Diary Of A School: Me And Yu

Diary Of A School: Me And Yu
BAB Me and Yu



Berlanjut....


Setelah mereka menyelesaikan manggung. Aji bergegas menuju Afra dan menariknya menjauh dari kerumunan. Aji terus menarik tangan Afra membawanya ke suatu tempat yang merupakan tempat yang selalu dikunjungi oleh Afra, di bawah pohon hijau besar ini yang terlihat indah karena lampu-lampu sekarang.


"Aji... lo kenapa balik? Kuliah lo?"


Aji tersenyum sambil memegangi tangan Afra. "Gue cuman sebentar disini dan gue bakalan berangkat lagi. Lo juga udah tahu maksud gue ke sini, lo udah denger barusan. Afra, gue cinta sama lo."


Meski sudah beberapa kali mendengarnya, Afra tertegun dengan perasaan apa yang dimilikinya sangat campur aduk. Afra juga senang mendengarnya tapi juga sedih karena dia akan pergi lagi.


"Gue nggak maksa lo buat nerima perasaan gue, tapi yang pasti gue pengen jujur kalau gue sayang sama lo. Gue juga mau tahu apa lo juga sayang sama gue?"


Berharap.


"Gue... senang dengernya."


Aji tampak senang meski Afra mengatakan itu. Dia tahu Afra tidak bisa mengungkapkan perasaannya sendiri.


"Sayang juga berarti?" godanya.


Afra hanya diam dan kemudian mengatakan sepatah kata dengan gugup. "Ee-nggak." Sambil melepaskan genggaman tersebut.


"Boong." Aji meraih kembali tangan Afra. "Walaupun lo bilang engga, hati lo tapi mengatakan iyah."


"Apa lo ngajak pacaran?" tanya Afra ragu-ragu.


"Iyah lah masak enggak," kekeh Aji. "Tapi, kalau lo nggak mau juga nggak papa, tapi kalau lo mau gue bakalan seneng."


"Gue nggak bisa," tolak Afra, tergores hati Aji. "Gue, gue sekarang ini mau bantu mamah gue dulu, bantu buat nambahin biaya kuliah gue dan sekolah adik gue nanti dan juga ... Gue mau fokus sama mereka."


Aji terlihat sedih, tapi dia mengerti apa yang dipikirkan Afra. "Yah gue ngerti ko, gue nggak bakalan maksa. Tapi, lo harus inget. Gue bakalan nunggu lo dan tetep sayang sama lo, Fra."


Afra tersenyum setelah mendengar itu. Aji menarik Afra dalam pelukannya.


......................


Hanna baru saja kembali setelah dilanda dengan kegalauan sekaligus pertanyaan membuat dirinya penasaran apa yang terjadi pada Fauzan. Mengapa dia begitu panik sekali? Dan apa yang dibisikkan oleh temannya itu?


"Eh Hanna, lo kemana aja?" tanya Oni.


Hanna diam dengan menggeleng, tatapan kebingungan.


"Han.."


Kali ini suara yang terdengar lembut, Hanna mengangkat kepala untuk melihatnya.


"Kamu tadi sama Fauzan, kan? Dimana sekarang?"


"Fauzi, tadi... Fauzan pergi sama temennya buru-buru," terang Hanna, suaranya berubah terdengar khawatir. "Aku takut dia kenapa-kenapa, Zi. Aku takut dia pergi buat berantem."


Semua menjadi cemas setelah mendengarnya, terutama untuk Fauzi.


"Kamu nggak usah khawatir, biar aku susul." Fauzi mencoba menenangkannya, dan setelah itu dia pergi untuk menyusuli Fauzan.


......................


Langkah Fauzan dan temannya yang menariknya itu telah berhenti. Mereka menatap seseorang yang tidak jauh dari keberadaan mereka. Fauzan masih terdiam dan menatap seseorang yang mulai membalikkan badan yang akan mendatanginya.


Deg!


Fauzan membulatkan matanya terkejut. Dia benar-benar sudah bebas.


Pria yang memiliki luka gores di wajahnya itu berjalan perlahan, menjadi moderat, lalu buru-buru dengan tatapan marah, dia mengepalkan tangannya, berlari. Bugh! Meninju wajah Fauzan sampai dia jatuh.


"Ssss..."


Fauzi tiba menemukan saudara kembarnya itu telah tersungkur, menerima pukulan dari seseorang. Segera berlari tergesa-gesa untuk menolongnya. Teman Fauzan itu, teman masa SMP, semua yang dialami Fauzan ia ketahui. Merasa akan terjadi perkelahian, dia pergi untuk mencari pertolongan.


"Zan, lo nggak papa?" Nafasnya memburu, lalu ia menengadah untuk melihat orang yang telah memukulnya itu. Dia terkejut.


Pria itu menyeringai setelah melihat lagi Si Kembar di depan matanya. "Hah! Terkejut?"


Tentu saja mereka terkejut dengan kedatangannya ke sini, karena orang itu adalah salah satu teman Fauzan di masa lalu, seniornya, yang mengajaknya untuk ikut tawuran.


Fauzan yang hendak pulang sekolah, didatangi oleh kakak-kakak kelasnya. "Zan buruan masuk."


"Kemana?"


"Kita disuruh bantuin sekolahnya abang gue, bang Kiki udah nunggu kita di sana. Buruan masuk!"


Fauzan pun nurut saja, karena kakak kelasnya meminta tolong, dia masuk ke dalam mobil. Tidak hanya berdua, di dalam mobil ada empat orang. Setelah mobil melaju dengan cepat, Fauzan bertanya apa yang terjadi sebenarnya pada mereka.


"Gas! Sebenarnya ada apa sih?"


"Zan, SMA abang gue lagi punya masalah sama sekolah lain, mereka mau tawuran. Abang gue minta kita bantuin sekolahnya."


"Lo bilang apa?! Tawuran? Enggak, nggak! Gue nggak ikutan kalau soal ginian."


"Lo harus bantuin! Lo jangan ngelawan!"


Karena tidak mau, Fauzan mencoba melawan di dalam mobil itu. Fauzan dengan kakak kelasnya bernama Bagas itu saling berselisih satu sama lain, Fauzan mencoba untuk memberhentikan mobil, namun Bagus mencoba melawannya untuk tetap diam.


"OY BANTUIN!" Teriaknya pada teman-temannya yang duduk di belakang. Segera mereka membantunya menyingkirkan Fauzan.


Fauzan terus melawannya. Dia lebih hebat dari mereka, pantas saja senior SMA itu meminta bantuannya. Fauzan memiliki sabuk hitam. Di saat mereka saling ribut di dalam mobil.


Di saat Fauzan berusaha untuk memberhentikan mobil ini dan terjadilan. Di depan mereka ada sebuah truk.


"AWASSS...!!!"


"AAAAAAAA..."


Mereka mencoba menghindari truk tersebut dan truk pun ikut menghindar. Tetapi, nyatanya.


BRUKKK....


BRAK!


Awalnya mobil ini dapat menghindar, mobil ini pun menabrak tiang cukup keras, akibat mengemudi dengan cepat.


Ha..


Hah..!


Fauzan membuka matanya, dengan lemah, dengan menahan rasa sakit di kepalanya. Dia melihat ke samping untuk membangunkan kakak kelasnya itu. "Gas... Bagas..." Dia diam tidak bergerak, lalu melihat ke belakang untuk mengecek keadaan dua temannya juga. Tapi mereka tidak bergerak sama sekali.


Fauzan dengan lemah keluar dari mobil untuk menyelamatkan diri dan meminta pertolongan. Ketika dia keluar dari mobil, ternyata bukan hanya mobil kami yang mengalami kecelakaan, tetapi truk itu, dan juga mobil lain yang sudah terguling.


Dia adalah senior SMA nya dulu, Kiki. Kakak dari kakak kelasnya yang bernama Bagus yang sudah meninggal akibat dari kecelakaan itu. Dan dia, ketua besar dari geng anak sekolahan di masa lalu itu. Dia telah dipenjara karena hampir menghilangkan nyawa dari musuh sekolahnya, di saat tawuran itu. Sekarang.... Dia berdiri, menampakkan dirinya setelah keluar dari penjara.


"Lo udah bunuh adik gue! Lo udah bunuh temen-temen gue! DASAR PEMBUNUH!"


Dia kembali menghajar Fauzan begitu murka kepadanya.


......................


Teman Fauzan itu berlari dengan tergesa-gesa masuk ke dalam gedung sambil berteriak meminta tolong.


"Tolong....!"


Dia menjadi pusat perhatian semua orang, semua orang menjadi kebingungan.


"Mat, ada apaan?" tanya Nasrul.


Hanna melihat kedatangan teman Fauzan itu lagi tapi tidak kembali bersama Fauzan nya.


"Ituh.... hah... iitu di luar..."


"Hei..! Come on..!" desak Tyo.


"Si Fauzan... dalam bahaya! Dia berantem di luar!"


Tersentak. Semua orang terdiam dengan kebingungan. Hanna begitu terkejut tanpa berpikir panjang segera dia berlari keluar untuk menemui Fauzan.


"Han...!"


Mereka semua keluar dari gedung untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


......................


Ketika Aji dan Afra hendak kembali bergabung dalam acara. Melihat Hanna keluar dengan mimik yang begitu kepanikan.


"Han... mau kemana?" tanya Afra.


Hanna tidak mendengar dan terus berlari.


Lalu disusul oleh semua orang beramai-ramai berlari ke keluar.


"Ada apaan?" heran Aji bertanya pada mereka.


"Ji susul si Hanna! Dia mau nyamperin Si Fauzan, Si Fauzan berantem," tangkas Nasrul.


Dengan penuh rasa khawatir dan kaget, Aji langsung berlari diikuti Afra.


Di sisi lain Nasrul yang merupakan mantan ketua OSIS mencoba untuk menenangkan semua orang agar tidak panik, dan tidak ikut campur dalam keributan ini. "Kalian semua nggak usah pergi ke sana, diem disini."


"Yah, Rul! Kita pengen liat juga..." keluh teman-temannya.


"Kalian mau gue yang larang atau sama bokap gue?"


Semua diam setelah mendapat pilihan itu, tentu saja mereka tidak mau berurusan dengan pak Raja.


"Nasrul, Tyo, mending kalian susul mereka. Biar aku sama Oni panggil guru," saran Gina.


"Bener tuh... Buruan susul, gue takut mereka kenapa-kenapa...." sambung Oni.


Menuruti sarannya Gina, segera Nasrul bersama Tyo bergegas untuk menyusuli teman-temannya yang hendak menemui Fauzan.


"Ayo On," ajak Gina pada Oni.


......................


Fauzan menerima luka dan memar di wajahnya. Fauzi mencoba memisahkan. Melihat Fauzan yang hanya diam menerima semua pukulan. Faktanya, Fauzan akan menyerang lagi karena dia selalu melakukannya, tapi kali ini tidak. Dia begitu pasrah dengan semua pukulan itu.


"BNGST!! LO!!"


"LO HARUSNYA MATI JUGA!!!"


"DASAR PEMBUNUH!"


"LEPASIN ADIK GUE!"


Fauzi berhasil mendorongnya.


Nafas memburu dari mereka semua, tatapan yang begitu amarah, tapi tidak dengan Fauzan, kosong.


"Fauzan!?" Hanna sangat panik melihat Fauzan yang babak belur. Fauzan memandang Hanna yang berada di sisinya sekarang.


Disusuli oleh Aji dan Afra yang sudah berada di sini.


"Lo siapa hah?! Dateng-dateng ngerusak acara sekolah orang," usir Aji.


"Ck! Kalian mau ngebela dia...? Hah! Bela aja bela....! Bela, seorang PEMBUNUH kayak dia!"


"Pembunuh?"


Fauzan menjadi cemas jika Hanna tahu semuanya sekarang.


Nasrul dan Tyo pun tiba dalam keributan ini.


"Dia udah BUNUH SEMUA ORANG! TERMASUK ADIK GUE!"


"... Sini lo...!" tantangnya berjalan ke arah Fauzan dan mengangkat agar berdiri. Namun Fauzi dan Aji sempat menahannya. Hanna mencoba melindungi Fauzan dari pria itu.


"MINGGIR KALIAN!"


Dia berhasil menyingkirkan semua orang dan membawa Fauzan, kembalinya dia mengayunkan pukulan padanya. Bugh! Bguh! Blam!


"FAUZAN....!!"


"Han...! Jangan!" Afra menahan Hanna agar tidak mendekati perkelahian itu.


Hanna begitu mencemaskannya, sampai air mata itu mengalir.


Tapi kali ini Fauzan tidak diam saja, dia melawannya. Suasana begitu menegangkan. Nasrul, Tya dan Aji masih begitu tersentak dengan apa yang diungkapkan oleh orang itu. Jadi, rumor bahwa Fauzan pernah membunuh orang, itu benar. Pikir mereka.


"Ssss....!"


Orang itu mendesis setelah mendapat pukulan yang begitu keras dari Fauzan.


"Lo yang PEMBUNUH! Lo udah BUNUH banyak orang!! BUKAN GUE....!!" tampik Fauzan begitu memburu.


Suara yang begitu keras, penuh emosi membuat semua orang terperanjat.


Fauzan kembali menyerang, memberikan pukulan sampai dia tersungkur ke tanah.


"BNGST!!"


Dia perlahan untuk bangkit dengan murka menatap semua orang. "Lo semua.... salah besar! Hahah kalian bela pembunuh seperti dia ini..." Sambil menunjuk kepada kebenciannya. "Dia penyebab kecelakaan di pertigaan Rutte ...!!"


Fauzan memelototinya. Ia langsung melirik Hanna dengan gelisah. Aji dan Afra kaget mendengarnya. Hanna tidak bisa berkata-kata setelah mendengar itu, tertegun tak percaya.


Fauzan menggelengkan kepalanya agar Hanna tidak mempercayai omong kosong orang ini. Mencoba untuk mendekat padanya, berusaha agar Hanna mempercayai dirinya.


"Han...."


"Apa itu bener?"


"Enggak Han, enggak! Itu semua bohong, Han!"


Hanna diam dengan air mata yang menetes.


Aji berjalan menuju orang itu, menarik kerah bajunya. "Apa maksud ucapan lo itu?!" erangnya.


Meski orang itu menjadi tidak paham dengan situasi saat ini, kenapa ketika dirinya mengatakan kejadian kecelakaan semua orang begitu terkejut. "Dia terlibat dalam penyebab kecelakaan itu, dan adik gue, mati gara-gara dia!"


Aji segera melepas kerah orang itu dan menoleh ke Fauzan dengan menahan emosinya.


Ketika orang-orang berdatangan lebih banyak lagi, orang itupun mundur. "Urusan lo sama gue belum selesai! Awas lo Fauzan!"


...🥀...


...DIARY OF A SCHOOL...


...SERIES 1...


..."ME AND YU"...


...SEASON 1...


...END...


...🥀...