Dear Nada

Dear Nada
Denial



Hari saat Nada membuka pintunya, ia melihat Bian yang sedang duduk di teras rumahnya sembari merokok. Ia tahu Bian perokok walau bukan perokok aktif. Yang membuat ia heran adalah mengapa Bian berada di sini diwaktu sepagi ini.


“Kak Bian” panggilnya pelan. Kakinya melangkah mendekati Bian yang sudah menekan rokoknya ke tanah dan membuangnya.


“Na, udah mau berangkat?” tanyanya sembari menatap Nada dengan senyuman.


“Iya kak. Lah kakak ngapain disini?” tanyanya dengan memperhatikan Bian yang mengenakan setelan formalnya, sepertinya lelaki itu hendak pergi bekerja.


“Sekalian berangkat kerja, Kakak antar kamu aja. Lagian searah juga sama perusahaan” jawab Bian. Lalu tangannya merangkul bahu Nada membawa gadis menuju mobilnya.


“Tapi apa gak buat kakak telat” ekspresi canggung terasa jelas di wajah Nada.


Bian menggeleng, “Pastinya nggak dong. Udah masuk aja nanti malah kamu yang terlambat kalo kita masih saja ngobrol disini”


Nada menurut saja, ia masuk ke dalam mobil Bian dan duduk di samping pengemudi. Ia memasang sabuk pengaman dengan erat. Begitu juga Bian yang mulai mengarahkan mobil keluar dari halaman rumah Nada.


“Oh iya, kakak belum bilang kalau semua pendukung dari pamanmu sudah terungkap kejahatannya dalam menggelapkan uang perusahaan. Jadi kamu tenang aja sekarang semua yang membahayakan perusahaan sudah hilang” ucap Bian dengan tenang.


Nada sedikit melirik Bian lalu berpikir beberapa saat. “Syukurlah kalau begitu. Tapi kak Bian gak ada masalah atau kesulitan kan selama mengurus perusahaan?” tanyanya.


“Semua lancar. Nanti kalau kamu sudah lulus kuliah, perusahaan akan kembali kamu urus dan kakak akan liburan keliling dunia, hehe” ucapnya sembari terkekeh ringan.


Hal itu sontak saja membuat Nada terperangah, “Kakak gak bercanda kan, aku mana bisa ngurus perusahaan itu yang ada nanti malah bangkrut tau”


Jujur saja Nada sama sekali tidak mengerti bisnis karena memang ia tidak memiliki keinginan berbisnis apalagi meneruskan perusahaan.


Bian hanya tersenyum dan mengelus pelan kepala Nada, gadis yang sudah ia anggap sebagai adik sendiri dan keluarga satu-satunya bagi dirinya.


“Terus Nada maunya jadi apa nanti?” tanya Bian dengan lembut walaupun matanya fokus melihat kedepan.


“Dokter Psikolog” jawab Nada mantap.


Dulu ia tidak tahu harus memilih cita-cita apa, tapi sekarang ia sudah memutuskan untuk menjadi seorang dokter Psikolog. Bukan hanya karena mamanya yang butuh pengobatan psikis, tapi juga ia menyadari betapa rapuhnya jiwa manusia. Ia hanya ingin membantu jiwa-jiwa yang sudah pernah rusak menjadi setidaknya pulih walau tidak bisa menghilangkan sepenuhnya. Sama seperti kaca yang dipecahkan walau ia disatukan kembali tetap saja ada bekas yang tidak bisa hilang


“Psikolog ya, apapun itu yang menjadi pilihan Nada, kak Bian akan dukung sepenuhnya” ucap Bian membuat Nada terharu.


“Nah sudah sampai sekolah tuh, belajar yang rajin agar bisa mencapai cita-cita kamu. Tapi kalo kamu lelah istirahat aja gak apa-apa”


Nada mengangguk lalu keluar dari mobil Bian. Setelah mobilnya pergi dari hadapan Nada baru gadis itu masuk ke dalam gebang.


Di jalan ia kembali berpapasan dengan Prissil yang berjalan berlawanan arah dengannya sembari mengenakan earphone di telinganya. Mata mereka bertemu beberapa saat sebelum Prissil mengalihkannya dan melengos dengan acuh


Benar juga, Prissil salah satu luka yang masih sampai sekarang belum ia obati. Nada seakan memeluk luka itu karena ia masih saja menyalahkan dirinya sendiri. Padahal itu juga bukan salahnya.


Sampai di kelas, Nada kembali duduk di mejanya. Tidak ada yang menyapanya karena pada dasarnya mereka hanya orang asing yang kebetulan memiliki tujuan dan kebutuhan yang sama.


Seperti biasa saat istirahat, ia akan bertemu dengan Emma dan Putri dikantin dan mungkin akan ada Kafa juga. Nada tidak tahu sejak kapan, tapi Kafa tidak pernah bersama dengan yang lain. Atau memang ia hanya mengenal ia dan teman-temannya.


“Kalian udah pada tau belum tentang teman kita ini?” tanya Emma dengan heboh dan mata melirik menggoda Putri. Hal itu tentu saja membuat Putri menatap tajam Emma tapi tidak dihiraukan olehnya.


“Apaan?” tanya Kafa dengan alis terangkat. Begitu juga Nada yang ikut memusatkan perhatian pada Emma yang tersenyum jahil.


“Kemarin ada yang habis di tembak orang tuh, tapi digantung masih denial katanya”


Putri mencebik kesal ketika Emma mengatakan apa yang terjadi kemarin. Entah ada apa Emma kebetulan belum pulang kemarin dan gilanya lagi Candra tiba-tiba ngungkapkan perasaannya tepat ketika Emma juga ada disitu.


“Beneran. Gila sih gercep juga tuh cowo” ucap Kafa dengan kagum.


“Jelaslah dia gentle kalo suka tinggal bilang, nggak banyak kode atau apapun yang bikin pusing”


Entah mengapa Nada merasa Emma sedang menyindir seseorang tapi siapa? Tanpa sengaja matanya menangkap ada perubahan pada Kafa dimana ia tiba-tiba berdehem canggung.


“Tapi gue masih bingung” ucap Putri menghela nafas.


“Bingung kenapa?” Nada menatap tepat bola mata Putri.


“Kalian bayangin aja coba, ada gak cowo yang nembak orang di koridor sekolah dan gak ada romantis-romantisnya sama sekali. Terus gue juga masih denial sama perasaan gue sama tuh cowo” curhat Putri dengan frustasi.


“Romantis itu tergantung bagaimana cara seseorang memandangnya. Mungkin buat lo itu gak romantis tapi bagi si cowo dia gak perlu membuat diner di restoran mewah atau musik romantis untuk menemani makan malam. Mungkin buatnya dengan apapun caranya menyampaikan hal itu tetap dari lubuk hatinya, setulus dirinya. Baginya mengungkapkan perasaannya itu lebih cepat lebih baik lagi buat kalian” ucap Kafa panjang lebar dengan bijak.


“Tumben Lo bijak” cibir Emma yang dibalas cebikan oleh Kafa.


“Kalo kamu bilang masih denial. Gini aja deh, apa setiap bersama dia kamu merasa nyaman? Atau merasa menjadi diri kamu sendiri saat bersamanya? Dan jika kamu nggak ngeliat dia ada perasaan rindu dan keinginan untuk bertemu terus jantungmu berdebar tak karuan saat berada di dekat lelaki itu. Kalo kamu ngerasain hal itu, berarti kamu udah mencintai lelaki itu tapi hanya terus menyangkal karena masih belum mau berdamai dengan diri kamu sendiri” tambah Nada menjelaskan dengan pengertian. Ia tahu saat ini Putri butuh kata-kata untuk menyadarkannya dirinya.


Putri terdiam mencoba memahami lebih dalam perkataan teman-temannya. Ia tahu dirinya hanya masih belum berdamai dengan dirinya sendiri. Tapi bukakah cinta hal yang rumit dan kompleks. Apa ia tidak akan menyesal jika menolak lelaki itu? Atau sebaliknya ia akan sangat menyesali keputusannya jika menerima. Entahlah bukankah setiap pilihan ada sebuah resiko yang menantinya.