
Seorang gadis sedang duduk menyandarkan punggungnya ke kursi taman. Suasananya ramai dengan banyaknya pasangan yang sedang duduk berdua atau dengan teman mereka. Ia menghembuskan nafas lagi ke udara entah yang keberapa kalinya.
Pikirannya kalut, sepulang dari tempat mamanya dia berjalan tanpa tujuan yang jelas dan akhirnya dia berada disini, dimana banyak para pasangan berada.
Ingatannya memutar saat dimana ia mengajukan lelaki itu, rasa sesal itu ada tetapi tertutupi oleh egonya sendiri. Nada meringis pelan ketika kepalanya terasa pening dan sedikit pusing ketika memikirkan hal itu.
Ia mengeratkan pelukannya pada dirinya sendiri ketika merasakan dingin menyusupi kulitnya. Sialnya dia memakai pakaian yang tidak tebal bahkan agak tipis walau tidak terlalu tipis. Setelahnya ia memutuskan berdiri dan beranjak melangkah menjauh dari tempat duduknya tadi dengan langkah pelan. Tujuannya saat ini adalah halte.
Nada duduk di kursi paling belakang di bus, sebenarnya bus ini terlihat lenggang karena tidak banyak penumpang yang ada di sini. Ia menyenderkan kepalanya yang masih saja terasa pening. Mengistirahatkan sejenak pikirannya yang terlalu kalut tadi.
...***...
Nada berdiri di depan pintu, ia ragu ingin memencet bel atau tidak. Tangannya yang hendak memncet terhenti begitu saja di udara. Setelah terdiam sejenak dia memutuskan dengan cepat memencet bel.
Cklek
Nada sedikit terhenyak ketika yang membuka adalah Arkan, lelaki itu terlihat sangat senang melihat Nada ada di hadapannya. Nada yang masih belum siap bertemu Arkan pun harus berhadapan dengan lelaki itu sekarang.
“Syukurlah..kamu udah pulang. Aku khawatir karena kamu pergi dalam keadaan tadi” ujarnya dengan raut lega.
Nada menatap datar Arkan di hadapannya, “Aku boleh masuk kan?” tanyanya karena sedari tadi Arkan berdiri di depan pintu membuat jalan masuk terhalang. Lelaki itu segera menepi membiarkan Nada masuk.
Arkan mengikuti langkah Nada yang memasuki rumah dengan cepat, “Nada tunggu!” serunya menghentikan langkah Nada.
Gadis itu berhenti di tempatnya tapi tidak membalikkan badan, tatapan matanya masih tidak bisa di tebak.
“Aku...minta maaf kalau sudah lancang” ucap Arkan dengan pelan disertai penyesalan di dalamnya.
Nada tidak bergeming mendengarnya, entahlah rasanya egonya masih menguasai dirinya sendiri. Bagian dirinya sangat marah dan tidak terima tetapi jauh di hati kecilnya ia bisa memaklumi perbuatan Arkan walau itu salah tetapi ia melakukan itu dengan tulus.
“Hemm...aku ke kamar dulu, udah malam aku mengantuk dan lelah” ucap Nada menghindar lalu tanpa mendengar perkataan Arkan lagi ia meninggalkan lelaki itu yang diam seribu bahasa menuju kamar dan lekas menguncinya dari dalam dan menenggelamkan mukanya di bantal.
Sedang Arkan yang ditinggalkan Nada sendirian di bawah hanya terdiam tidak beranjak dari tempatnya berada. Ia sungguh tidak tau perbuatannya akan membuat Nada semarah itu. Terlihat bahu lelaki itu merosot dan dengan lesu beranjak dari tempatnya berdiri menuju kamarnya. Besok dia akan meminta maaf lagi pada Nada.
...***...
Di meja makan kali ini hanya ada suara dentingan sendok dan piring yang beradu, tidak ada percakapak memang biasanya juga saat makan akan hening tetapi kali ini terasa lebih mencekam.
Tante Elen melirik bolak-balik antara Nada dan Arkan yang sedang diam-diam. Wanita paruh baya itu menghela nafas, ia sadar sedang ada masalah diantara mereka berdua. Ia hanya bisa berharap mereka berdua bisa menyelesaikan masalah.
Setelah selesai sarapan, Nada berdiri dan hendak pamit pada Tante Elen dan om Hendri.
“Mommy Elen, om aku pamit dulu ya takut telat” pamitnya seraya memberikan senyum tipis.
Nada tersenyum kaku, “Iya D-dad” ucapnya dengan terbata.
“Aku juga Mom, Dad, mau pamit berangkat” suara Arkan mengalihkan perhatian orang dimeja makan ke arah Arkan. Lelaki itu menatap lurus Nada yang membuat gadis itu menghindari tatapan itu.
“Oh kalo gitu, Nada kamu bareng sama Arkan aja ya” Ucap Mommy seraya tersenyum penuh arti, ia merasa perlu membuat mereka berdekatan dan membicarakan masalah mereka berdua.
Nada terkejut mendengar perkataan Mommy, dia ingin menolak tetapi ia merasa tidak enak dengan wanita itu. Dia menatap sebentar pada Arkan akhirnya mengangguk pelan.
Di dalam mobil sangat terasa kecanggungan yang ada di antara Nada dan Arkan. Nada yang terdiam tanpa ekspresi dan Arkan yang terlihat sesekali melirik Nada. Ia menghela nafas panjang lalu menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang agak sepi.
Nada melirik Arkan dengan tatapan bertanya ketika menyadari lelaki itu menghentikan mobilnya.
“Kita perlu bicara Na” ucap Arkan melembut.
Nada terdiam menunggu Arkan melanjutkan ucapannya.
“Soal yang kemarin aku sungguh minta maaf, aku tidak menyangka kamu akan semarah itu. Iya aku memang salah karena lancang mencari tahu tentang kamu, tapi aku gak bermaksud seperti itu” tuturnya menjelaskan dengan tatapan yang tidak pernah lepas dari netra hitam milik gadis di depannya.
“Aku hanya ingin lebih memahami kamu, saat aku bilang aku mencintai kamu, itu nyata. Makanya aku berusaha mendampingi kamu disetiap masalah, aku ingin kamu membaginya padaku jangan menanggung sendirian” ucapnya dengan tulus dan sungguh-sungguh.
Nada menatap lamat-lamat ekspresi wajah Arkan mencoba mencari tau kebohongan di dalamnya. Tapi nihil dia tidak menemukan itu semua, hanya ada ketulusan di dalamnya.
“Aku tau, tapi kalo kamu ingin mencari tahu tentang kehidupan aku izin dulu aku mohon. Bagaimanapun itu hal pribadi bagiku, aku tidak pernah terbiasa membagikan beberapa hal dihidupku” ucap Nada tegas.
“Aku janji tidak akan melakukan hal itu lagi. Tapi kalo kamu ingin cerita aku selalu ada, itu yang harus kamu ingat” ia tersenyum simpul ke arah Nada.
“Jadi kamu udah maafin aku nih?” tanyanya memastikan sembari mengangkat satu alisnya.
Nada sedikit berdehem, lalu memutar matanya ke arah lain. “Gimana ya, dimaafin apa enggak?” tanyanya sendiri dengan nada jahil
“Wah udah bisa gini, pasti dimaafin dong. Mana bisa marah sama orang setampan ini, ya kan?” selorohnya dengan mengedipkan mata membuat Nada memutar matanya malas. ‘Narsis’ batinnya.
“Hem” gumamnya pelan yang membuat senyum manis terbit di wajah tampan Arkan.
Untuk sekejab Nada terpaku menatap wajah lelaki itu yang entah kenapa semakin terlihat tampan saat ia tersenyum. Dan gilanya lagi ada apa dengan jantungnya, kenapa tidak berhenti berdetak tak karuan. Ia mengalihkan pandangannya dari wajah lelaki itu untuk menyembunyikan pipinya yang memerah.
“Eh Arkan udah jam 7 lewat lima belas! Kita terlambat ke sekolah!!” seru Nada tertahan ketika melihat jam di tangannya. Refleks dia memukul pelan tangan Arkan panik ketika memikirkan mereka akan terlambat sampai sekolah apalagi ini hari Senin.
Arkan mengendikan bahu lalu menjalankan mobil menuju sekolah dengan kecepatan tinggi. Nada bahkan tidak merasa takut ketika Arkan membaw mobil dengan mengebut. Ia tenggelam dalam pikirannya yang sedang panik, jelas saja mereka akan dihukum ketika sampai di sana nanti.