
Akhirnya Nasrul pun menerima tawaran Gina untuk menaiki sepeda miliknya. Tapi.
"Gina.. mending gue ajah yang boseh."
"Udah biar gue aja. Lo kan pernah nganterin gue dan kali ini biar gue yang nganterin lo," jawab Gina.
Nasrul masih terdiam.
"Gin ..."
"Iyah?"
"Kenapa lo naek sepeda? Biasanya kan bareng Afra."
"Ohh itu gue suruh Afra berangkat duluan. Soalnya gue bangun telat."
Nasrul mengangguk. "Oh gituh."
...****************...
Terlihat pemuda kembar bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Terlihat mereka sedang memanasakan mesin kendaraannya masing-masing. Dan juga sambil mengelapnya agar bersih dan kinclong
"Uzi... Uza...?"
Ibunya memanggil yang baru saja datang. Beliau adalah ibunya Fauzi dan Fauzan yang tengah hamil.
"Iyah, Mah?" tanya Fauzi.
"Anterin mamah dulu yah. Mamah mau ngambil laundry di depan," tuturnya.
"Emang bi Asih kemana?" tanya Fauzan.
"Iyah kenapa nggak sama bibi aja? Mamah nanti kecapean tuh perutnya udah gede gitu," tolak Fauzi.
"Bi Asih disuruh sama mamah nganterin pesenan kue."
"Ohh yaudah kalau gitu silahkan masuk baginda ratu," kekeh Fauzi membukakan pintu mobilnya.
Ibunya pun tersenyum dan memasuki mobil.
"Hati-hati, Mah," tutur Fauzan.
Kami pun pergi diikuti oleh Fauzan dengan menggunakan motornya. Di pertigaan jalan kami melihat seseorang yang dikenal. Fauzi menghentikan mobilnya.
"Hanna?"
Hanna pun melihat ke arah mobil. "Ehh Fauzi?"
Dilanjut melihat seseorang di dalam mobil tersebut Hanna pun tersenyum kepadanya dan juga di belakang ada Fauzan yang menaiki motor. Mereka langsung menghindari kontak mata dengannya. Kejadian itu masih terngiang-ngiang di kepala Hanna dan Fauzan.
"Siapa, Uzi?
"Temen sekolah, Mah," jawab Fauzi di dalam mobil. "Mah. Fauzi samperin dulu yah, sebentar ajah." Fauzi mendapat anggukan dari ibunya, Fauzi pun keluar dari mobil.
"Han..."
"Iyah?"
"Ayo bareng Han?" Fauzi mengajak ikut bersamanya.
"Nggak usah Zi deket ini," timpal Hanna.
"Ikut aja lumayan kan ngurangin tenaga," kekeh Fauzi. Hanna terdiam berpikir sejenak. "Lama Han nanti keburu telat. Zan anterin Hanna."
Deg!
Fauzan kebingungan dan tercengang. Fauzi pun mendorong tubuh Hanna ke arah Fauzan berada. Hanna sedikit terkejut dan terheran-heran. Karena yang menawarkan Fauzi malah yang harus mengantarnya adalah Fauzan.
"Gue harus ngaterin nyokap dulu. Yang barusan tadi nyokap, nanti gue kenalin yah?" Fauzi tersenyum. "Gue juga kesibukan, lupa mau ngajak lo ke rumah."
"Hehe iyah nggak papa." Canggung Hanna.
Dia pun langsung berpamitan dan memberi amanat kepada Fauzan agar tidak mengebut saat membonceng Hanna. Dia pun akhirnya pergi. Dan disini hanya kami berdua.
Benar-benar canggung.
Fauzan memberikan helm kepada Hanna. Hanna pun memakainya. Namun dia masih terdiam disini sedikit bingun dilihatnya.
"Kenapa?"
"Emmm i-ni.... gue naiknya gimana yah? Susah," putus Hanna.
Fauzan terlihat tersenyum namun sedikit disembunyikan saat melihat Hanna tidak bisa menaiki motor ini.
"Lo pegang ajah pundak gue," usul Fauzan.
Hanna pun akhirnya bisa. Mereka beranjak pergi dari sini menuju sekolah.
Saat diperjalanan.
Fauzan selalu mencuri pandangan terhadap Hanna melalui kaca spion.
Hanna kalau lo tahu yang sebenarnya. Apa lo akan marah sama gue?
Apa .. lebih baik gue nggak mengenal lo lebih jauh? Dan kembali seperti semula.
Di saat seperti ini Fauzan lupa dalam kecanggungan ingatan itu. Melainkan ingatannya memutar memori lalu. Tapi berbeda dengan gadis diboncenginya. Dia begitu gugup.
Aduh gimana ini? Canggung bener.
Tak lama kami pun sampai di sekolah. Hanna turun dari motor ini dan mengatakan terima kasih. Ia dengan cepatnya pergi.
Namun Fauzan memanggilnya saat Hanna sudah berjarak jauh darinya. Fauzan memberikan isyarat. Dia menunjukan ke arah kepala. Ternyata Hanna lupa untuk melepaskaan helm dan Fauzan terlihat tersenyum kembali yang ingin mentertawakan Hanna.
Hanna melangkah kembali ke arah Fauzan setelah itu memberikan helm tersebut. Dia sedikit malu dengan kelakuannya sendiri.
Namun ia membalik arah kembali.
"Makasih yah."
Fauzan menganggukan kepalanya. Saat ingin beranjak dari sini. Namun tertahan. "Fauzan?" Fauzan menoleh saat meletakkan helm. "Soal kemarin..."
"Nggak usah dibahas."
"Hah?" Hanna bengong. Mencernanya. "Ah iyah bener... nggak usah dibahas. Kita lupain, bagus."
Hanna tersenyum paksa tetap saja masih ada kecanggungan. Tapi melihat datarnya wajah Fauzan, Hanna berusaha seperti dia seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Hendak kembali pergi namun dia berbalik lagi. Entah kenapa, tapi Hanna sangat ingin mengatakan hal ini padanya. Fauzan kembali menatap heran padanya. "Lo kalau mau senyum irit banget yah?" tanya Hanna. Fauzan terdiam saat mendengarnya. Dan tiba-tiba. "Nih kayak gini kalau senyum."
Hanna tanpa sadar lengannya menarik raut bibir Fauzan untuk tersenyum dan diikuti oleh dirinya tersenyum lebar. Fauzan dibuat diam olehnya.
"Udah bisa?" tanya Hanna.
Fauzan mengangguk kaku.
"Yaudah gue pergi ke kelas duluan yah sekali lagi makasih." Hanna pun pergi lebih awal. "Jangan lupa belajar senyum. " Lanjutnya sambil berteriak.
Fauzan masih terdiam dibuat olehnya. Tak seorang pun yang pernah berani seperti itu ataupun lebih dekat dengan Fauzan karena Fauzan selalu mendiaminya maupun mencueki para murid disini maupun di luar sana. Di sela-sela akan beranjak dari sana Fauzan melihat ke spion motor miliknya dan melakukan apa yang seperti Hanna. Namun dia langsung mengelengkan kepalanya.
"Iwww." Merasa aneh terhadap dirinya sendiri.
......................
Gina dan Nasrul baru saja tiba. Mereka menjadi tontonan oleh murid-murid disini.
"Oyy .. Pak Ketua Osis diboncengin," ledek murid temannya Nasrul. "... sama Bu Ketua MPK lagi."
Nasrul melemparkan pukulan pada mereka walaupun tidak mengenainya.
"Udah lengser..." timpalnya Gina tiba-tiba. Meski pelepasan jabatan mereka hari ini.
Mendengar hal itu Nasrul tertawa dan menjulurkan lidahnya pada teman-temannya yang meledek tadi. Mereka sampai. "Sampai."
"Makasih."
Gina tersenyum. "Sama-sama."
"Yaudah ayok."
Nasrul dan Gina pun berjalan bersama menuju kelas mereka masing-masing. Segera bersiap untuk Pergantian Kepengurusan Organisasi OSIS dan MPK.
...****************...
Cukup lama telah berlalu untuk memilih kepengurusan organisasi sekolah berikutnya. Ujung-ujungnya hasil sudah diangkat ke pengurus OSIS baru, ketua dan wakilnya adalah Alvin Mahendra dari tingkat dua kelas F1 dan wakilnya Gadis dari tingkat satu. Sedangkan pengurus MPK baru adalah ketuanya Zahra Liandra dari tingkat satu juga. Semua orang memberi ucapan selamat pada kepengurusan organisasi SMA Bakti Nusa yang baru.
Berharap Sekolah Menengah Atas Bakti Nusa bisa lebih baik lagi.
...🦄🥀☔...
...Rilis 10/02/20...
...Revisi 15/07/20...