
Meskipun jam pelajaran berjalan tetapi sebagian dari siswa kelas 12 ada yang tidak mengikuti pelajaran karena sudah mendapat ijin, mereka sedang rapat untuk mempersiapkan acara kemah untuk kelas 10. Itu berlangsung cukup lama, hampir tiga jam. Tapi itu bukanlah akhir dari semua yang telah ditutup. Mereka kembali ke persiapan mereka, membereskan semua yang dibutuhkan untuk besok.
Sebagai pembimbing, Hanna dengan pasangan pembimbingnya bernama Fauzi. Mereka berada di kelas 10 yang akan mereka bimbing, mengurus, menjaga anak didik mereka nanti saat perkemahan berlangsung. Menyampaikan amanah dan apa yang harus mereka sampaikan pada adik kelas untuk nanti. Tidak cukup serius, mereka semua begitu santai dan asik berbicara dengan kakak kelas mereka. Menyenangkan. Apalagi mereka mendapat panitia dari kakak kelas yang populer yang tercatat pada Buku Baknus.
Hanna Mafaza, segera lulus di Angkatan 2019. Seorang siswa yang memiliki IQ tertinggi di sekolah ini namun cukup aneh bagi semua orang karena dia belajar di kelasnya yang tidak berada pada ranking teratas baik di kelas maupun di sekolah. Sebagai sekertaris dari ekstrakurikuler Jurnalistik dengan tingkah lakunya yang sama-sama jahil bersama dengan ketua Jurnalistik tersebut yaitu Aji dan memiliki sejarah tersendiri di antara mereka. Bukan hanya itu Hanna bersahabat dengan siswa-siswa yang populer, tapi tidak memungkinkan dia juga berteman baik dengan semua orang. Lalu Fauzi Maevino. Tentu kepindahannya bersama saudaranya ke sekolah ini ketika kelas 11 membuat heboh SMA Bakti Nusa. Mereka cukup terkenal dikalangan sekolah dikalangan siswa, karena Fauzi adalah ketua basket di sekolahnya dulu dan berprestasi. Sedangkan adiknya dikenal sebagai murid yang nakal.
Tapi anehnya. Selama ini Hanna tidak mengenali adik-kakak saudara itu ada di sekolah ini.
Mereka telah selesai dengan urusan di kelas 10 setelahnya mereka pergi untuk kembali membantu panitia pelaksana lain.
"Fauzi."
"Hem?"
"Kenapa gue baru liat lo di sekolah ini?" tanya Hanna. "Lo anak baru?"
Fauzi mendengus. "Dasar. Makhluk seganteng dan sepopuler ini, lo baru liat gue di sekolah ini. Padahal gue pindahan dari kelas 11. Aduh.. perasaan gue sedikit tergores."
Hanna merasa jijik mendengar itu. Dia seperti Aji, tingkat kepercayaan dirinya luar biasa.
"Makhluk astral kali," ejek Hanna sambil tertawa. Fauzi pun ikut tertawa bersama.
Memang pertemuan mereka di awal cukup membuat Hanna geli, karena Fauzi memuji dirinya sendiri bahkan melontarkan lelucon garing. Namun hari-hari berlalu karena acara sekolah membuat mereka sering bertemu dan Hanna pun terbiasa.
"Tapi serius deh. Gue nggak pernah liat lo."
Fauzi berpura-pura berpikir. "Mmm itu karena lo. Lo nggak tertarik dengan orang-orang yang nggak ada kepentingan sama lo. Bener, kan?"
Hanna berseri. "Tapi bukannya gue nggak peduli atau menjauh dari bergaul dengan temen-temen lain. Gue sedikit sensitif ajah."
"Yaa gue tahu."
Lo persis kayak adik gue. Lanjut Fauzi dalam hati.
Mereka pun tertawa kecil.
"Jadi adik lo itu yang mana? Ada dikelas berapa?" tanya Hanna.
Hendak akan menjawab tiba-tiba ada seseorang yang memanggil Fauzi.
"Fauziii...." panggilnya.
Mereka berdua menoleh pada suara tersebut.
"Zii, bantuin beresin tenda di lapang."
"Okee siap," jawabnya. Fauzi kembali pada Hanna. "Han, gue pergi dulu ya."
"Oke." Hanna angguk.
Fauzi telah pergi.
Hanna berjalan mengarah ke arah kelasnya. Tapi dia dihentikan oleh seseorang. "Hanna."
"Yah Feb?"
"Lo lagi sibuk nggak?"
"Enggak. Kenapa?"
"Alhamdulillah. Lo ikut gue yah, bantuin ngitungin peralatan kemah. Soalnya panitia lain pada sibuk sama tugas mereka," harap Febby.
"Bukannya itu bagian seksi peralatan ya? Lo kan seksi keamanan." Bingung Hanna.
"Iyah nah itu," jawab Feby keras membuat Hanna terperanjat. "Mereka kekurangan anggota jadi yahh mereka minta tolong sama seksi-seksi lain. Jadi Han, bantuin gue yah?"
"Oke." Hanna tersenyum angguk. Lagi pula tugasnya sudah selesai.
Kembali berjalan ke sebuah ruangan sebagai tempat penyimpanan barang-barang yang sudah dipisahkan untuk dibawa besok dalam perkemahan. Hanna melihat orang yang menjadi pasangan pembimbingnya, Fauzi. Dia berjalan di depannya, Hanna tersenyum. Tapi, anehnya seolah-olah dia tidak mengenal Hanna dan terus berjalan melewati Hanna, pandangan Hanna mengikuti dia pergi.
"Serem amat," kata Feby.
"Emang gitu ya?" tanya Hanna.
Feby mengangguk iya. Dan pembahasan tadi hanya sekilas. Tapi Hanna masih bingung dengan sikapnya yang berbeda tadi.
Kenapa sama Fauzi?
...****************...
Sekolah telah dibubarkan. Beberapa siswa di kelas ini sudah pulang ke rumah dan ada juga yang masih menetap untuk piket membersihkan kelas, atau sekedar malas pulang, bermain-main dulu di sekolah, ekstrakulikuler dan seterusnya.
Hanna berjalan bersama dengan ketiga sahabatnya keluar dari kelas.
"Kalian duluan aja," pamit Gina.
"Mau kemana?"
"Baiklah silahkan Buketu MPK yang sedang sibuk dengan kelengseran dari jabatannya," sindir Oni.
Gina hanya tersenyum malas untuk meladeni ejekan sahabatnya itu. "Yaudah gue pergi dulu ya, dadah..."
Mereka pun kembali melanjutkan langkahnya.
"Ah iyah Han. Gimana sama Fauzi?" tanya Oni.
"Gimana apanya?" Bingung Hanna.
"Yaa gitu... deket," godanya.
Hanna semakin terheran dengan salah satu sahabatnya ini. Dia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. "Gue cabut duluan ya, dah..."
"Han... Hanna...." teriak Oni namun Hanna terus berjalan menghiraukannya. "Ih main cabut aja. Nggak seru, padahal gue pengen nambah-nambah gosip."
Jitak!
"Awww.." ringkis Oni langsung menatap kesal pada Afra. "Sakit tahu."
"Gibah terus... dasar emak-emak rumpi," sindirnya lalu pergi.
Oni mengerucut kesal sambil mengusap-usap kepalanya yang sakit karena jitakan Afra.
...****************...
Hanna menunggu angkutan umum berdiri di sebuah halte dekat sekolah. Padahal dia benar-benar malas untuk berjalan, hari ini dia ingin segera sampai ke rumah. Tapi karena terlalu lama menunggu akhirnya Hanna memutuskan untuk berjalan kaki.
Berjalan terus untuk sampai ke rumah sambil memasang earphone di telinganya, memutar salah satu lagu favorit agar tidak terlalu sepi.
Percaya hatimu
Kuatkan dirimu
Tak pernah menyerah
Berani melangkah
Lagu Merakit - Yura Yunita tersebut memberinya kekuatan pada perjalanan hidup yang telah dilalui selama ini.
Percaya tangismu
Dan perjuanganmu
Akan jadi kisah
Terbaik di hidupmu oh
Tak apa terjatuh
Bangkitlah dan tersenyumlah
Kita terus maju
Yakini diriku yakini dirimu
Semesta kan bantu
Saat asik mendengarkan lagu, langkahnya terhenti. Dia melihat sekelompok remaja yang tampak ribut satu sama lain. Remaja laki-laki berkelahi. Dan tersentak saat mereka saling pukul. Apalagi pemukulan, salah satunya dipukul dengan tiga orang. Satu lawan tiga tidak adil.
"Hei!!" teriak Hanna. Dan teriakan itu membuat perkelahian itu terhenti.
Mereka sedikit kesal karena Hanna memberikan tatapan tajam. Tapi untungnya mereka segera pergi. Hanna lega, dia melihat orang yang dipukuli itu. Tampak akrab melihatnya.
"Fauzi?"
Hendak menemuinya. Tapi dia malah pergi tanpa mengucapkan terima kasih atau apapun.
"Fauzi...?" panggil Hanna lagi. Tetap saja dia tidak berhenti menghiraukan Hanna.
"Kenapa sikapnya jadi aneh gitu?? Apa dia punya kepribadian ganda?" Ucapnya asal.
...🦄🥀☔...
...Cast/ Gambar Sebagai Ilustrasi agar memudahkan untuk mendalami karakter....
...Dukung Author dengan LIKE - HADIAH - VOTE - FAVORIT dan tinggalkan KOMENTAR tentang chapter ini....
...Terima kasih ^^...
...__________________...
...Rilis 10/01/2020...
...Revisi 30/06/2020...