
Bel istirahat sudah berbunyi sejak tadi dan Nada sudah berada di kantin untuk mengisi perutnya. Karena tadi pagi dia tidak sempat makan apalagi membuat bekal. Arkan lelaki itu tadi dipanggil oleh Ibu Lin padahal dia ingin mengikuti Nada.
Nada mengedarkan matanya ke segala arah mencari meja yang masih kosong. Tetapi matanya menangkap seorang gadis yang dia kenal melambaikan tangan ke arahnya, dia tau namanya Putri. Dia melangkah menuju gadis itu.
“Duduk di sini aja Nad” ajaknya seraya menunjuk kursi di sebelahnya.
Nada berterima kasih dan lekas saja duduk di samping Putri. Setelah duduk dia baru menyadari kalau Putri tidak sendiri melainkan ada seorang lagi.
“Oh iya Em ini Nada yang gue ceritain kemarin” perkenalkannya.
“Dan Nada ini Emma dia sahabat gue dari jaman orok” katanya sembari tertawa.
“Emma” gadis itu mengulurkan tangan ke arah Nada. Yang di sambut Nada sembari tersenyum
“Nada”
“Jangan sungkan sama gue. Santai aja gue gak jahat kok” ucap Emma sembari tersenyum lebar yang membuat Putri bergidik.
“Lo kaya om-om pedofil yang ngehasut anak kecil tau gak” ejek Putri.
“Sialan Lo!” sungut Emma lalu melemparkan tisunya ke arah Putri yang dihindari gadis itu dengan lihai.
Nada terkekeh kecil melihat kelakuan teman barunya. Jauh dalam lubuk hatinya dia merasa sangat bahagia karena ada yang mau berteman dengannya.
“Eh Nad kalo si nenek lampir itu ngebully Lo lagi, bilang aja sama gue” ucap Putri sembari menatap Nada serius
Nada mengiyakan dan tersenyum kepada Putri, “Sebelumnya terima kasih sudah menolong aku semalam” ucapnya penuh rasa terima kasih
Putri melambaikan tangannya, “Gak usah berterima kasih itu udah kewajiban gue. Masa gue liat orang yang tertindas malah dibiarin” ucapnya.
“Yoi gue juga kalo liat gitu udah gue viralin pokoknya” timpal Emma yang langsung dihadiahi sentilan di keningnya oleh Putri.
“Aduuh! Jidat gue yang berharga selalu aja Lo tindas” ucap Emma dengan dramatis.
“Lebay lo” sinis Putri.
“Eh Nad cowo yang kemarin situ siapa Lo?” tanya Emma kepo.
“Hah? Cowo yang mana?” tanya Nada kebingungan karena dia tidak tahu siapa yang disebut Emma.
“Itu loh cowo yang mukanya kaya bule” jelas Putri
Nada akhirnya mengerti siapa yang dimaksud Emma. “Oh dia teman sekelas aku”
“Tapi dia kayaknya khawatir banget sama lo” cetus Putri.
Nada hanya mengendikan bahunya. “Dia emang baik gitu” jawab Nada seadanya. Karena dirinya juga tidak tahu kenapa Arkan begitu baik kepadanya.
“Gue cariin juga ternyata Lo di sini” ucap seseorang yang berada tepat di belakang Nada.
Nada membalikkan tubuhnya dan mengerjapkan matanya melihat Arkan yang memiliki ekspresi kesal tertahan.
“Gue kira Lo hilang lagi” ucapnya masih dengan nada jutek.
“Buktinya aku gak hilang. Aku cuma ke kantin Arkan” jelas Nada memutar matanya malas. Dia merasa Arkan semakin protektif padanya.
Emma yang sedang menyuap makananya terhenti dan mulutnya membuka lebar dan Putri yang menatap heran mereka.
“Semakin dilihat semakin tampan aja. Nikmat mana lagi yang kau dustakan” ucap Emma dengan matanya yang tak bisa lepas dari Arkan.
Arkan yang mendengar perkataan Nada lalu mengalihkan perhatiannya pada makanan Nada yang terlihat sangat pedas. Ya karena Nada memesan bakso tentunya tak akan lengkap tanpa sambel yang pedas.
Tatapan Arkan semakin dingin, “Lo makan makanan pedas?” tanyanya dengan nada rendah.
Nada menatap takut ke arah Arkan, “I-iya” cicitnya pelan.
Arkan menarik nafas dan mengehmbuskannya kasar seraya menutup matanya. “Ganti!” titahnya.
“Apa?” tanya Nada bingung.
“Makanan Lo ganti dan jangan makan pedas lagi” ucapnya geram.
“Gak mau, sayang ini masih banyak” ucapnya tidak mau menuruti perkataan Arkan.
“Na Lo baru aja sembuh sakit dan udah makan pedas, harusnya itu gak boleh” Arkan sedikit melunak dan memberikan pengertian pada Nada.
Nada terdiam mendengar perkataan Arkan. Dia sadar lelaki itu selalu memperhatikannya dan tidak pernah membiarkan dirinya sakit.
“Gue ambilin yang baru aja ya” ucapnya dan berlalu dari hadapan Nada tanpa menunggu balasan Nada.
“Gila Nad itu cowo benar-benar pacar ideal. Masih bilang kalian hanya teman gue sih gak percaya. Dari cara dia menatap Lo aja udah kelihatan Nad” ucap Emma heboh.
Nada meringis mendengar respon Emma. “Tapi emang kami cuma teman kok” ucap Nada dengan jujur.
“Gak usah malu sama kita Nad. Lagian cowo Lo juga baik gitu orangnya” sahut Putri sembari menepuk bahu Nada. Nada hanya bisa pasrah membiarkan teman-temannya berspekulasi sendiri.
Tak lama ia melihat Arkan yang datang membawa bakso baru. Lelaki itu membawa dengan hati-hati. Lalu menaruhnya di depan Nada.
“Nah ini buat Lo. Jangan di tambahi sambel lagi” peringat Arkan. Gadis itu mengangguk pasrah dan memakan makanannya tanpa cabe.
Arkan menarik kursi dan duduk di sisi sebelah Nada. Dia mengedarkan matanya dan melihat dua orang perempuan menatapnya dengan raut tak terbaca.
Emma menendang kaki Nada di bawah meja membuat si empunya menatap Emma kaget. Bisa Nada lihat Emma yang menggodanya karena melihat perhatian Arkan. Nada hanya bisa menunduk malu.
“Kalian teman Nada?” tanya Arkan dengan suara beratnya. Putri dan Emma mengangguk mengiyakan.
“Terima kasih udah menolong Nada kemarin, terutama elo” ucap Arkan dengan menatap Putri.
“Gak usah berterima kasih, lagian kemarin itu Prissil udah keterlaluan sih” ucap Putri dengan geram ketika mengingat perlakuan Prissil.
Arkan mengangguk paham dan tidak bertanya lagi. Dia memusatkan perhatiannya pada Nada yang sedang makan. Nada yang sadar Arkan memperhatikannya mulai merasa canggung. Dia tidak terbiasa makan diperhatikan dengan seintens ini.
“Kamu gak makan?” tanya Nada karena Arkan tidak memesan apapun.
“Gue udah kenyang liat Lo makan” jawab Arkan membuat pipi Nada memerah malu. Arkan mengulas tersenyum melihatnya.
Putri dan Emma yang melihat perlakuan Arkan pada Nada dibuat meleleh.
“Shut..Put Lo ngerasa gak kita kaya nyamuk diantara mereka berdua” bisik Emma seraya menyenggol bahu Putri.
Putri mendekati Emma dan balas berbisik, “Gue rasanya semakin yakin kalo mereka ada something” saat mengucapkan kata something Putri menaik turunkan dua jarinya. Sedang Emma mengangguk-anggukkan kepalanya.
Nada yang tidak sengaja melirik Putri dan Emma pun mendelikkan matanya ketika mereka memberikan tatapan menggoda dirinya dan Arkan disambut dengan kikikan kecil mereka berdua.
Setelah menyelesaikan makannya tak lama bel masuk berbunyi membuat mereka berpisah untuk kembali ke kelas masing-masing.