
Nada bertemu Putri dan Emma di koridor menuju gerbang. Ia tidak bersama Arkan karena lelaki itu tadi di panggil oleh guru karena ada suatu tugas.
“Eh Na, tumben Lo sendiri. Arkan mana?” tanya Emma heran karena melihat Nada sendiri karena biasanya dimana ada Nada pasti Arkan.
“Dia dipanggil guru, jadi aku nunggu di halte depan gang” jawab Nada dengan menunjuk luar gerbang.
“Ayo bareng aja, gue sama Emma juga mau ke sana” ucap Putri mengajak Nada yang diangguki oleh Nada.
“Lo gak pake motor Put?” tanya Emma menatap Putri dengan mengerutkan kening.
“Motor gue mogok jadi pulang nanti naik bus aja” jawab Putri kemudian tangannya mengambil beberapa permen milkita dari sakunya
“Kalian mau?” tawarnya pada Nada dan Emma
“Gue mau satu” pinta Emma kemudian ia diberikan yang rasa coklat oleh Putri
Sedangkan Nada menggeleng, ia tidak terlalu menyukai permen walaupun ia menyukai coklat.
“Yah kok coklat, gue pengen yang stroberi” rengeknya karena ia ingin rasa stroberi.
“Gak bisa stroberi itu punya gue. Udah Lo coklat aja lagian coklat enak kok” tolak Putri seraya mengamankan permennya yang stroberi dari jangkauan Emma membuat gadis itu memberengut namun tak urung membuka permennya dan memakannya
Memang Putri itu maniak permen apalagi permen milkita rasa stroberi. Hal unik ini baru saja Nada ketahui dari seorang gadis yang ditakuti beberapa orang karena ahli bela diri dan terkesan garang
Tak terasa mereka bertiga sampai di depan halte dan duduk di kursi dengan berdekatan.
“Eh Lo pada tau gak Candra?” tanya Emma menatap dua temannya. Pertanyaan Emma membuat Putri membeku kaku, ia pura-pura fokus mengemut permennya.
“Candra? Siapa?” tanya Nada penasaran dengan nama yang disebut oleh Emma.
“Serius Lo gak tu Candra?!” Emma berteriak tanpa sadar saat mengucapkan hal itu
“Em suara Lo kaya toa beneran” sindir Putri membuat Emma menyengir dan memberikan dua jarinya.
“Emang siapa Candra sih”
“Namanya Areksa Candra J. Nah J itu gak ada yang tahu singkatan apa. Tapi Candra itu merupakan most wanted kedua sekolah ini, kalo Deril tipe good boy nah kalo Candra itu tipe badboy tapi luar biasanya mereka sama-sama tampan. Eh sekarang tambah lagi pacar Lo tuh yang kata para siswa cewe mah tipe dingin dan misterius” jelas Emma panjang lebar. Ia berhenti hanya untuk mengambil nafas setelahnya lanjut lagi.
“Terus Lo tau si Candra itu katanya kemarin habis tawuran sama sekolah sebelah. Dan lo tau mereka menang gila!” cerita Emma dengan antusias terlihat diwajahnya.
“Cowo kaya gitu aja Lo heboh bener Em” sahut Putri dengan sedikit tidak suka.
“Lo mah dari dulu perasaan enggak suka benget sama Candra. Kenapa sih?” tanya Emma heran.
“Gak ada gue cuma gak suka cowok yang suka tawuran gak jelas kaya gitu” ucapnya dengan berdehem pelan.
“Nah itu Candranya, kayanya doi mau jalan ke parkiran” tunjuk Emma pada seorang lelaki dengan jaket Levis berjalan diantara teman-temannya.
“Bukannya cowo itu yang pagi tadi nganterin kamu Put?” tanya Nada dengan polosnya.
Emma menatap kaget dua temannya apalagi Putri, “Wah Lo bilang gak suka tapi berangkat bareng” sindir Emma tajam.
Putri terlihat panik untuk menjelaskan, “Engga tadi itu Candra cuma memberi tumpangan buat gue, karena motor gue mogok itu aja” jawab Putri dengan cepat justru membuat Emma menatap curiga pada Putri.
Tin tin
Sontak saja atensi ketiga gadis itu teralih pada seorang lelaki di atas motor dengan helm full facenya. Tetapi ia membuka kaca di bagian matanya.
“Gila!! Itu Candra” bisik Emma tertahan
Air muka Putri sudah berubah, ia mulai menunjukkan ketidaksukaannya ketika melihat Candra di hadapannya
Nada yang melihat hal itu semakin yakin kalau mereka berdua punya sesuatu hubungan yang rumit. Jangan tanyakan bagaimana Emma sekarang. Begitu dia mendengar kalau Candra mengajak sahabatnya pulang rahangnya membuka lebar tanpa dia sadari.
Karen Nada orang baik ia dengan pelan menutup mulut Emma yang membuka. Bahaya kan kalo ada lalat masuk ke dalam mulutnya.
“Gak usah gue naik bus aja” tolak Putri dengan acuh.
Emma yang mendengarnya langsung menatap tidak percaya pada Putri. Itu kesempatan loh untuk dekat dengan sang badboy tampan apalagi Sampai di bonceng pakai motornya. Duh betapa beruntungnya Putri tapi kenapa ia malah menolak. Teriak Emma dalam batinnya.
“Putrinya mau kok bareng Lo. Dia cuma malu-malu, haha ya kan Put” ucap Emma seolah mewakili Putri.
Mendengar perkataan Emma, Putri menyikut perut gadis itu dan memberikan tatapan mengancam. Ia melototi Emma seolah matanya mau copot
“Bagus sekali, ayo Putri kita pulang” kata Candra dengan senyum yang terlihat menyebalkan Dimata Putri.
“Ogah gue sama lo” tolaknya mentah-mentah
“Kamu Candra? Kalo mau ngajak Putri pulang bareng, harus janji dulu supaya antar pulang Putri dengan selamat dan tidak kurang apapun. Awas aja kalo macam-macam” ucap Nada menatap lama Candra dan sedikit mengancamnya.
“Tenang aja gue gak sejahat itu” sahutnya dengan mengangguk.
“Nah sekarang kamu bisa pulang bareng Candra dari pada nunggu bus yang masih agak lama datangnya” ucap Nada pada Putri.
“Iya Put lumayan kan dapat tumpangan gratis” bisik pelan Emma di samping Putri.
Setelah berpikir panjang dan ragu-ragu sejenak, Putri mengangguk dan mengiyakan ajakan pulang bareng Candra.
Seusai pamit pada dia temannya, ia mendekat pada Candra dan menaiki motor besar lelaki itu.
“Pegangan ntar jatuh”
“Lebay, gak bakal jatuh percaya deh” cibir Putri.
Putri melambaikan tangannya pada kedua temannya yang dibalas juga oleh Nada dan Emma. Sekarang hanya tertinggal Emma dan Nada.
“Menurut Lo mereka ada hubungan apa coba sampai Candra mau nebengin Putri pulang” celetuk Emma dengan berpikir keras.
“Entahlah. Tapi apa Candra orang yang baik untuk Putri” ucap Nada agak ragu karena mendengar cerita Emma bahwa lelaki itu notabenenya adalah badboy.
“Gue yakin Candra akan memperlakukan Putri dengan baik seandainya mereka bersama. Gue tau dia memiliki image buruk karena suka tawura. Tapi gue juga pernah liat dia yang sangat lembut pada seorang wanita terutama ibunya. Mustahil seorang cowok seperti itu akan berlaku buruk pada pasangannya” sahut Emma menjelaskan dengan sungguh-sungguh
Mendengar Emma menjelaskan dengan serius, Nada mengangguk dan memutuskan akan berusaha menerima apapun yang akan terjadi pada sahabatnya.
“Kamu naik bus apa ojol?” tanya Nada menatap Emma.
“Kayanya nunggu bus aja deh” jawabnya santai. Ia menyibakkan rambutnya yang jatuh ke atas wajahnya.
Terlihat dari gerbang keluar Arkan dengan motor sportnya diikuti sebuah mobil berwarna hitam dibelakangnya dan berhenti di depan halte tepat di depan Nada dan Emma.
Nada tersenyum melihat Arkan sudah datang, ia bangkit dari duduk setelah pamit pada Emma. Mendekati Arkan yang memberikan helm kepadanya.
“Tadi ngapain?” tanya Nada menatap lama Arkan.
“Ada data diri yang harus aku isi terus barengan sama Kafa juga” jawabnya dengan mengacak pelan rambut Nada.
“Jangan di buat berantakan” Nada mengerucutkan bibirnya lalu menjauhkan tangan Arkan dari kepalanya. Melihat itu Arkan tertawa pelan.
Sedang Kafa yang berada di dalam mobil di belakang Arkan dan Emma yang masih duduk di kursi halte memutar matanya malas melihat adegan di depan mereka. Ayolah apa mereka lupa ada dua orang jomblo disini, jerit batin mereka berdua.